Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.
Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.
Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.
Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.
Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anjani Semakin Berani
#3 New
“Minggir, kau!” ucap Anjani sambil mendorong sebelah pundak Ayu, hingga wanita itu terhuyung beberapa langkah ke belakang.
Dengan rasa percaya diri maksimal, Anjani melangkah masuk, sambil tetap memapah Restu, seolah-olah ia adalah pemilik rumah.
“Siapa kamu?!” desis Ayu dengan tatapan tajam memendam rasa marah.
Anjani tersenyum sinis, “Aku? Tanyakan saja pada Bang Restu, siapa aku, dan apa hubungan kami.”
Jeder!
Seperti ada suara petir menggelegar, jantung ayu berdegup kencang seperti genderang peperangan. Sesulit apapun ujian hidup ini, Ayu tak pernah berpikir bahwa suaminya akan menyeleweng darinya. Tapi ternyata bukan hanya sikap suaminya saja yang dingin, tapi sikapnya pun mulai keluar dari tatanan dalam agama.
“Hehe— haha—”
Sesekali Restu tertawa tak jelas setelah Jani membaringkannya di atas tempat tidur. Bibir wanita itu tersenyum puas walau Restu kalah di meja judi, asalkan ia bisa mendominasi hati dan perasaan pria yang masih ia cintai.
“Aku pulang dulu, ya, Bang.” Anjani sengaja mengeraskan suara pamitnya. Tapi Restu menahan tangan wanita itu.
“Jani— Jani—” gumam Restu, walau suaranya samar-samar, tapi itu seperti sebuah peluru tajam yang menembus gendang telinga Ayu. Sungguh sakit ketika melihat suami yang teramat ia hormati dan sayangi, ternyata menyuguhkan pemandangan dan kata-kata yang sangat menyakitkan.
“Iya, Bang,” jawab Jani lembut, wanita itu mendekatkan wajahnya, lalu berpura-pura jatuh ke dada Restu. “Iihh Abang, jangan begini, dong,” bisiknya manja.
Ayu membalik tubuh dan wajahnya, tak sanggup lagi menyaksikan pemandangan menyakitkan tersebut. Ia duduk diam sambil menangis pilu, pria yang ia kenal baik sejak dulu, nyatanya kini menjadi orang yang paling menyakiti hati dan perasaannya.
Lirih dalam kesepiannya, Ayu hanya bisa meneteskan ar mata sementara lisannya tak lepas dari dzikir agar ia masih diberikan ketenangan dan kesabaran seluas-luasnya. Karena masih ada janin dalam kandungan yang harus ia pikirkan, jika ia menuruti kemarahan, maka hanya akan ada petaka.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan sepatu Anjani yang datang mendekat, “Heh, jika besok Bang Restu bangun dan menanyakan aku. Katakan aku menunggunya di tempat biasa.”
Ayu berdiri dengan susah payah, menghapus kasar air matanya. “Sungguh tak tahu malu, kau sadar sedang bicara dengan siapa? Percaya diri sekali jika besok Bang Restu menanyakanmu.”
Anjani melengos dengan penuh percaya diri, sengaja memamerkan tubuhnya yang hanya dibalut baju mini seksi. “Kau lihat saja nanti,” katanya, seakan memberi ancaman dan peringatan untuk Ayu.
Sesudahnya Anjani pun melenggang pergi meninggalkan sunyi dan kesakitan di hati Ayu. Wanita itu kembali terduduk, pilu menangisi nasib hidupnya.
Jika masih ada almarhum ayah mertuanya, pastilah pria itu akan meninggikan kehormatan yang tak bisa Restu berikan. Sayangnya Wisnu Singgih sang mertua sudah berpulang setahun yang lalu. Disusul kemudian ibu kandung Ayu, yang juga meninggal karena penyakit kronis yang lama telah ia derita.
Bila sudah begini, kemana ia hendak mengadu, karena Bu Halimah sang mamak mertua, perangainya tak sebaik Pak Wisnu.
***
Keesokan harinya, Restu membuka mata dan menatap ke sekitar, entah jam berapa ia pulang dan diantar siapa. Karena semalam ia menenggak minuman hingga mabuk, setelah kalah di meja judi.
Niat awal ingin menggandakan uang hasil menjual perhiasan istrinya, karena hari sebelumnya ia melihat salah seorang peserta judi menang hingga menghasilkan 20 juta rupiah dalam sekali pasang taruhan.
