Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART.32 Kunjungan Axel dan Karen
Tiba-tiba—
TING TONG!
Bel mansion berbunyi.
Seorang maid segera membuka pintu.
Beberapa detik kemudian terdengar suara Axel.
“Alessia!”
Alessia langsung menoleh.
“Axel?”
Ia hendak bangkit, tetapi tiba-tiba terdengar suara perempuan dari belakang Axel.
“Permisi!”
Mata Alessia langsung membesar.
“Karen?!”
Vellano yang mendengar nama itu ikut menoleh.
Karen masuk ke dalam mansion bersama Axel.
Alessia langsung berdiri dengan wajah penuh kebingungan.
“Tunggu… kalian datang bersama?”
Axel dan Karen saling menatap.
“Iya,” jawab Axel santai.
Alessia semakin bingung.
“Sejak kapan kalian saling kenal?”
Karen justru tertawa.
“Lho? Bukankah dia temanmu?”
Alessia menunjuk Axel.
“Dia memang temanku!”
Kemudian ia menunjuk Karen.
“Dan dia sahabatku!”
Ia menatap keduanya bergantian.
“Tapi kalian berdua tidak saling kenal!”
Vellano ikut berdiri. Wajahnya bahkan lebih bingung daripada Alessia.
“Tunggu sebentar. Jadi kalian selama ini memang tidak pernah bertemu?”
Axel menggaruk kepala.
“Seharusnya tidak.”
Karen mengangguk.
“Benar. Aku bahkan baru tahu dia siapa ketika tadi datang.”
Alessia memicingkan mata.
“Lalu kenapa kalian bisa datang bersama?”
Suasana mendadak hening.
Axel dan Karen saling pandang.
Kemudian Axel menjawab dengan santai.
“Karena kami bertemu di depan mansion.”
“HAH?!”
Alessia dan Vellano berseru hampir bersamaan.
Karen langsung tertawa melihat ekspresi mereka.
“Kenapa kalian heboh sekali?”
“Karena kalian terlihat seperti sudah saling kenal bertahun-tahun!” protes Alessia.
Vellano bahkan mulai curiga.
“Dan kalian datang bersamaan?”
Axel mengangkat kedua tangannya.
“Tenang, Tuan. Tidak ada apa-apa.”
Karen langsung menyela, “Benar. Kami cuma kebetulan bertemu.”
Alessia masih menatap mereka penuh kecurigaan.
“Ini semakin mencurigakan…”
Axel tertawa.
Sementara Vellano menghela napas panjang.
Siang yang tadinya tenang berubah menjadi penuh keributan hanya karena satu kejutan kecil.
Dan yang paling lucu, baik Alessia maupun Vellano sama-sama belum mendapatkan jawaban memuaskan tentang bagaimana dua orang yang katanya tidak saling mengenal itu bisa tiba di mansion bersama-sama.
......................
Tiba waktu makan siang, suasana mansion semakin ramai. Meja makan yang biasanya hanya diisi Alessia dan Vellano kini dipenuhi Axel dan Karen. Anehnya, setelah kejadian kedatangan mereka yang membuat semua orang bingung, suasana justru terasa akrab.
Alessia duduk di samping Vellano sambil memperhatikan Axel dan Karen yang duduk berseberangan.
Kemudian ia melirik Vellano.
Senyum jahil perlahan muncul di wajahnya.
“Menurutmu mereka cocok tidak?”
Vellano langsung memahami maksud istrinya. Ia menahan senyum sebelum mengangguk sok serius.
“Lumayan.”
Axel yang sedang minum hampir tersedak.
“Hah?”
Alessia menatapnya dengan wajah polos.
“Aku dan Vellano berpikir kalian cocok.”
Karen langsung salah tingkah.
“Alessia!”
“Kenapa?” Alessia tertawa. “Kalian kan datang bersama.”
“Itu kebetulan!”
Vellano ikut menambahkan dengan wajah serius, “Kalau begitu kenapa tidak pacaran saja?”
Karen langsung menunduk. Wajahnya memerah.
“Tidak mungkin!”
Axel justru bersandar santai di kursinya dengan senyum lebar.
“Kenapa tidak?”
Karen menatapnya tajam.
“Axel!”
“Apa? Aku tidak keberatan.”
Alessia langsung menutup mulut menahan tawa.
Vellano bahkan sampai batuk kecil karena berusaha menahan geli.
Karen semakin malu.
“Kamu jangan percaya diri begitu!”
Axel malah cengengesan.
“Bukankah katanya kami cocok?”
“Siapa yang bilang?”
Alessia langsung mengangkat tangan.
“Aku.”
Vellano ikut mengangkat tangannya.
“Aku juga.”
Axel menunjuk mereka berdua.
“Nah, berarti dua orang sudah setuju.”
Karen memijat pelipisnya.
“Aku menyesal datang ke sini.”
Alessia tertawa sampai bahunya berguncang. Vellano pun akhirnya tidak mampu menahan tawanya.
Makan siang yang seharusnya tenang berubah menjadi ajang perjodohan dadakan.
