PLAK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ervano. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas sambil melihat pada Naima. Gadis itulah yang sudah memberikan tamparan tadi. Mata gadis itu menatap nyalang pada Ervano. Dia sama sekali tidak menyangka pria yang dekat dengannya bisa melakukan hal yang melecehkan harga dirinya sebagai wanita.
“Ima, maafin aku.. aku..”
“Aku ngga nyangka, bang. Serendah itu pikiran abang sama aku!!”
“Ngga, Ima. Ngga begitu. Aku… ngga sengaja. Aku khilaf, maaf.”
“Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa menjaga pandangan dan tidak menyentuh yang bukan miliknya. Terima kasih, bang. Aku cukup tahu kelakuan abang seperti apa. Mulai sekarang, lebih baik kita ngga ketemu lagi. Aku tidak membenci abang, tapi bukan berarti aku bisa terus berteman dengan abang.”
Setelah mengatakan itu, Naima segera pergi meninggalkan Ervano dengan perasaan marah, kecewa sekaligus malu. Ervano hanya bisa memandangi kepergian Naima tanpa bisa melakukan apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Cucu Mantu
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Alden!”
Kevin berteriak memanggil cucunya yang baru saja tiba. Alden sudah kembali ke Bandung setelah menyelesaikan pendidikan dan pelatihan sebagai jaksa umum. Sekarang dia sudah ditempatkan di Pengadilan Negeri Kabupaten Bandung untuk menjalankan tugasnya di sana selama dua tahun sebelum melakukan lagi ujian untuk menjadi jaksa umum.
Alden menghampiri pandawa lima yang sedang berkumpul di kediaman Juna. Pria itu mencium punggung tangan kelima pria itu. Kevin menarik Alden duduk ke dekatnya. Dia bangga sekali cucunya sudah menyelesaikan masa pendidikannya.
“Itu Alden jangan dikekepin sendiri. Ingat, dia bukan hanya cucumu, tapi juga cucu kak Juna,” seru Cakra.
“Si kulkas emang sudah lupa diri. Alden, Illa, Aya sama Firhan itu cucunya sendiri. Padahal mereka bisa ada karena andil dari anakku dan kak Juna. Seenaknya aja dimonopoli sendiri,” sambung Abi.
“Tapi kak Juna masih untung, Alisha sama Viren tinggal sama kak Juna, jadi masih bisa ikut merasakan merawat Illa dan Alden. Beda sama Abi, Freya, Aya sama Firhan dimonopoli sama dia,” Jojo ikut memanasi.
“Tapi bukan berarti aku ngga sayang sama kakek Abi. Rasa sayangku ke kakek dan opa sama besarnya.”
Tiba-tiba saja terdengar suara Firhan. Pria itu juga baru datang. Setelah mencium punggung tangan para tetua, pria itu duduk di samping Abi. Sambil melihat pada Kevin, Abi merangkul bahu cucunya ini.
“Tumben kamu ke sini, Han.. ada apa?” tanya Abi pada Firhan.
“Aku mau numpang makan siang. Katanya mommy Zahra bikin makan siang spesial, jadinya aku mau nyobain.”
“Nanti kita makan bareng.”
“Sip, kek.”
“Opa kamu ngga usah diajak.”
“Siapa juga yang mau makan bareng kamu!”
“Hahaha..”
Juna, Cakra dan Jojo sudah tidak aneh lagi melihat perdebatan kedua besan itu. Walau anak-anak mereka menikah, tapi hubungan kedua besan ini sudah seperti kutub magnet yang saling menolak. Alden dan Firhan juga sudah tahu hubungan kakek dan opanya ini. Mereka tak pernah menganggap serius perdebatan para tetua itu. Karena tahu, mereka tetap saling menyayangi.
“Alden, katanya kamu sudah punya calon sendiri. Kapan kamu mau mengenalkan pada kami?”
“Sabar, opa. Aku masih pedekate dulu.”
“Udah hampir setahun pedekate masa ngga dapet-dapet?”
“Masalahnya dia punya bodyguard dua. Yang satu sih asik, bisa diajak kerjasama, tapi yang satu aduh jahilnya minta ampun. Ada aja caranya gagalin usahaku buat deketin Cyra.”
“Oh jadi namanya Cyra. Cantik, ngga?”
“Cantik opa, solehah, udah berhijab, ngga pernah bersentuhan dengan lawan jenis kecuali mahramnya. Pokoknya paket lengkap deh.”
“Perlu bantuan kita?” tawar Juna.
“Ngga usah, grandpa. Aku bakalan dapetin hatinya dengan usahaku sendiri.”
“Tapi kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan untuk bilang.”
“Siap, grandpa.”
“Kalau begitu aku pulang dulu. Ayo Firhan.”
Abi bangun dari duduknya, kemudian mengajak cucunya pulang. Jarak rumah Abi dan Juna tidaklah jauh, hanya berbeda dua rumah saja. Keduanya kembali ke kediaman Abi sambil berjalan kaki.
“Soal yang kakek minta, gimana?” tanya Abi.
“Tenang aja, kakek.”
“Tapi kamu benar tidak ada hati sama Aiza?”
