Menjadi artis terkenal tidak selalu membuat bahagia, Ivy Brown harus menyaksikan adiknya diperkosa dan dibunuh, dia melarikan diri dan mengalami kecelakaan hebat. Mobilnya hancur sedangkan kondisinya mengenaskan, ia tidak sadarkan diri dan mengalami koma.
Saat dia tersadar, Ivy tidak mengenali dirinya sendiri dan yang lebih membuatnya kaget,seorang pria tampan berada disisinya dan mengaku sebagai suaminya. Ivy mencoba bertahan di samping pria itu dan pada saat ingatannya kembali, sebuah konspirasi yang dia dapat.
Pengkhianatan, cinta, persahatan dan dendam menjadi satu saat dia tahu siapa dalang atas kematian dan orang yang memperkosa adiknya.
Akankah dia mampu bertahan dengan pria yang mengaku sebagai suaminya? Sedangkan sebuah bukti dikirimkan untuknya yang membuktikan jika pria itu ikut terlibat atas pemerkosaan dan pembunuhan adiknya.
Bisakah dia membalas dendam? Sedangkan cinta mulai tumbuh di hatinya untuk pria yang telah terlibat menghabisi keluarganya.
Antara cinta dan dendam, yang mana harus dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32. MFH: Gara-gara ponsel
Sebuah pesan masuk keponsel Henry saat itu dan dia sedang berada dikantornya.
Henry membaca pesan yang dikirimkan oleh ibunya dan tersenyum.
"Henry, apa kau sedang bersama dengan calon menantuku?" ini pesan yang ditulis oleh ibunya dan dengan cepat, Henry membalas pesan ibunya sedangkan senyum semakin mekar diwajahnya.
"Tidak mom, aku dikantor. Kenapa?" tanyanya.
"Oke baiklah, mommy akan pergi kerumahmu bersama Elena untuk menjenguk calon menantuku nanti."
Henry kembali membalas pesan dari ibunya.
"Baiklah, aku akan pulang nanti siang."
Setelah membalas pesan dari ibunya, Henry meletakkan ponselnya diatas meja dan kembali mengerjakan pekerjaannya. Tidak lama kemudian, Franks masuk kedalam ruangannya sambil membawa beberapa kertas ditangannya.
"Bos."
"Ada apa?" Henry menjawab asistennya tanpa melihatnya.
"Aku sudah menemukan dokter yang bagus untuk mengembalikan ingatan nona Ivy." jawab asistennya.
"Oh ya? Suruh dokter itu kemari."
"Itu dia masalahnya bos, jadwalnya sudah penuh sampai tiga bulan kedepan."
"Tiga bulan?" Henry menghentikan pekerjaannya dan menatap Franks dengan tajam.
"Apa tidak ada dokter lain?"
"Banyak bos cuma dokter ini terkenal hebat dengan terapi yang dia berikan dan pasien akan mendapatkan ingatannya dalam waktu singkat."
Henry diam saja dan tampak berpikir, tiga bulan? Dalam waktu tiga bulan selama menunggu dokter itu datang akankah Ivy sudah memiliki perasaan untuknya? Dan dalam waktu tidak bulan, apakah Ivy akan mendapatkan ingatannya kembali secara tiba-tiba sebelum dokter itu datang?
Banyak kemungkinan yang menjadi pertimbangan dan tidak ada yang tidak mungkin terjadi apalagi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi hari esok.
Henry masih diam saja sedangkan Franks menunggu jawaban darinya.
"Bos, jika kau tidak bisa menunggu maka aku akan mencari dokter lainnya untukmu."
"Tidak perlu, aku akan menunggu dokter ini. Kau bilang dia hebat bukan bisa mengembalikan ingatan pasiennya dalam waktu singkat?"
"Yang aku tahu begitu."
"Jika begitu buat janji dengannya, hanya tiga bulan maka aku akan menunggu." perintahnya dan dia berpikir, dalam waktu tiga bulan sebelum ingatan Ivy kembali dia sudah harus mendapatkan hati Ivy.
"Baik bos." Franks hendak keluar tapi saat itu, Henry teringat dengan sesuatu dan menghentikan langkah asisten pribadinya.
"Pergi belikan ponsel untukku!" perintahnya dan dia mengeluarkan sebuah kartu dan melemparkannya keatas meja.
"Ponsel merk apa bos?" Franks bertanya sambil mengambil kartu yang dilemparkan oleh bosnya.
"Apa saja yang disukai wanita! Beli yang bagus dan aku tidak peduli harganya." perintahnya.
"Baik." Franks keluar dari sana untuk menjalankan perintah sedangkan Henry kembali mengerjakan pekerjaannya karena dia ingin pekerjaannya cepat selesai agar dia bisa pulang untuk menemani Ivy.
Setelah beberapa saat dan Franks sudah mendapatkan apa yang dia mau, Henry melihat jam dipergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang jadi sebaiknya dia pulang.
Henry mengambil ponsel baru yang diletakkan Franks diatas meja dan segera keluar dari ruangannya untuk pulang.
Setelah tiba dirumahnya yang dia cari terlebih dahulu adalah Ivy, Henry melepaskan jas yang dipakainya dan segera masuk kedalam kamarnya.
