NovelToon NovelToon
The Path To Godhood

The Path To Godhood

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi
Popularitas:903
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?

Ikuti perjalanannya yang memegangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluar

Setelah berjalan beberapa saat dengan susah payah dan beberapa kali beristirahat, Xuan Han mulai merasa kelelahan. Ditambah lagi dengan banyaknya serangga yang sulit dikenali apakah beracun atau tidak. Melihat kelabang dan beberapa ekor ular berbisa saja sudah cukup membuat Xuan Han bergidik ketakutan.

Setiap kali melihat hewan-hewan itu, ia segera melemparinya dengan batu atau berusaha menghindar. Namun, sebisa mungkin ia memilih untuk membunuh mereka sebelum hewan-hewan itu menyerang. Bagian dalam gua ini ternyata dipenuhi lebih banyak serangga, tidak seperti bagian sebelumnya. Udaranya juga terasa jauh lebih dingin, mungkin karena hujan sedang turun lebat di luar sana.

Untungnya, tubuh Xuan Han kini terasa jauh lebih kuat sehingga rasa dingin itu tidak terlalu mengganggu. Meski begitu, sisa-sisa kelemahannya masih ada, memaksanya untuk sering terduduk dan beristirahat.

Setelah beberapa kali berhenti, ia akhirnya tiba di hadapan sebuah dinding batu yang dipenuhi ukiran kuno. Ia segera duduk dan mengamatinya dengan saksama.

Ukiran-ukiran itu terpahat di atas batu, seolah-olah digoreskan menggunakan pena ajaib yang mampu membelah benda keras. Gambar-gambarnya sudah mulai samar, sehingga butuh waktu baginya untuk memahami maknanya.

Setelah meraba dan memperhatikannya lekat-lekat, ia melihat gambar matahari yang bercahaya terang. Di bawahnya, terdapat sosok manusia yang digambarkan dalam berbagai pose: memegang pedang, meletakkan cangkul di punggung, membawa kecapi, menarik busur, hingga gambar terakhir yang memperlihatkan seseorang tengah duduk bersila di atas batu dengan kedua tangan bertumpu di pangkuannya.

Xuan Han teringat kakaknya pernah melakukan pose seperti itu. Ia juga ingat kisah tentang seorang kaisar yang berhasil mencapai keabadian; setelah kenaikannya ke alam abadi, sebuah kuil dibangun untuk mengenangnya dengan wujud patung yang melakukan hal serupa.

Menjadi lebih kuat dan mencapai keabadian.

Terinspirasi oleh hal itu, Xuan Han ikut duduk bersila dan memejamkan mata. Ia berusaha mengatur napasnya. Perlahan, detak jantungnya terdengar semakin jelas. Pendengarannya menajam, menangkap suara dari berbagai arah. Ia bisa mendengar gemercik tetesan air dan hembusan angin yang tipis.

Namun, tidak terjadi apa-apa. Xuan Han justru merasa mengantuk dan perlahan-lahan jatuh tertidur.

Saat terbangun satu jam kemudian, ia tidak mendapatkan pencerahan apa pun, tetapi tubuhnya terasa jauh lebih segar karena beristirahat. Perlahan-lahan, ia kembali bangkit dan melangkah lebih dalam ke gua itu.

Meski begitu, rasa penasaran masih mengganjal di hatinya. Pikirannya kembali melayang pada kakaknya yang bisa menyerap energi langit dan bumi untuk berkultivasi. Xuan Han tahu ia hanyalah manusia fana yang tidak bisa melakukannya, tetapi ia sangat penasaran bagaimana rasanya.

Berbekal rasa penasaran itu, Xuan Han kembali duduk dan memejamkan mata. Sekali lagi, telinganya menangkap berbagai suara di sekitarnya, berpadu dengan detak jantungnya yang berirama pelan.

Dalam kesadaran yang dalam, ia tiba-tiba mendapat penglihatan: sebuah jantung besar yang berdetak kuat. Sebuah pagoda dan lonceng berputar mengelilinginya, dan seekor naga kuning tampak melingkari jantung besar tersebut. Xuan Han terkejut bukan main hingga matanya tersentak terbuka.

Jantung besar dalam penglihatan tadi sepertinya benar-benar jantungnya sendiri, yang kini dihuni oleh naga dan dua benda pusaka ajaib! Ia merinding memikirkan hal ini. Jika para kultivator kuat mengetahui rahasianya, nyawanya pasti akan terancam. Ia sungguh penasaran mengapa benda-benda luar biasa itu memilih bergabung dengan tubuhnya.

