Sequel Mafia's in Love.
“Seorang wanita juga bisa melukai saat hatinya telah terluka. Tidak ada yang membedakan antara pria dan wanita. Bukan hanya hati, aku juga bisa melukai seluruh tubuhmu dengan tanganku sendiri.” Eleonora.
Seorang wanita yang mengubah hidupnya, menjadi jahat setelah ia di lukai. Hidupnya yang dulu terasa tenang dan tenteram harus berubah menjadi penuh darah dan tangis air mata. Tangan yang biasa digunakannya merias wajah juga harus berganti menggenggam pistol dan belati.
Semua karena cinta. Cinta memang bisa merubah seseorang menjadi jauh lebih baik. Namun, tidak dengan wanita bernama Eleonora. Tanpa disengaja, ia terjerumus ke dunia hitam untuk membalas rasa sakit hatinya kepada pria yang pernah ia cintai.
Apakah Eleonora berhasil membalaskan sakit hatinya? Apakah selamanya Eleonora akan berada di dalam dunia hitam? Apakah Eleonora akan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlambat
Beberapa jam yang lalu.
Kwan baru saja selesai mandi. Pria itu duduk di atas tempat tidur dengan handuk putih yang masih melilit di pinggang. Satu tangannya mengotak-ngatik ponsel miliknya. Ia baru saja mengatur keberangkatan ke Sapporo beberapa jam lagi. Walau wajahnya terlihat kesal. Tapi, Kwan tidak bisa membantah.
“Aku baru saja tiba. Belum sempat bersenang-senang sudah di suruh pulang,” umpat Kwan kesal di dalam hati.
Kwan melempar ponselnya di atas tempat tidur. Pria itu mengambil setelan bajunya. Ia memilih setelan rapi seperti pria sukses. Kwan ingin Kenzo memandangnya sedang bekerja, bukan main-main saat ada di Brazil.
Kwan memasang dasi di lehernya. Pria itu mengeryitkan dahi saat mendengar deringan ponselnya di atas tempat tidur. Ia mengabaikan panggilan masuk itu sejenak sebelum melanjutkan kegiatannya pada simpul dasi. Tapi, ponsel itu kembali berdering. Seperti ada sesuatu yang gawat.
Kwan memutar tubuhnya. Ia berjalan ke arah tempat tidur dan meraih ponselnya. Dahinya saling bertaut saat melihat nama Shabira di sana. “Mama?” celetuk Kwan pelan. Pria itu segera mengangkat panggilan masuk Sang Ibu sebelum melekatkannya di telinga.
“Ya, Ma. Ada apa? Kwan malam ini akan kembali ke Sapporo. Maaf! Karena Kwan tidak minta izin dulu saat berangkat ke Brazil,” ucap Kwan cepat. Pria itu tahu maksud dari telepon ibu tercintanya.
“Kwan, di mana Leona? Apa dia bersamamu?” ucap Shabira dengan wajah panik.
“Kak Leona...,” ucapan Kwan tertahan. Pria itu sendiri tidak tahu di mana keberadaan Leona saat ini. Tapi, jika mengatakan pada Shabira kalau Leona tidak ada di sampingnya. Itu sama saja seperti menggali kuburan sendiri. Dengan cepat Shabira akan mengoceh panjang lebar dan membuat telinganya panas. “Kak Leona sedang mandi, Ma,” ucap Kwan pelan. Ia terpaksa berbohong demi keadaan.
“Syukurlah. Semua pengawal tidak tahu keberadaan Leona saat ini. Tante Serena terlihat sedih dan khawatir sejak tadi. Kwan, kami mengalami masalah di Sapporo. Apa kau bisa menjaga Leona untuk menjamin kalau kakakmu akan baik-baik saja?” ucap Shabira dengan suara yang serius.
“Iya-iya, Ma.” Kwan merasa bersalah telah membohongi ibunya. “Apa selama ini Tante Serena mengirim orang untuk menjaga Kak Leona di Brazil?” ucap Kwan bingung. Pria itu baru saja menyadarinya. Selama enam bulan ini ia berpikir kalau Leona tidak lagi mendapat pengawasan dari Serena.
