NovelToon NovelToon
Cinta Orang Kantoran : Part Satu

Cinta Orang Kantoran : Part Satu

Status: tamat
Genre:CEO / Janda / Duda / Romantis / Kehidupan di Kantor / Office Romance / Tamat
Popularitas:598.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Septira Wihartanti

Aku belum pernah bertemu atau pun berbicara dengan Komisaris di kantorku. Sampai kami bertemu di Pengadilan Agama, dengan posisi sedang mengurus perceraian masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Toxic

“Bisa saya bantu, Bu?” tanyaku tanpa basa-basi.

Ibu Tommy menghela nafas kesal padaku, ia akhirnya sadar tidak ada gunanya berbasa-basi padaku, “Cabutlah tuntutanmu ke Tommy, apa-apa’an sih kamu. Toh kamu masih baik-baik saja. Yang terluka kan malah Rani,”

Hm.

Sudah kuduga, ini yang mereka mau bilang.

“Lagi pula, salahmu juga Tommy sampai kembali ke Rani! Kamu tidak pandai melayani dia. Kamu hanya sibuk dengan pekerjaanmu, memperkaya dirimu sendiri, beli-beli barang mewah tiada guna,” kata ibu Tommy.

Aku dengarkan dulu saja.

“Tommy itu sering loh pulang ke rumah hanya untuk curhat sama ibu, kamu seringkali meremehkan dia. Karena mentang-mentang kamu yang kerja, dia belum bisa dapat pekerjaan, kamu membatasi pergerakannya! Kamu bahkan tidak mengizinkan dia bersosialisasi!”

Kita semua tahu itu tidak benar, tapi aku diam dulu.

“Terakhir kamu kasih kalung berlian, sudah ibu kembalikan ya lewat Tommy. Katanya mau dijual buat bayar listrik karena kamu tidak memberikannya uang!”

Ooooh, jadi begitu toh, benar-benar kau Tommy. Pandai sekali bersandiwara.

“Ibu mengerti, uang kamu ya uang kamu. Dalam agama juga diajarkan kalau bukan kewajiban istri mencari nafkah. Tapi apa tidak bisa dibicarakan, sampai tuntut-tuntutan apa ini segala?! Kamu sudah merusak masa depan Tommy loh!”

Dan apa kabar dengan masa depanku? Mungkin dia pikir yang manusia itu anaknya saja. Aku dianggapnya lumpur.

Tapi aku diam dulu.

“Ibu lihat, kamu sepertinya masih punya dana tuh untuk biaya perceraian, untuk bayar pengacara, jadi punya duit dong sebenarnya?! Ibu lihat dandanan kamu juga makin oke. Jadi buat apa kamu bikin Tommy tersiksa lagi? Cabut saja tuntutannya, kan tidak berguna bagi kamu, untungnya apa, coba?!”

Aku diam.

Memang tidak berguna bagiku.

“Kami masih sayang Tommy, masih butuh Tommy. Tommy saya rawat dar lahir, sampai dia bisa jadi suami yang baik untuk kamu, kamu tidak ada rasa terima kasih sama sekali! Dia sudah buang waktu berharganya berkumpul bersama kami gara-gara keegoisan kamu mau ngontrak rumah. Buang-buang uang demi bisa menjauhkan Tommy dari kami. Kasihan loh Tommy jadi sendirian! Kami juga bisa balik menuntut dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan, dia kan tersiksa saat tinggal sama kamu berdua saja, mentalnya drop loh! Kondisi serius itu!”

Hm.

Menarik...

“Kalau Tommy beralih ke Rani yang menurutnya lebih sayang dia, lebih perhatian dia daripada istrinya sendiri, ya wajar dong! Instrospeksi diri nggak kamu?! Harusnya kamu tuh mikir kamu ini mandul kenapa? Ya karena tingkah kamu liar begini! Tobat Chin, Tobaaat. Ih ibu ngeri sama azabnya!”

