Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kafe Rima
POV Rastadira
Banyak mata memandangku dengan tatapan menyelidik seusai Mas Fariq pergi. Mereka bertanya-tanya tentang sosok Mas Fariq karena setahu mereka suamiku bernama Farhan, bukan Fariq.
“Itu tadi siapa, Mbak?” Tanya Murti, salah satu rekan kasir.
“Fariq? Bukannya nama suami kamu Farhan, ya?” Tanya Mbak Ria yang tiba-tiba berjalan mendekat.
“Iya, mbak.” Jawabku lirih.
“Lah terus itu tadi siapa? Dia daritadi disana lho sama Mas Yadi. Kamu nggak lagi dikejar debt collector kan, Mbak?” Mbak Lina, salah seorang SPG kosmetik di toserba ikut bertanya. Sontak aku menggeleng kuat.
“Ya mana mungkin debt collector, wong Mbak Dira tadi bilangnya nggak nuntut apa-apa. Eh, jangan-jangan kamu korban penipuan ya, Mbak?” Sambung Murti kembali.
“Hmm... Ya begitu, deh. Dan kebetulan dia saudaraku,” aku mengiyakan dugaan Murti. Gemas rasanya diinterogasi seperti ini.
Hari beranjak menjadi siang, sempat aku lihat Mas Fariq tidak berada di kursi depan namun nyatanya dia kembali lagi dan tetap menungguku disana. Teman-temanku pun masih riuh menanyakan siapa sebenarnya Mas Fariq. Beberapa diantara mereka malah sibuk mengomentari paras Mas Fariq. Mungkin saking kesalnya dan khawatir Mas Fariq akan melakukan hal yang sama di lain hari, aku pun mengambil ponsel dan mulai menyetujui ajakan Mas Fariq untuk bicara.
[Jangan tunggu aku disini, sepulang kerja aku temui Mas di Kafe Rima, tolong Mas pergi sekarang atau aku nggak akan mau membicarakan apapun lagi.]
Kulihat Mas Fariq mulai berdiri dan membenarkan jaketnya, entah apa yang disampaikannya pada Mas Yadi sehingga membuat Mas Yadi mengangguk senang. Dan tak berselang lama pun dia pergi bersama motornya.
***
Kafe Rima memang tempat yang sering kutuju saat tinggal di kota ini. Selain lokasinya yang lumayan dekat dari tempat kos, suasananya juga sangat nyaman karena ada sisi kafe yang menghadap persawahan. Beberapa waktu lalu saat aku belum menyadari kehamilanku, aku sering mengunjungi kafe ini hanya untuk sekedar merenungkan nasibku yang terpaksa berpisah dari Farhan. Ya, secengeng itulah Rastadira!
Kulemparkan pandangan ke arah dalam kafe, tidak kutemukan sosok Mas Fariq disana. Jujur, tanganku dingin sekali saat ini. Aku tidak tahu apa yang akan dibicarakan Mas Fariq, semoga saja dia tidak berniat mencelakaiku.
Aku beralih ke halaman belakang kafe yang menghadap persawahan, dan disanalah Mas Fariq berada. Mata kami saling bertemu sesaat, ada keraguan dalam diri ini untuk turut duduk di meja yang sama. Otakku terus memutar kejadian malam itu jika harus berada dalam satu tempat seperti ini dengannya.
“Mbak Raras!” Seorang pria memanggil dan berjalan mendekat ke arahku. Kelegaan menghampiriku bersamaan dengan datangnya Mas Tomo. Ya, tadi aku sempat memintanya datang ke Kafe Rima untuk menemaniku berbincang dengan Mas Fariq.
“Tumben, Mbak ngajak saya kesini.” Ucapnya sumringah.
“Iya, Mas. Tadinya saya mau minta tolong Mas Tomo belikan salad buah di supermarket yang dekat stasiun itu, tapi ternyata ada teman saya kesini jadi saya ajak Mas Tomo sekalian aja, nanti kelar dari sini tolong anterin saya kesana ya, Mas.” Aku menjawab asal.
“Siap, Mbak.”
“Mari duduk sini, Mas.” Ajakku pada Mas Tomo. Wajah Mas Tomo dan Mas Fariq sama-sama bingung dan memandang ke arahku.
“Kenalin ini Mas Fariq, Mas. Dia temanku dari Surabaya. Mas Fariq ini Mas Tomo,” ucapku sambil duduk di kursi sebelah Mas Tomo. Mas Fariq yang duduk di hadapan kami berdua terlihat menunggu kelanjutan ucapanku.
“Saya tukang ojek yang biasa antar jemput Mbak Raras, Mas.” Mas Tomo seolah menangkap rasa penasaran Mas Fariq.
“Tapi, Ra, aku pengen bicara empat mata sama kamu.” Mas Fariq menatapku lekat.
“Maaf aku nggak bisa, Mas. Tolong dimengerti,” Jawabku tanpa membalas tatapannya. Sekilas kulihat ia mengangguk pelan mencoba memaklumi keinginanku.