“Ya. Semua selalu memberi kabar kalau Leona baik-baik saja. Tapi, tidak malam ini. Mereka menghilang entah kemana,” sambung Shabira lagi.
“Baik, Ma. Kwan akan menjaga Kak Leona. Mama jangan khawatir,” ucap Kwan pelan. Panggilan telepon itu terputus.
Kwan memandang layar ponselnya sebelum berjalan cepat ke arah pintu. Ponsel yang sempat ada di genggamannya kembali ia kotak katik untuk menghubungi Leona. Satu panggilan tidak terjawab. Pria itu tidak ingin menyerah. Ia melayangkan lagi panggilan kepada Leona. Sungguh sangat mengecewakan. Leona mematikan ponselnya. Hal itu berhasil membuat Kwan semakin panik.
“Kak Leona, di mana kau berada saat ini? Aku harap kau baik-baik saja,” gumam Kwan di dalam hati.
Kwan berjalan cepat meninggalkan kamar tersebut. Ia melangkah cepat menuju lift. Pria itu ingin segera mencari keberadaan Leona. Ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Leona. Kwan memandang beberapa pria yang sejak tadi mengawasinya. Pria itu melirik sekilas sebelum masuk ke dalam lift. Belum sempat lift tertutup, pria-pria itu masuk ke dalam lift yang sama dengan Kwan. Mereka berdiri dengan ekspresi wajah yang sangat tenang. Posisi Kwan ada di depan.
Kwan menekan tombol yang menuju lantai parkiran. Pria itu sudah memasang wajah waspada. Pistol dan belati telah setia menemaninya. Apapun keadaan yang ia terima, Kwan siap bertarung.
Pintu lift terbuka. Kwan berjalan cepat untuk meninggalkan lift tersebut. Dua pria yang sejak tadi berada di belakangnya kembali mengikutinya. Semakin cepat langkah kaki Kwan semakin cepat pula langkah kaki mereka.
Kwan memutar tubuhnya lalu menodongkan senjata api ke arah dua pria tersebut. Kwan tidak lagi bisa bersabar. Pria itu ingin segera menyelesaikan permainannya dengan dua pria yang mengincarnya.
Setelah melihat reaksi yang diberikan Kwan, dua pria juga mengeluarkan senjata api mereka. Kwan dengan cepat menembak salah satu tangan pria sebelum melempar belatinya di tangan pria yang lainnya. Dengan gerakan cepat, Kwan melayangkan satu tendangan di wajah pria itu.
Satu pria mundur hingga beberapa langkah. Kwan menodongkan senjata apinya lagi ke arah kaki pria yang masih bertahan pada posisinya. Darah berkucur deras. Kwan tidak memiliki banyak waktu. Pria itu segera menghabisi dua pria yang menghalanginya. Ia tahu kalau kini pasti Leona dalam bahaya. Dua pria itu muncul hanya untuk menghalangi Leona dari bahaya.
Tidak butuh waktu lama, Kwan berhasil mengalahkan dua pria tangguh itu. Ia terlihat puas saat melihat lawannya tidak lagi bernyawa. Pria itu memutar tubuhnya dan berlari ke arah mobil. Kwan ingin segera pergi mencari Leona.
Kwan duduk dengan posisis nyamannya. Ia tidak tahu harus ke mana mencari Leona. Brazil bukan sebuah kompleks perumahan yang bisa ia jelajahi dalam kurun waktu satu jam saja. Pria itu kembali ingat dengan Alanda. Hanya wanita itu yang memiliki kemampuan luar biasa yang bisa ia mintai pertolongan saat ini.
Walau ada wajah ragu-ragu karena ini pertama kalinya Kwan berani menghubungi Alana. Tapi, ia berusaha berani. Selama ini Aleo yang selalu menjadi tempat Kwan untuk menanyakan kabar Alana.
“Hallo, Alana. Apa kau bisa minta tolong?” ucap Kwan penuh harap.
“Kwan? Apa yang bisa aku bantu?” ucap Alana dari kejauhan.
