NovelToon NovelToon
Tujuh Kembaran

Tujuh Kembaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Seven Gu

⚠️ PERINGATAN

Jika pembaca hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab, di hitung sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.

Contoh Fang Ye: 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst

Atau Baca di judul Bab contoh:

[POV FRAGMEN PERTAMA: FANG YE]

[POV FRAGMEN KEDUA: GU MOYUAN]





Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.

Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.

Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:

Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.

Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebenc

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUBUR YANG DI MASAK SENDIRI [POV FRAGMEN KETUJUH: SHEN WUYI]

Nenek Ru meninggal di penghujung musim dingin, dalam tidurnya, tanpa rasa sakit yang terlihat, tangannya masih menggenggam selimut yang sama seperti biasa ia gunakan setiap malam.

Shen Wuyi menemukannya pagi itu ketika ia datang membawa air, seperti biasa ia lakukan setiap hari sejak batuknya memburuk musim dingin lalu.

Ia berdiri lama di ambang pintu, tidak bergerak, tidak memanggil siapa pun, hanya menatap wajah yang tampak lebih damai daripada yang pernah ia lihat dalam beberapa bulan terakhir.

Ia tidak menangis.

Ia tidak sepenuhnya yakin bagaimana caranya, meski ia sudah mencoba mengingat-ingat.

---

Desa mengurus pemakamannya dengan cara yang sudah lama disepakati—tiga hari berkabung, api yang dijaga tetap menyala di depan rumahnya, tetangga bergiliran membawa makanan meski tidak ada lagi yang perlu dimasak untuk siapa pun di rumah itu selain Shen Wuyi sendiri.

Ia duduk di pemakaman selama upacara, mendengarkan doa-doa yang diucapkan tetua desa, menyaksikan tanah ditimbun perlahan di atas satu-satunya orang yang pernah memilihnya tanpa syarat sejak hari pertama hidupnya.

Ia tidak menangis di sana juga.

Beberapa tetangga menatapnya dengan ekspresi yang sulit ia baca—bukan seperti tatapan curiga yang biasa ia terima bertahun-tahun lalu, tapi sesuatu yang lebih dekat dengan kekhawatiran, atau mungkin kekecewaan yang tidak mereka ucapkan langsung.

---

"Kau tidak sedih?" seorang wanita bernama Bibi Chen bertanya padanya, tiga hari setelah pemakaman, saat ia mengantarkan sekeranjang sayur ke rumah yang kini kosong itu.

"Aku sedih," Shen Wuyi berkata.

"Kau tidak terlihat sedih," Bibi Chen berkata, tidak dengan nada menuduh, hanya bingung yang jujur. "Kau tidak menangis. Kau tidak bicara pada siapa pun tentang perasaanmu. Orang-orang mulai berbisik kau tidak benar-benar peduli padanya."

Shen Wuyi memikirkan itu sejenak, benar-benar mempertimbangkan tuduhan yang tidak diucapkan secara langsung itu.

"Aku tidak tahu bagaimana caranya menangis," ia akhirnya berkata, jujur seperti biasa ia jujur tentang segala sesuatu tentang dirinya sendiri. "Itu tidak berarti aku tidak merasakan apa pun."

---

Bibi Chen menatapnya lama, ekspresinya melunak sedikit.

"Kau bicara seperti itu, tapi bagaimana orang lain tahu bedanya?" ia bertanya, tidak sepenuhnya tanpa kelembutan.

"Aku tidak tahu," Shen Wuyi mengakui. "Aku tidak pernah tahu bagaimana orang lain seharusnya membaca apa yang terjadi di dalam diriku. Aku hanya tahu apa yang benar-benar terjadi di dalam diriku, dan itu bukan ketidakpedulian."

Ia diam sesaat, mencoba mencari kata yang lebih baik untuk menjelaskan sesuatu yang bahkan bagi dirinya sendiri masih terasa asing.

"Rasanya seperti reruntuhan yang kehilangan salah satu simbolnya," ia akhirnya berkata, satu-satunya perbandingan yang bisa ia temukan dari dunia yang ia pahami. "Bukan hancur. Hanya... berkurang satu bagian yang tidak akan pernah kembali seperti semula."

---

Bibi Chen tidak sepenuhnya memahami perumpamaan itu, tapi sesuatu dalam nada suaranya membuatnya berhenti mempertanyakan lebih jauh.

"Kau akan tinggal di rumah ini sendirian?" ia bertanya, mengubah topik ke sesuatu yang lebih praktis.

"Aku tidak tahu ke mana lagi aku harus tinggal," Shen Wuyi berkata sederhana.

