NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Hannah

Di Balik Cadar Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.

Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.

Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riri Cemas

Setelah mendengar kabar bahwa Alya hadir dalam pemotretan Faz kemarin, Riri langsung memutuskan untuk mengunjungi studio Hannah. Sejak pagi, Hannah sulit dihubungi. Pesan-pesan yang dikirimkannya pun tak kunjung mendapat balasan.

Riri mengenal sahabatnya itu dengan baik. Jika Hannah tiba-tiba menghilang dan sulit dihubungi, pasti ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya. Terlebih lagi, ia tahu siapa Alya dan apa artinya kehadiran perempuan itu bagi Hannah.

Sesampainya di studio, Riri mendapati pintunya tertutup. Ia mengedarkan pandangan dan melihat Arif sedang duduk di depan laptop.

"Assalamu'alaikum, Rif."

Arif mengalihkan pandangannya dari layar laptop. "Wa'alaikumussalam, Ri. Ada apa? Kenapa wajahmu kusut sekali?"

"Kenapa Hannah nggak ada di studio?"

"Entahlah. Bukankah kamu sahabatnya? Seharusnya kamu lebih tahu."

"Dia sejak tadi pagi nggak bisa dihubungi," jawab Riri cemas.

Ia kemudian duduk di kursi di hadapan Arif. Wajahnya menunjukkan kegelisahan yang sejak tadi berusaha ia tahan.

"Apa yang terjadi saat pemotretan kemarin?" tanyanya, mulai menyelidiki.

"Biasa saja," jawab Arif santai, lalu kembali melirik layar laptopnya.

Riri mengembuskan napas kesal.

"Aduh, Rif! Coba ingat-ingat lagi. Apa ada sesuatu yang aneh dengan Hannah?"

Arif menghentikan aktivitasnya sejenak, berusaha mengingat kejadian kemarin.

"Kamu benar-benar nggak memperhatikan Hannah, ya?" desak Riri ketika Arif tak kunjung menjawab.

"Oh, iya. Sepertinya tangan Hannah sempat gemetar kemarin. Tapi kupikir dia cuma kecapekan." Arif mengernyit. "Memangnya Hannah sakit?"

"Aduh!" Riri menepuk dahinya pelan.

Ia sudah menduga Hannah pasti berusaha menyembunyikan sesuatu. Namun, mendengar bahwa tangan sahabatnya sampai gemetar membuat kecemasannya semakin bertambah.

"Lalu, bagaimana dengan Alya?" tanyanya lagi.

Arif mengangkat alis. "Kamu kenal Alya?"

"Kamu tahu kalau Alya itu tunangannya Faz?"

"Alya tunangannya Faz?" Riri terkejut mendengarnya.

Selama ini, ia hanya mendapat kabar bahwa Alya datang ke lokasi pemotretan. Ia tidak menyangka perempuan itu ternyata tunangan Faz.

Jika begitu, keadaan Hannah mungkin jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Bagaimana Hannah bisa melanjutkan pemotretan jika harus berhadapan dengan perempuan yang menyimpan begitu banyak kenangan dari masa lalunya?

Arif kembali menatapnya. "Kamu kenal Alya, Ri?"

Riri terdiam sesaat. Ada banyak hal yang ingin ia jelaskan, tetapi ia merasa bukan dirinya yang berhak menceritakan masa lalu Hannah kepada orang lain.

"Maaf, Rif. Aku belum bisa menjelaskan sekarang. Aku harus ke rumah Hannah."

Arif mengangguk. "Baiklah. Nanti kabari aku kalau Hannah sudah baik-baik saja."

"Insyaallah. Aku pamit dulu, ya. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Riri segera meninggalkan studio.

Sepanjang perjalanan, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Berkali-kali ia membenahi posisi helmnya, sementara matanya terus tertuju pada jalan di depan.

Ia ingin segera sampai, tetapi tidak mungkin memacu motornya terlalu cepat. Kecelakaan yang dialaminya bulan lalu masih menyisakan trauma. Ia harus lebih berhati-hati, meskipun kecemasan terhadap Hannah terus mendesaknya untuk segera tiba.

