Kisah seorang wanita yang di sia-siakan oleh lelaki yang paling di cintai nya.
"Tega sekali kamu Andra, aku sudah berkorban banyak sekali untuk mu, aku meninggalkan Ayah dan Ibu ku demi kamu, bahkan Ibu ku hampir bunuh diri demi kamu bisa di terima oleh Ayah ku, tapi apa balasan kamu, kamu menyakiti aku"
Indah Paramita.
"Aku tidak pernah meminta mu untuk berkorban untuk ku, Aku tidak pernah memaksa mu untuk meninggalkan orang tua mu demi aku dan aku tidak pernah memaksamu untuk menikah dengan ku. Jadi jangan kau anggap kau hebat atas pengorbananmu, ingat! aku tidak pernah memintanya.
Andra wirawan
Lalu bagai manakah kisah selanjutnya?
Akankah Indah akan tetap mempertahankan cinta yang lama yang kini mulai menyakitinya.
Ataukah Indah lebih memilih pergi dengan mencari cinta yang baru dan meninggalkan kenangan lama yang awalnya bahagia tapi akhirnya hampa.
Ataukah Indah akan pergi namun tidak lagi percaya dengan laki-laki karena Indah sudah sangat benci dengan laki-laki karena Ia menganggap lelaki semua penghianat!
Inilah kisahnya
TALAK TIGA (Perjalanan Cinta Indah)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Ehem" Dino berdehem karena ia melihat semua orang di ruangan itu hanya diam saling memandang tidak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan.
"Indah?" kata Bimo, mendengar suara Bimo semua kembali menormalkan diri terutama Boss Yeni.
"Iya Tuan Bimo" jawab Indah sopan.
"Kamu sedang apa di sini?" tanya Bimo karena penasaran.
Mendengar pertanyaan Bimo Indah menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di ruangan itu, dan pandangan terakhirnya jatuh pada Yeni ia membulatkan mata seolah menyuruh Yeni tutup mulut, Yeni menaikan sebela alisnya ia mengisaratkan mengerti dengan apa yang di inginkan Indah.
"Ehem"
"Bukan kah itu kursi untuk Pimpinan" kata Arfan, karena Indah masih berdiri dan hampir mendudukan dirinya di kursi itu.
Inda mendengar apa yang di ucapkan Arfan.
"Iya Tuan, dan saya ingin mempersilahkan Nona Vega untuk duduk" jawab Indah.
Arfan mengangguk mengerti.
Sedangkan Vega dan Dino yang masih berdiri saling pandang, karena mereka belum mengerti dengan maksud dari ucapa Indah.
"Nona Vega sebentar!"
"Semuanya sebentar ya"
Setelah berpamitan undur diri sesaat Indah menarik pergelangan tangan Vega keluar dari ruangan itu, meninggalkan mereka semua dengan rasa bingung.
Kini Indah sudah berada di luar ruangan itu.
"Vega apa kamu masih betah bekerja di sini?" Indah bertanya sambil melipat kedua tangannya.
"Masih Nona" jawab Vega sambil menunduk.
"Kalau kamu masih betah bekerja di sini tatap mata saya!"
Vega langsung menatap mata Indah, karena ia sangat takut dengan ancaman Indah padanya.
"Kalau di pecat aku terancam engga bisa beli tas incaran aku bulan depan, oh tidak!" Vega membatin.
"Iya Nona, apa yang harus saya lakukan?" tanya Vega.
"Waw sepertinya kamu sudah mulai mengerti apa yang saya maksud"
"Kamu harus berpura-pura di depan tuan Arfan kalau kamu adalah anak dari pemilik Prusahaan ini" kata Indah.
Vega sangat merasa terkejut, dengan apa yang ia dengar dari mulut Indah.
"Nona apa maksudnya saya tidak mengerti" tanya Vega karena dirinya memang sedikit bingung dengan maksut ucapan boss nya itu.
"Coba panggil saya Indah saja"
"Ta-tapi No-
"Kamu mau gaji kamu naik atau di pecat!" Indah berbicara dengan tegas.
"Gaji naik saja Nona, saya tidak mau dipecat" kata Vega sambil memahan rasa takutnya.
"Bagus!"
"Panggil saya Indah!"
"Indah" kata Vega dengan sedikit gemeter.
"Ya bagus" jawab Indah dengan tegas dan datarnya.
"Lalu saya harus apa No-" mendapat tatapan tajam dari Indah Vega tidak berani melanjutkan ucapannya.
"Ingat kalau kamu masih betah di sini panggil saya Indah, dan berpura-pura di depan tuan Arfan kalau kamu anak dari Tuan Abdullah" kata Indah sambil membulatkan matanya menahan rasa emosinya.
"Kenapa harus begitu Indah?" Vega bertanya karena rasa penasaran.