"Kalau kau butuh sesuatu," Bibi Chen berkata, agak canggung, seolah tidak terbiasa menawarkan kebaikan pada seseorang yang selama ini dianggap desa sebagai anomali yang lebih baik dijaga jarak, "rumahku tidak jauh."

Ia pergi setelah itu, meninggalkan Shen Wuyi sendirian dengan sekeranjang sayur dan rumah yang tiba-tiba terasa jauh lebih besar daripada yang pernah ia rasakan selama delapan belas tahun tinggal di dalamnya.

---

Malam itu, ia mencoba memasak bubur seperti yang biasa dibuat Nenek Ru—resep yang tidak pernah ditulis di mana pun, hanya diingat dari bertahun-tahun menyaksikannya dibuat setiap malam.

Hasilnya terlalu encer, seperti biasa saat ia yang memasak, tapi kali ini tidak ada yang akan menertawakannya dengan lembut sambil tetap memakannya sampai habis.

Ia duduk sendirian di meja yang biasanya diisi dua orang, mangkuk bubur gagal di depannya, dan untuk pertama kalinya sejak menemukan Nenek Ru pagi itu, sesuatu di dadanya terasa retak dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata sederhana yang biasa ia gunakan.

Ia tidak menangis malam itu juga.

Tapi ia duduk lebih lama daripada biasanya, menatap mangkuk yang tidak kunjung ia sentuh, sampai bubur itu benar-benar dingin.

---

Beberapa hari kemudian, ia kembali ke tepi Reruntuhan Xuwu, tempat yang selalu ia kunjungi saat butuh sesuatu yang tidak bisa ia temukan di tempat lain—bukan jawaban, ia sudah lama berhenti berharap reruntuhan itu memberinya jawaban apa pun, hanya kehadiran yang tidak menuntut apa pun darinya.

Simbol-simbol kuno di sana tetap diam seperti biasa, tidak bereaksi terhadap kedatangannya, tidak juga terhadap sesuatu yang mungkin bisa disebut kesedihannya kalau ia tahu cara menyebutnya dengan tepat.

Ia duduk di sana sepanjang sore, memikirkan malam ia mencoba membawa Nenek Ru ke tempat yang sama, berharap sesuatu yang mustahil bisa terjadi.

Ia menyadari sekarang, dengan kejelasan yang datang bukan dari pemahaman baru tapi hanya dari waktu yang cukup untuk merenung, bahwa harapannya malam itu selalu sia-sia sejak awal—bukan karena reruntuhan ini tidak cukup kuat, tapi karena apa pun yang membuatnya berbeda dari orang lain, apa pun yang membuat batu-batu kuno ini diam terhadapnya, tidak pernah dirancang untuk melawan sesuatu sesederhana dan sealami waktu.

---

Beberapa anak desa yang dulu menjauhinya kini duduk di kejauhan, tidak cukup dekat untuk mengganggunya, tapi juga tidak lagi berlari menjauh seperti bertahun-tahun lalu.

Salah satu dari mereka, seorang anak laki-laki yang pernah ia lindungi tanpa sadar saat reruntuhan mengamuk dua tahun lalu, akhirnya mendekat dan duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa, hanya menemani dalam diam yang tidak menuntut penjelasan.

Shen Wuyi tidak mengusirnya. Ia juga tidak berterima kasih dengan kata-kata, karena ia tidak sepenuhnya yakin kata-kata seperti apa yang cocok untuk situasi ini.

Mereka duduk berdampingan sampai matahari mulai terbenam, dua sosok kecil di tepi reruntuhan yang sudah lama berhenti menjadi ancaman bagi salah satu dari mereka, meski tidak pernah benar-benar berhenti menjadi misteri.

---

Ketika ia akhirnya kembali ke rumah malam itu, ia memasak bubur lagi, dan kali ini hasilnya sedikit lebih baik—tidak sempurna, tidak seperti yang dibuat Nenek Ru, tapi setidaknya bisa dimakan tanpa harus dipaksakan.

Ia makan sendirian, seperti yang akan ia lakukan setiap malam berikutnya untuk waktu yang tidak ia ketahui berapa lama, membawa resep yang tidak pernah ditulis, mangkuk yang sekarang hanya diisi satu porsi, dan kesedihan yang tidak tahu bagaimana caranya keluar lewat air mata, tapi tetap ada, tetap nyata, tersimpan di suatu tempat dalam dirinya yang bahkan reruntuhan paling kuno sekalipun tidak pernah bisa ia jangkau atau jelaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!