Sesampainya di rumah Hannah, Riri mematikan mesin motor, lalu bergegas menuju warung milik ibu sahabatnya itu. Saking terburu-buru, ia bahkan lupa mencabut kunci motornya.

"Assalamu'alaikum, Bu. Hannah ada di dalam?" tanyanya begitu tiba di warung.

"Wa'alaikumussalam. Ada, Ri. Hannah di kamar."

"Baik, Bu. Saya ke atas dulu, ya."

Riri langsung menaiki tangga menuju kamar Hannah. Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk beberapa kali.

Tok! Tok! Tok!

Tidak ada jawaban.

"Han?" panggilnya.

Hening.

Riri kembali mengetuk pintu, kali ini sedikit lebih keras.

"Han, ini aku, Riri."

Tetap tidak ada sahutan.

Jantungnya mulai berdebar. Jangan-jangan Hannah benar-benar sakit. Atau, mungkinkah sesuatu telah terjadi setelah pemotretan kemarin?

Baru saja Riri hendak mengetuk untuk ketiga kalinya, terdengar suara pintu dibuka. Namun, bukan pintu kamar yang terbuka, melainkan pintu kamar mandi di sebelahnya.

Hannah muncul dengan wajah sedikit basah, baru saja selesai mandi.

"Alhamdulillah," gumam Riri lega.

Ia segera mendekat, memperhatikan wajah sahabatnya seolah sedang memastikan tidak ada sesuatu yang salah.

"Tumben kamu ke sini, Ri," ujar Hannah.

"Aku mengkhawatirkanmu, Han."

Hannah mengerjap. "Mengkhawatirkanku? Memangnya kenapa?"

"Kamu sejak tadi nggak bisa dihubungi. Aku pikir kamu sakit."

Hannah menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja, kok."

"Benar?"

Hannah mengangguk.

Riri masih belum sepenuhnya percaya, tetapi ia memilih untuk tidak mendesak. Ia tahu, terkadang Hannah membutuhkan waktu untuk mengumpulkan keberanian sebelum bisa menceritakan sesuatu yang menyakitkan.

Mereka kemudian duduk di ruang tengah. Riri sengaja membiarkan suasana hening, menunggu Hannah membuka pembicaraan dengan sendirinya.

"Mau minum apa, Ri?" tanya Hannah akhirnya, memecah keheningan.

"Air putih saja."

Hannah beranjak ke dapur untuk mengambilkan air. Tak lama kemudian, ia kembali membawa segelas air putih dan menyerahkannya kepada Riri.

Riri yang sejak tadi merasa haus langsung meneguk air itu sampai habis.

"Pelan-pelan, Ri!" tegur Hannah. "Nggak sunnah, ah, minum sekali teguk begitu. Tiga kali tegukan, Ri, sesuai sunnah Rasulullah."

Riri meletakkan gelas kosongnya, lalu menatap Hannah dengan wajah dibuat serius.

"Baik, Ustazah."

Keduanya pun tersenyum kecil.

Untuk sesaat, suasana terasa seperti biasanya. Tidak ada percakapan tentang Alya, Faz, ataupun masa lalu yang selama ini berusaha Hannah kubur rapat-rapat.

Namun, Riri tahu senyum itu belum tentu berarti semuanya baik-baik saja.

"Aku hari ini rencananya mau kerja di rumah saja," ujar Hannah sambil merapikan gelas di atas meja. "Biar lebih fokus."

Riri menatapnya lekat-lekat.

Ia tahu, fokus bukanlah alasan utama Hannah memilih mengurung diri di rumah. Ada sesuatu yang sedang berusaha dihindari sahabatnya itu, dan Riri bisa menebak apa penyebabnya.

"Ya, lebih baik begitu, Han. Cari suasana yang tenang dulu." Riri berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Atau kamu mau ke apartemenku? Biar ada teman."

Hannah menggeleng.

"Kamu temani aku di sini saja, Ri. Aku lagi malas keluar."

"Baiklah. Aku temani."

