Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15.Cengkeraman di Atas Pelana
Tenaga Hera benar-benar telah mencapai titik nadir. Sepatu bot gunungnya yang tebal dan berat kini terasa bagaikan belenggu timah padat yang mengikat pergelangan kakinya.
Setiap langkah kaki yang dipaksakannya tidak lagi berupa lompatan lincah seorang peneliti, melainkan seretan rapuh penuh keputusasaan di atas permukaan tanah Alas Purba yang basah, licin, dan penuh jebakan akar gantung.
Dada Hera naik-turun dengan cepat.
Paru-parunya terasa terbakar saat ia berusaha meraup oksigen di tengah kabut malam yang kian menebal, dingin, dan menyesakkan. Setiap kali ia mengembuskan napas, kepulan uap putih yang tebal keluar dari mulutnya, langsung buyar ditelan kepekatan malam.
Pikirannya mulai berkabut, terombang-ambing antara kesadaran ilmiah dan ketakutan primitif yang melumpuhkan.
Hiihiiiik!
Suara ringkikan kuda yang nyaring dan melengking tinggi memotong kesunyian malam, terdengar tepat di atas daun telinga Hera. Begitu dekat, begitu nyata.
Embusan napas panas dari lubang hidung hewan besar itu bahkan bisa dirasakan memukul tengkuk Hera yang basah oleh keringat dingin.
Bau menyengat dari keringat binatang, besi pelana yang berkarat, dan tanah busuk mendadak mengepung seluruh indra penciumannya.
"Dapat kamu, Perempuan Cantik!" sebuah teriakan serak bergema penuh kemenangan.
Sebelum Hera sempat memutar tubuh, menghindar, atau bahkan sekadar merunduk ke semak terdekat, sebuah lengan kekar berbulu kasar melingkar di pinggangnya dengan sentakan yang luar biasa kuat.
Sentuhan fisik yang mendadak itu terasa seperti jepitan besi panas yang mematikan. Seluruh momentum lari Hera terhenti seketika secara paksa, membuat napasnya tertahan di tenggorokan.
"Lepaskan! Lepaskan aku, baji-ngan! Menjauh dariku!" jerit Hera histeris. Wajahnya memerah karena amarah dan rasa takut yang berbaur menjadi satu.
Dengan watak keras kepalanya yang masih tersisa, Hera memukul-mukul lengan besar yang melilit pinggangnya menggunakan kedua tangannya yang gemetar.
Dia mencakar, memukul dengan kepalan tinjunya, bahkan mencoba menggigit kulit kasar tersebut. Namun, seluruh tindakan defensifnya itu sama sekali tidak memberikan pengaruh berarti pada cengkeraman sang penunggang kuda.
Lengan itu tetap sekeras batu karang, menempel erat pada tubuhnya.
Pria penunggang kuda bertubuh legam dan kekar itu tertawa terbahak-bahak, menikmati perlawanan tidak berarti dari korbannya.
"Hahaha! Teruslah meronta, Burung Kecil! Itu membuat perburuan ini semakin menarik!"
Dengan satu sentakan tangan yang brutal dan penuh keahlian, pria itu mengangkat tubuh Hera tinggi-tinggi ke udara. Tubuh Hera tertarik menjauh dari pijakan tanah, melayang sesaat sebelum dihempaskan dengan kasar ke atas bagian depan pelana kudanya.
Bugh!
Hera mengerang kesakitan. Posisinya kini sangat tidak menguntungkan; perutnya tertekan keras oleh busur pelana kayu yang padat, sementara kepala dan kedua lengannya tergantung ke bawah, menghadap langsung ke arah tanah merah yang terus bergerak maju.
Ransel kecil di punggungnya bergeser miring, menekan tulang belikatnya secara tidak nyaman. Kantung aluminium berisi sampel Dream Flower di dalam tasnya bergemerisik pelan, seolah menjadi saksi bisu dari ironi nasibnya malam itu.
"Hahaha! Aku yang mendapatkannya! Suro yang menang malam ini!" teriak pria bertubuh legam itu dengan nada pongah yang meluap-luap.
