Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.
Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.
Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Pembagian Tugas
Aula utama Sekte Awan Tinggi berdiri megah di puncak gunung yang tinggi menjulang. Di dalamnya, lima orang Tetua duduk melingkar — dan di kursi utama, duduk Ketua Sekte Awan Tinggi, Tetua Chang.
Wajahnya berwibawa, aura beliau menyebar ke seluruh ruangan. Beliau adalah pemimpin tertinggi di wilayah ini, dan selama ratusan tahun, tidak ada yang berani menantang posisi Sekte Awan Tinggi sebagai kekuatan nomor satu. Namun hari ini... suasana di aula itu terasa berat dan tidak tenang.
Tetua Chang mengetuk meja pelan, wajahnya serius dan penuh keraguan.
"Kalian juga merasakannya, bukan?" tanya Tetua Chang dengan suara rendah namun berat. "Gelombang energi itu... datang dari arah Gunung Langit."
"Benar, Ketua Sekte," jawab Tetua kedua sambil mengerutkan kening dalam-dalam. "Energinya sangat murni dan kuat. Tidak mungkin ada kekuatan seperti itu di gunung yang selama ini kita anggap tak berpenghuni."
"Selama ini tidak ada yang tinggal di sana," ujar Tetua ketiga sambil menatap ke arah jendela, seakan bisa melihat Gunung Langit dari kejauhan. "Tiba-tiba muncul cahaya keemasan, lalu gelombang energi yang begitu dahsyat... ada sesuatu yang tidak beres."
"Entah sekte baru atau kekuatan kuno yang bangkit kembali," kata Tetua keempat dengan tatapan waspada. "Kita tidak bisa membiarkan hal ini berlangsung tanpa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi."
"Dan lihatlah... energi itu semakin kuat setiap harinya," tambah Tetua kelima dengan wajah cemas. "Jika dibiarkan, siapa tahu nantinya mereka bisa menjadi ancaman bagi Sekte Awan Tinggi kita."
Tetua Chang diam sejenak, jari-jarinya mengetuk meja secara perlahan. Beliau memikirkan segala kemungkinan — bahaya, peluang, atau sekadar kesalahpahaman.
Namun sebagai Ketua Sekte, beliau tidak boleh membiarkan ketidakpastian tumbuh di perbatasan wilayahnya.
"Kita tidak boleh bertindak gegabah," ucap Tetua Chang dengan suara tegas namun tenang. "Mengirim pasukan untuk menyerang tanpa mengetahui kekuatan mereka adalah tindakan bodoh. Tapi kita juga tidak boleh berdiam diri tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Lalu apa rencana Ketua Sekte?" tanya Tetua kedua sambil menatap penuh harap.
"Kita akan mengirim utusan," jawab Tetua Chang dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan. "Mengundang pemimpin sekte itu untuk hadir di pertemuan antar sekte bulan depan. Di sana kita bisa melihat siapa mereka, seberapa kuat mereka, dan apa niat sebenarnya mereka."
"Rencana yang bijaksana," ujar Tetua ketiga sambil mengangguk setuju. "Dengan cara itu kita tidak langsung bermusuhan, sekaligus bisa mengukur kekuatan mereka secara langsung."
"Tapi jika mereka menolak datang?" tanya Tetua keempat dengan ragu.
"Jika mereka menolak... itu berarti mereka menyembunyikan sesuatu," jawab Tetua Chang dengan senyum tipis yang terasa dingin. "Dan jika mereka datang... kita akan tahu seberapa besar ancaman yang sedang kita hadapi."
"Siapa yang akan dikirim sebagai utusan?" tanya Tetua kelima sambil menatap Tetua Chang.
"Kirim Tetua Ming," perintah Tetua Chang dengan suara mantap. "Dia bijaksana dan tenang. Dia bisa menyampaikan pesan dengan baik tanpa memicu pertikaian. Tapi dia juga harus jeli — amati segala hal di sana, sekecil apa pun itu."
"Baik, akan kami sampaikan perintah itu kepada Tetua Ming," jawab keempat Tetua lainnya seraya menunduk hormat.
Pertemuan itu berakhir. Namun di hati setiap Tetua, kegelisahan itu belum hilang. Mereka tahu — sesuatu yang besar telah lahir di Gunung Langit. Entah itu teman atau musuh, waktu yang akan menjawabnya.
Dan di puncak tertinggi Gunung Langit yang jauh itu, Lin Yue berdiri diam di balkon Puncak ke-10, seakan merasakan tatapan-tatapan itu dari kejauhan. Cadarnya berkibar pelan, dan di balik kain itu, senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Datanglah... atau biarkan aku yang menjemputmu," bisiknya pelan, suaranya hanya terdengar oleh angin. "Sekte Surgawi Langit tidak akan bersembunyi selamanya."
...----------------...
Di dalam Aula Agung Sekte Surgawi Langit, Lin Yue duduk di kursi utama yang menjulang tinggi di tengah ruangan megah itu.
Cahaya lembut dari batu roh di dinding menerangi seluruh aula, menciptakan suasana yang sakral dan penuh kekuatan.
Di hadapannya, delapan kartu pemanggilan melayang perlahan di udara — empat berkilau cahaya keemasan lembut bertanda Tahap Nirmala, dan empat lainnya memancarkan cahaya yang lebih dalam dan tenang, bertanda Tahap Dewa.
Lin Yue mengangkat tangannya pelan, dan satu per satu kartu itu menyala terang, lalu hancur menjadi butiran cahaya yang menyebar ke seluruh penjuru aula.
[ 4 KARTU PEMANGGIL TAHAP NIRMALA — DIPAKAI!]
[ 4 KARTU PEMANGGIL TAHAP DEWA — DIPAKAI!]
