Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sulit Percaya
"Apa-apaan ini?!"
Norman menggebrak meja dengan keras hingga beberapa lembar dokumen bergeser dari tempatnya. Wajahnya memerah, sementara kedua matanya menatap tajam surat perceraian yang masih berada dalam genggamannya.
"Grace, apa yang sebenarnya kau inginkan?!" geramnya sambil meraih ponsel di atas meja.
Tanpa membuang waktu, Norman mencari nama Grace di daftar kontak, lalu menekan tombol panggil. Dia menempelkan ponsel ke telinga dengan rahang mengeras, menunggu perempuan itu mengangkat teleponnya.
Namun, setelah beberapa kali nada sambung terdengar, panggilan tersebut berakhir tanpa jawaban.
Norman menurunkan ponselnya, menatap layar dengan tidak percaya, lalu kembali menekan tombol panggil.
Sekali lagi, tidak ada jawaban.
"Angkat teleponmu, Grace!" bentaknya, seolah-olah perempuan itu bisa mendengar teriakannya dari seberang sana.
Panggilan kembali terputus. Norman langsung melemparkan ponselnya ke sofa. Dadanya naik turun menahan amarah, sedangkan kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.
"Kurang ajar! Apa-apaan ini? Beraninya dia mengirimkan surat perceraian kepadaku!"
teriak Norman sambil berjalan mondar-mandir di dalam ruangan.
Dia sesekali mengusap wajahnya dengan kasar. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang tidak mampu dijawabnya sendiri.
Norman tiba-tiba berhenti di dekat meja, kemudian kembali mengambil surat tersebut. Dia membaca setiap barisnya sekali lagi, berharap menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan keputusan Grace. Namun, semakin lama dia membaca, semakin besar pula kemarahannya.
"Jadi, setelah menghilang selama berminggu-minggu, kau malah mengirimkan surat seperti ini?" gumamnya dengan tatapan tajam. "Apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan, Grace?"
Alih-alih mengingat perselingkuhannya dengan Mona, Norman justru sibuk mencari-cari kesalahan Grace. Dalam pikirannya, perempuan itu telah bertindak keterlaluan karena mengambil keputusan besar tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara.
Norman sama sekali tidak menyadari bahwa selama ini justru dirinya yang menghancurkan kepercayaan dalam pernikahan mereka.
"Baiklah!" serunya sambil kembali menggebrak meja. "Kalau kau tidak mau menjawab teleponku, aku akan mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi!"
Sementara itu, di sebuah kafe yang tidak terlalu jauh dari gedung perusahaan Turner, seorang perempuan duduk sendirian di sudut ruangan.
Mantel hitam yang dikenakannya menutupi sebagian tubuhnya. Sebuah topi menutupi rambutnya, sementara kacamata berbingkai gelap menyamarkan wajahnya dari pandangan orang-orang di sekitar.
Perempuan itu tidak lain adalah Grace Wills.
Di hadapannya terletak secangkir kopi yang belum disentuh. Satu tangan Grace menopang sisi kepalanya, sedangkan tangan lainnya memegang ponsel yang terhubung dengan headset kecil di telinganya.
Melalui alat penyadap yang masih terpasang di kantor Norman, dia dapat mendengar setiap teriakan laki-laki itu.
"Jadi, sekarang kau mulai panik, Norman?" gumam Grace sambil tersenyum smirk.
Grace mulai menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengaduk kopi dengan santai.
Mendengar Norman terus mengamuk setelah membaca surat perceraian itu membuatnya merasa puas. Selama bertahun-tahun, laki-laki tersebut terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Sekarang, untuk pertama kalinya, Norman harus menghadapi kemungkinan kehilangan sesuatu yang selama ini dianggapnya akan selalu berada dalam genggamannya.
Grace mengangkat cangkirnya, menyesap sedikit kopi, lalu kembali menatap kosong ke arah jendela.
"Tunggu saja," bisiknya pelan. "Ini bahkan belum seberapa dibandingkan dengan rasa sakitku selama ini."
Senyum tipis kembali menghiasi bibir Grace.
