Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKADAR MIMPI
Istriku, Raniya... Kamu bukan sekadar ibu sambung. Kamu adalah tulang rusuk-ku. Perempuan yang selalu aku minta dalam setiap do'a dan di setiap sujud-ku....
Bahkan ketika tidur pun, kamu tetap membaluti mahkotamu dengan hijab... Sebegitu keraskah hatimu? Sehingga kamu tidak rela jika yang melihatnya itu pun adalah aku, Raniya...
Raniya... Sang pemberi telah menitipkan-mu menjadi istriku. Kini, aku hanya akan terus berusaha meminta hatimu kepadanya lewat cara yang sama.
Kamu membuatku semakin mencintaimu di setiap hari-nya, dan kamu selalu membuktikan kepadaku, bahwa kamu memang pantas untuk dicintai.
Tidak ada yang salah dari dirimu, Raniya. Yang salah itu aku, karena aku telah terlambat menemukan-mu kembali setelah itu.
Hidupku yang buruk,Raniya... Karena nasibku yang kurang beruntung... Aku dan Renima yang malang harus menderita setelah kepergian Papa dan Mamaku.
Andai papa masih ada. Maka kekacauan yang terjadi sehingga membuat aku harus rela kehilangan kesempatan untuk memilikimu dulu, tidak akan pernah terjadi.
Sepanjang waktu, Taufiq terus saja menyesali masa lalu hidupnya. Hanya saja, cintanya yang kuat terhadap Raniya, membuat dirinya sanggup bertahan.
Sudah larut malam usai pesta terjadi, Taufiq tidak berhenti memandangi wajah teduh Raniya yang telah tertidur lelap di atas tempat tidur. Dia tidak bisa tidur karena memikirkan betapa beruntung dirinya hidup bersama Raniya.
Satu hari saja menjadi suami Raniya, sudah membanggakan untuknya. Dia lebih banyak mengenal Raniya meski baru dalam waktu segitu. Dia baru sadar, betapa bukanlah kesalahan bagi dirinya mencintai Raniya sedari dulu.
Raniya pasti lelah...~ Gumam Taufiq iba. Dia bangkit dari sofa dan melangkah ke arah Raniya. Sesaat, dia pandang wajah Raniya dengan begitu dalam. Hatinya begitu sakit. Dia suami dari perempuan yang dicintainya itu, tapi bukan sebagai pemilik hatinya.
Pandangan Taufiq beralih kepada Langit yang juga tertidur lelap di samping Raniya. Ah... Anak ini... Beruntungnya kamu, Nak...~ Gumam Taufiq sembari tersenyum kecil.
Setelah merapikan selimut yang membaluti tubuh Raniya, Taufiq kembali ke sofa. Dia memejamkan matanya yang mulai terasa perih karena mengantuk.
Sadarnya masih tersisa meski kedua bola matanya telah tertutup rapat. Telinganya mendengar tempat tidur Raniya berderik ringan.
Sepertinya Raniya terbangun~ Gumam Taufiq semakin mempertajam pendengarannya. Dia mulai mengumpulkan kesadarannya kembali, namun tetap berpura-pura terlihat sedang tidur lelap.
Jantung Taufiq tiba-tiba berdetak kencang. Aura Raniya sangat terasa dekat dengan tubuhnya. Dia menahan napas sekuat yang dia bisa. Dadanya mulai sesak ketika selimut yang berada di pinggangnya terangkat hingga menutupi bahunya.
Langkah kaki Raniya berjalan menjauh menuju pintu kamar. Istrinya itu membuka pintu kamar dengan mengendap-endap dan sangat pelan.
Mau kemana Raniya?~ Batinnya. Dia sedikit memberi celah di kelopak matanya, agar bisa melihat kemana Raniya pergi.
Taufiq ikut bangkit untuk membuntuti, setelah Raniya benar-benar keluar dari kamar mereka.
Pemandangan yang sangat mengaharukan di depan matanya. Dia mencoba mengintip Raniya dari celah pintu kamar anak-anak. Raniya keluar kamar hanya untuk mengecek Samudra dan Sunny.
"Semoga menjadi anak yang shaleh dan shalehah, Anak-anak Mommy... Do'akan ibu kalian ya..." Taufiq mendengar sendiri apa yang diucapkan Raniya untuk kedua keponakannya itu. Dia juga melihat Raniya mengecup dahi Samudra dan Sunny secara bergantian.
*****
"Fiq... Fiq... Taufiq..." Raniya berkali-kali menggoyangkan bahu Taufiq dengan lembut.
"Ummm..." Gumam Taufiq masih terlihat enggan membuka matanya. Dia benar-benar mengantuk, karena semalaman tidak dapat tidur.
"Fiq, banguuun..." Panggil Raniya lagi dengan suaranya yang mulai mengeras.
"Iya, Sayang... Sebentar lagi... Aku masih ngantuk..." Rengek Taufiq terlihat manja. Dia sedikit membalikkan tubuhnya menghadap Raniya dengan mata yang masih terpejam. Tangannya menggapai tangan Raniya, dan didekapnya dengan erat.
Raniya terdiam. Dia berhenti membangunkan Taufiq. Hatinya tersulut, iba. Sakit, itu yang dirasakannya ketika mendengar Taufiq mengucapkan kata 'sayang' dalam igauannya.
Merasa suara Raniya lenyap, Taufiq dengan cepat menyalangkan matanya. Dia terkejut. Matanya pertama kali mendapati wajah Raniya dengan raut datar yang sulit ia baca. kemudian, pandangannya turun ke dadanya.
Sesaat, kesadarannya pulih dengan seutuhnya. Taufiq dengan cepat melepaskan tangan Raniya yang didekapnya tadi. "Ma-maaf..." Ucap Taufiq gugup.
"Tidak apa-apa..." Ketus Raniya berusaha menahan air matanya. "Shalat Shubuh... Sudah hampir pukul enam..." Ucap Raniya semakin ketus. Dia bangkit dan berdiri meninggalkan Taufiq yang masih terpelongo di kamar itu menuju ke dapur.
.
.
.
.
.
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