Evan Pratama adalah lelaki introvert yang memiliki luka dalam pada masa kecilnya. Membuat dia sulit menerima cinta dari seorang wanita. Pribadinya yang tertutup, pendiam dan cuek malah menarik perhatian putri tunggal Richard Brahmana boss pemilik hotel tempat ia bekerja bernama Aluna Jeanela. Semakin acuh Evan padanya malah membuat dia semakin jatuh cinta dan penasaran, bermacam tingkah ia lakukan agar menarik perhatian Evan. Hingga suatu saat Aluna membuat Evan kembali mengingat masa lalunya yang kelam, dendam salah arah Evan pada masa lalunya malah menghancurkan hidup Aluna. Ini lah awal kisah cinta Evan dan Aluna yang berlahan menuntun mereka pada kisah yang tidak mudah mereka lalui. Bagaimana perjuangan mereka untuk dapat bersama dengan luka batin Evan yang dalam? Dan dengan sikap Aluna yang manja dan kekanak-kanakan. Bisakah mereka bersatu dan hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adek siska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HATI YANG HANGAT
Malam itu keluarga Evan datang ke kediaman Aluna atas undangan Richard. Saat Wisnu sekeluarga datang mereka di sambut hangat oleh Richard sekeluarga. Ia menyambutnya dengan sangat antusias dan sangat gembira. Bahkan makan malam mereka sengaja Richard siapkan secara spesial dengan di masak langsung oleh chef terkenal.
Richard sengaja menyambut keluarga Wisnu dengan sangat istimewa untuk meluahkan kebahagiaannya, atas pernikahan Evan dan Aluna 2 bulan yang lalu. Mendapatkan menantu seperti sosok Evan membuat dia merasa sangat beruntung. Apalagi melihat perubahan pada diri Aluna yang manja dan arogan mulai berubah menjadi sosok pribadi yang lebih baik lagi semenjak kehadiran Evan di keluarga mereka.
"Wah, Selamat datang besan. Ayo masuk, masuk," sambut Richard hangat seraya menyalami tamu istimewanya itu.
Syahila yang kebetulan ada di Indonesia pun ikut datang bersama suami dan anaknya.
Dua keluarga yang sempat bersitegang itu sekarang sudah berdamai. Semua tampak bahagia dan seolah pertengkaran mereka di masa lalu tidak pernah terjadi.
Wisnu senang melihat rumah tangga anaknya itu tampak bahagia. Dia sempat khawatir jika Evan dan Aluna tidak cocok, mengingat mereka adalah pasangan yang menjalani proses perkenalan cukup singkat. Apa lagi watak Evan yang keras, disiplin dan mandiri, sedangkan Aluna lembut dan manja, semua hal terbiasa di layani. Seperti sangat bertolak belakangan dengan Evan. Saat melihat Evan baik-baik saja bersama Aluna, itu membuat hati Wisnu menjadi tenang.
Obrolan yang akrab membuat hubungan dua keluarga itu semakin erat. Makanan yang Chef tersebut sajikan pun sangat lezat, hingga semua orang makan dengan lahap. Pelayan yang selalu siap sedia melayani mereka pun menambah kesan mewah makan malam itu, bak di restoran bintang 5.
Selesai makan malam semua orang membentuk kelompok mengobrol mereka masing-masing. Richard dan Wisnu tampak asyik mengobrol di ruang tamu membahas tentang bisnis mereka. Evan, Tama dan suami Syahila mengobrol outdoor di dekat kolam renang sambil merokok di selingi dengan canda dan guyonan ala anak muda. Aluna, Rima dan Syahila ikut di ruang tamu bersama Wisnu dan Richard, walau mereka tampak dengan tema obrolan Masing-masing.
"Bagai mana Evan selama di sini?" tanya Wisnu pada Richard di sela obrolan mereka.
"Hmmmm.... Dia baik selama di sini. Anak mu itu mandiri sekali. Tidak mau mobil dari saya, dia beli sendiri mobilnya. Aluna di suruh kembalikan semua kartu kreditnya sama saya, 'Kalo mau belanja, Luna pakek duit aku aja, Dad.' katanya. Saya suruh kerja di perusahaan gantiin saya, dia mau cari pengalaman dulu katanya. Kadang keras juga dia sama Aluna. Aluna di larang pakek heels, malah ngeyel. Sama dia malah di patahinnya semua Heels Luna yang tinggi-tinggi itu," ungkap Richard sambil terkekeh. "Saya suka dengan anakmu Wisnu. Dia pantang minta-minta kepada orang tua. Prinsip hidupnya bagus, dia juga beridealisme tinggi, kerjanya juga gigih, dan rajin," puji Richard.