Mengesampingkan rasa herannya, ia kembali berdiri dan berjalan. Sambil melangkah, ia mencoba mengatur ritme napas dan detak jantungnya seperti saat ia bersila tadi. Rasanya sungguh aneh namun menenangkan. Tak lama kemudian, ia merasakan butiran-butiran energi halus yang tak terhitung jumlahnya melayang di udara. Saat ia menarik napas, butiran-butiran itu ikut tersedot masuk ke seluruh tubuhnya, memberikan sensasi yang sangat menyenangkan.

Xuan Han terus mengulangi proses pernapasan itu. Tubuhnya terasa jauh lebih bertenaga dan pikirannya menjadi tenang.

Melanjutkan perjalanannya, ia akhirnya menemukan undakan tangga batu yang mengarah ke bawah. Ia mengikutinya, dan tak lama kemudian, sayup-sayup terdengar suara rintik hujan. Itu pasti jalan keluar! batinnya. Tangga itu membawanya ke sebuah ruangan luas, yang di ujungnya terdapat tangga lain yang mengarah ke atas.

Itulah pintu keluarnya. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat secercah cahaya. Xuan Han ingin segera berlari keluar, tetapi langkahnya terhenti saat telinganya menangkap suara langkah kaki dan percakapan.

"Kakak Li, sepertinya ini jalan masuk ke gunung itu."

Terdengar suara seorang gadis yang sedikit tersamar oleh suara hujan. Xuan Han menyimak sejenak, dan ia langsung mengenali suara itu. Dengan gembira ia melangkah mendekat. Namun, tiba-tiba seberkas cahaya melesat ke arahnya. Tahu-tahu, sebuah pedang terbang sudah melayang mengancam, tepat beberapa sentimeter dari tenggorokannya.

Bersamaan dengan itu, sebuah suara yang dingin terdengar. "Siapa?"

Mendengar suara itu, ekspresi tegang Xuan Han justru berubah cerah. Dengan bersemangat ia berseru, "Kakak Li, ini aku, Xuan Han!"

...----------------...

"Xuan Han, lihat ini," kata Xiao Meimei.

Gadis itu mengayunkan tangannya dengan gemulai. Segera saja, debu-debu tebal di ruangan itu tersapu ke udara lalu lenyap. Kotoran yang sebelumnya menempel hilang seketika, membuat tempat itu tampak jauh lebih bersih, meskipun struktur bangunannya tetap terlihat tua dan tak terawat.

Beberapa bagian atapnya berlubang akibat tikus, dan pintu-pintunya keropos dimakan rayap.

Ruangan itu memang kumuh dan terbengkalai, tetapi setidaknya tempat ini bisa dibuka dan dijadikan tempat berteduh, tidak tertutup rapat seperti bangunan yang ditemukan Xuan Han sebelumnya. Sepertinya, tempat ini dulunya adalah kediaman orang kaya yang dibangun di dekat gunung batu, namun akhirnya ditinggalkan atau pemiliknya meninggal tanpa pewaris.

Setelah tempat itu bersih, Xiao Meimei menatap Xuan Han dengan ekspresi bangga. "Nanti, jika kamu sudah memiliki aliran Qi, kamu juga bisa melakukan sihir pembersih seperti ini. Kehidupan para peri memang jauh lebih praktis dibandingkan manusia fana."

"Kakak Mei memang hebat."

Xiao Meimei sedikit mendongakkan dagunya, tampak sangat menikmati pujian itu. Di ambang pintu, hujan berangsur-angsur mulai reda. Li Yin, yang sejak tadi berdiri menatap ke arah gunung, akhirnya berbalik dan melangkah masuk. Gadis itu menatap Xuan Han dan bertanya bagaimana ia bisa selamat dari kejaran naga ganas tersebut.

Xiao Meimei ikut menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu dan menimpali, "Betul. Padahal kamu masih manusia fana."

"Hanya keberuntungan. Kakak Li, Kakak Mei, aku hanya beruntung."

Xuan Han tentu saja tidak mau menceritakan kejadian sebenarnya. Kisahnya terlalu panjang dan rahasia itu bisa mengancam nyawanya sendiri. Tapi, ia menambahkan, "Aku kebetulan menemukan sebuah gua, bersembunyi di sana, dan akhirnya bisa keluar dengan selamat. Untung saja di dalamnya tidak ada hewan buas. Setelah itu, saat aku berkelana di hutan, aku malah berpapasan dengan beberapa penjahat. Aku terpaksa bersembunyi lagi ke dalam gua lain. Sialnya, para bandit itu berjaga di luar. Setelah bersusah payah mencari jalan keluar lain dan berlari ke sana kemari, akhirnya aku malah bertemu dengan kalian di sini."

