NovelToon NovelToon
Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Tubagus Abidin

Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak di Atas Kertas Basah

Hujan di Provinsi Tetangga tidak berwarna hitam seperti di Lembah Abbu. Di sini, air langit jatuh jernih dan dingin, membasuh lumpur cokelat dari jalan-jalan tanah yang berliku. Namun bagi Ren Zexian, setiap tetesan hujan terasa seperti jarum es yang menusuk kulitnya yang sudah penuh luka.

Mereka telah berjalan selama dua hari tanpa henti, menyusuri tepi Sungai Bawah Tanah yang akhirnya bermuara ke dataran rendah pertanian. Lin berjalan di sampingnya, langkah kakinya masih goyah, tapi matanya yang kini bercincin perak itu waspada terhadap sekeliling. Energi baru di dalam tubuh gadis kecil itu belum sepenuhnya stabil; kadang-kadang, kulitnya berkilau samar saat ia merasa takut atau lelah, menarik perhatian yang tidak mereka butuhkan.

Ren menutupi Lin dengan jubah lusuhnya yang lebih besar, menyamarkan kilauan perak itu. Ia sendiri tampak seperti mayat hidup. Wajahnya pucat, bibirnya pecah-pecah, dan bahunya yang tertembak panah qi dibalut kain kotor yang mulai bernanah. Rasa sakit itu konstan, berdenyut selaras dengan detak jantungnya, mengingatkan dirinya bahwa ia masih hidup—dan bahwa ia sedang diburu.

"Kakak," bisik Lin, menarik ujung baju Ren. "Kita harus berhenti. Kakak demam."

Ren mengabaikan rasa pusing yang menyerang kepalanya. "Tidak bisa, Lin. Anjing pelacak Klan Naga mungkin sudah menyeberangi sungai. Kita harus mencapai Kota Pasar Terapung sebelum malam."

Kota Pasar Terapung adalah tempat perlindungan terakhir yang disarankan Dokter Mo. Sebuah kota pelabuhan kuno yang dibangun di atas rakit-rakit raksasa yang saling terikat, melayang di danau luas yang selalu diselimuti kabut tebal. Di sana, hukum Klan Naga tidak berlaku secara langsung, karena kota itu berada di bawah proteksi Serikat Pedagang Bebas—kelompok netral yang hanya peduli pada keuntungan, bukan politik kekaisaran.

Tapi untuk sampai ke sana, mereka harus melewati Hutan Rawa Berbisik.

Hutan itu dinamai demikian karena angin yang melewati rongga-rongga pohon bakau menciptakan suara seperti bisikan manusia. Bagi orang biasa, itu hanyalah suara alam. Bagi praktisi Qi yang kelelahan dan paranoid seperti Ren, itu adalah siksaan mental.

Mereka memasuki hutan saat senja mulai turun. Kabut putih tebal merayap di antara akar-akar pohon yang menjulang seperti jari-jari raksasa yang keluar dari tanah. Lantai hutan berlumpur, setiap langkah menghasilkan suara celepuk yang basah dan menjijikkan.

Ren menggunakan Mata Void-nya secara sporadis, hanya cukup untuk melihat jalur aman di antara rawa-rawa hisap. Tapi penggunaan kekuatan itu semakin berat baginya. Setiap kali ia mengaktifkannya, lukanya berdenyut lebih keras, seolah-olah tubuhnya menolak untuk berbagi energi dengan matanya.

Bisik... bisik...

Suara-suara itu mulai terdengar jelas.

"Lelah..."

"Menyerah saja..."

"Dia akan mati..."

Ren menggigit lidahnya, menggunakan rasa sakit untuk tetap sadar. "Jangan dengarkan, Lin. Tutup telingamu jika perlu."

Lin mengangguk, wajahnya tegang. Ia memegang tangan Ren erat-erat, jari-jarinya dingin. Tiba-tiba, Lin berhenti. Matanya yang bercincin perak melebar.

