Novel ini bergenre horor komedi yang menghibur meski horor. Cinta bisa tumbuh kapan saja dan pada siapa saja. Termasuk cinta Mbak Kunti kepada Nurdin, bestienya yang notabene-nya manusia. Karena patah hati, Mbak Kunti pindah ke daerah lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Lubi Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKIBAT SALAH SERVER (22)
Penulis: Linda Lubi
Abang Kunti melanjutkan ke-gentayangannya. Ia merasa sial karena telah ditangkap kawanan Yanto, seorang influencer dan konten kreator spesialis berburu hantu. Apa manfaatnya, coba? Mending di rumah temanin anak dan istri. Kalau masih jomblo, temani orang tuanya aja. Kayak kurang kerjaan aja.
Sebenarnya Abang Kunti bisa saja mencelakai mereka. Dengan gigitan gigi taringnya yang sangat tajam, itu bisa membuat gerombolan itu tewas. Jangan main-main sama Abang Kunti.
Manusia dan Kuntilanak hidup berdampingan. Jangan suka saling kepo apalagi mengganggu ketentraman. Kalau Abang Kunti mengganggu, itu wajar. Karena ia tercipta untuk mengganggu manusia. Kan dari nenek moyangnya Iblis sudah dikutuk dan bertekat mengganggu anak cucu Adam hingga hari kiamat.
Belum pernah manusia diciptakan untuk mengganggu iblis dan keturunannya. Gen-Z memang nggak bisa diprediksi. Hobi kok berburu hantu. Biar apa, coba? Biar viral? Abang Kunti sampai nggak fokus. Ia menabrak dinding rumah Pak Rudi tanpa bermetamorfosa berjisim halus. Ia kejedot dinding dan terjatuh ke bawah.
"Hadehh." Abang Kunti oleng.
Kepalanya pusing. Untung Abang Kunti baik. Nggak mau nuntut Yanto dan kawanannya. Ia merubah tubuhnya menjadi transparan lalu menembus lantai 2 rumah Pak Rudi.
Abang Kunti masih oleng. Tapi ia berusaha konsisten sebagai Abang Kunti. Tetap kuat tanpa oleng. Ia masuk kamar kosong. Ia mau berbaring dulu. Sepertinya ia harus tidur sekarang. Ia ingin memejamkan matanya. Menubruk dinding tadi adalah kegagalan terbesar dalam kehidupannya sebagai kuntilanang. Memalukan.
Karena Abang Kunti sudah niat banget pengin mimpi, akhirnya ia sukses bermimpi.
Abang Kunti berpakaian putih namun bukan kebangsaan kuntilanang.
Abang Kunti memakai Changshan yaitu jubah panjang formal Cina di masa Dinasti Qing. Rambutnya pun dikuncir ala pendekar. Abang Kunti terlihat ganteng.
Ia terbang menelusuri perkampungan. Kok perkampungan sih? Abang Kunti penginnya mimpi berada di peradaban serba moderen. Bukan perkampungan. Ternyata di mimpi pun ia harus banyak bersabar seperti kesabarannya menghadapi Yanto dan gerombolannya.
Abang Kunti berhenti di sebuah tempat pemandian. Ia melihat seorang wanita mandi di dalam sebuah tong besar terbuat dari kayu. Mirip gentong besar. Wanita itu membelakanginya. Jadi Abang Kunti tidak bisa melihat wajahnya. Ia mengintip dari sela-sela rimbunan bunga. Wow...putihnya.....
Wanita itu menyabuni tubuhnya dengan bunga. Rambutnya tergerai dengan indah. Abang Kunti sampai mengeluarkan air dari mulutnya. Apa dia bisa bernafsu melihat manusia mandi? Begitu wanita itu membalikkan badannya, Abang Kunti kaget badai. Ternyata bukan wanita. Tapi pria berkumis.
Abang Kunti menutup mulutnya agar tidak keluar teriakan kaget. Ia terbang dengan kecepatan pesawat jet tercepat di dunia Lookheed SR-71 Blackbird sakin takutnya ketahuan ngintip orang mandi. Laki-laki pula. Apes betul dia.
Lagi-lagi Abang Kunti menubruk pohon beringin besar. Badannya melorot ke tanah dan kepalanya berbintang-bintang.
"Kalau begini mimpinya, aku kapok. Aaa...aaa...aaa....." Abang Kunti berteriak kesal.
Ia terbangun dari mimpinya. Lalu menangis meratap. Hiii...hiii...hiii.....
Suara tangisan Abang Kunti terdengar sampai ke kamar Sutinah, ART Pak Rudi. Karena kamar yang ditempati Abang Kunti berdekatan dengan kamar Sutinah.
"Kok kayak ada suara orang menangis?" Sutinah yang terkenal sangat pemberani dan bar-bar terhadap setan, membuka kamar yang ia curigai sambil membawa sapu lidi. Konon katanya setan takut sama sapu lidi. Apa benar?
Sutinah melihat Abang Kunti duduk di atas nakas. Jiwa bar-barnya meronta-ronta.
"Rupanya kamu yang sudah membangunkan aku dari tidur nyenyakku?" Sutinah memukul Abang Kunti dengan sapu lidi.
Abang Kunti kewalahan menghadapi Sutinah. Harusnya dia yang menakut-nakuti Sutinah, kenapa ia yang malah takut sama sapu Sutinah.
"Masih nggak mau pergi juga? Oke, rasakan pukulan-ku. Hiyattt....."Sutinah memukul membabi buta. Abang Kunti kelabakan.