menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.
akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.
apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INSIDEN CELEMEK TERBALIK
Pagi di rumah Meguro diawali dengan suasana yang tidak biasa. Di dapur yang biasanya bersih, rapi, dan serba teratur, Profesor Akira berdiri tegap mengenakan celemek bayi berwarna merah muda bermotif kelinci—yang ukurannya jelas terlalu kecil dan hampir mencekik leher jangkungnya.
Di depannya, tiga jenis mangkuk silikon berisi bubur saring berwarna hijau, kuning, dan oranye berjejer rapi bagaikan barisan sampel uji. Kacamata baca Akira bertengger di ujung hidung, sementara tangannya memegang sendok plastik mungil dengan cengkeraman mantap, seolah siap melakukan pembedahan presisi tinggi.
Yuki yang baru saja turun dari lantai atas dengan rambut sedikit acak-acakan menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu dapur. Pandangannya terkunci pada sosok suaminya.
"Akira... kamu pakai celemek punya Sena?" tanya Yuki dengan nada menahan tawa yang amat sangat.
Akira menoleh datar, merapikan letak kacamata dengan jari kelingkingnya tanpa rasa canggung atau malu sedikit pun. "Celemek kain milik Sena habis karena insiden air liur tadi pagi. Ini adalah satu-satunya pelindung pakaian yang tersisa di lemari. Secara fungsi, kain ini tetap efektif mencegah noda makanan mengenai kemeja kerjaku."
Pemandangan seorang Head of Biomedical Research berbadan tegap dan berwajah dingin yang memakai celemek bayi berpita mungil di lehernya benar-benar merusak seluruh pertahanan Yuki. Tawa Yuki pecah seketika, menggema riang memenuhi seluruh ruangan. Ia sampai harus memegangi perutnya yang geli, bahkan bersandar di kusen pintu karena kakinya lemas menahan tawa.
"Astaga, Akira! Kamu kelihatan seperti maskot toko perlengkapan bayi yang kebesaran!" gelak Yuki seraya buru-buru mengambil ponsel dari saku gaun rumahnya. Tanpa membuang waktu, ia mengabadikan pemandangan langka itu dalam beberapa jepretan foto.
"Yuki, tolong jaga profesionalitas di dapur," ujar Akira datar, meski ada rona merah tipis yang menjalar di kedua pipinya. "Kita sedang menghadapi fase krusial: pemberian Makanan Pendamping ASI pertama untuk Sena. Keberhasilan transisi ini menentukan stabilitas nutrisinya."
Sena yang duduk di kursi makan khususnya (high chair) ikut menepuk-nepuk mejanya antusias. Bayi mungil itu tertawa melengking melihat ibunya tertawa terbahak-bahak, seolah mengerti betul bahwa ayahnya sedang menjadi objek lelucon utama pagi ini.
"Baik, baik, maafkan aku," ujar Yuki sambil mengusap air mata di sudut matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa. Ia mendekati Akira dan mengusap-usap bahu kokoh suaminya yang masih terbungkus celemek kelinci merah muda. "Jadi, Chef Profesor hari ini masak apa untuk putri kecilnya?"
Akira berdeham pelan, berusaha mengembalikan wibawa kepemimpinannya yang agak koyak. Ia menunjuk mangkuk pertama dengan sendok plastik. "Ini puree alpukat. Teksturnya sudah kusesuaikan dengan standar konsistensi tingkat pertama. Peluang alerginya juga paling minimal."
Akira mengambil sedikit puree alpukat, lalu melangkah mantap mendekati Sena. Ia berlutut di samping kursi makan bayinya agar sejajar. "Sena, buka mulutmu. Buka seperti ini: Aaaa..."
Akira memperagakan membuka mulutnya lebar-lebar dengan ekspresi wajah yang amat sangat serius—mirip seorang peragawan klinis. Namun, bukannya meniru dan membuka mulut, Sena justru menatap ayahnya dengan cengir heran, lalu...
Pfft!
Sena menyemburkan air liurnya tepat ke arah wajah Akira!
Cipratan puree alpukat berwarna hijau muda hinggap mulus di pipi kiri sang Profesor dan meninggalkan noda tebal di lensa kaca matanya.
Suasana dapur mendadak hening seketika selama tiga detik. Akira membeku di tempat, masih dengan posisi berlutut, sendok plastik menggantung kaku di udara, dan mulut yang setengah terbuka.
