NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 IBU YANG HARUS MEMINTA IZIN

Dua hari setelah pengadilan menyatakan Kaluna hidup, namanya mulai muncul kembali di berbagai dokumen. Kartu identitasnya diproses ulang. Catatan kematiannya dibatalkan. Rekening lama yang dibekukan mulai diperiksa.

Satu hal yang paling ingin diselesaikan Kaluna justru belum selesai meski pengadilan sudah menyatakan dirinya hidup.

Ia masih harus meminta izin untuk bertemu Elara.

Kaluna duduk di ruang kerja Salindri sambil membaca draf pengaturan pertemuan sementara.

Di halaman pertama tertulis nama lengkapnya sebagai ibu kandung. Di halaman berikutnya, ia harus menjelaskan kenapa dirinya layak mendapat waktu bersama putrinya sendiri.

“Bagian ini terdengar seperti aku sedang melamar pekerjaan,” katanya.

Salindri tidak mengangkat wajah dari laptop.

“Pengadilan perlu tahu keadaanmu, tempat tinggal, jadwal, dan apakah kamu bisa menjaga Elara.”

“Aku ibunya.”

“Secara biologis dan hukum, iya.”

“Kenapa masih harus dibuktikan?”

“Karena selama tiga tahun Elara hidup tanpa kamu. Hakim akan mempertimbangkan kestabilan anak, bukan hanya hubungan darah.”

Kaluna meletakkan berkas di atas meja.

“Arsen bisa tinggal bersamanya tanpa diperiksa. Veyra bahkan bukan ibu kandungnya, tetapi tidak perlu meminta izin.”

“Mereka adalah pengasuh yang selama ini tinggal bersama Elara.”

“Karena aku dibuat seolah nggak pernah ada.”

“Saya tahu.”

“Tapi semua orang terus bertindak seolah tiga tahun itu kesalahanku.”

Salindri akhirnya mengangkat wajah.

“Kaluna, marah nggak akan mengubah prosedurnya. Soal tidak adilnya bisa kita urus nanti. Sekarang kita dapatkan jadwal tetap dulu, supaya Arsen atau Veyra nggak bisa membatalkan sesuka hati.”

Kaluna mengambil berkas itu kembali.

Ia tahu Salindri benar. Selama ini, pertemuan dengan Elara memang bergantung pada persetujuan Arsen dan Veyra. Tidak ada jadwal. Tidak ada kepastian. Satu masalah di rumah cukup untuk membuat Kaluna menunggu berhari-hari.

Kemarin ia sudah mengirim pesan kepada Arsen untuk meminta waktu bertemu. Jawabannya baru datang malam hari.

Elara sedang lelah. Kita bicarakan besok.

Kaluna tahu itu bukan penolakan langsung, tapi juga bukan jawaban.

“Ajukan hari ini,” katanya.

Salindri mengangguk.

“Saya akan minta pengaturan sementara. Minimal dua kali seminggu.”

“Tanpa pengawasan.”

“Permintaan tanpa pengawasan mungkin ditolak di tahap awal.”

“Kenapa?”

“Ancaman di sekolah masih dalam pemeriksaan. Selain itu, pihak Arsen bisa menggunakan pemberitaan dan proses sengketa untuk mengatakan bahwa pertemuan perlu diawasi.”

Dada Kaluna mengencang. Bahkan ancaman yang ditujukan untuk menghentikannya kini bisa dipakai untuk membatasi dirinya.

“Siapa yang mengawasi?”

“Kita bisa meminta pendamping profesional.”

“Bukan Veyra.”

“Saya akan mencantumkannya.”

Kaluna baru selesai menandatangani berkas terakhir ketika teleponnya bergetar.

Pesan dari Elara masuk melalui nomor Veyra.

Kamu hari ini datang?

Kaluna membaca layar beberapa saat sebelum membalas bahwa ia sedang meminta izin kepada Papa.

Jawaban Elara muncul hampir seketika.

Kenapa harus izin?

Pesan berikutnya menyusul sebelum Kaluna sempat mengetik.

Kamu kan mamaku juga.

Jemarinya berhenti di atas layar.

Baru kali itu Elara menulis kata mama tanpa tambahan ibu kandung atau nama Kaluna.

Kaluna menahan diri untuk tidak memberi arti terlalu besar. Bisa saja Elara hanya mengulang fakta yang telah dijelaskan kepadanya.

Tetap saja, kata itu membuat dadanya terasa penuh.

Ia mengetik perlahan.

Karena orang dewasa sedang mengatur jadwal supaya kamu tetap nyaman dan aman.

Elara membalas:

Aku nyaman kalau kamu datang.

Kaluna menutup mata sebentar.

Salindri memperhatikannya dari balik meja.

“Elara?”

Kaluna mengangguk.

“Dia ingin aku datang.”

“Hubungi Arsen.”

Kaluna langsung menelepon. Arsen menjawab setelah dering ketiga.

“Aku sedang rapat.”

“Elara bertanya kapan aku datang.”

“Aku tahu.”