Dia mengangkat sebelah tangannya ke udara, memamerkan hasil tangkapannya kepada teman-temannya yang mulai memperlambat laju kuda mereka, mengelilingi Suro dengan formasi melingkar.
"Sialan kamu, Suro! Kamu curang! Jalur kudamu lebih memotong kompas!" gerutu penunggang kuda lain yang berambut kepang kasar dari sisi kanan.
Matanya menatap tubuh Hera yang tergantung di pelana dengan pandangan tidak puas, penuh kedengkian dan rasa iri yang mendalam.
"Siapa cepat dia dapat! Itu adalah hukum mutlak di Alas Purba, Kawan!" balas Suro dengan nada mengejek.
Tangannya yang besar dan kasar mencengkeram erat bahu jaket Hera, menekan tubuh sang profesor muda agar tidak bisa melakukan gerakan berbahaya yang dapat membuatnya terjatuh atau meloloskan diri dari punggung kuda yang bergerak lambat.
"Lihat dia dari dekat. Kulit wajahnya sangat bersih dan halus meskipun terkena kotoran tanah. Gargan pasti akan melotot iri melihat apa yang kubawa pulang ke perkampungan malam ini."
Hera menjerit histeris, air matanya menetes bebas, membasahi bulu-bulu kuda yang kasar, kaku, dan berbau kepar. Kepalanya yang menggantung ke bawah membuat darah mengalir deras ke pelipisnya, menambah rasa pusing yang teramat sangat akibat benturan cabang pohon sebelumnya.
"Tolong! Siapa pun, tolong aku! Baskara! Yudha! Di mana kalian?!" jerit Hera dengan sisa-sisa kekuatan vokalnya. Suaranya terdengar parau, pecah oleh isak tangis yang tertahan di tenggorokan.
"Lepaskan aku, monster! Papaku... Leonardo Grahansa akan melacak tempat ini dan menghancurkan kalian semua jika kalian berani menyentuhku!"
Dia meronta-ronta liar di atas pelana. Kakinya menendang-nendang ke udara, sementara sikutnya bergerak membabi buta ke arah atas, mencoba mengenai bagian tubuh Suro yang berada di dekatnya.
Bugh!
Salah satu sikut Hera yang dibalut kain jaket gunung tebal secara tidak sengaja berhasil menghantam rusuk kiri Suro dengan cukup telak. Pria itu mendengus kesal, napasnya tertahan sesaat karena rasa sakit yang mendadak.
"Diam, Perempuan Liar! Atau aku akan mengikat lehermu dengan tali kekang dan menyeretmu di belakang ekor kuda ini!" bentak Suro dengan suara menggelegar penuh amarah.
Tangannya yang bebas melayang, memberikan satu tamparan keras pada paha Hera untuk memberikan efek jera dan menghentikan pergerakan merepotkan dari tawanan kotanya.
Plak!
Rasa panas dan nyeri langsung menjalar di paha Hera akibat tamparan kasar tersebut. Sentuhan fisik yang merendahkan itu membuat pertahanan mental Hera runtuh sepenuhnya.
Dia menangis terisak-isak, menyadari bahwa seluruh martabat, posisi terhormat sebagai profesor muda, dan kecerdasannya sebagai ilmuwan seolah-olah tidak memiliki nilai sedikit pun di tempat terkutuk ini.
Di dunia baru yang asing ini, dia hanyalah seonggok daging buruan yang tidak memiliki hak suara.
Kuda hitam besar milik Suro terus berjalan perlahan membawa tubuh Hera yang tidak berdaya, membelah kegelapan Alas Purba yang semakin pekat.
Di sekeliling mereka, para penunggang kuda lainnya terus mengawasi dengan tatapan mata yang lapar dan beringas, menghitung hari sampai giliran mereka yang bisa menguasai wanita dari dunia modern tersebut.
Hera memejamkan matanya rapat-rapat, merutuki watak keras kepalanya yang melangkahi pita merah, sementara kamp dunianya kini terasa berjarak jutaan tahun cahaya dari tempatnya berada.