Dan untuk pertama kalinya setelah Alessia sakit, suara tawa memenuhi ruang makan mansion—membuat Vellano diam-diam merasa lega karena istrinya akhirnya kembali seperti dirinya yang dulu.
Setelah makan siang, suasana di mansion semakin ramai. Bukannya berhenti menggoda, Alessia dan Vellano justru semakin bersemangat menjadikan Axel dan Karen sebagai bahan candaan.
Alessia bersandar santai di sofa, sementara Vellano duduk di sebelahnya dengan senyum penuh arti.
“Kalian benar-benar cocok,” kata Alessia.
Karen langsung menggeleng cepat.
“Tidak!”
“Kenapa tidak?” Vellano ikut menyahut. “Axel terlalu terbuka, sementara kamu pemalu. Justru seimbang.”
Karen langsung menatap Vellano dengan wajah memerah.
“Tuan Vellano, jangan ikut-ikutan!”
Alessia langsung tertawa.
“Lihat wajahmu!”
Karen menutupi pipinya dengan kedua tangan.
Sementara itu, Axel justru terlihat sangat santai. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa sambil tersenyum lebar.
“Aku sih tidak keberatan kalau kalian terus menjodohkan kami.”
Karen langsung menoleh tajam.
“Axel!”
“Apa?” Axel cengengesan. “Aku cuma jujur.”
“Jujur bukan berarti harus bicara semuanya!”
Alessia sampai tertawa terbahak-bahak.
Vellano bahkan harus memalingkan wajah karena tidak ingin terlihat terlalu menikmati kekacauan itu.
Kemudian Axel tiba-tiba berkata, “Lagipula Karen cantik.”
Karen membeku.
Alessia langsung menepuk tangan.
“Nah! Nah! Lihat! Dia mulai!”
“Alessia!” protes Karen.
Vellano ikut menambahkan dengan wajah serius, “Menurutku Axel cukup cocok menjadi suami yang banyak bicara.”
Karen semakin salah tingkah.
“Kenapa kalian sudah membahas suami?! Kami bahkan belum pacaran!”
Ruangan langsung meledak oleh tawa.
Axel malah mengangkat bahu.
“Tidak ada salahnya membahas masa depan.”
“AXEL!”
Karen hampir melempar bantal ke arahnya.
Alessia tertawa sampai memegangi perutnya, sementara Vellano hanya menggeleng sambil tersenyum.
Sudah lama mansion itu tidak seramai ini.
Setelah beberapa hari penuh ketegangan dan kekhawatiran, melihat Alessia kembali tertawa lepas membuat Vellano merasa sangat lega.
Namun melihat Karen mengejar Axel sambil membawa bantal, ia mulai berpikir bahwa mungkin kunjungan mereka memang membawa terlalu banyak kekacauan.
......................
Sore perlahan berubah keemasan ketika mobil Axel dan Karen menghilang di balik gerbang mansion. Alessia berdiri di balkon kamar, menyandarkan kedua tangannya pada pagar sambil menikmati angin. Beberapa detik kemudian, Vellano muncul membawa dua gelas minuman.
“Untuk istriku yang cantik,” katanya sambil menyerahkan satu gelas.
Alessia menatap gelas itu curiga. “Kamu masukkan sesuatu?”
Vellano mengernyit. “Kenapa setiap kali aku bersikap romantis, kamu malah curiga?”
“Karena kamu biasanya punya maksud.”
Vellano tertawa kecil. “Maksudku cuma ingin membuatmu senang.”
Alessia akhirnya menerima gelas itu. Mereka berdiri berdampingan dalam keheningan yang nyaman.
“Lusa kita berangkat,” ujar Vellano.
“Ke Maladewa,” jawab Alessia sambil tersenyum.
Mereka kemudian tertawa ketika mengingat awal pernikahan mereka. Pernikahan kontrak yang awalnya penuh kepura-puraan. Mereka harus bergandengan tangan di depan keluarga, berpura-pura saling menyayangi, bahkan pernah berlatih ekspresi romantis agar tidak dicurigai.
“Kalau dipikir-pikir, kita benar-benar konyol,” kata Alessia.
“Kamu yang paling konyol,” balas Vellano.
Alessia langsung memukul lengannya pelan. “Berani sekali.”
Vellano justru menangkap tangannya. “Tapi aku suka.”
Tatapan mereka bertemu. Senyum Alessia perlahan menghilang, digantikan tatapan lembut. Vellano mendekat, lalu mencium keningnya.
“Siapa sangka sandiwara itu jadi nyata?”
Alessia tersenyum kecil. “Mungkin karena pemeran prianya terlalu keras kepala.”
“Dan pemeran wanitanya terlalu cantik.”
Alessia tertawa. “Gombal.”
Namun tiba-tiba ponsel Vellano berdering.
Senyumnya lenyap setelah melihat nama di layar.
Alessia memperhatikan wajah suaminya yang mendadak serius.
“Siapa?”
Vellano tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap layar beberapa detik sebelum berkata pelan, “Ini… tentang Maladewa.”
...****************...
Apa lagi nih?🤣