Dia sangat tidak sabar menyaksikan kehancuran Norman. Dia ingin melihat laki-laki itu kehilangan ketenangannya, kehilangan kendali atas hidupnya, dan akhirnya merasakan sendiri bagaimana rasanya dikhianati.
Namun, ketenangan yang baru saja dinikmatinya mendadak terusik.
Tok! Tok! Tok!
Seseorang mengetuk meja di hadapannya.
Grace mengernyit. Dia tidak langsung mengangkat kepala, tetapi perlahan menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk kopi.
Siapa lagi yang mengganggunya sekarang?
Dengan malas, dia mendongakkan kepala.
Seorang laki-laki berdiri di hadapannya dengan pakaian kasual yang terlihat sederhana, tetapi tetap membuat penampilannya tampak menarik. Topi yang dikenakannya sedikit menutupi dahi, sementara kedua tangannya masuk ke saku celana.
Laki-laki itu menatap Grace dengan senyum tipis.
Grace menyipitkan mata di balik kacamatanya.
Kevin Cloud.
'Apa yang dilakukan laki-laki ini di sini?' batin Grace sesaat.
Sebelum Grace sempat mengatakan sesuatu, Kevin menarik kursi di hadapannya.
"Aku duduk di sini, ya," kata Kevin.
"Siapa yang mengizinkanmu?" sahut Grace, dingin.
Namun, Kevin sudah lebih dahulu duduk dengan santai, seolah-olah dia sama sekali tidak mendengar keberatan perempuan itu.
Grace mendengus kesal. Dia melepas kacamatanya, meletakkannya di atas meja, lalu menatap Kevin dengan sorot mata tajam.
"Apa yang kau lakukan di sini?" bentaknya. "Pergi kau!"
Kevin justru tersenyum tipis. Dia mengangkat tangan untuk melepas topinya, kemudian menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jari tangan. Setelah itu, dia kembali mengenakan topinya dengan santai, sama sekali tidak terlihat terganggu oleh sikap kasar Grace.
"Kenapa?" tanya Kevin, santai. "Kau tidak senang melihatku?"
"Tentu saja tidak!" Grace melotot. "Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menggangguku?"
"Sepertinya tidak ada pekerjaan yang lebih menarik daripada bertemu denganmu," balas Kevin.
Grace menatap Kevin dengan tidak percaya.
Laki-laki ini benar-benar tidak tahu malu!
Dia menarik napas panjang, berusaha menahan diri agar tidak langsung menyiramkan kopi ke wajah Kevin.
"Dari mana kau tahu aku berada di sini?" tanya Grace kemudian.
Kevin menyandarkan punggungnya ke kursi. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum penuh percaya diri.
"Apa sih yang tidak kuketahui tentangmu?" jawabnya santai. "Di mana pun kau berada, aku pasti bisa menemukanmu."
Kening Grace langsung berkerut. Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap Kevin dengan ekspresi curiga.
"Sebenarnya kau ini hacker atau penguntit?"
Kevin mengangkat kedua alisnya. "Bisa jadi dua-duanya."
"Kau!" Grace hampir saja membentak lebih keras. Jemarinya mencengkeram ujung meja, sementara tatapannya semakin tajam.
Namun, ketika menyadari dirinya mulai kehilangan kendali, dia segera menarik napas panjang.
Tidak. Dia tidak akan membiarkan laki-laki menyebalkan ini membuat emosinya meledak-ledak.
Perlahan, Grace menyandarkan punggungnya kembali ke kursi. Dia merapikan mantelnya, mengangkat dagu, lalu menatap Kevin dengan ekspresi tenang yang kembali terlihat elegan.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?" tanyanya, datar.
Kevin mengamati perubahan sikap tersebut dengan senyum tipis. "Aku hanya ingin membantumu."
"Tidak perlu."
"Grace—"
"Aku bilang tidak perlu." Grace memotong ucapan Kevin dengan cepat. "Sebentar lagi aku juga akan bercerai dengan Norman. Jadi, tidak ada urusan yang perlu kita bicarakan."