Riri memang sering menemani Hannah, begitu pula sebaliknya. Mereka sudah terbiasa saling hadir tanpa harus selalu menanyakan alasan di balik kesedihan masing-masing.

Setelah itu, Hannah mulai membuka laptopnya dan memeriksa beberapa berkas pekerjaan. Sesekali ia mengetik, lalu berhenti cukup lama sambil menatap layar.

Sementara itu, Riri sibuk dengan ponselnya. Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan menggulir media sosial, tetapi tak lama kemudian merasa bosan.

Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di benaknya.

"Han, ada bahan-bahan yang bisa dipakai buat bikin kue, nggak?"

Hannah mengalihkan pandangan dari laptop.

"Sepertinya ada pisang di dapur. Kalau kamu mau, bikin bola-bola pisang saja."

Mata Riri langsung berbinar.

"Siip!"

Ia segera bangkit dan menuju dapur. Setelah memeriksa bahan-bahan yang tersedia, Riri mulai menyiapkan adonan.

Sejak kecil, ia memang gemar membuat kue. Baginya, mengolah bahan-bahan sederhana menjadi sesuatu yang bisa dinikmati bersama adalah salah satu cara terbaik untuk menghibur diri—dan orang lain.

Sesekali, Hannah menoleh dari depan laptop, memperhatikan sahabatnya yang sibuk di dapur.

Ada kehangatan tersendiri saat melihat Riri bertingkah seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Sahabatnya itu tidak banyak bertanya, tidak memaksanya bercerita, dan tidak menuntutnya untuk segera kembali ceria.

Riri hanya memilih untuk tinggal.

Dan entah mengapa, kehadiran itu membuat dada Hannah terasa sedikit lebih lapang.

Syukurlah, pikirnya. Setidaknya, ia masih memiliki seseorang yang bersedia menemaninya melewati hari-hari sulit seperti ini.

Hannah kembali menatap layar laptop, mencoba memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Namun, bayangan Alya yang berdiri di hadapannya kemarin tiba-tiba kembali melintas.

Tangannya yang berada di atas papan ketik mendadak terhenti.

Senyum Alya. Tatapan matanya. Suaranya yang terdengar begitu akrab.

Hannah memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan diri.

Jangan sekarang. Tolong, jangan sekarang.

Dari dapur, terdengar suara Riri memanggilnya.

"Han, kamu mau bolanya dikasih taburan gula halus atau cokelat?"

Hannah segera membuka mata. Ia menarik napas perlahan, lalu menoleh ke arah dapur.

"Terserah kamu saja, Ri."

"Kalau begitu, aku bikin dua macam!"

Hannah tersenyum tipis.

Namun, ketika kembali menatap layar laptop, senyumnya perlahan menghilang.

Di sudut layar, sebuah notifikasi pesan masuk muncul.

Nama pengirimnya membuat jantung Hannah seketika berdegup kencang.

Alya.

1
naar0rrrr
lanjutt yaa kakk, semangatt💪 jangan lupa mampir cs ku yakk/Smile/
naar0rrrr
Hannah kayak nya bingung mau jawab apa ya..
naar0rrrr
kenapa faz nya gak jujur ya?
naar0rrrr
lanjuttt kakk, semngatttt
naar0rrrr
di ingetinn dongg, lanjutt yaa kaaa
naar0rrrr
lanjutttt thorrrrr
Putry Chan
kmu ingin mempertemukan hannna Dengan masa lalu nya apakah mereka ini gak tau
Putry Chan
berdoa dulu insyaallah aman kok
Putry Chan
faz itu masa lalu Hannah btw mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Hannah kamu knp
Putry Chan
Hannah kamu kenal dia
aefpe fp
mampir juga ya...sesama pemula ini😍
jinggaarundari
yahhhh gantung.... lanjut terus kaa😍😍
jinggaarundari
ya ampun Hannah...
jinggaarundari
Faz cek lagi ke RS bikin dejavuu akuu, baru awal udh deep 🫠
semangat terus kaa😍😍
Renjana
pertemuan dengan siapa tu?🤭
R: dengan masa lalu 🤭
total 1 replies
Renjana
bagus kak,
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!