"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
"Pak!"
"Heemm?"
“Citra mau minta sesuatu,” ucap Citra pelan, sore itu di ruang keluarga. Suaranya lembut tapi matanya menyimpan keteguhan.
Rama menoleh dari koran yang sedang dibacanya. “Minta apa, Cit?”
“Aku pengen bikin sarimbit, Pak,” jawabnya mantap.
"sarimbit?"
"Iya, kayaknya bagus deh, Pak. Kalau nanti kita datang ke kondangan pake sarimbitan."
Rama mengulas senyum. "Boleh juga. Saya juga belum pernah sarimbitan."
Citra sedikit terkejut, "Sama Tante Lani dulu?"
Rama menggeleng, "Kami enggak pernah sarimbitan, Cit. Lagian,... Waktu itu kami nikah muda. MBA."
"Oohh..."
"Saya sibuk kerja waktu itu. Tau-tau dia udah diambil orang."
"Kita... Sama ya, Pak. Rava juga, tau-tau udah diambil orang. Citra jadi ingat kata Mama Lilis, Rava,... Nurun dari mamanya."
Rama tersenyum, lalu mendekat dan merangkul istrinya. Tau-tau, bibir mereka sudah saling menemukan.
"Pak..." bisik Citra saat bibir mereka sedikit berjarak, meski ujung hidung keduanya masih bersentuhan.
"Hem?"
"Kalau skalian buat Ayah, Bunda, sama Hengki gimana?"
Rama terkekeh pelan. "Enggak jadi saeimbit dong. Itu namanya seragam."
"Sama aja, Pak. Besok pas acara resepsi Cantika, kami bisa pakai bareng."
"Baiklah. Coba kamu tanya ukuran mereka."
"Buat Mama sama Papa juga. Mereka mau datang juga enggak?"
Rama menatap istrinya lama. "Mama sama Papa sejak dulu enggak suka sama Rava ataupun Lani. Kemarin pas nikahan sama kamu aja, Mama enggak mau datang. Jadi, saya datang sendiri, kan?"
Citra mengangguk. "Oohh, begitu ya? Tapi, nanti boleh kan kalau Citra tawarin Mama?"
Senyum kecil muncul di wajah Rama. Ia meraih tangan Citra. "Boleh. Tapi, waktunya cuma seminggu, entah nanti tukang jahitnya bisa apa enggak kalau pesan terlalu banyak."
"Beli yang udah jadi aja, Pak."
"Kita bicarain lagi besok kalau udah dapat sizenya. Hemm?"
***
Keesokan harinya, mereka berdua pergi ke butik langganan Bu Lilis, ibu Rama. Citra memilih kain batik berwarna biru tua dengan motif parang dan sentuhan emas. Elegan dan berwibawa. “Yang ini, Pak. Anggun tapi nggak berlebihan.”
Rama mengangguk setuju. “Kamu pake apa aja cocok, Cit.”
"Hiihh, Pak Rama!" Citra cemberut, tapi pipinya bersemu. "Coba tanya Mama, Mama mau enggak model begini?"
"Bentar, biar saya telpon dulu."
Rama mengeluarkan hpnya. Lalu melakukan panggilan video. "Halo, Ma!"
"Apa Ram?"
"Kami lagi nyari kain yang cocok buat kita besok. Coba lihat, Mama suka enggak?" tanya Rama sambil menyorot kain yang Citra bentangkan.
"Bagus. Citra gimana?"
Rama terkekeh pelan, "Dia malah nyuruh tanya Mama gimana."
bu Lilis ikut tertawa pelan, "Mama mah ikut kalian aja. Apa aja Mama mau, yang penting nyaman, adem."
"Oke eh, Ma."
Setelah pesanan selesai dicatat, Citra menarik napas lega. “Akhirnya... rasanya puas.”
Rama menatapnya dengan lembut. "Sekarang mau apa?"
“Pak, aku mau ke salon. Mau perawatan dikit, boleh?” ujarnya sambil tersenyum manja.
Rama tertawa kecil. “Pergi aja, nanti Mama saya temani kamu. Saya masih harus ke kantor.”
"Oke, siap bos!"
Beberapa jam kemudian, Citra sudah duduk di kursi salon, ditemani Bu Lilis yang tampak menikmati suasana. “Kamu tuh cantik banget, Cit,” puji Bu Lilis sambil menyeruput macha dari layanan salon. “Dari sananya udah cantik, dirawat malah makin bersinar.”
Citra terkekeh malu. “Ah, Mama bisa aja. Maaf ya, Ma. Kayak Citra nih, ngabisin duitnya pak Rama.”
“Hihihi, biarin aja. Emang tugas istri tuh, ngabisin duit suami,” sahut Bu Lilis lagi. “Habis ini, coba kita beli yang blink-blink, biar makin cetar nanti.”
Citra menatap Bu Lilis di cermin dan tersenyum. Ia sangat bersyukur karena punya ibu mertua yang mendukungnya.
"Jadi, kamu beneran mau datang di resepsi Rava?"
"Iya, Ma. Boleh, kan?"
"Kenapa?"
Citra diam sesaat. "Mama tau nggak? Kalau Rava tak datang waktu itu karena nikahin sepupuku?"
"Apa? Memang gila si Rava itu!" geram bu Lilis, bibirnya menipis, dan tangannya mengepal.
"Karena itu, Ma. Saya mau datang. Jika dia bisa bersama sepupuku, saya juga bisa dengan papanya."
Bu Lilis menatap Citra lama, tajam, hingga Citra sedikit gentar. Tapi, dia sudah bertekat. "Ini tidak benar!"