"Kakak," katanya, suaranya bergetar. "Ada seseorang di depan. Bukan manusia."

Ren segera siaga, menarik kuas patahnya meski tangannya gemetar hebat. Dari balik kabut, sesosok figur muncul. Itu bukan penjaga Klan Naga. Itu adalah makhluk setinggi tiga meter, tubuhnya terbuat dari lumpur dan akar pohon yang saling terjalin, dengan dua mata bercahaya hijau fosfor.

Raw Stalker. Beast grade rendah yang sering memangsa travelers yang tersesat. Biasanya tidak berbahaya bagi praktisi tingkat menengah. Tapi bagi Ren yang hampir runtuh, ini adalah ancaman mematikan.

Makhluk itu mengaum, suara yang terdengar seperti batu-batu yang bergesekan. Ia mengangkat lengan lumpurnya yang besar, siap menghantam mereka.

Ren tidak punya energi untuk bertarung panjang. Ia harus menyelesaikannya dalam satu serangan. Tapi jika ia menggunakan teknik penghapusan, ia mungkin akan pingsan karena kelelahan Qi.

"Tunggu," kata Lin tiba-tiba.

Sebelum Ren bisa bereaksi, Lin melangkah maju. Ia tidak takut. Matanya menatap makhluk lumpur itu dengan ketenangan yang aneh. Tangan kecilnya terangkat, telapak tangannya bersinar dengan cahaya perak lembut.

"Tenang," kata Lin, suaranya bergema dengan resonansi asing yang membuat udara bergetar.

Cahaya perak dari tangan Lin menyebar, menyentuh tubuh makhluk lumpur itu. Bukannya menyerang, cahaya itu tampaknya... menenangkan. Akar-akar yang membentuk tubuh beast itu berhenti bergerak. Mata hijau fosfor itu berkedip, lalu meredup menjadi cahaya lembut. Makhluk itu menurunkan lengannya, kepala miring, seolah-olah bingung oleh kehadiran energi yang tidak agresif itu.

Ren terbelalak. Lin tidak melawan beast itu. Dia berkomunikasi dengannya. Atau lebih tepatnya, dia menyerap kecemasannya.

The Fade memakan emosi negatif. Dan sekarang, Lin bisa memanipulasinya.

Beast itu mundur perlahan, kembali ke dalam kabut, menghilang tanpa jejak.

Lin berbalik ke Ren, wajahnya pucat tapi tersenyum lemah. "Dia... dia hanya kesepian, Kak. Energinya sedih."

Ren menatap adiknya dengan campuran kekaguman dan ketakutan. Kekuatan Lin berkembang lebih cepat dari perkiraan Dokter Mo. Dan itu menakutkan. Jika dia bisa menenangkan beast, apa lagi yang bisa dia lakukan? Apa lagi yang mereka ingin lakukan padanya?

"Kita harus pergi," kata Ren, suaranya serak. "Sekarang."

Mereka melanjutkan perjalanan, tapi dinamika di antara mereka telah berubah. Ren tidak lagi melihat Lin hanya sebagai korban yang perlu dilindungi. Ia melihat potensi. Potensi yang berbahaya.

Satu jam kemudian, kabut mulai menipis. Di kejauhan, terlihat cahaya lentera-lentera kuning yang berkelip-kelip di atas permukaan air. Kota Pasar Terapung.

Rakitan-rakitan kayu raksasa saling terhubung dengan jembatan tali dan papan kayu, membentuk pulau buatan yang ramai bahkan di malam hari. Suara tawar-menawar, musik gamelan, dan aroma makanan gorengan tercium jelas, menggantikan bau lumpur dan busuknya rawa.

Ren menghela napas lega. Mereka berhasil.

