Sekuel Dinikahi Konglomerat Sejagat!
Biar terasa greget baca dulu novel tersebut, baru maraton ke sini.
Devin terpaksa menikahi anak dari asisten pribadi orangtuanya, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya.
Perintah dari Argan selaku orangtua, tidak dapat dia tolak. Terpaksa menerima pengantin pengganti, meski dia tidak mempunyai perasaan apapun.
Akankah Devin bisa membangun cinta, bersama Tasya yang super cuek? Atau justru Tasya yang sulit membangun cinta, pada Devin yang dingin nan arogan?
Simak kisahnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan Bohong
Devin dan Tasya menghabiskan waktu tidur siang bersama. Mereka berencana akan keluar pada sore hari, dari ruangan bawah tanah.
"Sayang, kamu masih tidur." Ucap Devin, sambil mengucek matanya.
Tasya masih tidur dengan nyenyak. Dia merasa kelelahan akibat kegiatan di kampus.
"Ternyata bidadari cantik, walaupun tidur mangap." Devin tertawa-tawa sendiri.
Tasya terbangun karena mendengar suara orang tertawa, di dekat telinganya.
"Devin, kamu kalau jadi kuntilanak jangan didekat telingaku." Tasya protes.
"Aku heran sama kamu, katanya datang bulan tapi tadi salat." Ucap Devin sambil tersenyum.
"Hmmm ak... aku anu, ak... aku itu Devin." Tasya bingung bagaimana menjelaskan.
'Iya ketahuan kalau bohong. Devin sih teliti sekali dengan kegiatan hari ini.' Batin Tasya.
"Jangan cemas, aku sudah tahu kalau kamu bohong. Aku kecewa sih sama kamu, tapi apa alasan kamu berbohong?" Tanya Devin.
"Aku takut repot mengurus anak saat kuliah." Alibi si Tasya.
"Tenang saja, aku akan menyuruh baby sitter untuk mengurus anak kita." Ucap Devin.
"Hmmm, tiba-tiba aku ingin pulang." Jawab Tasya, dia merasa gugup.
Tasya segera beranjak dari posisi rebahannya. Devin tidak tahu, apa yang membuat Tasya takut. Rasa penasaran tentu saja ada, karena Tasya tidak menjelaskan apapun.
"Tasya, bagaimana kalau kita pindah rumah." Tawar Devin, dia mengusulkan idenya.
"Iya, aku setuju. Sepertinya kita akan lebih mandiri." Jawab Tasya.
Tasya dan Devin sudah keluar dari ruangan itu. Mereka kembali ke rumah Argan dan Nadin. Mereka masuk ke kamar, dan membersihkan diri masing-masing di kamar mandi.
Tasya keluar dari kamar mandi, hanya dengan handuk yang melilit. Devin baru saja selesai menyisir rambutnya yang basah. Devin terlihat sangat tampan, karena wajahnya rutin dirawat.
"Tasya, ke sini dulu." Titah Devin.
"Aku mau ganti baju." Jawab Tasya.
"Jangan melawan terus sama suami. Kamu tidak mau 'kan, kalau menjadi istri durhaka." Ujar Devin.
Tasya mendekat, karena peringatan keras dari Devin. "Ada apa?"
Devin dapat merasakan aroma menyengat dari tubuh Tasya. Rambutnya benar-benar wangi, sungguh membuatnya tergoda.
"Aku ingin, kita melakukan yang seharusnya." Jawab Devin, sambil memainkan matanya.
Kedua bola mata Tasya melotot, dia segera berbalik badan untuk berlari. Devin menarik tangan Tasya, hingga perempuan itu jatuh ke dalam pelukannya.
"Apa yang kamu takutkan sayang." Bisik Devin.
"Aku tidak takut, aku hanya belum siap." Jawab Tasya.
"Kapan kamu siapnya? Jangan lama-lama, aku sudah tidak tahan." Ucap Devin.
"Sayang, aku harap kamu masih bisa menahannya." Jawab Tasya.
Tangan Devin melepaskan pelukannya, dia menatap mata Tasya dalam-dalam. Dia dapat melihat bahwa Tasya cemas, tangannya begitu dingin.
'Apa ada yang mempengaruhi pikiran Tasya iya, kok sepertinya panik sekali.' Batin Devin.
"Kamu 'kan perempuan tangguh. Bila kebanyakan perempuan menangis, sedangkan kamu sudah terbiasa menahannya. Lalu, kenapa kamu tidak berani melakukan ini." Selidik Devin.
"Bukan, bukan tidak berani. Sudah iya, aku terburu-buru. Dadah!"
Tasya segera berlari keluar kamar, lalu masuk kembali ke kamar karena melihat Argan. Dia menghembuskan nafas perlahan, di balik pintu kamar itu.