“Ngga ada kek. Aiza emang cantik, tapi dia ngga bisa bikin hatiku cenat-cenut, kek,” Firhan memegangi dadanya ketika mengatakan itu.
“Syukurlah kalau kamu ngga ada hati sama Aiza. Tapi kamu harus dekatin dia. Pokoknya bikin Sam keki berat dan buat dia usaha buat mendapatkan Aiza.”
“Oke, kakek. Tenang aja. Bang Farzan juga kayanya ngga ada hati sama Aiza, tapi kalau Dipa ngga tahu juga.”
“Kalau emang Dipa suka sama Aiza, kita serahin aja sama takdir. Siapa yang bakal jadi jodohnya, Sam atau Dipa.”
“Benar, kek. Soal aku tenang aja. Aku pasti bakal kasih kakek cucu mantu yang ngga kalah baik dan cantik dari Aiza.”
“Sip..”
Abi merangkul bahu Firhan ketika mereka sudah sampai di rumah. Mereka langsung menuju ruang makan. Zahra sudah menyiapkan makan siang. Firhan meneguk ludahnya melihat aneka makanan yang tersedia. Masakan Zahra tidak kalah enak dari masakan mamanya. Pria itu menarik kursi untuk Abi, kemudian dia mendudukkan diri di samping sang kakek.
🍄🍄🍄
Perhelatan ulang tahun Metro East digelar. Tempatnya di ballroom hotel Arjuna. Ravin yang mengurus kesiapan hotel untuk menyelenggarakan pesta, sementara dari pihak perusahaan sudah memiliki panitia sendiri. Naima yang bertugas menyusun acara datang lebih awal. Dia harus memastikan semuanya berjalan sesuai rencana, termasuk catering dadakan.
Rifki bersama beberapa rekannya datang mengantarkan makanan. Mereka langsung menaruhnya di ruangan yang digunakan sebagai area kerja mereka. Sebagian lain menyiapkan hidangan di meja prasmanan. Naima terus mengawasi semua yang sedang mengerjakan tugasnya masing-masing.
Ervano sengaja datang lebih awal demi bisa melihat Naima. Pria itu bersembunyi di balik pilar dan memperhatikan Naima dari jarak yang cukup jauh. Dia terkejut ketika melihat Naima sudah menutup dirinya dengan rapat. Namun hijab yang dikenakannya membuatnya terlihat lebih cantik.
Pria itu bergegas pergi ketika Naima berjalan mendekat padanya. Sudah cukup dirinya melihat untuk saat ini. Ketika acara nanti, dia akan mempunyai kesempatan lebih banyak untuk mencuri lihat gadis itu lagi.
Satu jam kemudian acara dimulai. Semua yang berkepentingan sudah hadir. Abi sebagai mantan CEO perusahaan besar ini datang bersama dengan istri dan ketiga anaknya. Semua cucunya juga hadir minus Azzam yang masih bertugas di Pekan Baru. Ervano yang datang bersama Ezra dan Dilara, berusaha mencari keberadaan Naima.
Nampak di meja yang tidak jauh darinya, Naima duduk bersama dengan Farel dan Ara. Tidak lama kemudian Nalendra datang bersama istrinya, Ayumi. Merasa ada yang terus melihatnya, Naima menolehkan kepalanya. pandangannya dan Ervano langsung bertemu. Tapi Naima langsung memutus pandangannya, dia mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Ervano menghela nafas panjang, Naima sepertinya masih marah padanya.
Para tamu mulai berdatangan memenuhi ballroom. Mereka menempati meja yang sudah disediakan. Aiza datang bersama dengan Fahri dan Vano. Zidan juga datang sebagai perwakilan dari perusahaan, tapi Aiza sengaja dibawa oleh kedua kakeknya. Gadis itu akan dikenalkan pada para pria yang digadang-gadang menjadi calon suami Aiza.
Farzan, Firhan dan Dipa juga sudah datang. Jojo tidak lepas dari Farzan, begitu pula dengan Kevin dan Cakra. Ketiga pria itu serius ingin menjadikan Aiza sebagai cucu mantunya. Masalah siapa yang akan dipilih Aiza, mereka serahkan pada takdir.
Sam yang datang bersama dengan Abi mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Matanya membulat ketika melihat sosok Aiza berada di salah satu meja. Pria itu segera bangun kemudian mendekati meja yang ditempati gadis itu.
“Neng..” panggilnya.
“Aa Sam..”
Refleks Fahri dan Vano menolehkan kepalanya pada pria yang berdiri di dekat meja mereka. Sam terkejut melihat Fahri dan Vano bersama dengan Aiza. Pria itu langsung mencium punggung tangan kedua pria itu. Tentu saja Aiza bingung, dia tidak tahu kalau Sam mengenal kakek dan opanya.
“Aa kenal sama kakek dan opaku?”
“Kamu cucunya kakek Fahri dan opa Vano?” Sam malah balik bertanya.
“Iya, Sam. Ini Aiza, cucu yang waktu itu mau kakek kenalkan padamu,” jawab Fahri sambil tersenyum.
“Hah?”
🍄🍄🍄
Nah mau ngomong apa Sam?😂
Besok aku libur🤗