Dipusingkan oleh pekerjaan, membuat Dakota Cynthia Higgins melampiaskan rasa lelah dengan bersenang-senang di club malam bersama teman. Dia yang sedang mabuk pun ditantang untuk menggoda seorang pria yang tak lain adalah Brennus Finlay Dominique.
Dalam kondisi terpengaruh alkohol, mabuk berat hingga kehilangan akal sehat, Dakota sungguh merayu Brennus hingga terjadi satu malam penuh tragedi. Padahal sebelumnya tak pernah melakukan hal segila itu dengan pria manapun.
Ketika sadar, Dakota benar-benar menyesal. Bukan akibat kehilangan mahkota yang selama ini dijaga, tapi karena pria itu adalah Brennus, salah satu keturunan Dominique. Di matanya, keluarga itu memiliki sifat menyebalkan.
Brennus berusaha untuk menerima segala konsekuensi atas apa yang terjadi malam itu, tapi ternyata Dakota tidak menginginkan hal serupa. Wanita itu sudah anti dengan keluarga Dominique.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Bekerja dihadapkan dengan Brennus sama saja memperlambat kinerjanya. Dakota sampai memilih untuk terus diam jika pria itu mengajak bicara. Masa bodoh mau mengoceh sampai pagi pun tak akan ditanggapi kecuali saat penting dan menyangkut pekerjaan.
Jadi, sudah tiga minggu ini Dakota berada satu ruangan dengan pria yang seharusnya dihindari. Berkali-kali menanamkan benih sabar dan menyiram setiap hari dengan mengelus dada supaya betah dan tahan tetap berada di perusahaan itu. Ingat gaji besar.
Ternyata masih lebih baik bekerja dengan Aloysius dibandingkan Brennus. Bosnya yang asli walaupun tukang mengancam minta surat pengunduran diri, tapi tidak pernah mengganggu konsentrasi kerja. Beda sekali dengan yang satunya.
Dakota sampai menghubungi Aloysius untuk memastikan apakah benar sudah ada pergantian pemimpin. Awalnya bosnya itu sedikit terkejut dan bingung, mungkin mereka tidak saling kerjasama, kelihatan sekali. Namun, setelah panggilan saat itu dimatikan, beberapa saat kemudian dihubungi lagi hanya untuk memberi tahu jika selama beberapa bulan, Brennus yang akan memimpin di sana.
Anggaplah Dakota sedang bernasib sial.
“Aku baru saja mengirimkan email, tolong dibaca,” ucap Dakota, tanpa menatap orang yang diajak bicara.
“Aku saja yang ke sana, kita baca berdua.” Brennus meninggalkan kursi kerjanya, lalu mendekat ke arah Dakota.
Dia sengaja berdiri di belakang sang wanita, kemudian menumpukkan tangan bersama. Sedikit mencondongkan badan ke depan hingga dada mendempel pada puncak kepala. “Yang mana harus ku cek? Ini?”
Mengusir Brennus pasti tidak akan mempan. Maka, Dakota memilih untuk menarik tangan, lalu berdiri dan menyingkir dari kursi kerjanya. “Silahkan kalau kau mau baca di sini, aku permisi ke toilet,” pamitnya.
“Ke toilet sungguhan atau hanya pura-pura?” Brennus menatap punggung yang kian menjauh.
Tidak memberikan jawaban apa pun, Dakota cukup mencebikkan bibir, lalu pergi keluar.
Brennus menguasai kursi itu, duduk di sana dan menyandarkan punggung. “Satu bulan, tapi tidak ada kemajuan sedikit pun. Tanda-tanda Dakota memiliki perasaan padaku juga tak nampak. Lantas, harus dengan cara apa lagi?”
Setiap hari Brennus mencoba menggoda, tidak mempan. Memberikan barang-barang mahal, apa lagi, justru disangka gratifikasi terus. Memberikan perhatian, juga telah dilakukan setiap hari.
Perhatian? Sepertinya sejak kemarin Brennus melihat wajah Dakota pucat. Meski bibir dipoles lipstik, tapi kantung mata yang nampak sayu tak bisa bohong. Jika ditelaah lagi, wanita itu lebih sering ke kamar mandi. Tapi bukan yang ada di ruangan itu, melainkan khusus karyawan.
“Apa jangan-jangan dia sakit?” Brennus Lekas berdiri. “Jangan sampai aku terlalu fokus menggoda, jadi lupa dengan kesehatannya.” Dia hendak menyusul untuk memastikan, siapa tahu pingsan.
Namun, baru mau membuka pintu, wanita yang hendak disusul pun sudah menyembulkan seluruh badan di depan matanya. Dakota melewati Brennus begitu saja tanpa berkomentar apa pun.
“Masih mau duduk di kursiku?” tanya Dakota. Dia tidak memiliki tenaga untuk bertengkar atau mengusir.
“Tidak.” Mata Brennus kian mengamati wajah wanita itu. “Kau baik-baik saja?”
“Ya.” Bohong, Dakota merasakan mual, sialan memang. Tapi, sudah ia keluarkan tadi saat izin ke toilet. Sejak kemarin badannya terasa kurang bersahabat. Namun, tetap harus bekerja. Tidak terbiasa bermalas-malasan juga.
“Kau yakin? Sepertinya hari ini lebih terlihat lemas dari biasanya.” Brennus berdiri di depan meja sang wanita supaya bisa menatap lebih jelas.
“Kalau tahu aku lemas, maka jangan buat hari kerja menjadi lebih melelahkan,” sarkas Dakota. Dia memegangi kening sembari menatap layar lagi.
Baikah, untuk kali ini Brennus akan mengalah dan menyerah. Daripada jalannya kian jauh untuk menggapai Dakota. Sepertinya membiarkan wanita itu tanpa ada godaan hari ini adalah pilihan tepat. Setidaknya masih bisa mengamati gerak gerik si sekretaris yang mulai aneh.