Tapi saat mereka mendekati gerbang masuk kota—sebuah dermaga kayu besar yang dijaga oleh dua pria bertubuh kekar bersenjata golok—Ren menyadari sesuatu. Di tiang pengumuman dekat gerbang, terdapat sebuah poster baru. Kertasnya masih segar, tintanya belum kering.

Poster itu menampilkan sketsa wajah Ren dan Lin. Di bawahnya, tertulis dengan huruf tebal:

DICARI: PENJAHAT KELAS SATU

REN ZEXIAN & LIN ZEXIAN

KEJAHATAN: PENCURIAN ARTEFAK NEGARA, PENGKHIANATAN, DAN PENGGUNAAN SIHIR TERLARANG.

HADIAH: 10.000 KOIN EMAS DAN STATUS KEWARGANEGARAAN PAVILIUN AWAN.

Angka itu sangat besar. Cukup untuk membeli kesetiaan siapa pun di kota ini.

Ren menarik tudungnya lebih rendah, mencoba menyembunyikan wajahnya. Ia menggenggam tangan Lin erat-erat.

"Jangan lihat ke atas," bisik Ren. "Jangan bicara dengan siapa pun. Kita butuh tempat persembunyian, bukan penginapan umum."

Mereka melewati penjaga gerbang. Para penjaga itu melirik sekilas, tapi tidak mengenali mereka di balik pakaian kotor dan tudung. Ren menahan napas hingga mereka berada di tengah keramaian pasar.

Di sini, ribuan orang berdesakan. Pedagang menjual ikan aneh, rempah-rempah beracun, dan gulungan mantra palsu. Suasananya kacau, bau, dan hidup. Sempurna untuk bersembunyi.

Ren mencari gang sempit di antara dua rakit besar. Ia menemukan sebuah lorong gelap yang mengarah ke bagian bawah kota, tempat air limbah dibuang. Di sana, terdapat sebuah gubuk tua yang tampaknya ditinggalkan, atapnya bocor dan dindingnya ditumbuhi lumut.

"Ini cukup untuk sementara," kata Ren, mendorong pintu yang berbunyi derit.

Mereka masuk ke dalam. Ruangan itu kecil, lembap, dan berbau tikus. Tapi itu tertutup. Aman dari pandangan langsung.

Ren ambruk di lantai, napasnya tersengal-sengal. Lukanya akhirnya mengambil alih. Dunia berputar. Pandangannya kabur.

"Kakak!" Lin berlutut di sampingnya, panik. Cahaya perak di tangannya bersinar lagi, mencoba menyembuhkan Ren. Tapi Ren menggeleng lemah.

"Jangan... habiskan energimu," gumam Ren. "Simpan... untuk dirimu sendiri."

Ia meraba sakunya, mengeluarkan sisa pil pemulihan yang diberikan Dokter Mo. Hanya ada satu butir. Ia memberikannya kepada Lin.

"Makan ini," perintah Ren. "Kakak... kakak akan baik-baik saja."

Itu kebohongan. Tapi Lin menelannya, matanya berkaca-kaca.

Ren menutup matanya, mencoba mengatur napasnya. Ia tahu mereka tidak aman selamanya. Poster itu akan membuat setiap mata di kota ini menjadi musuh potensial. Mereka perlu rencana. Mereka perlu kontak.

Dan Ren tahu hanya ada satu orang di Kota Pasar Terapung yang mungkin mau membantu seorang buronan tanpa bertanya banyak pertanyaan. Seorang teman lama Master Wei. Seorang pencuri informasi yang dikenal sebagai "Si Telinga".

Besok pagi, Ren akan mencarinya. Malam ini, ia hanya perlu bertahan hidup.

Di luar, hujan terus turun, membasuh jejak kaki mereka di dermaga. Tapi di dalam kegelapan gubuk tua itu, dua jiwa yang retak saling berpegangan, menunggu fajar yang mungkin tidak akan membawa kabar baik.

Permainan kucing dan tikus telah dimulai. Dan kali ini, tikusnya memiliki gigi.

1
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!