Kehidupan dua insan manusia yang berbeda latar belakang namun saling berkaitan secara tidak langsung.
Sahabat Pena...
Mungkin itulah yang membuat mereka terhubung hingga sekarang. Diawali dengan sebuah pertemanan melalui surat semenjak kecil namun tidak pernah sekalipun bertemu.
Hingga akhirnya mereka dipertemukan dalam sebuah ikatan pekerjaan.
Akankah mereka saling mengenali satu sama lain???
Serta, apakah surat yang selama ini mereka tulis dan terima hanyalah sebuah mainan belaka atau adakah diantara mereka yang menuangkan perasaan di setiap baitnya.
Dan bagaimanakah akhir dari pencarian mereka satu sama lain???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SANG PURNAMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Jessica terjatuh, terlihat wanita itu sepertinya tidak mempunyai tenaga lagi untuk hanya sekedar berdiri. Sepertinya apa yang sedang dialami oleh Rose tadi membawa dampak yang sangat besar bagi Jessica.
Nampak terlihat jika kedua sosok perempuan itu saling menyayangi satu sama lain.
Segera Sekertaris Ren mendekat kearah Jessica dan berjongkok dihadapannya, kedua tangan Sekertaris Ren memegangi kedua sisi bahu Jessica.
Tatapan Jessica sekarang berpusat pada lantai yang berada dibawah tubuhnya masih dengan pandangan yang kosong.
"Anda tidak apa-apa Nona Jessica??" tanya Sekertaris Ren khawatir namun yang terlihat hanya ekspresi datar.
Sekertaris Ren tidak pernah melihat Jessica yang lemah seperti ini, meskipun mereka baru saja bekerja sama namun Sekertaris Ren dapat melihat jika perempuan itu ialah perempuan yang tegar dan kuat.
Buktinya saja ketika Jessica menyelamatkan ibunya dengan berbagai luka dan memar yang ia terima namun Sekertaris Ren tidak melihat sedikitpun rasa sakit yang tergambar di wajah cantiknya.
Namun sekarang lihatlah betapa lemah sosok perempuan yang sedang duduk lemas didepannya itu.
"Nona Jessica, apakah anda tidak apa-apa??" Sekertaris Ren kembali mengulangi pertanyaannya yang sempat diabaikan oleh Jessica sebelumnya.
Namun hal serupa terjadi, Jessica masih juga mengabaikan pertanyaan dari Sekertaris Ren yang membuat laki-laki itu menjadi bingung sekaligus khawatir.
Sekertaris Ren berusaha membantu Jessica untuk bangun dari posisi duduknya sekarang namun perempuan itu benar-benar seperti tidak memiliki tenaga dan tulang yang dapat menopang dirinya sendiri untuk berdiri.
Dengan satu kali gerakan, Sekertaris Ren menggendong Jessica seperti pasangan pengantin.
"Berpegangan lah, saya tidak ingin anda terjatuh" ucap Sekertaris Ren sebelum dirinya melangkah sembari menggendong Jessica.
Jessica tidak menjawab atas kata-kata yang Sekertaris Ren ucapkan namun tubuhnya memberikan reaksi dengan mengalungkan kedua tangannya dileher Sekertaris Ren.
Sekertaris Ren membawa Jessica keruangan pribadinya yang letaknya tidak jauh dari ruangan David.
Dengan perlahan dan hati-hati Sekertaris Ren membuka pintu ruangannya agar tidak membuat Jessica yang berada didalam gendongannya menjadi terjatuh.
Pelan-pelan Sekertaris Ren mendudukkan Jessica di sofa ruangan miliknya dan sepertinya perempuan itu terlihat tidak menolak sama sekali.
Setelah menaruh Jessica di sofa , Sekertaris Ren bangkit berniat untuk mengambilkan gadis itu minuman namun hal itu dicegah oleh Jessica dengan menangkap salah satu tangan Sekertaris Ren.
Jessica menatap sosok laki-laki tampan sekaligus imut yang sedang berada didepannya dengan posisi jongkok itu.
"Terimakasih atas bantuannya tadi, maaf membuat anda melihat sisi lain dari diri saya" Jessica pun beranjak berdiri hendak meninggalkan Sekertaris Ren.
Namun bergantian, kali ini Sekertaris Ren yang menahan Jessica dengan menarik tangan wanita itu.
Sekertaris Ren pun berdiri dari posisi jongkoknya tadi, kini kedua insan tersebut saling pandang dengan tangan yang berpegangan.
Hal yang tidak terduga kembali terjadi, Sekertaris Ren menarik tangan Jessica membuat wanita itu tertarik dan menubruk tubuh tegap Sekertaris Ren.