Kevin terdiam sejenak sebelum kembali membuka mulut. "Tapi, Norman sampai sekarang belum mengetahui bahwa kaulah orang di balik semua teror yang menimpanya."
Seketika, tatapan Grace berubah. Dia menegakkan punggung, sementara kedua matanya menatap Kevin dengan tajam.
"Lalu?" tanyanya dingin. "Apa kau ingin memberitahu Norman?"
Kevin tidak langsung menjawab.
Grace menyilangkan kedua tangan di depan dada, berusaha mempertahankan ekspresi tak pedulinya meskipun ada sedikit kegelisahan yang muncul di dalam hati.
"Kalau memang itu maumu, silakan saja," lanjut Grace ketus. "Aku tidak peduli."
Padahal, jauh di lubuk hatinya, Grace tahu bahwa terbongkarnya identitasnya bisa mengacaukan rencana yang sudah disusunnya dengan susah payah.
Norman memiliki cukup banyak sumber daya untuk melawan. Jika laki-laki itu mengetahui siapa yang berada di balik semua kejadian tersebut, bukan tidak mungkin dia akan menggunakan berbagai cara untuk menyerangnya, termasuk melalui jalur hukum. Namun, Grace tidak akan menunjukkan kegelisahan itu kepada Kevin.
Laki-laki tersebut sudah terlalu sering membuatnya merasa tidak nyaman.
Kevin menopang dagunya dengan satu tangan, kemudian menatap Grace lekat-lekat.
"Aku belum memberitahunya," katanya.
Grace sedikit mengangkat alis. "Kenapa?"
"Karena ketika Norman menanyakan siapa pelaku di balik teror dan penyebaran video-video itu, aku mengatakan bahwa orang tersebut terlalu pintar untuk kulacak." Kevin tersenyum tipis. "Aku bilang aku tidak bisa membantunya."
Grace terdiam. Untuk sesaat, dia tidak menyangka Kevin akan menjawab seperti itu.
Namun, dia segera menguasai dirinya kembali. Perempuan itu mengangkat dagunya, lalu menatap Kevin dengan ekspresi penuh kecurigaan.
"Jadi, kau sengaja menyembunyikan identitasku darinya?"
"Anggap saja begitu."
Grace mengembuskan napas pelan. Bahunya sedikit mengendur, meskipun dia masih belum sepenuhnya memercayai laki-laki di hadapannya. "Lalu, apa maumu sekarang?" tanyanya.
Kevin tidak menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya, dia justru mengamati wajah Grace selama beberapa saat, seolah-olah sedang menemukan sesuatu yang menarik.
"Hari ini kau terlihat cantik."
Grace langsung membeku. "Apa?"
"Cantik," ulang Kevin dengan santai. "Memangnya aku harus mengatakannya berapa kali?"
Pipi Grace terasa panas. Dia segera memalingkan wajah, kesal karena laki-laki itu bisa mengucapkan kalimat seperti itu tanpa sedikit pun merasa malu.
"Biasa saja!" balasnya cepat.
Dalam hati, dia mengumpat.
Apa-apaan laki-laki ini? Sebenarnya apa yang diinginkannya? Mengapa dia terus mengganggu hidupku?
Grace melirik ke sekeliling kafe. Dia berharap tidak ada seorang pun yang memperhatikan mereka, apalagi mengenalinya. Dia sudah bersusah payah menyamar agar tidak menarik perhatian.
Sekarang, Kevin justru duduk di hadapannya dan berbicara seolah-olah mereka sedang berkencan.
Benar-benar menyebalkan!
Grace segera mengambil kacamatanya dari meja dan mengenakannya kembali.
"Sudahlah. Aku pergi." Grace baru saja hendak berdiri ketika Kevin mengangkat tangan.
"Tunggu."
Grace menghentikan gerakannya, lalu menatapnya dengan kesal. "Apa lagi?"
"Tenang saja. Aku tidak akan memberitahu Norman bahwa kaulah pelakunya."
Grace terdiam sejenak.
Kevin menatapnya dengan sungguh-sungguh, kali ini tanpa senyum menggoda yang sejak tadi menghiasi wajahnya.