Maka Restu seperti mendapatkan inspirasi, dan cara mudah mendapatkan rupiah, himpitan ekonomi saat ini, benar-benar membuatnya hampir gila hingga memilih jalan bodoh, padahal ia masih memiliki puluhan hektar sawah.
Restu pun bangkit dengan menahan sakit yang teramat sangat di kepalanya, itu adalah efek umum orang yang baru saja mengkonsumsi Alkohol. Terhuyung-huyung pria itu berjalan keluar kamar, dan menghampiri meja makan.
Pria itu menghabiskan air putih hanya dalam beberapa kali tegukan, kemudian membuka tudung saji guna mencari makanan. Tapi ia tak menjumpai apa-apa selain tempe goreng dan singkong rebus.
Ayu melintas, sambil membawa kain jemuran yang sudah kering. “Tak ada makanan lain kah?”
“Aku sudah tak memiliki uang belanja, Bang. Jadi makanlah apa yang ada, karena—”
Belum sempat Ayu menyelesaikan ucapannya, Restu sudah melangkah pergi begitu saja, tanpa mandi, tanpa berganti pakaian. Entah apakah Restu masih ingat dengan kewajiban lima waktunya atau tidak.
Yang jelas sejak semalam, Ayu tak sudi lagi mendekati suaminya, selain karena merasa sakit hati, Ayu juga mulai meragukan apakah pria itu masih menjaga kesucian dirinya atau tidak.
***
Sekitar satu jam kemudian Restu sudah kembali dengan membawa rantang makanan. “Ini, makanlah, Mamak yang bagi makanan.”
Ayu terkejut lalu bertanya, “Bang, Abang minta makan ke rumah Mamak?”
“Iya. Kubilang kau sakit kepala jadi tak bisa masak.”
“Tapi—”
“Makan saja, jangan banyak cakap! Toh Mamak bukan orang asing, wajar kalau kita minta makan pada Mamak,” tegas Restu tak ingin di bantah.
“Malu, Bang. Harusnya kita yang bagi masakan buat Mamak,” sanggah Ayu dengan air muka berkaca-kaca.
“Terserah, kau mau makan atau tidak! Buatkan aku air teh!”
Tanpa menghiraukan Ayu lagi, Restu pun pergi ke kamar mandi, setelah mandi, pria itu kembali pergi tanpa pamit.
***
Sore harinya, Bu Halimah di temani anak keduanya datang menyambangi Ayu.
“Mau teh, Mak?” tanya Ayu menawarkan air minum sebagai wujud penghormatan.
“Tak usahlah, kau lagi sakit. Heran, kenapa perempuan jaman sekarang cengeng sekali, sakit sedikit tak mau masak,” gerutu Bu Halimah dengan wajah datar seolah tak bersalah, tanpa melihat perubahan ekspresi wajah Ayu.
Sementara Karmila adik kedua Restu yang melihat hal itu, segera menegur Bu Halimah, karena ia pun baru bulan lalu melahirkan anak pertamanya. Terlebih, Ayu mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian, ditambah lagi dengan perangai Restu yang selalu minta dilayani dalam segala hal.
“Mak—” tegur Karmila halus.
“Apa, sih?”
Karmila menghembuskan nafas pasrah, menghadapi perangai Bu Halimah yang semakin tua semakin keras kepala.
Sejak dulu Bu Halimah selalu menyanjung serta membanggakan anak lelaki satu-satunya itu, hingga Restu memiliki sifat sedikit manja. Hanya Pak Wisnu yang bisa bersikap tegas pada Restu, karena Bu Halimah juga tak berani menentang setiap ucapan suaminya.
“Ibu cuma mengatakan yang sebenarnya, perempuan hamil itu jangan terlalu manja, karena nanti setelah lahir, anaknya juga jadi anak manja.”
Ayu hanya bisa menunduk diam meremat kain daster yang ia kenakan, ia tak bermaksud manja. Tapi keadaan seolah merubah dirinya menjadi wanita manja dan malas, padahal ia tak diberi uang belanja oleh suaminya.
“Sebenarnya Ayu tak sakit, Mak,” ungkap Ayu, lebih baik jujur daripada ia hancur.
“Tuh, kau dengar sendiri, dia tak sakit, tapi sengaja tidak masak. Apa namanya kalau tak manja?”
“Bukan karena manja juga, Mak. Tapi sudah lama Bang Restu tak memberi Ayu uang belanja,” sambung Ayu dengan suara lirih tapi juga khawatir dengan tanggapan mamak mertuanya.
trims kak thor
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah