Sandra berjalan cepat ke arah IGD yang sudah tampak ramai, pemandangan wajah cemas dan juga tangis haru sudah menjadi gambaran di IGD kota kecil itu.
Di balik sikap profesionalnya, nyatanya Sandra menyimpan lukanya sendiri yang bahkan bertahun-tahun tak bisa dia sembuhkan.
Hingga akhirnya seseorang yang tak sengaja dia temui malah merubah seluruh dunia yang sudah membuatnya nyaman, memaksanya untuk kembali percaya akan cinta, tapi sayangnya jurang perbedaan mereka besar dan masa lalu yang mulai kembali menghantui Sandra.
Bisakah Sandra mengeluarkan diri dari traumannya dan menerima pria yang bahkan tak pernah dia bayangkan akan hadir dalam hidupnya? ataukah dia tetap tak bisa melupakan masa lalunya dan kembali menerimanya?
Pernyataan: Novel ini ditulis tidak untuk menyudutkan atau menjelekkan seseorang, kalangan tertentu, atau pun profesi tertentu, semua yang ditulis hanya untuk pengetahuan dan hiburan semata, cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31.
Devan membawa Sandra ke sebuah tempat di bagian sudut restoran dengan pemandangan luar yang tampak indah.
"Ini gua boleh makan ramen kan? Ntar dilarang lagi," ujar Sandra melirik Devan, Devan tertawa kecil membuat wajahnya semakin manis.
"Ya, boleh makan apa aja, kali ini gua yang bayar lagi ya," kata Devan.
"Serius? Ok lah, ini gua pesan semuanya yang gua mau ya, Gua udah laper banget, awas lu bangkrut," kata Sandra lagi dengan wajah serius.
"Haha, enggak, pilih aja, makan yang banyak," kata Devan lagi.
Sandra menyipitkan matanya memandang Devan, Devan segera mengerutkan dahinya, wajahnya bertanya kenapa Sandra menatapnya seperti itu.
"Gua curiga lu mau buat gua gendut," kata Sandra.
"Gak kok, tapi kamu gendut juga lucu kayak waktu kamu masih SMA," kata Devan yang memang sempat melihat Foto SMA Sandra yang terlihat lebih berisi saat dia berfoto karena memenangkan sebuah lomba cerdas cermat.
"Ha? Lu ngapain liatin foto gua?" Kata Sandra kaget, suaranya sedikit keras membuat beberapa orang yang sedang makan di samping mereka menatap Sandra, Sandra jadi malu sendiri.
"Ya, soalnya ada di sana, ya pasti kelihatan, lucu tahu tembem," kata Devan lagi.
"Pas gua foto itu, lu masih SD kali," kata Sandra yang mengambil ocha dingin yang dia pesan.
"Lucu ya."
"Apanya yang lucu?" Tanya Sandra setelah meminum ochanya.
"Lucu, kalau dulu waktu SD aku ga akan pernah berpikir mungkin jodohku kakak SMA yang pakai kaca mata bulat dan chubby," kata Devan pada Sandra yang membuat Sandra langsung gugup, untung dia sudah menelan ochanya kalau tidak dia pasti sudah menyemburkannya kembali karena tersedak.
Devan hanya menatap wajah Sandra yang memerah, tampak sekali salah tingkah dan gugup karena godaannya, Sandra tampak tak tenang di depannya.
"Geer banget, gua belum bilang mau sama lu," ujar Sandra lagi menutupi gugupnya, Devan hanya menahan tawanya.
"Entar juga mau," kaya Devan lagi
"PD banget!" Kata Sandra dengan wajah mengejek.
Makanan mereka datang, Sandra tetap dengan keinginan awalanya makan kari ramen yang porsinya cukup untuk makan 2 atau 3 orang, hanya itu yang dia pesan, jadi Devan memesan beberapa sushi roll dan juga makanan yang lain.
Kalau di depan makanan, mau siapapun ada di depannya, Sandra tak peduli, dia segera melahap makanannya dengan cepat tanpa berpikir dia terlihat seperti orang yang tak makan 3 hari. Melihat lahapnya Sandra menjadi hiburan sendiri buat Devan yang hanya sesekali memakan sushi rollnya.
"Ini cobain," kata Devan memberikan daging belut panggang yang cukup besar.
"Apaan ini?" Tanya Sandra yang mengelap bibirnya yang cukup berminyak gara-gara kuah kari itu.
"Daging belut, enak, coba deh," kata Devan yang memasukkan sashimi ke mulutnya, Sandra tak menyentuh sashimi itu, tak sesuai lidahnya.
"He? Ga mau, geli, jadi ingat ular," ujar Sandra, hewan paling dia takuti.
"Enggak, enak kok," kata Devan lagi.
"Ga mau," tolak Sandra yang menggelengkan kepalanya.
"Coba dulu," kata Devan mengambil belut panggang itu kembali dengan sumpitnya dan menyodorkannya ke arah bibir Sandra. Sandra langsung kaget dengan tindakan Devan, dia jadi hanya menatap pria itu, "dibuka bibirnya."
"Iya, iya," kata Sandra menyerah, dia membuka mulutnya dan Devan segera memasukan makanan itu. Devan tersenyum puas.
Sandra langsung mengunyah daging yang terasa lembut dan gurih itu, ternyata benar kata Devan, daging itu enak.
"Enak kan?" Kata Devan.
"Iya, kok gua baru tahu ya?" Kata Sandra senang mendapatkan makanan enak.
"Ya, udah habisin," kata Devan. Tentu Sandra tak sungkan dan senang menghabiskan daging itu semua, Sandra tampak sangat senang menghabiskan waktu makan siang yang menuju sorenya bersama Devan.