"Tapi gunung itu runtuh," sela Li Yin tajam.

"Ah, iya, runtuh! Tapi aku berhasil selamat," jawab Xuan Han cepat. "Kakak Li, kalian mungkin tidak akan percaya, tapi di tengah keruntuhan itu aku melihat naga itu lagi, dan untungnya aku berhasil lolos!"

"Ke mana perginya naga itu?" tanya Li Yin, alisnya berkerut.

Xuan Han mengingat-ingat, lalu menggeleng pelan. "Aku tidak tahu pasti. Naga itu sepertinya menghilang begitu saja, atau mungkin kembali masuk ke sarangnya di dasar gunung."

Xiao Meimei bergumam takjub, "Xuan Han... bisa selamat dari naga sampai dua kali, sepertinya kamu punya dewa pelindung keberuntungan. Benar begitu?"

Menatap wajah gadis yang penasaran itu, Xuan Han hanya bisa mengangguk canggung. "Aku sendiri juga tidak yakin."

Li Yin hanya menghela napas panjang menanggapi cerita itu. Ia berbalik perlahan dan berkata, "Aku akan keluar mencari kayu bakar."

Xuan Han sedikit terkejut mendengarnya. "Kakak Li, apa Kakak tidak bisa menyalakan api menggunakan Qi? Lagipula di luar masih hujan, bagaimana cara mencari kayu yang kering?"

Xiao Meimei melangkah mendekat lalu menjitak pelan dahi Xuan Han. "Bodoh. Kalau Qi terus-menerus dipakai untuk hal sepele, tenaga kami bisa terkuras habis." Gadis itu kemudian berjalan melewati pintu. "Ayo, kamu ikut denganku mencari makanan."

Xuan Han bertanya bingung, "Ke mana? Di luar masih hujan begini."

"Sudah, ikut saja!" seru Xiao Meimei dengan tidak sabar.

Mau tidak mau, Xuan Han pun mengekor di belakangnya.

Di luar memang masih gerimis, tetapi cahaya keemasan matahari sore sudah mulai menembus awan, menampakkan beberapa petak langit biru. Sebentar lagi hujan pasti akan benar-benar reda. Xuan Han menatap rintik hujan, matanya menangkap sosok Li Yin di kejauhan yang berjalan dengan tenang di bawah naungan payung. Pemandangan itu terasa sedikit janggal, tetapi ia berpikir orang seperti Li Yin pasti punya caranya sendiri.

Sementara itu, Xiao Meimei mengeluarkan dua buah payung dari cincin penyimpanannya. Ia menyerahkan salah satunya kepada Xuan Han. "Ingat, pakainya hati-hati. Itu payung cadanganku. Kalau sampai rusak, kamu harus tanggung jawab."

Gadis itu kemudian membuka payungnya sendiri dan mulai berjalan. Payungnya berwarna merah menyala, tampak sangat indah. Namun, ketika Xuan Han melihat payung yang diberikan kepadanya, ia refleks menaikkan sebelah alisnya lalu memprotes, "Kakak Mei, kenapa payungku warnanya merah muda?"

Gadis itu menghentikan langkahnya lalu berbalik. "Kenapa? Tidak mau pakai? Ya sudah, kembalikan." Ia menyodorkan tangannya.

Xuan Han melirik rintik hujan yang masih turun membasahi bumi. "Jadi, kalau aku kembalikan, aku tidak perlu ikut pergi?" tanyanya penuh harap.

"Tentu saja boleh tidak ikut," Xiao Meimei tersenyum tipis, "Tapi nanti ada hukumannya."

Xuan Han langsung terkejut mendengarnya. "Ok, aku terima saja. Tidak apa-apa warna merah muda. Ini juga kelihatan cantik.”

Dengan terburu-buru, Xuan Han membuka payung merah mudanya dan setengah berlari menyusul Xiao Meimei.

1
Budiarsa
Maaf ya jika membingungkan🙏 bab itu menceritakan Xuan Han menjadi pohon dab masuk dalam dunia ilusi
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
cerita nya membingungkan thor susah di pahami alurnya kemana...????🤔🤔🤔
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
nyimak
Pena Quality
saling support
Budiarsa: Terima kasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!