"Dia itu dari sekolah dasar sudah cari uang sendiri. Tidak pernah dia minta uang saku sama kita barang sekali. Dia selalu kerja keras buat dapat uang. Dia kerja di tempat Pak Haji ayahnya Jamia tetangga dekat rumah kita," cerita Wisnu. "Kamu tau, Richard? Waktu dia mau kuliah, dia mampu ngumpulin duit 160 juta buat dia kuliah. Buat dapat beasiswa dia belajarnya dengan sangat tekun, sampai dia sakit. Dia sering menang olimpiade waktu sekolah. Waktu dia pergi kuliah, aku ke kamarnya. Ternyata, di kamarnya penuh kardus yang isi piala sama piagam penghargaan dia, juga medali. Baru waktu dia kuliah kita pajang di rumah, karena kita baru tau, dia itu sering ikut lomba dan sering menang, karna itu dia punya tabungan yang lumayan banyak buat anak seumuran dia. Selama ini kita tidak pernah tau kalau dia sering ikut olimpiade. Dia dapat laptop, handphone bermerek, dan banyak hadiah mahal dari olimpiade yang dia dapat. Dari awal dia kuliah sampai S2 di Oxford, tidak sekalipun aku ngeluarin duit buat dia kuliah. Dia beasiswa full dari Jardine. Begitu juga S2, dia urus beasiswa juga. Itu pun dia juga sering Jalan-jalan karena dia dapat beasiswa berlebih, sampe semua dosen, profesor di Oxford kalo nyebut nama Evan Pratama, pasti kenal semua," cerita Wisnu, yang membuat Richard semakin kagum pada Evan. Aluna yang duduk tidak jauh dari Wisnu dan Richard pun ikut mendengarkan dengan seksama.
Sedangkan Wisnu, malah menjadi sedih mengenang bagai mana dia memperlakukan Evan saat kecil.
"Semandiri itu dia. Tapi kami masih memperlakukan nya dengan buruk. Dia marah sekali waktu aku tuduh dia mencuri. Dia tidak bicara sepatah kata pun sejak itu. Dia menjauhi kami semua. Dan akhirnya dia menghilang dari kami. Mungkin wajar dia begitu. Seumur hidupnya dia, tidak pernah kami hargai, padahal dia tidak pernah merepotkan dan dia juga terus berusaha untuk menjadi anak yang baik. Aku berulang kali meminta maaf, dan mencoba memperbaiki hubungan kami. Aku susul dia ke Inggris, tapi dia sangat keras saat marah. Tidak mudah meluluhkannya kalau dia sudah benar-benar marah. Sampai akhirnya waktu yang melunakkan hatinya." Wisnu mulai berkaca-kaca, yang lain hanya menatap Wisnu dengan terdiam, terlihat jelas ada gurat penyesalan yang dalam, di dalam diri Wisnu saat ini.
Aluna terus mendengarkan dan mulai berpikir. Aluna slalu melihat Evan dengan sikap mandiri, keras serta sangat bertanggung jawab. Perlahan dia paham kenapa Evan sulit untuk terbuka, itu semua karena dia pernah terluka di waktu kecil. Dia pernah kecewa sangat dalam. Dia terbiasa sendiri tanpa kasih sayang, tanpa ada yang peduli. Dia terbiasa melakukan sesuatu tanpa ada orang lain yang mendukungnya ataupun memuji. Hingga membentuk Evan menjadi sosok yang tidak pernah menuntut perhatian dan kasih sayang dari orang lain. Dia menjadi sosok dingin, cuek yang terbiasa sendirian.
Semua di lakukan Evan sekedar seperlunya saja untuk di lakukan. Dia tidak perduli dengan apresiasi orang lain terhadapnya. Karena itu Evan selalu berjalan dengan fokus di tujuannya, tanpa terganggu dengan pendapat orang lain. Tidak perduli orang lain suka ataupun menentangnya. Dia terbiasa tanpa orang lain di hidupnya.
Karena itu Evan tidak pernah merayakan hari-hari istimewa, hari ulang tahun sekalipun, dia tidak pernah rayakan, kecuali teman-temannya memaksanya merayakannya. Atau sekedar memberi coklat atau bunga kepada seorang wanita.
Evan juga kurang suka berkomentar untuk sesuatu yang sekedar basa-basi atau sekedar pujian penyemangat. Dia lebih suka blak-blakan, dari pada harus mencari kata-kata manis. Dia lebih memilih mengatakan isi hati sebenarnya. Itu membuat dia terkesan kasar dan arogan. Menutupi sikap hangat dan penuh kasih sayangnya di balik sikap dingin dan acuhnya dia.
...***...
Saat bersamaan Evan datang bersama yang lain dari belakang, karena hari mulai hujan hingga mereka pindah ke dalam rumah, agar tidak ke basahan.
Itu membuyarkan lamunan Aluna, dia tersenyum menyambut kedatangan suaminya itu. Dia merentangkan tangannya manja meminta Evan memeluk dan duduk di sampingnya.
Evan pun berjalan ke arah Aluna dan duduk di sampingnya seraya memeluk, menyambut rentangan tangan Aluna. Aluna segera bersandar di dada Evan dengan manja.
'Van, semoga kamu bisa menyayangi aku dan anak kita nantinya, walaupun kamu tidak pernah mengenal kasih sayang,' batin Aluna. Aluna pun memeluk erat Evan dengan penuh kasih sayang. Evan pun membalasnya dengan seutas senyum tipis dari bibirnya tanpa tau maksud Aluna.
Itu pemandangan yang langka bagi Wisnu. Melihat Evan memanjakan seorang wanita di hadapannya. Dia terbiasa melihat Evan yang dingin dan cuek. Mungkin Aluna berlahan mengajari Evan tentang kehangatan kasih sayang yang selama ini tidak pernah di kenal Evan di rumahnya.
BERSAMBUNG...