NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 — RASA YANG MULAI TUMBUH

Sinar matahari pagi menyelinap masuk dari celah tirai jendela, jatuh lembut menyentuh wajah wanita yang perlahan membuka matanya. Ia mengerjap pelan, menatap langit-langit kamar yang sama seperti biasanya, namun entah mengapa pagi ini terasa berbeda. Hatinya tidak lagi terasa berat dan sesak seperti pagi-pagi sebelumnya. Perasaan yang menyelimuti hatinya pagi ini justru terasa ringan dan tenang, seolah beban berat yang ia pikul selama ini perlahan terangkat begitu saja tanpa disadari.

Ia berbalik perlahan menatap ke arah sofa di sisi lain ruangan. Tempat itu kini sudah kosong. Selimut tipis yang digunakan semalam telah dilipat rapi dan diletakkan di atas sandaran sofa. Tidak ada siapa pun di sana. Wanita itu terdiam sejenak menatap lipatan selimut yang rapi itu. Hatinya tiba-tiba terasa kosong dan sedikit kecewa karena tidak melihat sosok pria itu saat ia membuka mata. Namun tak lama kemudian, samar-samar terdengar suara lembut dari arah luar kamar. Suara pintu yang tertutup pelan, lalu langkah kaki yang menjauh dengan tenang.

Wanita itu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia duduk di tepi tempat tidur, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu pandangannya jatuh ke atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Di sana, tergeletak secarik kertas putih yang dilipat rapi. Hatinya berdebar pelan. Ia meraih kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu membukanya perlahan. Tertulis tulisan tangan yang rapi dan indah, dengan tinta hitam yang jelas dan tegas.

"Selamat pagi. Aku sudah menyiapkan sarapan di meja makan. Jangan lupa makan sebelum berangkat. Hati-hati di jalan."

Hanya itu. Hanya beberapa kalimat sederhana. Namun entah mengapa membaca tulisan itu, seketika itu pula hatinya terasa hangat dan matanya sedikit berkaca-kaca. Tidak ada kata-kata berlebihan. Tidak ada pernyataan yang menyentuh hati secara langsung. Namun perhatian yang tulus tersirat jelas di dalam barisan tulisan yang singkat itu. Pria itu pergi tanpa membangunkannya, tanpa menuntut ucapan terima kasih, dan tanpa mengharapkan apa pun sebagai balasannya. Ia hanya meninggalkan pesan singkat itu dan pergi dengan tenang.

Wanita itu menggenggam kertas itu erat di dadanya. Senyum tipis perlahan terukir di bibirnya. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan ini terjadi, pagi ini terasa begitu hangat dan begitu indah.

Ia segera bangkit dan bersiap. Setelah selesai merapikan diri, ia berjalan keluar kamar menuju ruang makan. Aroma masakan yang lezat dan hangat langsung menyambut penciumannya begitu ia melangkah masuk. Di atas meja makan yang panjang dan megah itu, terhidang sarapan yang masih mengepul hangat. Dan di ujung meja, duduk sosok pria itu dengan tenang sambil membaca berita di ponselnya. Mendengar langkah kaki mendekat, pria itu mendongak dan menatapnya. Sebuah senyum lembut terukir di wajahnya begitu melihat istrinya berdiri di sana.

"Selamat pagi," ucapnya dengan suara yang tenang dan ramah, persis seperti tulisan yang ditinggalkannya tadi.

Wanita itu berhenti sejenak di tempatnya. Jantungnya berdebar tak menentu saat bertatapan langsung dengannya. Ia menelan ludah pelan, lalu dengan suara yang sedikit lembut dan belum pernah terdengar sebelumnya, ia menjawab.

"Selamat pagi..."

Pria itu tampak sedikit terkejut mendengar jawaban itu. Namun ia segera tersenyum kembali dan mengangguk pelan.

