WARNING!!
MENGANDUNG UNSUR DEWASA DAN PELAJARAN HIDUP LAINNYA. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA.. 🙏🙏
Hai Pencinta Pelangi Setelah Hujan (PSH) season 1.. Allhamdulillah akhirnya di awal Ramadhan Tahun ini release..
*
Aku adalah Rizkiya.. mereka menyapaku Kiya, sedari kecil aku sudah harus berjuang untuk kehidupanku, orang tua dan keluarga juga ikut memberi dukungan hingga support yang luar biasa untukku..
Aku Menjalani hari-hariku penuh perjuangan, hingga akhirnya aku memutuskan untuk 'Berubah' .. Namun ternyata perubahan pada diriku mengarahkan diri ini Kalam kemelut cinta yang begitu membuat hatiku hancur...
🌷🌷
Aku Adalah Rizky, Kehidupanku sangat sempurna, tak ada yang tidak bisa aku raih di dunia ini.. Orang tuaku dan keluargaku selalu bangga padaku meski di belakang mereka aku banyak melakukan hal bodoh.. Hingga ketika jalan hidupku membawaku dalam sebuah pelajaran hidup yang kemudian merubahku..
⭐⭐⭐⭐
Apakah Cobaan yang akan kami hadapi?
Mari Beri dukungan kalian yaa 🙏😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mynamei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 32
Reyhan berusaha menerima penjelasan Kiya kala itu, meski kesal hatinya tapi ia harus menghargai keputusan anak perempuannya yang sudah mulai bangkit dari sebelumnya.
Perbincangan serius tengah terjadi di ruang tengah apartemen Kiya, Zhiva dan Ichal juga duduk disana sesuai permintaan Reyhan..
"Zhiva, kenapa kamu ga bilang papa kamu? apa kamu gak kasihan kalo mereka tahu dari orang lain?" kata Reyhan membuat Zhiva bingung harus mengucapkan apa, diam adalah cara Zhiva mengungkapkan kebingungannya.
"Zhiva.... bicaralah, nanti om akan bantu.." kata Reyhan yang sedikit hiba melihat wajah babak belur Zhiva..
"Om... boleh Zhiva bertanya sesuatu?" kata Zhiva mengenai rasa penasaran hatinya.
"Silakan" kata Reyhan berusaha santai.
"Hemm begini, hubungan om dengan papa apa? kenapa om terlihat begitu mengenal papa saya?" kata Zhiva dengan sedikit rasa takut.
Reyhan tersenyum menatap puterinya, Kiya memang begitu kekeh menutupi jati dirinya, namun sepertinya kali ini kita terlihat pasrah..
"Papahmu saya percaya untuk memegang kendali salah satu anak cabang perusahaan saya, jadi jelas kami saling mengenal..." ucap Reyhan
"Astaga, jadi om ini Pak Reyhan Pratama ??? dan ini anak bapak??!!" kata Zhiva seolah tak percaya.
"Ya terus gue anak siapa ha?" kata Kiya dengan sedikit wajah sinis nya.
"iyaa begitulah" kata Reyhan terkekeh.
"Yaa Tuhan, Kiya sorry gue gatau kalo Lo anak Sultan yang berpengaruh dalam kehidupan gue" kata Zhiva tak enak hati.
"Ini yang aku malas, papa ngerti kan?" kata Kiya kesal .
"Lo ko gapernah cerita Ki??" kata Ichal membuat Kiya tersenyum.
"Gakperlu lah .. kita sama" kata kiya..
"Sudah jangan perdebatkan lagi soal siapa Kiya, bertemanlah dengan tulus!! satu lagi, papa sudah siapkan satu lawyer untuk bantu kalian, jangan sampai kalian menolak, dan kamu Zhiva... ceritakan semua ke papa kamu, saya tidak mau Kiya dan Ichal kemudian akan menjadi sasaran kesalahan papahmu..." tegas Reyhan membuat Zhiva tak memiliki pilihan lain.