Kalau yang begini, perlukah aku membela diri?

Sudah pasti semua kata-kataku tidak didengarkannya.

Sekalian saja aku bersikap sombong ya?

Jadi aku pun tersenyum.

Lalu berdiri.

“Pengadilan yang akan memutuskan. Saya pamit dulu,” desisku sambil berjalan ke pintu keluar.

“Heh, mau ke mana kamu! Selesaikan dululah, enak saja main pergi! Jangan sok kau!!” Kakak Laki-laki Tommy menghadangku.

“Kak, di sana ada CCTV. Saya sudah minta operator untuk mendata wajah setiap tamu yang datang,” kataku masih mempertahankan diriku.

“Sombong kali mantan istri Tommy nih! Kalau berani gini pasti bekingannya pejabat nih! Bener dong gosip itu kalau kamu jadi selingkuhan Direktur, makanya Tommy kau buang? Hah?!” Kakak Tommy yang satu lagi ikut menghadangku.

Aku terdesak.

Terus terang saja aku sedang ketakutan.

“Saya sudah cukup-“

PLAKK!!

Yang kutahu, berikutnya aku tersungkur di lantai dengan keadaan kepalaku sangat pusing.

Telingaku tidak bisa mendengar apa pun, penglihatanku buram

Tubuhku lemas dan gemetar.

Aliran darah bagai terhenti.

Aku hanya bisa diam di lantai, kutahan pusing itu semaksimal mungkin.

Logikaku berjalan. Aku tahu apa yang terjadi. Aku berusaha tetap sadar.

Tapi pandanganku mulai gelap.

Di saat terakhir, kurasa aku mendengar suara Pak Felix.

Berteriak memanggil namaku.

Kuharap, khayalan itu sungguhan.

**

Aku sadar keesokan harinya. Yang pertama kulihat adalah sosok Pak Felix yang duduk di pinggir ranjang dan pengacaraku. Mereka sedang berdiskusi dengan suara pelan.

Pak Felix menemaniku seharian, termasuk mengambil tindakan yang dibutuhkan untuk perawatanku.

“Mau makan lagi? Atau minum aja?”

“Hm... minum,” rahangku masih nyeri saat mengunyah.

“Mau yang mana? Mau jus atau air?”

Aku butuh yang mengenyangkan, maka kupilih jus.

Aku menyeruput jus alpukat sedikit lalu kembali berbaring. Telingaku masih berdenging dan kepalaku agak nyeri. Tapi sudah jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali aku tersadar.

Pak Felix mendekatkan wajahnya ke arahku dan memeriksa wajahku.

Jemarinya menyentuh lembut area pinggir bibirku.

Perih.

Aku mengernyit dan menjauh.

Dan ia pun menarik nafas dengan geram.

“Chintya,” desisnya.

“Ya?” tanyaku.

“Saya bosan di tanya polisi dan rumah sakit mengenai hubungan kita. Pasti mereka bilang : hubungan bapak dengan korban apa?”

“Terus, bapak bilang apa?”

“Agar dipermudah proses pengurusannya, saya bilang Pacar.”

Aku diam dan menatapnya.

Agak lama, akhirnya otakku mencerna kalau ia sedang bercanda.

“Saya sedang tidak bisa tertawa, Pak,” gumamku.

Pak Felix tersenyum tipis sambil duduk di pinggir ranjangku. Kami masih berada di rumah sakit saat ini.

Lalu suasana menjadi hening.

Aku belum mampu berpikir.

Jadi selanjutnya kami hanya saling diam sambil mengerjakan aktivitas kami. Dia mengetik di laptopnya dan menelpon beberapa orang, bahkan zoom meeting dengan rekan-rekan sejawat, sementara aku seharian hanya nonton Drama Korea dan seri Netflix lewat ponselku.

Ia tidak membahas mengenai status hubungan yang ia akui ke orang-orang, sampai seminggu ke depan.