"Duduklah dan makanlah selagi masih hangat," ucapnya sambil menunjuk kursi di seberangnya. "Aku sudah makan lebih awal. Jadi silakan nikmati saja."

Wanita itu berjalan perlahan mendekat dan duduk di kursi yang ditunjuk. Ia menatap makanan yang tersaji di hadapannya. Semua makanan itu adalah makanan kesukaannya. Hal yang bahkan ia sendiri lupa kapan terakhir kali menyebutkannya. Namun pria itu tahu. Ia mengingatnya. Hati wanita itu kembali terasa hangat menyadari hal itu.

"Terima kasih..." ucapnya pelan sambil menunduk menatap mangkuk berisi bubur hangat yang mengepul. "Terima kasih untuk sarapannya... dan terima kasih untuk pesannya tadi..."

Pria itu terdiam sejenak. Ia menatap istrinya yang sedang menunduk itu dengan pandangan yang lembut dan penuh kelembutan.

"Tidak perlu berterima kasih untuk hal seperti ini," jawabnya pelan. "Itu sudah seharusnya kulakukan. Kau adalah istriku. Merawat dan menjagamu adalah kewajibanku. Dan aku melakukannya dengan sukarela."

Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dan mulai menyantap sarapannya perlahan. Makanan itu terasa begitu lezat dan begitu hangat, mengalir lembut di tenggorokannya hingga ke perut. Namun yang jauh lebih hangat justru adalah hatinya. Setiap suapan yang ditelan terasa menyertakan kehangatan yang perlahan merambat ke seluruh tubuhnya. Ia makan dalam diam, namun suasana keheningan pagi itu sama sekali tidak terasa canggung atau menyesakkan. Justru terasa damai dan menyenangkan.

Setelah selesai makan, wanita itu berdiri dan hendak berangkat. Namun sebelum melangkah pergi, ia berhenti sejenak dan menatap pria itu yang masih duduk tenang di kursinya.

"Aku berangkat dulu," ucapnya pelan dengan nada yang jauh lebih lembut dan ramah dibandingkan biasanya.

Pria itu berdiri perlahan dan mengangguk.

"Hati-hati di jalan," ucapnya dengan senyum yang tulus. "Dan jangan lupa makan siang tepat waktu. Jangan terlalu lelah."

Wanita itu mengangguk pelan. Jantungnya berdebar tak menentu mendengar perhatian yang begitu tulus itu.

"Kau juga..." jawabnya pelan sebelum berbalik melangkah pergi. "Jangan lupa makan..."

Pria itu terpaku sejenak di tempatnya mendengar kalimat itu. Matanya menatap punggung istrinya yang melangkah pergi perlahan menuju pintu keluar. Perlahan senyum di wajahnya melebar. Tatapannya tampak begitu bahagia dan begitu bersyukur seolah baru saja menerima anugerah terindah di dunia ini.

Di dalam mobil yang melaju perlahan menuju kantor, wanita itu masih belum bisa menenangkan detak jantungnya yang tak menentu. Pikirannya terus kembali kepada wajah pria itu dan kata-katanya yang begitu lembut pagi tadi. Selama perjalanan, bayangan senyum pria itu terus muncul di kepalanya. Dan entah mengapa, setiap kali teringat senyum itu, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum yang tak disadari.

Ia menyadari satu hal yang mulai terjadi pada dirinya. Sesuatu yang perlahan namun pasti mengubah cara pandangnya terhadap pria yang dinikahinya itu. Sesuatu yang tumbuh begitu halus namun begitu kuat di dalam hatinya yang selama ini beku dan tertutup rapat.

Sesampainya di kantor, sepanjang hari itu pun ia terus terbayang-bayang akan wajah pria itu. Ia yang biasanya selalu cemberut dan dingin, hari ini justru tampak tenang dan sering tersenyum sendiri tanpa sebab yang jelas. Rekan kerjanya pun merasa heran melihat perubahan yang terjadi padanya. Namun ia hanya tersenyum malu dan mengalihkan pembicaraan.

