NovelToon NovelToon
Lamaran Yang Bukan Untukku

Lamaran Yang Bukan Untukku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Konglomerat berpura-pura miskin / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefin Eka Ramana Putri

Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Langkah Menuju Takdir

Kabar yang baru saja dibawa oleh Aloy seakan membuka lembaran baru yang selama ini tertutup rapat dalam hidup Cynthia. Di bawah langit senja yang mulai memerah, Cynthia berdiri terpaku mendengar setiap kalimat yang terucap dari bibir pria itu. Bahwa ia bukan anak yang dibuang, bukan anak yang tak diinginkan, melainkan putri kandung dari keluarga paling terhormat, paling kaya, dan paling dicari keberadaannya selama belasan tahun — Keluarga Hutapea.

Namun kebahagiaan yang menyelinap di hatinya seketika bercampur dengan rasa takut yang mendalam. Jantungnya berpacu kencang seakan hendak melompat keluar. Bagaimana nanti saat ia berdiri di hadapan orang tua kandungnya sendiri? Apakah mereka akan mempercayainya begitu saja? Atau justru mengusirnya dengan kasar, menganggapnya wanita penipu yang ingin memanfaatkan nama besar keluarga mereka?

Di tepi sungai yang tenang, tempat mereka sering bertemu dan berbagi cerita, Cynthia menggenggam erat selembar foto bayi yang sudah mulai menguning dan sebuah buku harian bersampul kulit peninggalan Ibu kandung Karen. Jemarinya meremas sedikit karena gugup, sementara pandangannya menerawang jauh ke arah air yang mengalir perlahan.

"Aloy..." suaranya terdengar bergetar, hampir tak terdengar oleh telinga. "Aku takut. Jika ternyata mereka tak mempercayai ucapanku... jika mereka menatapku dengan pandangan kebencian... jika mereka menganggapku pembohong yang mengaku-ngaku... apa yang harus kulakukan?"

Aloy menatap wanita itu lekat-lekat, penuh ketulusan yang tak pernah diragukan. Langkahnya mendekat, lalu ia mengusap lembut puncak kepala Cynthia, seakan menenangkan segala badai yang sedang berkecamuk di hati wanita itu. Setelah itu, ia menggenggam kedua tangan Cynthia yang dingin dan berkeringat, menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu.

"Jangan takut, Cynthia. Kebenaran pasti akan terungkap pada waktunya. Bawalah foto dan buku harian itu sebagai bukti. Ceritakan semuanya dengan jujur, dari hati yang paling dalam. Orang tua kandungmu telah mencarimu setiap hari, setiap malam, selama belasan tahun. Kerinduan seorang ibu kepada anak kandungnya yang hilang tak akan pernah bisa dibohongi oleh siapa pun. Percayalah pada naluri hatimu. Biarkan hatimu yang berbicara."

Cynthia mengangguk perlahan. Kata-kata Aloy seakan menenangkan badai yang menggelora di dadanya. Namun saat ia meminta Aloy menemaninya menemui Keluarga Hutapea, seakan ada dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka. Pria itu tampak menunduk sedih, sorot matanya berubah sendu.

"Andai aku bisa mendampingimu masuk ke dalam rumah megah itu... pasti akan kulakukan tanpa ragu sedetik pun. Namun sayang, urusan mendesak yang tak bisa kutunda memaksaku berangkat ke luar kota sore ini. Aku berjanji, secepat urusanku selesai, secepat kakiku melangkah pulang, aku akan segera datang menjemputmu."

Cynthia menelan kesedihannya yang tiba-tiba muncul. Ia mengerti, Aloy tak bermaksud meninggalkannya sendirian di saat yang paling berat ini. Wanita itu tersenyum tipis, berusaha terlihat tegar meski matanya berkaca-kaca.

"Baiklah... aku mengerti. Aku akan pergi sendiri. Percayalah, aku akan berusaha sekuat tenaga. Aku akan berani."

"Kau wanita yang jauh lebih kuat dari yang kau kira, Cynthia. Ingatlah selalu hal ini: di mana pun kau berada, seberapa jauh jarak memisahkan kita... hatiku selalu bersamamu." Aloy mengusap pipi wanita itu lembut dengan punggung jarinya, menatapnya lekat seakan tak ingin berpisah terlalu lama. "Hati-hati dalam setiap langkahmu. Dan jika sesuatu terjadi... jika kau merasa tak berdaya... tunggulah kabar dariku. Aku akan segera kembali."

Mereka berpisah sore itu dengan perasaan berat di dada. Cynthia melangkah sendirian menuju kediaman Keluarga Hutapea — rumah megah yang berdiri kokoh di atas bukit yang permai, tempat yang selama ini hanya ia dengar namanya dari bisik-bisik orang, tempat yang seharusnya menjadi rumahnya sejak lahir.

Sementara itu, di balik pepohonan rimbun yang tak jauh dari tempat mereka berpisah, sepasang mata tajam telah mengawasi setiap gerak-gerik Cynthia sejak tadi. Ibu kandung Karen ternyata diam-diam membuntuti pergerakan Cynthia. Hatinya berdegup kencang penuh kecurigaan. Mengapa Cynthia tampak begitu bersemangat dan penuh harap? Ke mana ia hendak pergi dengan wajah begitu berani?