“Alana, bantu aku untuk mengetahui keberadaan Kak Leona. Aku sangat mengkhawatirkan keadaannya saat ini. Aku akan mengirim nomor teleponnya,” ucap Kwan cepat. Terdengar jelas suara kekhawatiran pria itu.
“Jangan! Aku punya nomor Kak Leona. Ok. Tenanglah. Aku akan melacaknya segera,” ucap Alana untuk menenangkan Kwan. Wanita itu belum mau mematikan panggilan teleponnya.
Kwan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Satu tangannya masih sibuk memegang ponsel yang melekat di telinga. Wajahnya masih tetap kahwatir.
“Kwan, Kak Leona ada di sebuah hotel. Sekitar 20 kilometer dari jarakmu saat ini,” ucap Alana dengan suara lembutnya.
Kwan kembali bernapas lega. “Terima kasih, Alana.” Kwan memutuskan panggilan teleponnya. Pria itu kembali fokus pada laju mobilnya. Kwan ingin segera menemui Leona dan menyelematkan wanita itu.
Setelah menempuh perjalanan hingga beberapa saat, Kwan tiba di depan hotel tersebut Pria itu tidak lagi peduli dengan mobilnya yang parkir sesuka hati. Kwan berlari kencang untuk masuk ke dalam hotel. Ia tidak tahu nomor kamarnya. Pria itu terpaksa mengandalkan ketampanannya untuk menggoda pihak resepsionis agar mau memberi tahunya.
Namun, langkahnya terhenti saat ia bertemu Zean di lantai bawah. Sorot mata Zean tidak lagi sama dengan apa yang pernah ia lihat sebelumnya. Pria itu terlihat seperti pria berbahaya yang patut di hindari. Melihat Zean berada di hotel yang sama dengan keberadaan Leona, Kwan berlari mendekati Zean. Pria itu sudah tidak sabar untuk memberi pelajaran kepada Zean.
Belum sempat Kwan mendekati Kwan, sudah ada sepuluh orang berbadan tegab menodongkan senjata api ke arah tubuhnya. Kwan terdiam dengan posisi bingung. Bukan senjata api yang membuatnya kaget. Tapi, pria-pria yang kini menodongkan senjata api itu adalah pasukan S.G. Group. Kwan baru saja sadar kalau kini pengawal S.G. Group telah berkhianat.
“Kau mencarinya?” ucap Zean dengan suara yang sangat tenang.
Kwan hanya diam sambil menggertakkan giginya. Pria itu juga mengepal kuat tangannya. Ingin sekali ia memukul Zean detik itu juga. Tapi, jumlahnya tidak lagi seimbang. Kapan saja pelatuk senjata api itu di tarik, maka Kwan akan kehilangan satu-satunya nyawa yang ia miliki.
“Di mana Kak Leona?” ucap Kwan dengan suara merendah. Pria itu terpaksa mengalah demi menyelamatkan Leona. Walau ia sendiri tidak tahu, masih bisa atau tidak menyelamatkan Leona.
“Dia sedang tidur. Mungkin kelelahan karena terlalu asyik-”
Kwan melangkah maju. Pria itu mengangkat tangannya yang sejak tadi terkepal kuat. Namun, senjata api itu lagi-lagi mengahalanginya. Zean tertawa kecil sebelum melanjutkan langkah kakinya. Pria itu tidak lagi tertarik untuk berbincang dengan Kwan.
Kwan memandang kepergian Zean dan pasukan S.G. Group. Pria itu kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ke resepsionis. Tiba-tiba ada seorang OG yang menyapa Kwan. Wanita itu memberi tahu nomor kamar Leona. Dengan gerakan cepat Kwan berlari menuju kamar Leona. Debaran jantung pria itu tidak lagi bisa tenang.
“Kak Leona. Aku harap kau baik-baik saja. Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan baik.”
Aku kembali mengulik kisa terdahulu disini. Entah ada yang ingat siapa aku? Tak mengapa jika tidak ada yang ingat, cukup aku saja yang ingat😿.
Aku Cio