*
Hari itu berlalu... Kiya sudah mulai menyibukkan dirinya di kampus menjelang ujian tengah semester, hari ini kita juga akan mengikuti mata kuliah Deon yang sudah lima hari menghilang.
Di depan kelas, Kiya tertahan dengan keberadaan Agam disana..
"ka Agam??? ada apa kak??" tanya Kiya pada Agam yang berdiri sambil tertunduk memainkan ponselnya.
"Nah, akhirnya kamu Dateng juga.." kata Agam membuat kiya mengerutkan keningnya
"Ka Agam mencari aku? Ada apa??" kata Kiya penasaran.
"Kiya please kita harus bicara empat mata" kata Agam sambil memegang satu lengan Kiya sebafau tanda keseriusannya dalam berbicara.
Dari ujung lorong Deon berjalan mendekat, melihat kejadian tersebut.
"Hemm aku ada kelas kak, bisa di jam istihat aja kan?" kata Kiya memastikan .
"Jam kelas akan saya mulai... " kata Deon sambil berjalan di belakang Kiya dan masuk kedalam kelas.
Kiya sedikit syok dengan ucapan deon yang nampak jutek terhadapnya.
"Ka Agam, sorry yaa... ada kuis soalnya ... byee" kata Kiya kemudian dengan cepat masuk kedalam kelas.
Kiya celingukan saat melihat kursi di kelasnya sudah full, tersisah satu persis di hadapan meja dosen, hanya berjarak 2 meter.
Aduh... kenapa harus di hadapan pak Deon? Batin Kiya mau tak mau menuju kursi kosong itu.
Ichal awas ya kamu, bisa-bisa nya gak ada meja untukku... Tambah Kiya sambik duduk di kursinya.
Kiya sedikit menyibukan diri, entah mengapa Kiya tak mampu menatap Deon kala itu, karisma Deon nampak berbeda, kini bgeitu formil dengan kemeja dan celana bahannya.
Deon menjelaskan materi hari itu lalu memberikan tugas pada mahasiswanya sebelum akhirnya ia duduk. Deon menatap Kiya yang tengah tertunduk fokus mengerjakan tugas ya.
Getar Ponsel Kiya membuatnya sedikit membuka celah pada tas nya dan melihat notif pemberitahuan di layar utama ponselnya.
selsai jam mata kuliah saya, temui saya di ruangan saya...
Kiya melirik ke arah Deon, nampaknya ada yang aneh, Deon hanya tertunduk fokus pada bukunya.
Satu jam dua puluh menit berlalu..Deon baru saja meninggalkan ruang kelas Kiya, Ichal yang duduk berjauhan dari Kiya pun bergegas menghampiri Kiya..
"Kii, kampus lagi rame sama status Bima yang jadi tersangka, bahkan sekarang terungkap siapa yang suka mesum di toilet" kata Ichal dengan sedikit berbisik .. Kiya membulatkan matanya dengan rasa berdebar pada jantungnya yang begitu cepat.
"Siapa? maksud Lo itu yang pernah gue denger suaranya itu??" tanya Kiya tak kalah pelan.
"iya yang Lo denger Ahhh enak hemm geliii ahhh" kata Ichal menirukan suara tersebut dengan mendesah mendayu dengan pelan..
Kiya yang tengah memegang buku cukup tebal pun melayangkan buku itu secera spontan ke kepala samping Ichal..
"Awwwhh" kencang Ichal merepon rasa sakit itu.
"kiyaaa!! sampai berdengung kuping gue" tambah Ichal mengusap telinganya.
"Salah Lo sendiri mengeluarkan kata-kata itu" kata Kiya sambil berdiri.
"Kan ngasih contoh..... ini Lo mau kemana?" tanya Ichal melihat Kiya berdiri.
"Tunggu gue di kantin, gue ada urusan sebentar" kata kiya berjalan menuju luar kelas. Beberapa mahasiswa memang melihat Kiya dengan tatapan yang berbeda, feeling Kiya sedikit kuat bahwa beberapa mahasiswa pasti mendengar selentingan kabar ini.
