Lusia Irene seorang dokter yang sedang sekolah spesialis onkologi di salah satu rumah sakit polisi. Karena dokter pembinanya adalah seorang polisi. Di usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun Lusia belum perna membuka hatinya buat hadirnya seorang laki - laki. Karena traumanya atas rumah tangga orangtuanya yang berpisah karena adanya orang ketiga. Papanya berselingkuh di usianya sudah enam belas tahun. Apakah Lusia Irene bisa merasakan cinta hadir di kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDM Pertama
Penampilan Gio Abraham di tengah masyarakat seperti seorang pereman, dia mempunyai tatto di lengannya. Hari ini Lusi kaget dengan tatto wajah nya di lengan suaminya.
"Mas, kenapa gambar tattonya besar begitu."
"Ini terakhir sayang, ini gambar perempuan yang mas cintai."
"Ngak di larang mas."
"Ya tugas mas, demi penyamaran mas."
"Kalau musuh mas tahu perempuan di tatto itu, berarti ade dalam bahaya dong."
"Jangan ngomong begitu, itu namanya doa sayang."
"Maaf mas, maaf."
"Mulut manis ini harus kata - kata manis yang keluar." Gio langsung mencium bibir istrinya.
Semenjak Lusi ketahuan punya penyakit autoimun dan sedang berbadan dua, Gio selalu memperlakukan dirinya seperti ratu. Begitu juga dengan orangtua dan kakaknya Gio. Apalagi pagi ini, Lusi bangun tidur muntah - muntah akibat mencium sesuatu dari dapur. Padahal suaminya sedang memasak enak. Ternyata bau bawang yang membuat dia muntah. Akhirnya Lusi kembali ngak mau makan.
"Mas harus bagaimana sayang. Biar kamu makan."
"Mas ini kan bawaan karena sedang hamil. Ngak tahu kenapa cium bau itu jadi mual. Kemarin - kemarin kan ngak masalah."
"Iya ya. Mas takut terjadi sesuatu sama kamu sayang. Sebentar kita ke dokter Axelo saja ya."
"Ade, ngak papa sayang. Ini biasa bagi ibu hamil."
Gio hanya menatap istrinya. Kemudian dia memeluk dan mencium bibir istrinya. Dia merasa bersalah karena kembali lagi istrinya harus muntah - muntah lagi.
Pagi ini Gio tidak bisa mengantar istrinya. Makanya dia meminta asistennya Dion untuk mengantar Lusi ke tempat kerjanya di rumah sakit.
"Mas mohon maaf ya sayang."
"Iya sayang. Adek ngak marah. Adek malah kuatir loh. Mas hati - hati ya sayang."
"Iya mas pasti hati - hati."
Ternyata pagi ini mereka berkumpul di markas dan akan melakukan misi di pulau kalimatan tepatnya di daerah berbatasan dengan Malyasia. Gio menghubungi istrinya memberitahukan bahwa dia akan menyelesaikan misi hanya tiga hari. Dan menghubungi maminya untuk menitip wanita yang dia cintai.
"Mi, aku titip istriku ya. Adek sepuluh menit sudah bersiap berangkat."
"Iya, kamu harus hati - hati sayang jangan lupa berdoa sebelum melakukan misi kamu."
"Siap mami."
Gio dan timnya sudah berangkat misi kali ini, dia harus menangkap penyeludup yang sering keluar masuk perbatasan dengan bebas, dan penyeludup ini dalam melakukan misinya sudah banyak menewaskan warga sipil. Terutama yang perempuan muda.
Diperbatasan ini transaksi ilegal juga sering terjadi mulai dari obat - obat terlarang, senjata tajam sampai organ manusia. Itu informasi yang sudah Gio peroleh. Target tentara dan polisi ada pada sosok Jalu yang fotonya sedang Gio amati. Jalu adalah sosok pemuda asli Kalimantan, Gio tidak habis pikir kenapa dia bisa melakukan hal kejih itu kepada saudara - saudaranya.
"Pemuda berdarah dingin." kalimat itu yang keluar dari mulut Gio. Arahan pun terjadi dia atas pesawat tentara cepat. Karena target operasi mereka Jalu dan anak - anak buahnya.
"Dugaan rekan - rekan kita di lapangan adalah orang ini." Visual gambar Jalu sudah di paparkan di depan timnya. Perbuatan kejinya adalah mejual organ manusia. Motifnya dengan memacari perempuan - perempuan itu kemudian informasinya mereka hilang. Ada yang jasadnya ditemukan namun organnya sudah tidak lengkap.
Helikopter cepat sudah menurunkan Gio dan timnya di sebuah perkampungan yang dekat dengan perbatasan. Pelucuran Gio dan teman - teman dengan tali dari atas menjadi perhatian warga kampung itu.
Sementara Lusi sudah pulang kerja dijemput oleh Dion, asisten suaminya. Sesuai dengan keadaan Lusi, akhirnya dia tidak memasak. Namun oleh mertuanya sudah dipesan makanan sehat yang setiap jam makan akan diantar lengkap dengan makanan penutupnya.
Rumah terasa sepi. Namun yang sangat Lusi heran, tadi pagi dia lemas, namun siang ini janinnya baik - baik saja. Dia tidak rewel seperti sensitif bau yang membuat maminya harus muntah - muntah karena mual.
"Kamu tahu ya sayang. Ngak boleh rewel sesuai pesan papi."
"Terima kasih ya kesayangan mami dan papi." Lusi sedang berbicara dengan janin dalam perutnya yang baru berusia dua bulan. Kehamilan Lusi masih dalam trimester pertama, jadi gejala mual dan muntah - muntah seperti pagi haru dia rasakan itu wajar. Juga gejala badannya yang pegal - pegal bahkan lemas juga itu hal yang wajar. Namun saat ini. Semua rasa itu hilang. Lusi mengusap - ngusap perutnya.
"Terima kasih kesayangan mami." Ternyata mertuanya sudah datang kerumah mami dan papi datang temani Lusi dirumahnya. Rumah ini hadiah dari mami buat Gio dan dirinya.
"Bagaimana keadaan kamu sayang."
"Adek baik - baik mas. Janin kita juga baik - baik. Dia dengar nasehat papinya."
"Puji Tuhan, mas senang dengarnya."
Saat ini Gio dan Lusi sedang Vidio Call dan dia melihat seragam yang digunakan suaminya. Dia teringat dua tahun lalu waktu mereka di tempat konflik. Ini tandanya bahwa suaminya akan memulai misinya. Pengejaran target akan di lakukan.
"Mas... Hati - hati ya. Tuhan menjaga dan melindungi."
"Amin sayang. Mas akan pulang bertemu kamu dan calon bayi kita. I love you Lusia Irene Pong istri cantikku."
"Love you more masku sayang Gio Abraham."
Gio sudah tenang dan senang, karena dia tahu kedua orangtuanya sudah dirumahnya menemani Lusi istrinya.