[ SEMUA TETUA TELAH DIPANGGIL KE SEKTE SURGAWI LANGIT!]
Cahaya menyilaukan memancar di tengah aula. Saat cahaya itu meredup, sebelas orang berdiri di sana — Mo Yuan, Bai Yuan, Shen Wu, dan delapan orang lainnya yang baru saja muncul.
Wajah mereka berbeda-beda, namun aura mereka terbagi jelas: Tahap Dewa berada di bawah Tahap Nirmala.
Maka yang memancarkan wibawa paling mendalam dan menggetarkan hati adalah mereka yang berada di Tahap Nirmala — bagaikan gunung agung yang tak tergoyahkan, membuat siapa pun yang melihatnya merasa kecil tanpa perlu kata-kata.
Mereka serentak bersujud hormat kepada sosok di kursi utama.
"Kami menghormat kepada Tuan Sekte!" seru sebelas Tetua dengan suara yang menyatu, bergema di seluruh aula.
Lin Yue mengangkat tangannya pelan, memberi isyarat agar mereka berdiri. Cadarnya menutupi wajahnya, namun setiap orang di ruangan itu merasakan kedalaman yang tak tertebak — bahkan mereka yang berada di Tahap Nirmala sekalipun tidak bisa melihat tingkat kekuatannya.
"Berdirilah," ucap Lin Yue dengan suara tenang namun berwibawa. "Kalian dipanggil untuk menjaga, membimbing, dan memperkuat sekte ini. Mulai hari ini, tugas dan kediaman kalian telah ditentukan."
"Kalian yang berada di Tahap Nirmala — wibawa kalian paling mendalam dan menggetarkan. Kalian akan menjadi pilar utama sekte ini," ucap Lin Yue dengan tatapan tegas. "Mo Yuan — maju ke depan."
Mo Yuan melangkah maju, auranya memancar paling kuat di antara semua orang — bukan karena dia lebih tinggi, tapi karena dia ditunjuk sebagai Tetua Agung.
"Mulai hari ini, Mo Yuan adalah Tetua Agung Sekte Surgawi Langit," ucap Lin Yue dengan suara yang terdengar jelas di telinga semua orang. "Tetua Agung bertugas di Aula Tetua Agung — aula khusus yang menjadi pusat pertemuan, pengambilan keputusan besar, dan perwakilan Tuan Sekte bila aku sedang tidak ada."
"Di sana, kau memimpin pembahasan urusan sekte, menyampaikan perintahku, dan menjadi penghubung antara para Tetua dan diriku. Hanya urusan yang sangat berat yang boleh disampaikan langsung kepadaku — selebihnya, keputusan di Aula Tetua Agung adalah keputusan sekte."
"Siap, Tuan Sekte!" jawab Mo Yuan dengan hormat, matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. "Mo Yuan akan menjalankan tugas Tetua Agung dengan sepenuh hati!"
"Bai Yuan, Shen Wu, dan empat Tetua Nirmala lainnya," lanjut Lin Yue. "Kalian bertugas sebagai Tetua Pembimbing di Pelataran Luar dan Pelataran Dalam. Kalian akan membimbing para murid, mengawasi latihan, dan menjaga ketertiban di setiap puncak. Kalian berhak menerima Murid Inti masing-masing — murid yang dipilih langsung oleh kalian untuk dididik secara pribadi."
"Siap, Tuan Sekte!" jawab keenam Tetua itu dengan hormat dan penuh tekad. "Kami akan membimbing para murid dengan sebaik-baiknya!"
"Dan kepada kalian berempat yang berada di Tahap Dewa," lanjut Lin Yue sambil menatap empat orang itu. "Wibawa kalian memang tidak setara dengan Tetua Nirmala, namun kekuatan kalian tetaplah kekuatan yang langka di benua ini."
"Dua orang bertugas menjaga sekte secara keseluruhan — gerbang utama dan formasi pelindung. Dua orang lainnya bertugas mengelola urusan sehari-hari sekte, menggantikan tugas yang sebelumnya dipegang oleh Bai Yuan dan Shen Wu. Kalian bukan sekadar penjaga atau pelayan biasa — kalian juga berhak menerima Murid Inti masing-masing."
"Siap, Tuan Sekte!" jawab keempat Tetua Dewa dengan penuh hormat. "Kami berjanji akan menjalankan tugas dengan setia dan penuh tanggung jawab!"
Sebelas Tetua berdiri tegak, masing-masing dengan peran yang jelas. Wibawa paling mendalam dan mendominasi terpancar dari mereka yang berada di Tahap Nirmala — karena Tahap Dewa berada di bawah Nirmala.
Dan di antara mereka, Mo Yuan sebagai Tetua Agung memegang peran paling penting setelah Lin Yue, bertempat di Aula Tetua Agung — pusat pemerintahan sekte.
"Pergilah ke kediaman masing-masing dan pahami tugas kalian," ucap Lin Yue sambil mengangguk pelan. "Sekte Surgawi Langit kini berdiri kokoh. Biarkan dunia luar tahu — kita bukan lagi sekte yang bisa dipandang sebelah mata."
"Baik, Tuan Sekte!" seru sebelas Tetua serentak.
Mereka mundur dengan tertib. Lin Yue duduk sendirian di Aula Agung, menatap ke arah Puncak ke-10. Semua sudah tersusun rapi. Sebelas Tetua, hierarki jelas, wibawa Nirmala memimpin, dan Aula Tetua Agung menjadi jantung pemerintahan sekte.
"Siap untuk menghadapi apa pun yang datang," bisiknya pelan. "Termasuk utusan dari Sekte Awan Tinggi."
.
.
.
.
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