Devin geleng-geleng kepala, melihat tingkah Tasya. "Apa yang membuat kamu masuk kamar lagi?"
"Ada Papa, ternyata aku lupa ganti baju." Jawab Tasya.
Dia segera menghampiri lemari baju, lalu mengambil pakaiannya. Tasya menggantinya dengan super cepat, takut bila Devin tergoda.
"Tasya, Tasya, kamu ini lucu." Devin masih menatap heran.
"Apanya yang lucu, aku rasa biasa saja." Jawab Tasya.
Tasya menghampiri si Devin, dia melihat Devin yang sedang mengecek laporan keuangan. Devin sangat teliti, terhadap perusahaan Rentala Grup.
"Kamu lagi ngapain?" Tanya Tasya.
Devin menoleh ke arah samping, dia memegang kepala Tasya lalu mencium pipinya.
"Aku sedang mengerjakan laporan sayang." Jawab Devin.
"Ooooo." Jawab Tasya, dengan suara panjang.
"Aku mau kita nanti malam melakukan...."
"Aku mau ke toilet." Tasya mengalihkan pembicaraan.
Tasya segera berlari, meninggalkan Devin yang tercengang dengan tindakannya sendiri. Dia menutup pintu toilet dengan terburu-buru.
"Dasar kebanyakan bohong. Bilang saja kamu takut." Ujar Devin.
Dia membuka internet, mengetikkan cara-cara jitu untuk mengatasi istrinya. Devin tersenyum, setelah menemukan caranya.
Tak berselang lama, Tasya keluar dari toilet. Tasya merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tidur.
Sementara di sisi lain, Aldo dan Clara sedang bertemu. Clara menatap Aldo dengan raut wajah sedihnya.
"Ada apa sih kamu mengajak aku bertemu. Aku ini sedang sibuk." Ujar Aldo.
"Aldo, aku sekarang hamil. Kamu harus bertanggungjawab, ini pasti anak kamu." Jawab Clara, sambil menangis.
"Enak saja kamu, bisa jadi itu anak Devin?" Ujar si Aldo.
"Kamu pria brengsek. Jelas-jelas ini anak kamu, tapi tidak mau mengakui." Jawab Clara.
"Bodoh amat, kamu perempuan playgirl. Pasti sudah banyak laki-laki yang didekat kamu, lebih baik sekarang kita putus." Aldo dengan seenaknya mengelak.
"Aku menyesal sudah meninggalkan Devin, demi pria seperti kamu." Celetuk Clara, sambil terus menitihkan air mata.
"Oh, jadi kamu menyesal meninggalkan si Devin itu?"
"Iya, bahkan sangat menyesal." Jawab Clara.
"Kembalilah bila kamu bisa, dia sungguh tidak mudah untuk didapatkan. Apalagi perempuan yang sudah membuat dia malu dihari pernikahannya." Ujar Aldo, sengaja memanasi Clara.
"Akan aku buktikan, aku bisa mengejar sang idola kampus itu. Dia pasti akan menjadi milikku lagi." Clara menghapus air matanya.
Dia segera beranjak dari duduknya, lalu meninggalkan si Aldo dengan rasa kecewa.
"Hahah, rasain kamu Devin. Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia bersama Tasya."
Aldo teringat waktu Devin pulang bersama Tasya. Dia berencana akan mengambil Tasya dari si Devin.
Clara segera menghubungi dokter, yang bisa membantu untuk menggugurkan janin dalam kandungannya. Mereka berjanjian untuk bertemu di tempat praktik si dokter.
"Ini bayaran untukmu, jangan bocorkan rahasia ini." Ucap Clara.
"Kamu tenang saja, kau sudah lama membuka praktik diam-diam ini." Jawab si dokter.
"Baiklah, aku pegang ucapan kamu." Ujar Clara.
"Aman, tidak masalah." Jawabnya, sambil tersenyum licik.
Clara mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang pasien. Dokter itu menggugurkan kandungan Clara secara paksa. Alat bius dan alat-alat tajam, telah dipersiapkan olehnya.
Setelah beberapa jam, barulah praktik aborsi itu selesai. Clara merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya.
"Kenapa ini sakit sekali." Ujar Clara.
"Karena aku memasukkan obat penggugur kandungan pada suntik bius." Jawab dokter.
"Dasar pria brengsek, dia hanya mau memanfaatkan aku saja. Aku pasti akan mengejar Devin di kampus Elite. Aku yakin dia masih cinta pada diriku." Clara berbicara sendiri, dengan rasa percaya diri.
"Makanya, lain kali jangan mau dibodohi oleh pria." Sahut dokter.