“Kamu sudah bicara dengannya?”

“Dia bertanya sejak pagi.”

“Lalu kenapa kamu belum memberi jawaban kepadaku?”

Arsen menghela napas pelan.

“Karena aku mau bahas aturannya dulu.”

“Aturan apa lagi?”

“Kamu boleh datang dua kali seminggu. Untuk sementara, pertemuan dilakukan di rumah.”

“Dengan siapa mengawasi?”

“Aku atau Veyra.”

Kaluna langsung menolak.

“Tidak.”

“Kaluna...”

“Aku nggak mau duduk sama anakku sambil diawasi perempuan yang sekarang menempati tempatku.”

“Veyra tidak mengambil Elara darimu. Dia merawatnya ketika semua orang mengira kamu sudah meninggal.”

“Aku tidak menyalahkannya karena merawat Elara.”

“Tapi cara bicaramu selalu terdengar seolah keberadaannya adalah kejahatan.”

Kaluna berdiri dan berjalan mendekati jendela.

“Aku baru saja mengajukan permohonan pengaturan pertemuan melalui pengadilan.”

Arsen tidak menjawab.

“Kamu membawa ini ke pengadilan?”

“Kamu membuatku harus minta izin setiap kali mau ketemu anakku.”

“Aku hanya meminta kita menyusun jadwal.”

“Jadwal yang bisa kamu tunda sesuka hati.”

“Karena aku yang tahu keadaan Elara setiap hari.”

“Dan aku tidak akan pernah tahu kalau terus dijauhkan.”

Suara Arsen menurun.

“Tidak ada yang menjauhkanmu.”

“Kemarin aku ingin datang. Kamu bilang Elara lelah. Hari ini dia sendiri bertanya kenapa aku tidak datang.”

“Elara memang lelah kemarin.”

“Kalau begitu beri aku waktu lain, bukan membiarkanku menunggu.”

Arsen diam sebentar. Dari seberang terdengar seseorang memanggil namanya, tetapi Arsen meminta orang itu menunggu.

“Aku setuju kamu bertemu Elara,” katanya. “Tapi untuk sementara tidak sendirian.”

“Kenapa?”

“Dia masih perlu waktu.”

“Atau karena kalian takut dia mulai dekat denganku?”

“Itu tidak adil.”

“Apakah aku salah?”

Arsen diam terlalu lama, dan bagi Kaluna itu sudah menjadi jawaban.

“Aku akan datang sore ini,” katanya. “Dua jam.”

“Veyra ada di rumah.”

“Aku tidak melarang dia berada di rumah. Aku hanya tidak ingin dia duduk mengawasi setiap kata yang kuucapkan.”

“Aku akan bicara dengannya.”

“Jam empat.”

Kaluna menutup telepon.

Salindri bersandar di kursi.

“Kalian selalu berakhir bertengkar.”

“Karena dia selalu ingin tampak setuju tanpa benar-benar memberikan hak apa pun.”

“Yang penting hari ini kamu bisa bertemu Elara.”

Kaluna mengangguk, meskipun rasa kesalnya belum hilang.

Sebelum pergi ke rumah Mahardika, ia bertemu Naren di lobi kantor Salindri. Lelaki itu membawa beberapa cetakan dokumen mengenai rekening Singapura.

“Ada perkembangan?” tanya Kaluna.

“Sedikit.”

“Aku akan menemui Elara.”

Naren menyerahkan map tersebut kepada Salindri.

“Kalau begitu, kita bahas setelahnya.”

Kaluna memandangnya curiga.

“Seberapa penting?”

“Cukup penting untuk diperiksa, tapi tidak akan hilang dalam dua jam.”

“Apa yang kamu temukan?”

Naren diam sebentar sebelum menjawab.

“Rekening itu memang dibuka menggunakan salinan identitasmu.”

Perut Kaluna mendadak menegang.

“Tapi?”

“Nomor telepon dan alamat surelnya bukan milikmu.”

Kaluna ingin membuka map, tetapi Naren menahannya.

“Temui Elara dulu.”

“Aku bisa membaca di mobil.”

“Nanti kamu datang sambil mikirin rekening itu terus. Elara bisa ngerasain.”

Kaluna hampir membantah, lalu teringat pertanyaan Elara tentang berita, saham, dan uang. Anak itu sudah terlalu sering melihat orang dewasa sibuk menyembunyikan masalah.

Kaluna mengembalikan map tersebut.

“Setelah aku pulang.”

Naren mengangguk.

Kaluna tiba di rumah Mahardika tepat pukul empat.

Tidak ada wartawan di depan gerbang. Petugas keamanan memeriksa mobil sebelum mengizinkannya masuk.

Veyra menunggu di ruang depan. Ia mengenakan pakaian rumah sederhana. Wajahnya tidak lagi tampak setenang beberapa minggu lalu.

“Elara ada di ruang bermain,” katanya.

“Arsen bilang aku boleh sama Elara dua jam.”

“Aku tahu.”

“Kamu akan ikut?”