Yuki yang menyaksikan adegan tragis namun kocak itu secara langsung tidak sanggup lagi berdiri. Ia terduduk di lantai dapur, tertawa sampai tubuhnya melipat dan napasnya tersengal-sengal. "Bwahahaha! Akira! Respons Sena cepat sekali! Ditolak mentah-mentah di uji coba pertama!"
"Ini bukan penolakan, Yuki," sahut Akira tenang, meskipun ada gumpalan puree alpukat hijau yang perlahan meleleh jatuh dari pipinya. Pria itu melepas kaca matanya dengan gerakan lambat yang dramatis, lalu mengelap lensanya menggunakan tisu dapur. "Ini hanya reorientasi motorik oral. Otot lidahnya belum terbiasa dengan rangsangan tekstur baru."
"Iya, iya! Reorientasi motorik yang bikin mukamu penuh alpukat!" goda Yuki sambil terus terkekeh. Ia mengambil alih sendok plastik dari tangan Akira yang masih mematung. "Sini, biar aku tunjukkan cara yang benar tanpa teori rumitmu itu."
Yuki mengambil sedikit puree alpukat yang baru dari mangkuk, lalu menggeser posisinya berlutut di depan Sena. Yuki menatap bayinya dengan binar mata hangat dan mulai berbicara dengan nada bernyanyi yang ceria. "Sena-chan... lihat, ada pesawat helikopter mau masuk ke dalam goa... Wuuut... Aaaam!"
Sena tertawa kegirangan mendengar suara ibunya. Bayi itu membuka mulutnya lebar-lebar dengan antusias dan melahap puree alpukat dari sendok Yuki tanpa ragu. Ia mengunyahnya pelan dengan gusi mungilnya, menunjukkan ekspresi puas yang sangat menggemaskan.
Akira menatap kejadian itu dengan alis berkerut dalam. Ia benar-benar heran mengapa metodenya yang diperagakan dengan artikulasi anatomis sempurna kalah total oleh trik "suara pesawat helikopter" buatan istrinya.
"Bagaimana bisa simulasi suara turbulensi pesawat lebih efektif daripada peragaan artikulasi mulut yang presisi?" gumam Akira dengan nada bingung, seraya membersihkan sisa alpukat di pipinya dengan kain lap.
Yuki makin tertawa lebar melihat raut wajah suaminya yang tampak 'terluka' secara akademis hanya karena dikalahkan oleh strategi sederhana seorang ibu. "Karena mengasuh anak itu pakai perasaan dan suasana menyenangkan, Profesor! Bukan pakai panduan manual atau teori anatomi!"
Yuki kemudian menyendokkan puree alpukat lagi dan menyerahkan sendok itu pada Akira. "Nih, coba lagi. Kali ini pakai suara mobil balap!"
Akira menatap sendok di tangannya, lalu menatap Yuki yang menyunggingkan senyum jahil. Pria itu menghela napas pasrah. Dengan canggung, Akira mendekatkan sendok ke mulut Sena dan mencoba mengeluarkan suara yang sangat asing bagi lidah akademisnya.
"Broom... broom... Buka mulutmu, Sena."
Sena terkikik geli melihat ekspresi kaku ayahnya yang berusaha membuat suara mobil. Bayi itu akhirnya mau membuka mulutnya dan melahap makanan dari tangan ayahnya.
"Berhasil!" seru Yuki gembira sambil bertepuk tangan pelan.
Akira memandangi jemari mungil Sena yang kini belepotan alpukat dan berusaha meraih jarinya. Perlahan tapi pasti, sudut bibir Akira terangkat membentuk senyuman hangat. Kekonyolannya pagi ini—termasuk celemek merah muda yang bertengger di lehernya dan noda alpukat di wajahnya—bernilai setimpal demi melihat dua wanita kesayangannya tertawa sebahagia ini.
"Baiklah," ujar Akira sambil melepas celemek bayi merah mudanya. "Aku mengaku kalah untuk simulasi pagi ini. Tapi untuk menu esok hari, aku akan menyiapkan analisis nutrisi yang lebih baik."
"Terserahmu saja, Profesor!" sahut Yuki seraya mengecup pipi Akira yang masih terasa sedikit lengket, meninggalkan jejak tawa manis yang menghangatkan seluruh ruang dapur mereka.