“Kamu tega menghisap darah para petani miskin seperti kami! Dasar lintah!”
Tristan dilempari anggur busuk, oleh warga desanya sendiri. Truk pendingin miliknya sudah sampai di gerbang desa. Kerugian yang begitu besar akan didapatkan olehnya.
“Tapi kita sudah tanda tangan kontrak. Aku yang mengajari kalian untuk bertani anggur. Aku yang mengajari kalian bagaimana merubah lahan tandus menjadi gudang harta.”
“Persetan dengan kontrak!” Para warga desa merobek kontrak, merusak dan menjarah rumah Tristan.
Hanya karena provokasi dari tunangannya yang merupakan Putri kepala desa. Hanya karena provokasi dari bos anggur yang mengaku dari kota. Mereka tega mengkhianatinya.
Warga desa yang polos sudah tidak ada lagi. Mereka sudah serakah akan uang…
Wajahnya tersenyum, air matanya mengalir.”Gunung tandus milik warga desa sebelah. Akan aku rubah menjadi gunung harta. Saat itu jangan berlutut menyesal di hadapanku."
Warning! Nama tokoh, perusahaan maupun latar hanya fiktif, imajinasi penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penipuan
Sangat mudah untuk bicara, karena Hendra tidak memiliki pengalaman menjadi petani. Bahkan mengetahui kualitas wine saja tidak, Hendra hanya bagian marketing. Tapi dengan gagah berani, pria itu dengan lantang berkata."Kita akan menanam varietas Pinot Noir, tidak peduli ukuran besar atau kecil aku akan membelinya seharga 40.000 per kg."
"Tapi anggur merah yang sebelumnya ditanam. Anggur merah...apa ya....Red globe! Iya Red globe! itu harganya rp50.000 per kg, Kamu sendiri yang bilang akan menjualnya ke supermarket besar dengan harga segitu. Kenapa tidak semuanya saja ditanami dengan red globe?" Pertanyaan yang diucapkan oleh Siswanto pada calon menantunya.
"Tidak, kalau Red globe meledak di pasaran, harga jualnya juga akan turun. Lagi pula red globe juga harus dipilih dari besar buah dan kualitasnya. Berbeda dengan Pinot Noir, anggur ini adalah anggur kualitas premium yang biasa digunakan sebagai bahan wine berkualitas tinggi. Kita akan bekerja sama, untuk kaya kita harus mengeluarkan modal dulu. Pembelian tanpa batas untuk Pinot Noir, aku akan beli dengan harga rp40.000 per kg, seberapapun banyak hasil panen kalian nanti." teriak Hendra dengan penuh semangat.
"Tapi, satu hektar lahan apa bisa panen banyak?" tanya salah satu warga desa.
"Tentu saja! satu hektar bisa panen sampai 20 ton dalam satu musim. Kalian bayangkan saja, hitung jumlah uangnya berapa." Lagi-lagi Hendra mengucapkan angan-angannya untuk menjadi kaya dengan instan.
"20 ton hasil panen satu musim? 1 kg harganya 40.000. jadi harga untuk 1 ton adalah 40 juta. Kalau 20 ton itu berarti 800 juta. Astaga! kalau sudah panen nanti aku bahkan bisa membeli mobil dan rumah baru, hanya dengan keuntungan satu hektar kebun." Nining menelan ludahnya. Begitu juga dengan warga desa lainnya.
"Tapi bagaimana dengan anggur tahun ini? Kalau pabrikmu tidak membelinya kami akan rugi besar." Siswanto menghela nafas mendekati calon menantunya.
Hendra menggigit bagian bawah bibirnya, menghela nafas. Entah alasan apalagi yang harus diucapkan olehnya. Tapi memang benar jika orang-orang udik ini berhasil menanam pinot Noir, dirinya bisa mengajukan proposal pada CEO perusahaan Wine Heart. Lagi pula, dirinya tinggal membeli dengan harga rp40.000 dari para petani ini kemudian dijual kembali dengan harga rp50.000 ke pabrik nanti.
Pemuda yang tidak mengetahui betapa sulitnya menanam Pinot Noir di iklim tropis.
Satu kebohongan ajaib lagi diucapkan olehnya."Varietas anggur pinot Noir ini berbeda. Agar tunasnya dapat tumbuh, dia memerlukan bahan berupa pupuk organik dari buah-buah anggur lainnya yang telah membusuk. Jadi buah-buah anggur kalian yang ada di ladang, gunakan nanti sebagai pupuk, setelah menanam anggur Pinot Noir. Besok kita akan mulai menebang pohon anggur. Menggantikannya dengan varietas baru yang lebih menjanjikan. Mari kita menjadi kaya bersama."
Warga desa berteriak dan bersorak. Bagaikan ini adalah kemerdekaan untuk mereka. Bagaikan besok mereka akan langsung menjadi orang terkaya.
"Tapi, untuk mendatangkan bibit dari luar negeri memerlukan uang yang banyak. Ditambah dengan pupuk khusus, rumah kaca pembibitan, dan biaya lainnya, habis sekitar 80 juta. Karena itu aku memberikan kontrak ini kepada kalian. Semuanya tergantung pada kalian, untuk kaya kalian perlu keluar modal." lagi-lagi pria itu menyodorkan tumpukan kertas yang tebal.