Citra meneguk ludahnya, dia sudah bersiap jika bu Lilis melarang.
"Tapi Mama suka!"
Citra terkejut, tapi bernapas lega.
"Memang didikan Lani ini enggak bener! Dia bukannya membimbing anaknya malah..."
"...yang Citra dengar, Cantika sudah hamil, Ma..." Lirih suara Citra.
Bu Lilis berdecak pelan, "Emang enggak bener keluarga itu. Untung saja Rama sudah nikah sama kamu."
***
Sementara itu, di rumahnya, Lani duduk gelisah. Sudah beberapa hari ini ia penasaran tentang istri baru Rama. Siapa perempuan yang berhasil menggantikan dirinya?
“Kenapa semua orang nggak tahu?” gerutunya sambil menatap ponsel. Ia mencoba menelepon Rama, tapi tak diangkat. “Apa dia sengaja ngindar?”
Rasa penasaran berubah menjadi kekesalan. Akhirnya Lani nekat menekan nomor lain — milik Bu Lilis, mantan mertuanya yang dulu sangat disegani.
Telepon tersambung.
“Ya, Lani?” suara Bu Lilis terdengar datar di ujung sana.
“Mama... maaf ganggu. Saya cuma mau nanya, siapa sih istri barunya Rama?” tanya Lani, berusaha terdengar ramah.
Bu Lilis yang sedang duduk bersama Citra menatap ponselnya dengan tatapan jengkel. Citra sempat melirik, tapi Bu Lilis memberi isyarat agar tak cemas.
“Kenapa kamu tanya?” nada suaranya tegas. “Kamu udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Rama, Lan.”
Lani tercekat. “Mama, saya cuma pengin tahu. Masalahnya, dia itu kan pap...”
“Dulu kamu yang ninggalin dia, Lani!” potong Bu Lilis tajam. “Sekarang kamu nggak usah pura-pura peduli. Rama udah bahagia. Istrinya jauh lebih baik dari kamu.”
Lani terdiam, wajahnya memerah. “Mama jangan banding-bandingin saya—”
“Sudah! Jangan ikut campur rumah tangga orang yang udah kamu sia-siakan. Mau saya kasih saran? Sibuklah urus anak kamu dan suami kamu sendiri!” Bu Lilis menutup telepon dengan ketus. Lalu menatap Citra sambil tertawa kecil. “Maaf ya, Cit. Mama sengaja ngomel di depan kamu, biar kamu tahu, Mama sepenuhnya di pihak kamu.”
Citra tersenyum malu. “Terima kasih, Ma...”
“Udah, sekarang kamu fokus dandan yang cantik. Biar nanti pas mereka lihat, nyesek!”
Citra tertawa kecil. “Baik, Mama.”
***
Beberapa hari kemudian, malam sebelum pernikahan, Rava duduk di kamarnya dengan wajah gelisah. Di depan layar ponselnya, ia menatap nama yang sudah lama tak ia hubungi: Citra.
Tangannya bergetar saat hendak menekan tombol panggil. Tapi setiap kali ia coba, sambungan gagal. “Dia nggak mau angkat,” gumamnya lirih.
Ia membuka media sosialnya — mencari nama Citra di kolom pencarian. Dan di sana, postingan terakhirnya muncul: foto tangan Citra bertaut dengan tangan Rama di atas meja restoran. Caption-nya sederhana namun menusuk: “Terima kasih untuk suami tercinta. Hidupku kini lengkap.”
Rava menatap layar itu lama. Sesak. Rasa bersalah menelan dirinya pelan-pelan. “Aku yang pertama menghianati... tapi kenapa rasanya aku yang ditinggal?”
Ia memejamkan mata, berharap bisa tidur, tapi rasa bersalah itu menolak pergi.
***
Pagi resepsi pun tiba.
Gedung Grand Satria tampak megah, dihiasi bunga putih dan biru muda. Musik lembut mengalun, aroma wangi bunga melati memenuhi udara. Rava berdiri di pelaminan dengan jas abu-abu muda, Cantika di sampingnya tampak cantik dalam gaun putih berkilau. Yani tersenyum puas menyambut tamu di depan pintu.
“Selamat ya, Bu Yani, anaknya udah nikah,” ujar salah satu tamu.
“Iya dong,” jawab Yani bangga. “Calon besan saya juga orang berada.”
Namun di sudut ruangan, beberapa tetangga berbisik-bisik. “Itu yang dulu calon suaminya si Citra, kan?” gumam salah satu.
“Iya... Jadi waktu itu enggak datang karena mau nikahin Cantika. Ter-la-lu.”
“Ya ampun... kok bisa ya. Malu banget kalau aku jadi mereka.”
"lah, orang kayak mereka mana punya malu."
"hmm, egois ya."
Tawa kecil dan cibiran terdengar di antara bunyi gamelan lembut. Cantika menahan senyum gugup, pura-pura tak dengar.
Sementara Lani duduk di kursi kehormatan, gelisah. Matanya terus menatap ke arah pintu masuk. “Katanya Rama mau datang sama istrinya,” gumamnya dalam hati. “Siapa sebenarnya perempuan itu?”
"Kenapa kamu gelisah, Sayang?" tanya suaminya.
"Rama. Kenapa dia tak datang dihari resepsi anaknya. Sungguh terlalu."
Beberapa tamu juga mulai menoleh ke arah pintu. Suara bisik-bisik kembali terdengar.
Dan tiba-tiba—
Dari arah pintu masuk, langkah kaki terdengar berirama. Musik pelan berhenti sejenak. Semua kepala serentak menoleh.
Rama muncul… dengan seseorang di sisinya.
meninggal Juni 2012
😭😭