Didalam sana Ivy sedang duduk menghadap terlevisi dan menonton sebuah drama, sesekali Ivy terlihat sedang menghapus air matanya. Ada apa dengan Ivy? Kenapa dia terlihat menangis?
Henry melemparkan jas dan ponsel yang dia bawa keatas ranjang dan bergegas menghampiri Ivy, dia juga berlutut didepan Ivy untuk melihat keadaannya.
"Hei ada apa denganmu? Apa kepalamu sakit lagi?" Henry tampak khawatir dan mengusap air mata Ivy.
"Oh Henry, kau sudah kembali."
"Ivy, ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Henry lagi.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir. Aku menangis karena aku sedang menonton drama."
"Oh astaga! Aku kira terjadi sesuatu padamu!" Henry langsung tampak lega.
"Maaf, aku hanya bosan dan ingin melihat film yang aku mainkan dulu. Aku pikir aku bisa mengingat sesuatu tapi aku jadi larut dengan jalan ceritanya."
Henry terkekeh dan mengusap air mata Ivy yang tersisa.
"Baru kali ini aku melihat ada artis yang menangis saat menonton drama yang dimainkannya."
"Apakah aneh?" tanya Ivy.
"Tidak." Henry bangkit berdiri dan mengangkat Ivy dari kursi rodanya.
"Mau kemana?" Ivy melingkarkan kedua tangannya keleher Henry.
"Ranjang." jawab Henry singkat.
"Aku sedang tidak mau tidur, Henry."
"Siapa bilang ranjang hanya untuk tidur saja?"
"Lalu?"
Henry tersenyum dan mendekatkan wajahnya sedangkan Ivy tampak gugup.
"Banyak hal yang bisa dilakukan diatas ranjang, Ivy." bisiknya sambil menggigit daun telinga Ivy.
"Co...contohnya?" Ivy semakin gugup dan wajahnya mulai memerah.
"Main kartu, main Mahyong, banyak permainan yang bisa dilakukan diatas ranjang Ivy dan aku ingin mengajakmu main?" Henry kembali mengigit telinga Ivy karena dia sedang menggoda Ivy saat ini sedangkan jantung Ivy mulai berdebar.
"Ta..tapi ini masih siang, Henry."
"Kenapa? Semua orang memainkannya! Siang, malam semua orang memainkannya sampai lupa waktu."
"Oh ya? Apa mereka monster?"
Henry kembali terkekeh dan duduk disisi ranjang sedangkan Ivy ada diatas pangkuannya. Ivy semakin tampak gugup dan wajahnya juga semakin merona, apakah ini saatnya?
Dengan perlahan, tangan Henry sudah mengusap wajah cantik Ivy sedangkan Ivy jadi salah tingkah.
"Ivy, apa kau siap bermain denganku?" bisiknya.
"Hen..Henry, jangan sekarang mainnya."
"Kenapa?"
"Aku..aku?" Ivy semakin gugup sedangkan Henry terkekeh.
Henry mulai mencium bibir Ivy dan mel*matnya, pelan tapi pasti, tangan Henry sudah merayap untuk mengapai sesuatu dan pada saat mendapatkannya, Henry melepaskan bibir Ivy dan memandangi wajah Ivy yang memerah dengan senyum diwajahnya.
"Kau sudah tampak tidak sabar." godanya.
"Ti..tidak!" jawab Ivy.
"Baiklah, apa kau siap?"
"Hm." Ivy memalingkan wajahnya yang memerah.
"jika begitu ayo, aku akan mengajarimu memainkan benda ini." Henry menunjukkan ponsel yang dia raih tadi.
"Hah?" Ivy tercengang seperti orang bodoh.
"Maksudnya?"
"Kenapa wajahmu seperti itu?" Henry terkekeh melihat wajah Ivy.
"Ja, jangan bilang!" Ivy menunjuk ponsel yang dipegang Henry dan tampak tidak percaya.
"Ya, kau kira apa? Kau ingin ponsel bukan? Jadi aku akan mengajarimu memainkannya, eh menggunakannya." ucap Henry dengan senyum diwajahnya
"Uh!" Wajah Ivy merah padam karena dia sangat malu, dia kira mereka akan main? Dia segera memeluk Henry dan menyembunyikan wajahnya dileher pria itu.
"Ivy, kau tidak berpikir yang aneh-aneh bukan?" goda Henry lagi.
"Tidak, menyebalkan!" Ivy masih menyembunyikan wajahya, gara-gara ponsel membuatnya salah paham dan dia sangat malu.
Henry mengusap punggung Ivy dengan senyum diwajahnya, terus terang saja dia belum pernah menggoda wanita seperti ini dan ini pertama kali dia melakukannya.
Selama tiga bulan sebelum dokter itu datang untuk menyembuhkan ingatan Ivy atau selama Ivy belum mendapatkan kembali ingatannya, dia akan membuat kenangan bersama dengan Ivy.
Dia harap selama mereka bersama Ivy memiliki perasaan untuknya sehingga saat ingatan Ivy kembali, Ivy tidak pergi darinya.
Kl Bella cuma bilang dikenalkan dgn semua..... blm titik, Bella usah seneng duluan😄