Adrian Walker, seorang pemilik sebuah Restoran terbesar di kotanya, terpaksa menikah lagi dengan seorang gadis bernama Ariana atas permintaan istri pertamanya, Elizabeth.
Elizabeth terpaksa melakukannya karena kedua orangtua Adrian sangat menginginkan kehadiran seorang cucu. Sedangkan Elizabeth tidak mungkin hamil karena rahimnya sudah diangkat akibat kecelakaan yang pernah terjadi padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ekstra Part 2
Setelah Ariana pergi seorang diri, Siska panik. Apalagi Ariana tidak ingin ditemani oleh siapapun untuk menemui Penculik itu. Tanpa pikir panjang, Siska segera menghubungi Adrian yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Dreett ... dreeettt ....
Ponsel Adrian bergetar diatas meja kerjanya. Ia meraih ponsel itu kemudian memperhatikan nomor yang tertera di layar ponselnya.
"Siska? Tumben ..." gumam Adrian sembari meletakkan ponselnya ke samping telinga.
"Ya, Siska! Ada yang bisa ku bantu?" tanya Adrian.
Dengan suara bergetar, Siska memberitahukan tentang penculikan Alice sedangkan Ariana sedang dijalan menuju tempat Penculik itu.
"Apa?!" pekik Adrian,
Adrian panik dan tanpa pikir panjang lagi, ia pergi meninggalkan Restoran miliknya. Beruntung ia ingat untuk menghubungi sahabatnya, yang merupakan seorang Polisi. Ia meminta sahabatnya itu untuk membantunya menemukan Ariana dan Alice, anaknya.
Sementara itu,
Kini Ariana sedang di perjalanan menuju tempat dimana para penculik itu menyekap Alice. Ia diapit oleh dua orang laki-laki bertubuh besar, yang merupakan orang suruhan dari seseorang yang merupakan otak dari penculikan ini.
"Apakah masih jauh?" tanya Ariana kepada kedua lelaki itu.
"Diamlah dan jangan banyak bicara!" bentak salah satunya.
Namun, hal itu tidak membuat Ariana gentar sedikitpun. Yang ia khawatirkan untuk sekarang hanyalah keselamatan Alice.
Setelah perjalanan yang lumayan jauh, mobil yang ditumpangi oleh Ariana masuk kedalam sebuah perkampungan yang penduduknya masih sepi. Bahkan jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya cukup jauh.
Ariana memperhatikan tempat itu dan mencoba merekamnya didalam ingatannya. Hingga akhirnya mereka tiba di depan sebuah bangunan yang kelihatannya sudah tua. Namun, masih kokoh berdiri.
"Ayo, keluar!" ketus salah seorang laki-laki yang tadi mengapit tubuhnya. Lelaki itu menarik tangan Ariana dengan kasar.
"Tidak bisakah kamu bersikap lebih lembut kepada seorang wanita?!" hardik Ariana sembari menarik tangannya kembali sambil menekuk wajahnya.
Lelaki sangar itu hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Ariana tanpa menjawabnya. Dia menuntun Ariana menuju ruangan dimana Alice disekap.
Ariana kembali memperhatikan sekeliling ruangan itu dengan seksama dan mencoba mengingatnya kembali agar ia dengan mudah keluar dari tempat itu setelah berhasil menyelamatkan Puterinya.
Hingga akhirnya Ariana menghentikan langkahnya didepan sebuah ruangan. Lelaki sangar yang tadi menuntunnya, membukakan pintu ruangan itu. Dan dengan kasar, ia mendorong tubuh Ariana hingga masuk kedalam ruangan itu. Ariana kembali mendengus kesal karena mendapatkan perlakuan kasar dari lelaki sangar itu.
"Huft, dasar!" kesal Ariana.
Ariana yang tadinya kesal mendadak panik, ketika melihat anaknya, Alice dengan tangan terikat dan mulut di lakban. Gadis mungil itu dibawa oleh seorang laki-laki bertubuh jangkung dengan setelah jas hitam berharga mahal.
Lelaki itu tersenyum kepada Ariana sembari mendudukkan Alice disebuah kursi yang sengaja diletakkan oleh anak buahnya untuk Alice.
"Hallo, Ariana! Masih ingat aku?" ucap Lelaki itu.
Ariana menggelengkan kepalanya sembari tersenyum sinis. "Kamu benar-benar pengecut! Kenapa beraninya sama anak kecil?!" ucap Ariana.
Lelaki itu tergelak mendengar ucapan Ariana. "Ini satu-satunya cara agar kamu datang kepadaku, Ariana. Entah kenapa, semakin aku mencoba melupakanmu, semakin aku terobsesi akan dirimu," ucap lelaki itu sembari menghampiri Ariana yang sudah tidak bisa lagi membendung kekesalannya.
Lelaki itu tidak lain adalah Thomas, ia memperhatikan tubuh Ariana dari ujung kaki hingga ujung kepala sembari tersenyum nakal. Beberapa kali Thomas mengusap mulutnya karena tidak tahan melihat kemolekan tubuh Ariana.
"Kamu semakin cantik dan menggairahkan, Ariana!" ucapnya disamping telinga Ariana sembari mendesah.
"Kamu menjijikkan, Thomas! Tidak puaskah kamu dengan banyaknya wanita yang sudah berhasil kamu kencani?! hardik Ariana sembari menjauh dari lelaki itu.
"Ya, aku belum puas! Karena aku belum berhasil mendapatkan dirimu! Kamu itu berbeda dari mereka, Ariana! Mereka itu hanya wanita murahan yang bisa dibeli dengan uang! Jika aku kasih uang yang banyak untuk mereka, mereka pasti bersedia menjadi milikku, bahkan tidak sedikit dari mereka yang rela mengkhianati suaminya demi hidup bersamaku! Namun, dirimu tidak! Aku bahkan sudah bingung harus dengan cara apa agar aku bisa mendapatkan dirimu. Dan akhirnya aku menemukan cara ini, walaupun caranya sangat ekstrim! Tapi aku tidak peduli, yang penting aku bisa mendapatkanmu!" tutur Thomas sambil menyeringai menatap Ariana. Seolah ia mangsa yang siap diterka.
"Aku tidak sudi disentuh oleh mu, Thomas!" hardik Ariana dengan wajah memerah karena marah.
"Benarkah? Kalau begitu, artinya kamu sudah siap melihat Alice mati didepan mata kepalamu!" Thomas memanggil anak buahnya untuk segera masuk kedalam ruangan itu.
Tak berselang lama, masuklah seorang lelaki sangar dengan membawa sebuah senjata api. Lelaki itu menghampiri Alice yang menangis tanpa suara karena mulutnya ditutupi lakban. Ia menodongkan senjata itu tepat dikepala Alice.
"Sekarang kamu sudah siap pulang bersama jasad anakmu, 'kan?" tanya Thomas sambil tersenyum sinis memandang Ariana.
"Tidak! Kumohon ... jangan sakiti anakku!" lirih Ariana.
"Kalau begitu turuti semua keinginanku, jika memang ingin anakmu selamat." Thomas kembali menghampiri Ariana kemudian mendekapnya dengan erat. "Jika kamu menolak, maka lelaki itu tidak segan-segan menembakkan pelurunya dikepala Alice," sambung Thomas.
...***...
👍👍👍
smoga saja ariana berjodoh dgn dokter yang sdh menolongnya