Veyra memandang Kaluna beberapa saat.

“Arsen bilang aku tidak perlu berada di ruangan yang sama.”

Dari suaranya, Kaluna menangkap rasa tidak senang.

“Aku nggak akan membawa Elara pergi.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi kamu memikirkannya.”

Veyra mengatupkan bibir.

“Aku cuma ingin dia aman.”

“Aku juga.”

“Buat kamu semua ini baru. Buat Elara, rumah ini yang dia kenal sejak kecil.”

Kaluna menahan jawaban yang hampir keluar.

“Aku nggak datang buat menghancurkan rumahnya.”

Veyra menoleh ke arah ruang bermain.

“Sejak kamu kembali, Elara mulai bertanya tentang banyak hal yang tidak pernah ia tanyakan sebelumnya.”

“Karena selama ini dia hanya mendengar satu cerita.”

“Dia masih anak-anak.”

“Justru karena itu dia berhak mendapat jawaban yang tidak membuatnya mengira aku meninggalkannya.”

Veyra tidak membalas.

Suara Elara memanggil dari dalam.

“Kaluna?”

Kaluna meninggalkan Veyra di ruang depan.

Elara duduk di lantai dengan beberapa potongan puzzle tersebar di sekelilingnya. Begitu melihat Kaluna, anak itu mengangkat satu kotak.

“Aku belum bisa selesaikan.”

Kaluna duduk di seberangnya.

“Gambarnya apa?”

“Rumah pohon.”

“Sudah coba cari bagian pinggir dulu?”

Elara menggeleng.

Mereka mulai menyusun puzzle bersama.

Beberapa menit pertama berlalu tanpa percakapan besar. Elara memilih potongan berdasarkan warna, sedangkan Kaluna menyusun bagian tepi.

Hal sederhana itu justru membuat Kaluna gugup.

Ia hanya tahu Elara tidak suka wortel. Selebihnya, ia tidak tahu makanan kesukaan anak itu sekarang. Ia juga tidak tahu nama teman terdekatnya, pelajaran yang disukai, atau cerita yang biasa dibacakan sebelum tidur.

Ada tiga tahun kehidupan Elara yang tidak pernah ia jalani bersama.

“Kamu tinggal di mana?” tanya Elara tiba-tiba.

“Untuk sekarang di hotel.”

“Kenapa tidak punya rumah?”

“Dulu aku punya rumah dan apartemen. Tapi semuanya masih sedang diperiksa.”

“Rumah ini dulu rumahmu?”

Kaluna mengambil potongan puzzle berwarna hijau.

“Iya.”

“Terus sekarang rumah Mama.”

Kaluna berhenti sebentar.

“Sekarang Mama Veyra tinggal di sini,” jawab Kaluna.

“Kamu mau tinggal lagi?”

“Aku belum tahu.”

“Kalau kamu tinggal, Mama pergi?”

“Tidak ada yang sedang memutuskan itu sekarang.”

Elara memutar potongan puzzle di tangannya.

“Orang dewasa selalu bilang belum tahu.”

Kaluna tersenyum tipis.

“Karena kadang memang belum tahu.”

“Aku tidak suka.”

“Aku juga tidak suka.”

Elara meletakkan potongan puzzle ke tempat yang salah.

Kaluna tidak langsung membetulkannya.

“Kamu tadi bilang harus izin Papa untuk datang,” kata Elara.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena Papa yang selama ini mengatur semua kebutuhanmu.”

“Tapi kamu mamaku.”

Kaluna terdiam sesaat.

“Aku ibu kandungmu.”

“Berarti sama.”

“Tidak selalu sesederhana itu.”

Elara mengerutkan kening.

“Kalau aku mau ketemu kamu, kenapa aku masih harus nunggu orang lain bilang boleh?”

Kaluna menahan napas.

Ia tidak ingin menjadikan Elara bagian dari perlawanan hukum. Tidak ingin anak berusia tujuh tahun merasa harus membela salah satu pihak.

“Karena orang dewasa mau memastikan kamu nggak merasa tertekan.”

“Aku lebih tertekan kalau semua orang berantem.”

Kaluna mengangguk pelan.

“Itu benar.”

“Kalau aku bilang aku mau kamu datang, boleh?”

“Pendapatmu penting.”

“Terus kenapa Mama sama Papa masih bicara lama sekali?”

Kaluna belum sempat menjawab ketika Elara meletakkan puzzle dan berdiri.

Anak itu berjalan ke pintu ruang bermain.

Veyra ternyata ada tidak jauh dari sana. Mungkin tidak mendengar seluruh percakapan, tetapi cukup dekat untuk mengetahui mereka sedang membahas pertemuan.

Elara melihat Veyra, lalu menoleh kepada Arsen yang baru turun dari tangga.

“Papa.”

Arsen berhenti.

“Kenapa Kaluna harus minta izin untuk ketemu aku?”

Tidak ada jawaban.

Elara memandang ketiga orang dewasa di hadapannya.

“Dia kan mamaku juga.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!