Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Di depan pasar malam, Rumero bersama Luna dan Amel tengah duduk di kursi bangku taman. Amel menatap pasar malam itu dan langsung menghela napasnya panjang.
"Kau yakin tidak mau kembali ke sana?" Tanya Rumero, karena ia melihat Amel yang sangat ingin naik wahana.
"Kau tidak lihat kerumunan manusia di sana, kau ingin aku jadi gepeng setelah terhimpit kerumunan masa manusia?" Ucap Amel dan langsung mendapatkan tawa dari Rumero. Melihat Rumero yang tertawa, kini Luna juga ikut tertawa.
Melihat Rumero dan Luna yang menertawakan dirinya, membuat Amel langsung merajuk. Ia memalingkan wajahnya dari kedua orang itu.
"Tidak, aku hanya bercanda. Sudahlah, jangan marah lagi." Ujar Rumero, pria itu berusaha membujuk Amel sampai akhirnya wanita itu benar-benar luluh.
Luna kini tertawa kecil menatap keduanya, "Kakak berdua sangat cocok." Luna kini turun dari kursi, ia lalu duduk di antara keduanya.
Amel merasa heran, entah apa yang sedang di lakukan anak kecil itu.
"Lihat, Luna seperti anak kalian. Lalu kak Amel jadi mama, terus kak Rumero jadi papa." Setelah mengatakan itu Luna tertawa kecil.
Sedangkan, karena perbuatan Luna. Kedua manusia itu malah saling bertatapan. Entah apa yang mereka pikirkan, karena sekarang keduanya terlihat sama-sama jaim. Setelah saling menatap, kedua orang itu malah saling memalingkan muka.
"Eh, kenapa?" Tanya Luna dengan polosnya.
Dengan canggung Amel pun tersenyum kepada anak kecil itu. "Haha, tidak apa-apa Luna sayang." Ucap Amel dengan lembut.
***
Kembali di markas IC, kini Aurora tengah duduk di sofa bersama dengan Max, Jordan dan Nata. Ruangan itu terlihat klasik, dengan gaya eropa kuno serta beberapa lukisan tangan yang terpajang di dinding.
"Jadi, kau datang jauh-jauh dari Jakarta kemari hanya ingin kami menyelidiki pacarmu?" Max tercengang mendengar ucapan Aurora.
Dengan penuh keyakinan diri, Aurora mengangguk. Max dan Nata, benar-benar tidak habis pikir dengan wanita satu ini. Kini bahkan keduanya langsung menatap ke arah Jordan.
"Apa?" Jawab Jordan singkat, lantaran di tatap oleh mereka.
"Maaf ya Aurora, bukannya aku ingin mengejekmu. Namun sebaiknya, jika kau ada masalah dengan pacarmu. Selesaikan baik-baik, bukannya malah kemari." Ucap Nata terus terang kepada Rora.
Jordan kini menangkap masalahnya, Aurora sedari tadi hanya bercerita mengenai Kris tanpa adanya tujuan yang jelas.
Aurora ingin kembali berbicara, namun sebelum ia berucap, Jordan lebih dahulu menghentikan wanita itu.
"Biar aku yang menjelaskan pada mereka." Ujar Jordan, Max pun akhirnya mengangguk. Pria itu berpikir, mungkin jika yang menjelaskannya adalah Jordan. Maka ia akan jauh lebih paham akan masalah yang di hadapi oleh Aurora.
"Jadi, coba jelaskan!" Titah Max.
"Federic'xen Darren Wang, ayahnya. Telah di tembak oleh orang misterius di motel kosong dekat dengan simpang lima Tower." Jordan baru mengatakan itu, namun Max dan Nata sudah langsung paham.
"O, aku paham sekarang. Kau bisa lanjutkan Jordan." Ujar Nata.
"Nata, bukankah motel itu sempat kita intai beberapa waktu yang lalu?" Ujar Max dan di jawab anggukan kepala oleh Nata.
"Dengarkan dulu ketua, biarkan Jordan menjelaskan!" Mendengar ucapan Nata, Max pun akhirnya terdiam.
Mereka akhirnya kembali fokus, Jordan pun kembali menjelaskan. Aurora yang sempat kebingungan, kini benar-benar merasa sangat terbantu dengan Jordan.
"Tuan Darren, di tembak beberapa kali oleh orang misterius di atas rooftop motel, sedangkan Jonas asistennya. Ia juga tertembak, namun bukan di bagian luar. Namun di dalam motel, lalu." Saat Jordan ingin melanjutkan cerita itu, Nata dengan cepat menghentikan ucapannya.