"Bodoh.. Kenapa aku melakukan hal semacam ini"
Sekertaris Ren mengutuk dirinya sendiri yang melakukan hal di luar batas wajarnya.
Namun karena hal itu sudah terjadi alangkah lebih bagus diteruskan saja, lagi pula sepertinya wanita yang sedang berada di pelukannya saat ini tidak mempermasalahkan hal ini.
Lihatlah, wanita itu malah tenang berada didalam pelukan Sekertaris Ren, bahkan Jessica dengan mudahnya memegang kedua sisi jas Sekertaris Ren seperti seorang wanita yang sedang malu-malu untuk memeluk kekasihnya.
"Menangis lah, jika itu bisa membuat mu lebih baik"
Bahkan Sekertaris Ren juga terbaru suasana dengan tidak lagi menggunakan bahasa formalnya.
Sekertaris Ren sangat bisa menempatkan diri di situasi apapun, sekarang ia menempatkan dirinya sebagai seorang teman yang siap mendengarkan keluhan temannya sendiri.
* * *
Di lain tempat yaitu ruangan David yang masih menyisakan keheningan antara dirinya dan Rose yang sepertinya masih terkejut dengan kejadian yang menimpanya.
David juga bingung mengatasi hal yang berada tepat didepan matanya sekarang, bagaimana caranya membuat Rose mengalihkan perhatiannya dari kejadian tadi agar tidak mengguncang jiwanya nanti.
Tolonglah, David sungguh bukan laki-laki yang memiliki pengalaman dalam hal semacam ini. Dirinya bahkan seumur hidup tidak pernah pacaran ataupun berdekatan dengan wanita, paling dekat hanya sebatas teman sekolah dulu dan hingga sekarang kesehatannya hanya ditemani oleh Sekertaris Ren saja.
"Apakah saya bisa minta tolong kepada anda??" tanya David mencoba membangun suasana.
Namun Rose masih saja diam, bahkan memandang pun tidak kearah David yang membuat laki-laki itu makin frustasi akan situasi yang membuat dirinya seperti tercekik.
"Saya mohon, karena hanya anda yang bisa membantu saya" ucap David lagi mencoba meruntuhkan harga dirinya dengan memohon kepada seorang wanita yang tidak terlalu ia kenal.
Rupanya kalimat David barusan membuat Rose merespon dirinya dengan memandang kearah David, hal itu tidak disia-siakan David dengan kembali melancarkan rencana selanjutnya.
"Sekarang aku harus bicara apa lagi. Astaga aku terjebak dengan kata-kata ku sendiri"
Hingga sepertinya David menemukan sebuah ide, David berdoa semoga saja ide nya ini berhasil.
"Bisakah anda menemani ku sebentar ke suatu tempat dan saya pastikan anda akan aman dan tenang disana" David berusaha merayu Rose agar mau ikut dengannya.
"Kemana??" tanya Rose pelan.
David tersenyum. Astaga hanya satu kata yang keluar dari mulut Rose namun membuat David senang bukan kepalang. Entah apa, yang pastinya ada semacam perasaan lega karena bisa mendengar kembali suara Rose. Mungkin karena bujukan berhasil makanya David merasakan hal semacam itu, ya mungkin karena hal tersebut tidak ada alasan yang lain lagi.
"Saya akan memberitahu Anda ketika kita sudah sampai di sana" sahut David dengan wajah yang ia pasang penuh permohonan.
Lihatlah, apakah tampang itu benar adalah seorang CEO Brawijaya Entertainment Group.
Sungguh sangat tidak mungkin seandainya Rose tidak mengenal laki-laki itu lebih dahulu.
Tanpa menunggu lagi David beranjak dari tempat duduknya menuju kearah Rose dan mengambil tangan kiri perempuan itu.
Rose menengadah ke arah David yang sedang berdiri didepannya, lalu David memberikan senyuman meyakinkan kepada Rose yang membuat perempuan itu seakan percaya dan ikut berdiri dari tempat duduknya.
David dan Rose kemudian beranjak meninggalkan ruangannya dengan sesuatu yang berbeda, ya sebuah tautan tangan membuat pandangan orang yang melihatnya seakan aneh, bingung, dan heran. Entah apa yang orang pikirkan sedari tadi melihat mereka hanya merekalah yang tau.
David membawa Rose ke basemen tempat ia memarkirkan mobilnya dan membawa mobil itu melaju ke suatu arah yang Rose juga tidak tahu. Namun sebelum itu, David melepas tautan tangan mereka yang sedari tadi tidak terlepas.
"Maaf, saya tidak sengaja dan tidak menyadarinya sedari tadi" David merasa bersalah dengan tanpa permisi menggenggam tangan seorang perempuan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
elah si David alasan aja pake acara ngga sadar 🙄🤣
tp itu siapa yg kirim surat nya?