**

Saat aku kembali ke kantor sekitar 3 hari berikutnya, teman-temanku menjadi over-protective terhadapku.

Setiap tamu yang datang, atas inisiatif sendiri, mereka pasti mendampingiku.

Aku merasa beruntung sebenarnya, dari mereka yang sering membicarakanku di belakang kini jadi mendukungku dan bahkan beberapa menjadi karib.

“Nggak usah ditemani,” desisku saat beberapa temanku ikut mendampingi saat kami menuju ke suatu tempat untuk bertemu dengan nasabah.

Mereka hanya tersenyum dan menggeleng, tanda menolak permintaanku.

“Kita nggak mau ambil resiko,” kata salah satunya.

“Lo tahu waktu lo nggak di kantor, semua kerjaan kacau. Di-cancel semua sama Pak Felix. Proposal yang kita buat kata Pak Dimas tidak memenuhi standar, jadi bolak-balik di revisi! Kita tuh akhirnya nyari data di komputer lo, berusaha nyontek, tapi tetap saja nggak plotnya nggak memuaskan,”

Aku menghela nafas.

“Selama ini kita akhirnya sadar, semua proposal yang kita bikin, Kredit atau pun dana, kan sebelum ke Direksi, lo screening dulu ya. Itu ternyata banyak yang diperbaiki?”

“Gue kan ngasih lo semua perubahannya,” kataku.

Semua menatapku sambil menyeringai, “Hehehehehehe,” desis mereka.

“Lo nggak baca bagian-bagian yang gue ubah?” desisku malas.

“Kebanyakan ah, kita mah yang penting gol,”

Aku menggelengkan kepalaku, “Nggak bisa gitu ah. Diubah lah mindsetnya. Ini berkaitan dengan kualitas diri loh. Suatu saat lo jadi Direktur kan jadinya sudah bisa menyesuaikan diri. Terbiasa rapi itu nggak rugi kok, malah bikin nilai kita meningkat. Kalau ada niat pindah perusahaan, yang dipertimbangkan pertama adalah kejujuran, yang kedua adalah kerapian dan ketelitian,”

“Bu Guru lagi ceramah,” dengus salah satu temanku.

Kupikir setelah itu mereka tidak peduli lagi ke pembahasan itu. Tapi saat sudah tiba kembali di kantor, beberapa dari mereka datang padaku diam-diam, minta diajarkan cara membuat proposal sesuai standart.

Kuajari dengan senang hati, tentunya.

1
Heni Umami
👍👍👍👍
Bakul Lingerie
kangen Geng Putus/Kiss/
Bakul Lingerie
Ga papa,, ribut aja di kantor.. dlu CEO kamu juga sering bikin heboh kantor . penggemarnya banyak yg dtg bikin rusuh🤣🤣🤣🤣
Bakul Lingerie
aku kesini lagi..
salah satu dari mininovel madam yg paling aku suka.. 😍
Dede Maesaroh
ikut nangis😭
Maya Ratnasari
ayat 250
sukensri hardiati
ngulang baca ah....
Risma Wati
bagus ceritanya..to the point,ga banyak drama.,sukaaaa
Reni Novitasary
so sweet
Nining Chili
😁😁😁
Ena Ariani
kerenn
Febi Chan😍
aq baca lagi di bulan Mei 2025
sesuka itu aq pada karyamu thor
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
wkwk bu cin mikir apaan sih 🤭
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
buset dah mokondo pedofil pula
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
njirr beda ye perlakuan cowok mateng ama abg tanpa babinu langsung hap
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
sekali" merakyat pak
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
dunia kerja keras say, diatas difitnah dibawah di injek, yang tau kerja keras kita cuma diri sendiri
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
goblok tom, si Rani juga gendeng banget dikibulin mau aja gusti 🤦🏼‍♀️
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
lah malah main ancem"an belom tau kebenarannya kek gitu
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
wow gini cara mainnya kek, pak artha ye di lepas semua dulu kalau kelilit tinggal di ambil lagi 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!