"Stop Jordan!" Nata menghentikan Jordan berbicara, tatapan wanita itu yang semula biasa kepada Aurora. Kini tampak menjadi tatapan tajam, seperti tatapan tak suka.
"Aurora, jawab aku dengan jujur!"
Aurora kini tampak gugup, bahkan Jordan pun merasa heran dengan Nata. Sikapnya benar-benar langsung berubah detik itu juga. Max mulai paham mengapa Nata melakukan itu, pria itu juga mulai mengamati tingkah laku Aurora.
"Ternyata kau sudah ada di sini!" Ujar Max yang paham isi otak Nata.
Jordan seketika langsung menatap Aurora, sedangkan wanita itu tampak kebingungan. "Mengapa kalian malah berbicara seolah dia pelaku?" Tanya Jordan.
"Kami tidak menuduh, kami hanya berbicara fakta." Ujar Nata, wanita itu kemudian mengeluarkan borgol. Dengan cepat langsung menarik lengan Aurora dan memborgol lengan wanita itu.
Jordan yang tak terima langsung menangkap lengan Nata, menggenggamnya erat-erat lalu memelintir lengan Nata. Wanita itu hanya meringis sedikit sakit namun tidak sampai berteriak, Jordan lalu menepis lengan Nata.
Jordan menangkup pipi wanita itu, "Kau tidak apa-apa Aurora? Apa ada yang sakit?" Pria itu tampak sangat tulus, membuat Aurora tak bisa melepaskan pandangannya dari pria itu. Wanita itu kini mengangguk, seolah mengatakan bahwa, aku baik-baik saja.
"Jordan mengapa kau membelanya?" Max kini tampak marah, apalagi setelah ia melihat Nata yang kesakitan lantaran di pelintir oleh Jordan.
Aurora memejamkan matanya, ia berusaha kembali mengumpulkan keberanian. Max kini berdiri, pria itu menarik kerah jas milik Jordan. Jordan yang tak terima malah memukul Max.
BUGH!
Baku hantam benar-benar terjadi. Aurora sedang berusaha mencerna keadaan. Di situasi seperti ini, apa yang salah, lalu mengapa mereka marah.
"Aku paham sekarang, itu artinya memang benar." Batin Aurora.
"Aku paham sekarang."
Nata mencoba melerai perkelahian itu, namun wanita itu malah di pukul oleh Jordan. Nata sedari tadi sudah menahan amarah kini malah mengeluarkan pistol kejut. Wanita itu berusaha menghentikan mereka.
BRAAAAKKKK!
"BERHENTIIIIIIII!" Teriakan Aurora membuat semuanya langsung terdiam. Wanita itu mulai serius sekarang, ia menghampiri Jordan. Berkacak pinggang dan menyuruhnya kembali ke sofa.
"KEMBALI KE KURSIMU ATAU KAU AKU HAJAR!" Padahal gertakan Aurora itu biasa, namun Nata malah kagum padanya. Pasalnya Jordan langsung menurut.
Setelah Jordan, kini giliran Max. "KEMBALI KE KURSIMU SEKARANG!" Mau tak mau Max hanya menurutinya.
Aurora kini kembali duduk di samping Jordan, ia kembali duduk dengan tegap, bergaya sok anggun layaknya seorang putri konglomerat.
Hal itu seketika membuat semuanya langsung menatap ke arah Aurora. Melihat dirinya yang di tatap seperti itu membuatnya langsung tampak marah lantaran canggung.
"Apa lihat-lihat." Mendengar Aurora yang tiba-tiba menjadi ketus membuat semuanya langsung menoleh ke arah lain.
"Enak saja ingin meremehkan Maudy, walau begini pun kalau di injak aku juga bisa melawan kali." Batin Aurora.
"Ekhem, aku mengerti malahnya, itu ada di pola pikir kalian." Dengan santainya Aurora menunjuk ke arah Nata dan Max.
Lalu di akhir, ia menunjuk Jordan. "Dan kau." Sambungnya lagi."
"Aku? Lah?" Jordan kebingungan.
"Biar aku jelaskan secara gamblang, dan jika aku benar. Maka kita ada di pihak yang sama." Ujar Aurora sebari tersenyum smirk.
Jordan tidak mengenal Aurora yang ini, dia tampak berbeda lagi. Jordan merasa bahwa wanita itu seperti memiliki banyak kepribadian. Kali ini seperti tidak melihat Aurora. Sorot mata dan kalimat itu, itu semua sangat mirip dengan.
"Maudy." Ujar Jordan dalam hati.
BERSAMBUNG