Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4_hilangnya cahaya terakhir
Angin sore menyeret bau busuk dari saluran air dan asap tungku murah.
Bau itu lengket di kulit, pahit di lidah, susah hilang meski sudah ditahan napas.
Langit di atas menara kerajaan menggantung kelabu. Berat dan rendah.
Seolah langit itu sendiri sudah muak, dan ikut membusuk bersama kota ini.
Di sudut gang sempit yang pengap, seorang anak laki-laki berdiri mematung.
Tubuhnya kurus. Tulang bahu dan rusuknya terlihat jelas di balik baju tambal-tambalan yang sudah pudar warnanya.
Rambut hitamnya berantakan, jatuh menutupi sebagian wajahnya yang kotor.
Hanya sepasang mata yang mencuat dari balik gelap itu. Kuning keemasan.
Terlalu terang, terlalu hidup.
Mata yang tidak pantas dimiliki anak jalanan seperti dia.
"Ini... ibu kota kerajaan Eiden. Vain." Suaranya serak, pecah, seperti sudah lama tidak dipakai bicara. "Entah kenapa mereka memakai nama dewa untuk kota busuk seperti ini."
Tangannya mengepal erat. Di genggamannya ada setengah potong roti keras. Dingin. Hasil curian.
Jari-jarinya gemetar hebat. Bukan karena takut ketahuan.
Tapi karena lapar yang menusuk perut. Karena muak pada dirinya sendiri yang harus mencuri untuk hidup.
Roti itu berderit pelan, hampir hancur di tangannya yang gemetar.
*Krek...*
_Inilah hidupku sekarang. Tidak ada harapan._
_Bahkan lebih parah sejak Ibu pergi._
*BRUK!! BRUK!!*
Suara langkah cepat mendekat.
Aku langsung berlari. Tubuh kurusku menyelinap di antara gerobak kayu dan kaki-kaki orang yang sibuk.
"AHH!! SIALAN!! PENCURI LAGI!! ANAK ITU LAGI!!" Teriakan pedagang meledak dari belakang, penuh ludah dan amarah yang meluap.
*DUK!!*
Disusul batu yang menghantam tembok tepat di samping kepalaku. Keras.
Debu dan pecahan batu berjatuhan ke rambutku.
Aku tidak menoleh. Tidak boleh. Napasku memburu, membakar tenggorokan sampai perih.
Kalau aku berhenti sekarang, tulang-tulangku akan dipatahkan di tempat.
Di kota ini pajak mencekik sampai ke leher. Kemiskinan menggerogoti tiap sudut gang.
Perbudakan dijual bebas di pasar gelap. Obat terlarang lebih murah daripada sepotong roti basi.
Anak yang hidup sendiri di kota ini akan mati dalam seminggu.
Atau lebih buruk... akan dirantai dan dijual sebagai budak.
Sudah sebulan sejak kejadian itu. Sejak kejadian upacara itu.
Dan sekarang, namaku ada di daftar buronan kerajaan.
Dengan harga yang cukup untuk membeli satu rumah besar di ibukota.
Dunia ini tidak punya tempat untuk orang lemah.
Dan aku sudah terlalu lama jadi orang lemah.
Tiba-tiba tanah bergetar pelan.
*DERAP!! DERAP!! DERAP!!*
Langkah kaki. Berat. Serentak. Menekan langsung ke jantung.
Puluhan prajurit berzirah perak membelah keramaian seperti pisau.
Cahaya sore memantul di ujung tombak mereka, menyilaukan dan dingin.
Warga langsung berhamburan minggir. Menunduk ketakutan.
Ada yang sampai berlutut, tidak berani mengangkat kepala.
Di tengah barisan itu ada kereta kuda emas.
Lambang naga Eiden mengaum besar di pintunya.
Dan di depan kereta itu berdiri seorang gadis.
Rambut pirang panjangnya berkibar pelan. Mahkota kecil bertengger di kepalanya.
Jubah putihnya bersih. Terlalu bersih. Terlalu suci untuk jalanan berlumpur dan busuk ini.
Putri Mahkota Tia.
Tapi yang membuat darahku membeku bukanlah penampilannya.
Di tangan kanan Tia terangkat tinggi sebuah tongkat.
Di ujungnya terbungkus kain putih. Kain itu basah. Merah. Menetes pelan ke tanah.
*PLAK. PLAK.*
Sebuah kepala.
"SEMUANYA LIHAT!!" suara komandan menggelegar, merobek keheningan dan memaksa semua orang mendongak dengan paksa.
"INI KEPALA PEREMPUAN TIDAK TAHU DIRI!! YANG MELAHIRKAN ANAK PEMBAWA BENCANA DAN MELINDUNGINYA!!"
"TENANG!! KAMI AKAN MENANGKAP ANAK ITU DAN MENGEMBALIKAN KEDAMAIAN!!"
Pasar mendadak hening. Tidak ada yang berani bernapas keras.
*Hening...*
Hanya tersisa suara angin dan tetesan darah yang jatuh ke tanah.
*Plak... plak...*
Lalu bisik-bisik pecah. Gemetar. Penuh panik dan takut.
"Anak pembawa petaka??"
"Ramalan Dewa Vain dan Dewi Luciel... terjadi??"
"Milik siapa kepala perempuan itu?!"
_Jantungku seperti berhenti berdetak._
_Napasku tercekat di tenggorokan._
_Mataku membelalak lebar, tidak percaya dengan apa yang kulihat._
Gadis di depan itu menatap lurus ke depan. Wajahnya datar.
Terlalu datar. Seperti topeng yang dipaksa menempel, retak di ujungnya.
Tia kemudian berteriak di hadapan para warga kerajaan yang sedang melihat di jalan.
Suaranya menggema, dingin tanpa emosi, menusuk telinga.
"Wahai rakyatku."
"Ini adalah kepala perempuan yang tidak tahu malu dan menjijikan.
Jika bukan karena perintah ayahanda, aku tidak akan memegangnya
karena aku tidak ingin tertular kebodohannya yang mengancam kerajaan ini."
"Dan akan aku beritahu siapa nama dari pemilik kepala ini...
nama wanita ini adalah... Flora. Sang selir raja. Tadinya begitu.
Sekarang... hanya menjadi seonggok mayat tak berguna."
Angin sore menyibak kain putih itu pelan.
*Wussshh...*
Sepintas. Kain itu terangkat angin.
Terlihat helaian rambut hitam. Panjang. Halus.
Milik seseorang yang selalu menolongnya dari kekejaman dunia. Milik seseorang yang selalu tersenyum untuknya.
Dunia berputar. Lututku lemas, hampir jatuh ke tanah yang kotor.
*Dug...*
Tanganku mencengkeram dada sendiri sampai sakit, sampai kukuku menancap.
_...Tidak mungkin..._
_Ibu... telah... Mati..._