Kiya mengetuk pintu ruangan yang ia anggap sebagai ruangan yang cukup ekslusif, bagaimana tidak ruangan yang terpisah sendiri dan terlihat lebih besar. Usai mengetuk pintu Kiya di persilahkan untuk masuk, sudah ada Deon duduk di kursi kerjanya.. Kiya pun duduk di hadapan Deon, yang hanya di batasi oleh meja kerja Deon saat itu.
"Maaf pak, ada apa? tanya Kiya dengan perasaan nervous nya. kali ini wajah Deon nampak serius, meski tampilannya lebih berwibawa dan menujukan karismatiknya dengan pakaian kerjanya.
"Jika kamu saya jadikan sebagai saksi, kamu siap?" kata Deon sedikit mengambang membuat Kiya benar-benar tak paham kemana maksud pemikiran Deon.
"Maksud bapak? saksi? bukannya saya memang di tetapkan sebagai saksi dalam kasus Zhiva?" kata Kiya membuat Deon tersenyum tipis.
"Pihak kampus menguak hal bejat yang sering terjadi di toilet pojok lantai lima, kamu tau kan apa yang pernah terjadi disana??" kata Deon membuat Kiya sedikit syok.
Siapa pak Deon ini? kenapa dia yang bertanya soal ini? kenapa ga pak rektor aja? dan dari mana pula dia tau kalo aku pernah denger suara itu.
"Maaf pak... bapak tahu dari mana?" tanya Kiya.
"Kamu bercerita sedniri Kiya, apa kamu lupa?"
Astaga, ternyata ucapanku saat itu membawaku dalam masalah baru.
"Oh begitu... Tapi saya takut pak, saya juga hanya mendengar loh, sama saya ngintip sih dari celah bawah pintu, jadi yang kelihatan hanya sepatunya saja" kata Kiya dengan polosnya membuat Deon tertawa kecil mendengar ucapan Kiya.
Astaga, senyum nya pak Deon manis banget kaya permen kapas... batin Kiya memandang Deon..
"nanti akan ada team penyidik Kiya, kamu harus berkata jujur... ya?" kata Deon membuat Kiya mengangguk..
"Oh iya, saya minta maaf..." Deon kembali membuat Kiya bingung atas ucapan maaf nya.
"Maaf untuk?" tanya Kiya.
"Saya tidak membalas pesan kamu, saya tengah sibuk dengan beberapa urusan saya.. harap maklum" kata Deon membuat Kiya tersenyum.
"Wah, tidak harus seperti itu pak... saya paham kok" kata Kiya yang ingin sekali bertanya apa kesibukan Deon selain menjadi dosen di kampus itu.
"Sudah makan siang? mau maka. siang bareng??" tanya Deon membuat hati kecil Kiya merasa senang akan ajakan itu, namun terbesit wajah Ichal yang menganggu kesenangann dalam hatinya.
"Mau, tapi sudah terlanjur janji sama Ichal" kata Kiya sambil terkekeh kecil menahan malu akan ucapan jujurnya.
"Kalo makan malam?" tanya Deon membuat Kiya tersenyum lebar.
"Mau ... Mau..." kata Kiya dengan cepat membuat Kiya menutup mulutnya merasa terlalu berlebihan. Deon meresponnya dengan wajah yang terlihat senang di tambah senyum tipisnya.
"Nanti saya chat dimana kita bertemu." kata Deon membuat Kiya mengangguk..
Kiya pun pamit pergi dari ruangan Deon.. keluar dari ruangan Deon Kiya memasang wajah senang riang gembiranya.
Ini harus jadi rahasia dulu... Ichal dan Zhiva gak boleh tahu..
*
*
*
HUHHHHHH...
MOHON MAAF BARU UP..🙏🙏
Pekerjaan sedang banyak-banyak nya, di tambah anak sakit ehh menyusul suami ikut sakit hehehe.
Mohon Maaf sekali lagi, harap maklum 😘😍
malas baca lebih suka dengan in
buntu ya kehabisan