"Tapi saat pertama kali pengembangan desa, Tristan yang menanggung semua biaya. Dia juga yang mendirikan rumah kaca sendiri. Kenapa kami yang harus membayar biaya sekarang?" Nining mengerutkan keningnya.
"Itu adalah sistem kapitalis! Pria licik itu ingin memonopoli harga. Kalian lihat kan dia juga menyodorkan kontrak. Dalam kontrak itu bahkan lebih kejam, harga dia yang tentukan. Kalau suatu hari nanti dia ingin membeli anggur kalian dengan harga rp1.000 per kg. Itu artinya Kalian juga tidak bisa apa-apa. Makanya aku bilang dia itu orang jahat! kalian hanya petani desa polos yang dengan mudah tertipu olehnya. Jujur saja aku memberikan kontrak ini karena iba pada kalian yang dimanfaatkan dan rasa cintaku pada Junita." kata-kata Hendra benar-benar manis berlapis gula.
Junita kemudian mendekati calon suaminya, menghela nafas kemudian berucap."Suamiku itu kan orang kota, berbeda dengan Tristan orang desa yang katanya mau kaya bersama, tapi malah memperkaya dirinya sendiri. Suamiku adalah orang kota yang iba pada kita. Seharusnya kita menyambut uluran tangannya. Lagi pula aku yakin isi kontrak menguntungkan kita. Lihat ini! Di sini tertulis bahwa harga pasaran akan berubah mengikuti permintaan. Itu artinya, harga tidak mutlak ditentukan oleh Hendra. Dia memberikan kita ruang untuk bernafas. Bukan seperti Tristan yang pelan-pelan berencana untuk mencekik kita!"
"Benar! Apa yang kamu katakan itu benar. Tapi 80 juta per hektar.... harga bibit dan pupuk sudah seperti ini. Di mana kami cari uang sebanyak itu?" Nining mengerutkan keningnya.
"Itu sudah satu paket, bibit, pupuk dan pembangunan rumah kaca baru. Aku bahkan bekerja sama dengan perusahaan luar negri, untuk mendatangkan dan mengirimkan insinyur pertanian dari Prancis. Guna mengajari kita bertani, dengan varietas ini aku yakin dalam 7 tahun, desa makmur akan menjadi desa terkaya di negara ini. Bahkan mengalahkan pendapatan orang-orang di ibukota itu!" suara teriakan Hendra kembali membakar semangat.
"Benar! apa yang kalian takutkan, dengan harga 80 juta per hektar kita sudah bisa mengembangkan bibit varietas unggul. Bayangkan, dalam 2 tahun kita sudah bisa menuai hasil 800 juta sekali panen setiap hektar. Itu benar-benar sepadan dengan modal yang dikeluarkan!" Suwandi kembali membakar semangat para petani.
Para warga desa yang pada awalnya pikir-pikir dulu. Pada akhirnya mereka berebut mengambil kontrak. Benar-benar tanpa fikir panjang, membayar terlebih dahulu tapi hasil berkali-kali lipat akan didapatkannya. Lagi pula panen tidak sekali, panen anggur akan terjadi berkali-kali.
Mereka benar-benar berebut untuk tanda tangan. Sedangkan Siswanto dan Hendra saling melirik kemudian tersenyum licik.
***
Para warga desa akhirnya bubar, barulah Siswanto melangkah mendekati calon menantunya.
"Apa benar biaya yang dikeluarkan 80 juta?" Siswanto menelan ludahnya.
"Aku tanda tangan kontrak dengan perusahaan yang ada di kota. Sebenarnya 50 juta, 30 juta sisanya untuk aku, calon Ayah mertuaku dan calon istriku." Hendra tersenyum kembali memberikan janji busuk.
"Ada berapa orang petani yang mendaftarkan lahannya? Dan ada berapa hektar?" wanita yang menelan ludahnya berkali-kali.
"Kurang lebih 120 hektar. Bahkan ada yang akan menebang lahan kakaonya untuk dijadikan lahan anggur. Itu artinya 10 juta per orang, aku akan mendapatkan bagian 1,2 miliar." Junita menempel semakin pada calon suaminya.
"Keputusanmu untuk meninggalkan si miskin Tristan. Kemudian bersama dengan pengusaha kota, adalah keputusan terbaik. putriku benar-benar akan menjadi orang kaya. dan aku... kita akan menjadi orang kaya! Kamu benar-benar adalah dewa rezeki." Siswanto tersenyum, menepuk bahu calon menantunya.
Tidak mengetahui mereka akan membawa desa Makmur ke dalam lubang tanpa dasar.
pedagangpun menolak
dah busuuuuuk 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
setelah diliat ternyata 😒😒
hadeeeeh
eh..salah Deng sekarang mah udh google berjalan yaa🫣🤣🤣
😁😁😁
semamgat berkarya, sukses selalu🤲
Sudah lebih baik kehidupan di Desa Makmur setelah Tristan datang, brati warga desa punya hp dong, ada jaringan internet masuk Desa Makmur kan? Kenapa warga Desa Makmur tetep dalam kebodohan? Tanpa mencari berita online soal penanaman anggur red globe dll😜