"Aku tidak akan membocorkan rahasiamu," lanjutnya. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu."
Grace mengamati wajahnya, berusaha mencari tanda-tanda kebohongan. Namun, Kevin tetap menatapnya dengan tenang.
"Kalau begitu, bagus," jawab Grace singkat.
Dia kembali hendak beranjak, tetapi Kevin tiba-tiba meraih tangannya.
"Aku menginginkanmu, Grace."
Mata Grace langsung membelalak. Tanpa menunggu sedetik pun, dia menarik tangannya dengan kasar, lalu mengusap bagian yang baru saja disentuh Kevin dengan ekspresi jijik.
"Jangan sembarangan menyentuhku!" kata Grace.
Kevin menatapnya tanpa membantah.
Grace merapatkan bibir, berusaha menahan amarah yang kembali meluap.
"Aku ini masih istri Norman Turner!" tegasnya. "Aku belum resmi bercerai dengannya. Dan sekalipun nanti aku sudah bercerai, itu bukan berarti aku akan menerima laki-laki sepertimu!"
Kevin hanya tersenyum tipis. "Aku akan menunggu."
Grace mengernyit. "Menunggu apa?"
"Menunggu sampai kau bersedia membuka hati lagi."
"Jangan berharap!" sergah Grace. "Aku tidak akan membuka hati untuk laki-laki mana pun!"
Kevin mengangguk seolah-olah menerima perkataan itu dengan lapang dada. "Baiklah."
Grace sempat mengira percakapan mereka akhirnya akan berakhir. Namun, kalimat Kevin berikutnya justru membuatnya ingin menjambak rambut sendiri.
"Tapi, aku tetap percaya suatu hari nanti aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku."
Grace menatapnya dengan mulut sedikit terbuka. "Apa kau sudah gila?"
Kevin terkekeh pelan. "Belum."
"Lalu, apa kau tidak punya pekerjaan? Kenapa menghabiskan waktu untuk mengejarku?"
"Karena aku menyukaimu."
Jawaban itu membuat Grace semakin kesal.
Dia menggelengkan kepala, lalu mengusap keningnya dengan satu tangan.
Benar-benar tidak masuk akal!
Sejak awal, dia sudah berusaha menjaga jarak dari Kevin. Namun, laki-laki itu seolah-olah tidak memahami arti penolakan.
"Kevin, dengarkan aku baik-baik." Grace mencondongkan tubuh ke depan, menatapnya dengan sorot mata tajam. "Aku ini seorang janda yang tidak bisa memberimu keturunan. Jadi, seharusnya kau mencari perempuan lain yang bisa memberimu keluarga seperti yang kau inginkan!"
Untuk pertama kalinya, senyum Kevin memudar. Dia memperhatikan Grace selama beberapa saat, kemudian menjawab tanpa keraguan sedikit pun.
"Aku tidak peduli."
Grace terdiam, lalu kembali membelalak.
"Apa maksudmu tidak peduli?"
"Aku tidak peduli apakah kau bisa memberiku anak atau tidak." Kevin menatapnya lekat-lekat. "Aku menginginkanmu, Grace. Bukan seseorang yang bisa memberiku keturunan."
Grace mengepalkan tangannya di bawah meja.
Laki-laki ini benar-benar membuatnya kehilangan kesabaran!
"Sudah kubilang aku tidak menginginkanmu!"
"Aku tahu."
"Lalu, kenapa kau masih saja menggangguku?!"
"Karena aku ingin kau menjadi milikku."
Grace hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Dasar laki-laki gila!"
Kevin justru kembali tersenyum. "Kalau itu bisa membuatmu mengingatku, tidak masalah."
Grace memejamkan mata sejenak, mencoba menahan emosinya. Namun, ketika membuka mata kembali dan melihat wajah Kevin yang masih santai, kesabarannya benar-benar habis.
Dia menggeser kursinya ke belakang, kemudian berdiri dengan gerakan tegas.
"Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu!"
Kevin ikut berdiri. "Grace—"
"Jangan panggil namaku!"
Grace meraih tasnya, lalu menatap Kevin dengan wajah penuh kemarahan.