Saat melihat Cynthia berjalan tegak menuju arah kediaman Keluarga Hutapea yang megah itu, wajah Ibu kandung Karen seketika berubah pucat pasi seakan tak berdarah. Ia menyadari rencananya selama belasan tahun terancam bahaya besar. Tanpa menunggu lagi, ia segera bergegas pulang dengan napas terengah-engah. Di kepalanya yang licik mulai tersusun rencana jahat yang jauh lebih kejam dan keji dari sebelumnya. Ia tak akan membiarkan Cynthia mengambil apa yang selama ini ia rencanakan dengan susah payah.

Sesampainya di rumah, dengan tangan gemetar Ibu kandung Karen membuka lemari besi tua yang tersembunyi di sudut kamarnya. Di sana, tersimpan sebuah kalung berhias berlian yang indah luar biasa — kalung yang bentuknya terbelah menjadi dua bagian, berbentuk separuh hati yang saling melengkapi. Satu bagian melingkar di leher Ibu kandung Cynthia sejak bayi, dan satu bagian lainnya... kini diambilnya dengan tangan gemetar karena cemas.

"Karen! Cepat datang ke sini sekarang!" serunya melengking memanggil putri kandungnya.

Karen datang dengan wajah bingung dan sedikit malas. "Ada apa, Bu? Kenapa wajah Ibu begitu pucat dan terlihat panik?"

Ibu kandung Karen menyambar tangan putrinya dengan kasar namun cepat, lalu menyelipkan dan mengaitkan kalung berlian itu ke leher Karen dengan gerakan cekatan. Matanya menatap tajam lurus ke manik mata putrinya seakan ingin menanamkan sesuatu ke dalam jiwa.

"Dengarkan baik-baik setiap kata yang akan kukatakan, Karen. Cynthia sedang dalam perjalanan menuju rumah Keluarga Hutapea. Ia hendak mengaku sebagai putri kandung mereka. Kalau ia berhasil masuk dan dipercaya... kita berdua akan hancur. Segala kemewahan, kedudukan, dan kehormatan yang seharusnya menjadi milikmu... akan dirampas olehnya dari tangan kita."

Wajah Karen seketika berubah pucat pasi mendengar itu. "Lalu... apa yang harus kulakukan, Bu?"

Ibu kandung Karen tersenyum sinis, namun matanya menyembunyikan kejahatan sedalam lautan.

"Kau akan ikut bersamaku. Kita akan mendahuluinya sampai di sana. Saat Cynthia mulai bercerita dengan air mata... kau akan berdiri di hadapan mereka sambil memperlihatkan kalung ini dengan bangga. Menangislah. Beraktinglah seakan kau adalah anak yang rindu berpulang kepada orang tua kandungnya setelah berpisah belasan tahun yang menyakitkan. Kalung ini adalah penanda yang tak akan dibantah oleh siapa pun. Mereka pasti akan mempercayaimu lebih dari siapa pun."

Karen menatap pantulan berlian di lehernya dengan mata berbinar bercampur takut. "Apakah... mereka akan mempercayainya begitu saja, Bu?"

"Mereka pasti akan percaya. Kalung penanda ini adalah bukti yang tak bisa dibantah dengan ucapan apa pun. Percayalah padaku, Karen. Segala kemewahan dan kehormatan itu... adalah milikmu yang sah. Jangan pernah biarkan Cynthia merebutnya dari tanganmu."

Karen mengangguk mantap. Di dadanya kini bukan lagi rasa takut, melainkan tekad yang membara bercampur ambisi. Ia akan berjuang mempertahankan segala yang dikatakan ibunya sebagai miliknya.

Di saat yang sama, Cynthia melangkah mendekati gerbang megah Keluarga Hutapea dengan langkah yang perlahan namun pasti. Jantungnya berpacu kencang seakan hendak meledak. Di tangannya, ia menggenggam erat foto bayi dan buku harian itu sebagai satu-satunya bukti yang ia miliki. Tanpa ia ketahui sedikit pun, dua orang yang selama ini ia anggap keluarga dan tempat berlindung... sedang bersiap menghancurkan kebenaran yang hendak ia sampaikan. Pertemuan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya... ternyata telah diatur sedemikian rupa untuk menjadi awal dari penderitaan yang jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya.

1
Sefin Eka Ramana Putri
Luar biasa! Alur cerita yang terus berkembang dan penuh kejutan. Saya sangat terkesan dengan bagaimana penulis menggambarkan perasaan masing-masing karakter — rasa sakit, rindu, dendam, dan cinta tulus yang tak pernah padam. Cynthia adalah wanita yang sangat kuat, dan Aloy adalah bukti bahwa pria baik hati memang ada. Bagaimana dengan kalian? Bagian mana yang paling membuat kalian tak sabar menanti kelanjutan ceritanya? Yuk bagikan pendapatmu di kolom komentar! 👇✨
pineapple
semangat kak, kalo berkenan ku tunggu kunjungan nya hehe
Sefin Eka Ramana Putri: ok kak. siap. terima kasih sudah mampir. ntar saya balik berkunjung ke novel kak ya..😊🙏
total 1 replies
Dini
jangan lupa mampir dan komentar di karyaku #Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Sefin Eka Ramana Putri: ok kak. siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!