Saat jam pulang akhirnya tiba, hatinya justru merasa berdebar tak menentu. Sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalanya. Apakah dia akan menungguku pulang? Apakah dia masih ada di rumah? Apakah dia akan tersenyum padaku seperti tadi pagi?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sepanjang perjalanan pulang. Dan semakin mendekati rumah, semakin cepat pula detak jantungnya berpacu. Ia bahkan merasa sedikit cemas dan malu sendiri karena merasakan perasaan yang begitu asing namun begitu menyenangkan ini.

Sesampainya di rumah, ia melangkah masuk dengan langkah yang sedikit ragu-ragu. Ruang tamu tampak sepi. Namun samar-samar terdengar suara dari arah ruang kerja. Pintu ruangan itu sedikit terbuka. Ia melangkah mendekat perlahan, lalu mengintip dari celah pintu yang terbuka itu.

Di dalam ruangan itu, pria itu sedang duduk di belakang meja kerjanya sambil menatap tumpukan dokumen di hadapannya. Cahaya lampu yang temaram menyinari wajahnya yang tampak serius namun tetap tenang. Wajah yang sedari tadi terus membayangi pikirannya sepanjang hari. Hati wanita itu kembali berdebar hebat melihatnya. Ia berdiri mematung di depan pintu, tak berani melangkah masuk maupun melangkah pergi.

Namun seolah merasakan kehadirannya, pria itu tiba-tiba mendongak dan menatap ke arah pintu. Saat melihat istrinya berdiri di sana dengan wajah yang sedikit canggung dan merah merona, ia segera meletakkan pena di tangannya dan berdiri perlahan.

"Kau sudah pulang?" tanyanya dengan nada yang tetap lembut dan ramah. Ia berjalan mendekat dan membukakan pintu lebar-lebar. "Maaf aku tidak menyambutmu di depan. Aku sedang sedikit sibuk."

Wanita itu menggeleng pelan. Ia menunduk sedikit agar pria itu tidak melihat wajahnya yang semakin merah karena malu.

"Tidak apa-apa..." jawabnya pelan. "Jangan minta maaf. Aku mengganggumu..."

Pria itu tersenyum tipis dan menggeleng pelan.

"Kau tidak pernah menggangguku," ucapnya tulus. "Keberadaanmu di sini justru membuatku merasa lebih bersemangat. Sudah makan malam? Atau ingin aku menyiapkannya sekarang?"

Wanita itu mendongak perlahan menatap matanya. Matanya yang teduh menatapnya penuh kelembutan dan perhatian yang tulus. Hatinya meleleh seketika di bawah tatapan itu.

"Belum..." jawabnya pelan. "Tapi... biarlah aku saja yang menyiapkannya. Atau kita pesan saja. Kau masih sibuk, kan?"

Pria itu terdiam sejenak. Ia tampak sedikit terkejut mendengar tawaran itu. Selama ini istrinya tak pernah sekalipun menawarkan bantuan atau memedulikan apa yang ia lakukan. Namun hari ini... segalanya terasa begitu berbeda.

Pria itu tersenyum lembut dan menggeleng pelan.

"Tidak perlu," jawabnya pelan. "Aku tidak sibuk lagi. Tunggu sebentar saja di ruang tamu. Aku akan segera menyiapkannya."

"Tidak..." wanita itu tiba-tiba menahan lengan pria itu pelan. Kesadaran akan apa yang baru saja ia lakukan membuatnya tersentak dan hendak menarik tangannya kembali. Namun pria itu justru menatap tangannya yang menyentuh lengan itu dengan pandangan yang lembut dan hangat, lalu kembali menatap wajahnya.

"Aku serius..." ucap wanita itu dengan suara yang sedikit bergetar namun tegas. "Biarlah aku saja. Sebagai... sebagai balasan untuk sarapan pagi tadi. Izinkan aku sekali saja..."