"Orang bermimpi siang dan malam biar jadi anak Bos. Lalu jadi orang yang di hormati, dan Buk Bos kenapa malah tidak mau?" Vega bertanya kembali.
"Saya hanya ingin mengajarkan Boss Arfan yang angkuh itu sedikit sopan santun, yang sepertinya tidak ia dapat dari orang tuanya" Indah menjawab pertanyaan Vega.
Vega mengangguk mengerti karena ia juga tau bagai mana angkuhnya Arfan, bahkan orang-orang yang mengenal Arfan hampir semua mengatakan Arfan sangat angkuh.
"Baiklah Buk Bos, saya ikutin permintaan Bu Bos, tapi jadi kan gaji saya di naikin?" tanya Vega dengan senyum sambil menunjukan dua baris gigi putihnya.
"Iya. Tapi kalau sampai dia tau siapa saya sebenarnya, dan saya tau kamu yang membocorkannya maka- " Indah menghentikan ucapanya sambil menatap tajam Vega.
Vega yang mendapat tatapan tajam tentu saja merasa merinding, Vega tersenyum kecut mendapat tatap tajam itu.
"Maka?" Vega mengulangi ucapan Indah karena ia tidak sabar mendengar kelanjutan dari ucapan Indah.
"Maka kamu akan saya cincang hidup-hidup dan saya kasih buat makanan Suami saya" kata Indah menyambung ucapannya yang terputus tadi.
Vega bingung mendengar kelanjutan ucapan Indah barusan ia tidak mengerti.
"Di cincang lalu di beri untuk Suami Bu Bos?, maksudnya?" Vega mengulangi ucapan Indah, ia bingung dan bertanya kembali maksut ucapan Boss nya itu.
"Ya buat makanan Suami saya!" kata Indah lagi.
"Memangnya Suami Ibu Hewan?" Vega bertanya dengan suara yang kecil dan hati-hati karena ia bingung dan penasaran maksut dari ucapan Indah.
"Iya" jawab Indah singkat.
"Haa" Vega melebarkan matanya menatap tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Indah. Vega semakin merinding mendengar suami Bosnya seekor hewan.
"Gila ini Bos cantik-cantik sukanya main sama hewan" batin Vega.
"Suami saya itu Buaya" jawab Indah dengan tegas.
"Hah" Vega menatap tidak percaya matanya melebar bulutnya terbuka mendengar apa yang di ucapkan Indah.
"Tutup mulut mu"
"Suami saya itu Buaya darat!"
Kata Indah untuk memperjelas ucapannya, karena Indah tidak mau semakin membuat Vega seperti orang bodoh dan kebingungan.
"Ayo masuk kedalam dan mainkan peran kamu menjadi saya dan saya menjadi kamu!"
Setelah mengataka itu Indah langsung kembali ke ruang rapat yang sebelumnya ia tinggalkan. Semua orang yang menunggu mereka di ruangan itu menatap Indan dan Vega bergantian mereka penasaran apa yang kedua manusia itu lalukan di luar tadi sementara rapat akan di mulai.
Setelah Indah dan Vega duduk di kursi rapat yang akan di laksanakan, Dino menatap bingung karena Vega yang duduk di kursi pimpinan sana bukan Indah. Tapi Dino mulai mengerti dengan keadaanya.
"Mungkin Nona berusaha menutupi identitas nya dari tuan Arfan" batin Dino.
"Baik semuanya rapat akan kita mulai" kata Vega yang membuka pembicaraan terlebih dahulu.
Vega terus meprensentasikan apa saja yang menjadi pokok pembahasan mereka, setelah Vega selesai dengan presentasinya Vega menatap ketiga rekan bisnis yang duduk saling berhadapan.
"Ada pertanyaan?" Vega bertanya kepada rekan bisnisnya.
"Nona em siapa nama Anda?" Arfan bertanya.
"Saya Vega tuan"
"Apa anda anak dari Tuan Abdullah?"
Mendengar pertanyaan dari Arfan, Vega menatap Indah, Indah membalas tatapan Vega dengan melebarkan matanya dengan menahan gugup Vega menjawab.
"Iya Tuan" jawab Vega.
"Mana kamera, kamera mana aku mau lambaikan tangan, aku udah engga sanggup" batin Vega.
"Lalu Dia siapa?" Arfan bertanya pada Vega namun tangannya menunjuk pada Indah.
"Aduh pecat atau gaji naik" bati Vega.
"Saya Indah tuan, saya hanya Art di rumah Nona Vega, dan sekarang asisten Nona sedang pulang ke kampung halamannya jadi saya sementara yang menggantikan pekerjaan asisten Nona Tuan" Indah yang menjawab pertanyaan Arfan walau pun pertanyaan itu seharusnya Vega yang menjawab.
Huuf!
"Ternyata naik gaji" batin Vega karena merasa selamat.
"Setelah ini akan aku kerjai kau habis-habisan, agar sipat sombong mu itu sedikit berkurang" batin Indah.