“Mas Tomo orang yang bisa dipercaya. Dia tidak akan ikut campur dalam masalah yang akan kita bahas.” Ucapku meyakinkan. Meski terlihat bingung namun Mas Tomo juga mengangguk tanda setuju dengan ucapanku.
Mas Fariq menghembuskan nafasnya cukup keras lalu mengangguk tanda menyetujui perkataanku. Aku tidak berani terlalu lama menatap ke arahnya, setiap kali melihat wajahnya aku jadi teringat kejadian di malam itu. Mungkin jika tidak ada Mas Tomo di sebelahku, dadaku akan bergemuruh tidak karuan saking traumanya.
Seorang pelayan perempuan menghampiri meja kami dan meletakkan dua cangkir lemon tea hangat dan dua porsi siomay bandung. Seusai mengucapkan terima kasih, Mas Fariq terlihat menukar piring siomay yang ada di depanku.
“Ini punya kamu, Ra. Ada parenya, kamu masih suka pare, kan?” Deg. Sejak kapan Mas Fariq tahu aku suka siomay dengan isian lengkap. Otak ini kupaksa mengingat kapan aku makan siomay bersamanya atau bahkan memberitahu kesukaanku.
“Aku masih kenyang, Mas Tomo aja, ya, yang makan.” Tanganku bergerak cepat memindahkan piringan siomay itu ke Mas Tomo. Aku tidak ingin Mas Fariq berpikir aku sudah mulai bisa dikendalikan.
“Maaf saya puasa, Mbak.” Jawab Mas Tomo yang langsung membuatku terdiam beberapa saat. Akhirnya, siomay itu pun terpaksa kuletakkan kembali ke hadapanku.
“Ya sudah dimakan dulu, Ra. Maaf ya Mas Tomo saya jadi nggak enak makan di depan Mas Tomo gini.” Ucap Mas Fariq, Mas Tomo membalasnya dengan anggukan ramah.
“Santai aja, Mas. Mbak Raras ayo dimakan, loh. Jangan ikut sungkan sama saya, Mbak.” Kata Mas Tomo sambil mengeluarkan ponselnya.
“Ra,” Mas Fariq memanggilku.
“Iya, aku makan.” Spontan aku menjawab demikian karena takut menoleh ke arahnya.
“Ra, aku... Boleh aku sering kesini? Aku nggak akan ganggu kamu, cuma pengen memastikan kamu baik-baik aja.” Ucap Mas Fariq terbata.
“Dengan cara nungguin di depan toko kayak tadi? Atau ketemuan seperti ini? Maaf aku nggak bisa. Aku sudah bilang jangan ganggu aku, Mas. Aku nggak akan nuntut apapun, baik sekarang atau nanti.” Jawabku ketus tanpa membalas tatapannya.
“Aku nggak akan ganggu kamu, Ra.”
“Mas tiba-tiba nongol seperti hari ini aja udah ganggu banget, Mas. Apalagi kalau Mas sering kesini, entah bagaimana pandangan orang lain nantinya.” Mendadak aku teringat tuduhan Farhan kemarin. Aku takut nantinya Farhan dan orang-orang yang melihat kami semakin yakin bahwa kami ada sesuatu.
“Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, Ra.” Ucapnya lirih.
“Mas pikir aku rela menyakiti diriku sendiri? Aku tahu bagaimana harus menyikapi ini semua, Mas Fariq nggak perlu khawatir.” Aku tetap menanggapinya dengan ketus.
“Tapi, Ra. Aku ingin bertanggung jawab dengan apa yang sudah terjadi.”
“Dengan cara apa? Kemarin Mas mempersilakan aku buat lapor ke polisi, sekarang bilang tanggung jawab. Mas sadar nggak sih ini tuh rumit banget? Sadar nggak gimana posisiku?” Entah mengapa aku menjadi terbawa emosi. Mas Fariq terlihat semakin merasa bersalah, dia menatapku yang kini sedang melempar pandangan penuh kekecewaan kepadanya.
“Maafin aku, Ra. Aku nggak pengen melakukan kesalahan lagi. Aku bersyukur karena sudah berhasil menemukan kamu, makanya aku nggak pengen melewatkan itu semua. Aku ingin bertanggung jawab dengan memastikan kamu baik-baik saja. Aku janji aku akan selalu ada buat kalian.” Ser. Aku merinding mendengar penuturan Mas Fariq barusan. Apalagi saat dia mengucapkan kata ‘kalian’ di akhir kalimatnya tadi. Aku bisa menangkap ketulusan dari penuturannya kali ini.
“Ra, aku janji nggak akan duduk diam di toko lagi seperti tadi. Aku nggak akan pernah ngajak kamu ketemu lagi kalo itu yang kamu mau, tapi please ijinkan aku untuk tetap mantau kamu dengan caraku. Aku tidak ingin menyesal, Ra. Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja.” Lanjutnya.