"Kau ini laki-laki brengsek, sama seperti laki-laki lainnya! Kalian hanya pandai mengucapkan kata-kata manis, tetapi tidak pernah memikirkan perasaan perempuan yang kalian dekati!"
Seketika, ekspresi Kevin berubah serius.
Namun, Grace tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Dia berbalik dan melangkah cepat meninggalkan meja. Mantel hitamnya berkibar mengikuti gerakannya, sementara tangannya menggenggam tas dengan erat.
"Grace, tunggu!" seru Kevin sambil mengejarnya.
Grace tidak menggubris Kevin. Dia terus berjalan keluar dari kafe, berharap bisa segera menjauh dari laki-laki yang sejak tadi mengganggu ketenangannya.
Begitu tiba di luar, Grace mempercepat langkah. Kacamata hitamnya masih terpasang, tetapi topinya sudah dilepas dan berada dalam genggamannya. Rambut merahnya yang panjang kini terlihat jelas.
Kevin berhasil menyusulnya beberapa langkah kemudian. "Tunggu, Grace!"
Kevin mencoba meraih tangan perempuan itu, tetapi Grace segera menghindar dan berbalik menghadapnya.
"Jangan sentuh aku!" seru Grace.
Kevin menghentikan langkahnya.
"Aku benar-benar mencintaimu," katanya dengan suara lebih serius. "Aku sudah mengatakan bahwa aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu."
Grace menatapnya tajam. "Aku tidak peduli apakah kau mencintaiku atau menyukaiku!" bentaknya. "Aku tidak pernah memintamu melakukan semua itu!"
Kevin mengatupkan rahangnya, tetapi dia tetap berusaha mendekat.
"Setidaknya, beri aku kesempatan untuk—"
"Tidak!" Grace mengangkat tangan, menghentikan ucapannya. "Aku tidak mau melihat wajahmu lagi! Kau mengerti?"
Grace seketika berbalik, tetapi Kevin kembali memanggilnya.
"Grace!"
"Apa lagi?!"
Grace berbalik dengan mata membelalak. Dia sudah benar-benar kehilangan kesabaran.
"Aku sudah cukup muak dengan semua omong kosongmu! Jangan pernah mengikutiku lagi!"
Namun, sebelum Kevin sempat menjawab, sebuah suara laki-laki terdengar dari arah samping mereka.
"Grace?"
Tubuh Grace langsung menegang. Dia sangat mengenali suara itu.
Perlahan, dia memalingkan wajah ke arah sumber suara. Kedua matanya membelalak di balik kacamata hitamnya ketika melihat seorang laki-laki berdiri tidak jauh dari sana.
Norman Turner.
Laki-laki itu ternyata sedang berada di sekitar kafe untuk menghadiri pertemuan dengan seorang klien bersama Mona. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara pertengkaran yang terasa begitu familier.
Kini, Norman menatap Grace dengan ekspresi tidak percaya.
Di sampingnya, Mona ikut memandang perempuan itu dengan sorot mata penuh keterkejutan.
Grace buru-buru mengalihkan wajah, sementara Kevin yang berdiri di dekatnya langsung menundukkan kepala agar wajahnya tidak mudah dikenali.
Namun, semuanya sudah terlambat.
Norman melangkah maju dengan tatapan penuh kemarahan. Matanya bergantian menatap Grace dan laki-laki yang berdiri di hadapannya.
"Oh, jadi ini alasanmu ingin menceraikanku?" katanya tajam. "Ternyata kau berselingkuh dariku!"
Bersambung ~
Bodyguard pun tak ada bwt Grace ☹️
Hati² sama Norman ya Grace
Mungkin Julian menjadi tau arti kesetiaan setelah kematian Johan anak tunggalnya
Bagaimana nasib Omar yang menembak Johan? Matikah atw dipenjara?
Belum lagi pasukan bayangan Kevin Cloud & Mia dan jangan lupakan Carmen meski berkhianat pada Grace tapi Carmen berniat menebus kesalahannya dengan membantu Grace menghadapi Norman meski tak harus tampil di depan Grace