Sandra keluar duluan dari restoran itu lalu diikuti oleh Devan. Tapi saat Devan baru saja keluar dari tempat itu, dia langsung di sapa oleh seseorang.
"Hei, Dev, long time no see!" Kata seorang pria seumuran Devan menyapanya ramah, dia bahkan langsung menyodorkan tangannya, Devan pun langsung tampak mengenali pria itu, dia membalas uluran tangan pria itu. Sandra yang sudah jalan terlebih dahulu langsung berhenti dan melihat pertemuan mereka.
Sandra memperhatikan gaya pria itu, tampak klimis dengan dandanan metroseksualnya, wajahnya tak terlalu menarik, cendrung memiliki wajah bulat. Dia mengandeng seorang wanita yang tampak bagaikan model, tinggi langsing dan wajah bahkan rambutnya bagaikan artis.
"Dy, iya udah lama ga nampak lu," kata Devan tersenyum ramah, dia melirik Sandra yang tak jauh darinya.
"Wah, iya, gua lagi sering stay di luar negeri, baru pulang gua 3 hari yang lalu, eh kenalin pacar gua yang baru, Stefany," kata Andy sambil memperkenalkan dengan bangga pacarnya yang bagaikan Barbie.
"Oh, hy," kata Devan seadanya, gadis itu tersenyum manis, tentu terkesima, jauh menarik wajah Devan dari pria yang sekarang ada di sampingnya.
"Lu sendiri Bro? Masih Ama Cecilia ga? Gua liat dia masih Paris," ujar Andy lepas. Sandra mendengar itu mengerutkan dahinya, Cecelia, pasti gadis Devan, Paris? Wow, sepetinya gadis itu setaraf dengan Devan.
"Gua ga sendiri, tapi gua ga Ama Cecilia lagi," kata Devan melirik ke arah Sandra yang masih diam, mau apa dia tak tahu, mau masuk kembali ke mobil Devan, mobilnya belum dibuka, mau pergi tapi kemana? Ga ada angkot dari tadi di sini.
"Wah, sayang banget, cocok banget padahal kalian berdua, udah 6 tahun kan? Eh, jadi lu Ama siapa?" Tanya Andy, baru sadar apa yang dia bilang ketika melihat wajah datar Devan. Banyak sekali omongannya.
Devan menoleh ke arah Sandra sekarang, Sandra langsung kikuk, kalau mendengar kata-kata teman Devan ini, pasti tak ada satupun di penampilan Sandra yang bisa dibandingkan dengan Cecilia itu walaupun Sandra belum pernah bertemu dengannya. Sandra segera ingin melangkah, tak tahu kemana asal jangan di sana.
"San, mau kemana?" Kata Devan mencegah Sandra yang dia tahu ingin pergi dengan memegang lengan Sandra, menahannya agar tak jadi melangkah menjauh.
"Eh, ke mobil," kata Sandra bingung, apalagi dia melihat Andy yang tampak kaget namun langsung diubahnya takut menyinggung hati Devan, wanita di samping lebih berani menunjukkan wajah tak percayanya.
"Kenalin, Sandra," kata Devan pada Andy yang masih canggung.
"Oh, gua Andy temen SMA Devan," ujar Andy seadanya.
"Sandra," kata Sandra bingung juga harus bagaimana.
"Kalau gitu gua masuk dulu ya, temen-temen gua udah nungguin," kata Andy sungkan.
"Ya," kata Devan seadanya melihat Andy dan gandengannya pergi masuk, mereka tampak berbicara, mungkin membicarakan Devan kenapa bisa bersama wanita yang seperti Sandra, pikir Sandra.
"Yuk," kata Devan berjalan ke mobilnya dan membukakan pintunya lagi.
"Lain kali aku saja yang buka, ga enak dilihat orang," kata Sandra sebelum masuk, Devan mengerutkan dahinya namun menutup pintunya.
Devan masuk ke dalam mobilnya, cepat mereka keluar dari parkiran itu, tapi Devan perlahan melajukan mobilnya, menikmati sore yang meredup menuju malam.
Sandra hanya diam saja menatap ke arah jalanan, Devan pun hanya diam, dia tahu wajah Sandra tampak tak nyaman, suara lagu dari radio itu menambah sendu suasana.
"Kamu mau kemana lagi?" Tanya Devan pelan.
"Enggak, kita pulang aja, aku ga pingin kemana-mana," ujar Sandra lagi, entah kenapa moodnya yang tadi begitu baik menjadi turun seketika.
"Masih belum malam," kata Devan.
"Ibu cuma becanda," kata Sandra, lemah tak bergairah.
"Aku bawa ke suatu tempat ya?" Tanya Devan.
"Enggak! Nanti malah canggung kayak tadi, malu-maluin tau," kata Sandra menatap Devan yang sesekali melihatnya namun fokus ke jalan.
"Malu kenapa?" Tanya Devan pada Sandra dengan wajah seriusnya.
"Masa lu ga malu, tadi temen lu aja kaget liat lu Ama gua, gimana sih? Kan udah gua bilang, kita itu beda banget," kata Sandra melirik ke Devan yang serius mendengarkan Sandra.
"Ehm, ya kan memang kita beda," kata Devan menatap sekilas ke arah Sandra, Sandra hanya menatap ke arah Devan, perkataannya itu malah menimbulkan nyeri pada hati kecil Sandra. Apakah akhirnya Devan sadar setelah melihat bagaimana wanita yang harusnya ada di sampingnya?
ah... akhirnya happy ending
😍😍😍
aku juga gitu
wkwkwkwk
Jo... ica ae...
Sandra...
Abang datang Neng...
Devan kejepit pintu mobil
😂😅😆