“Percaya sama aku, Ra. Aku nggak akan gangguin kamu, aku cuma nggak ingin mengulangi kesalahanku ke kamu.” Mas Fariq yang selama menjadi iparku cukup pelit bicara, kini berubah sebaliknya.
Kuhirup nafas perlahan, ada sedikit sesak yang terhimpit di dalam sana. Jujur dengan kondisiku saat ini aku sangat butuh tempat berbagi. Indah memang selalu ada untukku, dia tidak pernah terlewat menelpon atau mengirim pesan padaku setiap hari. Namun statusnya sebagai ibu dua anak membuatku sungkan jika harus sering bertandang ke rumahnya hanya untuk berbagi cerita.
Mas Fariq terlihat mengambil minumannya, ia sesap perlahan secangkir minuman hangat itu. Sempat kuperhatikan raut mukanya, sepertinya dia memiliki niat yang tulus untuk meminta maaf dan bertanggung jawab padaku.
Ingatanku berputar pada kenangan beberapa tahun lalu saat aku masih menjadi mahasiswi dan mengenal Mas Fariq sebagai pacar Mbak Jeni. Aku ingat betapa Mas Fariq adalah pribadi yang hangat dan ramah. Ia juga sangat supel, terbukti ia bisa akrab denganku yang notabene hanya teman kos Mbak Jeni. Selama mengenalnya, aku juga cukup mengetahui bahwa ia pemuda yang sopan dan tidak neko-neko. Pekerja keras, cerdas, dan sangat bisa diandalkan karena ia hampir tidak pernah menolak permintaan tolong Mbak Jeni.
Bicara tentang Mbak Jeni, bagaimana ya kabarnya saat ini? Apakah dia sudah menikah? Lama sekali aku tidak berkomunikasi dengannya, terakhir aku melihatnya saat resepsi pernikahanku. Ia datang bersama kedua orangtuanya, Mas Fariq yang aku tahu pernah menjalin hubungan dengannya pun malah tak terlihat mendampinginya. Entahlah bagaimana akhir kisah mereka kala itu, rasanya tidak mungkin aku menanyakan kabar Mbak Jeni pada Mas Fariq, aku tidak ingin terlalu membuka celah keakraban dengannya saat ini.
“Mbak, Mas, saya permisi ke kamar kecil dulu, ya.” Pamit Mas Tomo tiba-tiba.
Hening. Mas Fariq terlihat sungkan mengajakku bicara, ia sibuk memainkan sendok di piring siomaynya. Sedang aku pun juga tak kalah bungkamnya, ingin rasanya mengekor Mas Tomo supaya tidak berduaan dengan Mas Fariq seperti ini.
“Ra,” panggilnya.
“Iya.”
“Apa kamu sudah pernah periksa ke dokter?”
Aku menggeleng.
“Boleh kalau aku mengantar kamu ke dokter?”
“Jangan aneh-aneh, Mas.” Jawabku ketus.
“Tapi kamu akan memeriksakannya, kan?”
“Iya.”
“Kapan? Dimana?” tanyanya antusias. Aku memandangnya kesal, sedang wajah yang pernah membuatku ketakutan itu malah menampakkan raut bahagia. Apakah dia lupa bahwa dia pelaku kriminal dalam hidupku?
“Kalau pun aku ke dokter, aku pastikan untuk nggak ngasih tahu Mas Fariq. Sudahlah, Mas, kita ini bukan siapa-siapa, nggak perlu berlebihan seperti itu. Risih aku.” Jawabku sekenanya, dan kini wajah yang tadinya bahagia berubah sendu. Mungkin ia tak menyangka Dira yang terkenal ramah menjadi ketus seperti ini. Biar saja dia tahu bahwa kini aku memang sangat membencinya. Meski kuakui ada sedikit rasa iba dan salut karena melihat usahanya untuk tidak abai pada kondisiku.
Sekembalinya Mas Tomo dari toilet aku berinisiatif untuk pamit dari hadapan Mas Fariq. Aku rasa pembicaraan diantara kami sudah selesai dan cukup jelas bahwa kami tetap bisa melanjutkan komunikasi yang baik setelah ini. Mas Tomo yang memahami maksudku pun urung duduk kembali di kursinya, ia ikut berkemas dan menganggukkan kepalanya ke Mas Fariq.
“Makasih ya, Ra.” Aku mengangguk. Cukup paham bahwa dia ingin berterimakasih untuk waktu yang aku sempatkan sore ini. Ada gurat kelegaan di wajah pria berusia tiga puluh tahun itu.
“Hati-hati ya, Mas Tomo. Nitip Dira.” Ucapnya enteng membuatku terhenti sejenak lalu memandang ke arahnya. Anehnya kakak iparku itu malah tersenyum hangat padaku.
Enggan berpikir terlalu jauh, aku pun menarik jaket yang akan dikenakan Mas Tomo. Secara tersirat ingin memberi tahu laki-laki yang sering mengantar jemputku itu untuk segera mengikuti langkahku keluar dari kafe.