Pria itu menatapnya lekat-lekat. Di matanya tampak keharuan yang begitu dalam. Perlahan ia mengangguk pelan.

"Baiklah..." ucapnya pelan. "Kalau itu yang kau inginkan. Aku menunggumu di ruang makan."

Wanita itu mengangguk pelan lalu berjalan menuju dapur dengan jantung yang berpacu cepat. Di dalam dapur, ia menyandarkan punggungnya ke dinding sejenak sambil memegangi dadanya. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga terasa sesak. Namun di saat yang sama, ada rasa bahagia dan hangat yang menyelimuti hatinya. Rasa yang begitu asing namun begitu indah untuk pertama kalinya ia rasakan.

Ia segera mulai bergerak menyiapkan makanan. Tangannya yang sedikit gemetar berusaha sebaik mungkin menyiapkan hidangan yang sederhana namun penuh ketulusan. Ia ingin melakukan sesuatu untuk pria itu. Sesuatu yang sederhana namun tulus, sebagai tanda terima kasih dan permintaan maaf atas segala perlakuan buruknya selama ini.

Tak lama kemudian, makanan pun tersaji di atas meja makan. Sederhana namun terasa begitu hangat. Wanita itu berdiri di sisi meja sambil menatap pria itu yang duduk menunggu dengan tenang.

"Silakan..." ucapnya pelan sambil menunduk malu. "Maaf jika tidak sebagus buatanmu..."

Pria itu tidak langsung makan. Ia menatap hidangan di hadapannya, lalu menatap wanita itu dengan pandangan yang begitu lembut dan penuh keharuan. Perlahan ia mengambil sendok dan mencicipi makanan itu. Matanya tak lepas dari wajah istrinya yang menatapnya dengan penuh harap dan cemas.

"Enak..." ucapnya dengan senyum yang begitu tulus dan begitu bahagia. "Sangat enak. Terima kasih..."

Wanita itu menatapnya lekat-lekat. Melihat senyum bahagia di wajah pria itu seketika itu pula membuat hatinya terasa penuh dan bahagia. Rasa bahagia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa yang muncul begitu saja saat melihat seseorang yang berharga tersenyum karena dirinya.

"Makanlah..." ucapnya pelan sambil ikut duduk di hadapannya. "Semoga kau suka..."

Malam itu mereka makan bersama dalam keheningan yang hangat dan menyenangkan. Tidak ada kata-kata yang berlebihan. Tidak ada percakapan yang mendalam. Namun di antara mereka, terjalin sesuatu yang baru. Sesuatu yang perlahan tumbuh dan menyatukan dua hati yang sempat terpisah jauh. Sesuatu yang disebut dengan perasaan. Perasaan yang hangat, tulus, dan penuh harapan.

Setelah makan malam selesai, pria itu menatap istrinya yang sedang membereskan meja dengan pandangan yang penuh kelembutan dan rasa syukur.

"Terima kasih..." ucapnya pelan. "Ini adalah malam terbaik dalam hidupku."

Wanita itu berhenti sejenak. Ia mendongak menatapnya. Wajahnya kembali memerah merona. Namun kali ini ia tidak menunduk dan tidak memalingkan wajahnya. Ia menatap mata pria itu lekat-lekat, lalu perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang paling indah dan tulus yang pernah ia berikan kepadanya.

"Aku juga..." jawabnya pelan namun jelas. "Malam ini... terasa sangat indah bagiku juga."

Pria itu tersenyum mendengarnya. Senyum yang begitu menenangkan hati siapa pun yang melihatnya. Dan di bawah cahaya lampu ruang makan yang hangat itu, dua hati itu perlahan mulai menyatu. Rasa yang selama ini terkunci rapat akhirnya mulai tumbuh. Dan perjalanan panjang menuju kebahagiaan yang sesungguhnya pun baru saja dimulai.

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!