NovelToon NovelToon
Young Master Vincentes

Young Master Vincentes

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.

Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.

Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng di Balik Senyuman

Kereta kuda berhenti dengan hentakan lembut di halaman depan kediaman keluarga Sienta. Pintu gerbang besi berukir ular naga terbuka lebar, menyambut kedatangan tamu tak diundang. Grey menarik napas dalam-dalam, merapikan kerah jasnya, dan hendak turun—

Namun, matanya menangkap sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak.

Di taman samping kediaman, di bawah pohon sakura putih yang bermekaran, Keilla Sienta tampak berjalan dengan seorang pemuda. Rambut hitam pekatnya tergerai lembut tertiup angin, dan di wajahnya—wajah yang selama ini ia kenal hanya bisa tersenyum dingin dan dipaksa—kini merekah senyum cerah. Senyum yang tulus. Senyum yang tidak pernah ia lihat untuk dirinya.

Keilla menggandeng erat lengan pemuda itu, sesekali tertawa kecil mendengar sesuatu yang dibisikkan oleh pria di sampingnya. Matanya berbinar—bukan kebiruan dingin yang biasa ia tunjukkan pada Grey, tetapi hangat, lembut, penuh cinta.

Grey terdiam. Dadanya terasa ditusuk ribuan jarum.

"Sialan..."

Darahnya mendidih. Kepalanya terasa panas. Tanpa sadar, tangannya mengepal erat hingga kuku menusuk telapak tangan.

"Ternyata dugaanku benar..." gumamnya dengan suara serak, mata membelalak penuh amarah. "Keilla tidak mencintaiku. Dasar—"

Ia hendak melompat turun dari kereta, berniat menghajar pemuda itu dengan tinjunya sendiri. Namun sebelum kakinya menyentuh tanah, sebuah pukulan keras mengenai betisnya.

Bruk!

Grey hampir tersungkur jika tidak segera ditahan oleh Vega. Sahabatnya itu menariknya kembali ke dalam kereta dengan gerakan cepat dan sigap, menutup tirai jendela agar tidak ada yang melihat mereka dari luar.

"Grey!" bisik Vega dengan suara mendesis. "Kau jangan ketahuan! Tahan emosimu! Kita bisa habis kalau sampai membuat keributan di markas musuh!"

Grey terhuyung di kursinya, lututnya gemetar karena amarah dan pukulan tadi. Ia menatap Vega dengan mata merah menyala.

"Kau lihat itu? Dia tersenyum padanya, Vega! Dia tertawa! Aku tidak pernah—dia tidak pernah—"

"Aku tahu, aku tahu." Vega mengangkat kedua tangannya, mencoba menenangkan temannya. "Tapi kau harus berpikir jernih. Jika kau bertindak gegabah di sini, kau bukan hanya akan mempermalukan dirimu sendiri—tapi seluruh keluarga Vincentes."

Grey menggigit bibirnya hingga hampir berdarah. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan keras. Namun perlahan, ia mulai menenangkan diri.

"Keilla..." pikirnya, hatinya terasa sakit luar biasa. "Selama ini kau hanya berpura-pura?"

Ia mengingat semua momen—senyum Keilla yang dingin di acara pertunangan, tatapannya yang kosong saat mereka bertatapan mata, tangannya yang kaku saat digenggam. Semua tanda itu sudah ada di depannya, tetapi ia terlalu buta untuk melihatnya.

Grey mengepalkan tangannya, tekad baru membara di dadanya.

"Baiklah," ucapnya pelan, suaranya dingin dan datar. "Jika aku tidak bisa bersama Keilla... maka aku hancurkan saja keluarga Sienta dari dunia ini."

Vega menatap Grey dengan sorot prihatin. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Sejak awal, ia tahu hubungan ini adalah bencana yang tertunda.

"Sudah kubilang, kan?" Vega menghela napas panjang. "Cinta itu tiada deritanya. Dulu aku selalu memperingatkanmu agar tidak mengejar Keilla. Tapi kau keras kepala. Lihat sekarang—kau sudah tahu semuanya."

Grey tidak menjawab. Matanya tetap menatap kosong ke arah jendela yang tertutup tirai.

Vega menggelengkan kepala. Sebenarnya, ia sudah lama tahu tentang hubungan Keilla dan Alarga Pigeinta—seorang bangsawan dari keluarga kerajaan Divente. Informasi itu ia dapatkan dari mata-mata kerajaan yang bertugas di perbatasan. Tapi ia memilih diam, karena Grey terlalu keras kepala untuk mendengarkan siapa pun.

"Maafkan aku, kawan," pikir Vega dalam hati. "Aku tahu kau akan terluka, tapi kau tidak akan pernah mendengarkanku."

"Diam kau," Grey akhirnya bersuara, nadanya tajam. "Jangan menceramahiku. Ikut aku—kita akan bersandiwara di depan keluarga Sienta."

Ia melangkah turun dari kereta dengan langkah mantap. Namun, begitu kakinya menyentuh tanah halaman kediaman Sienta, ekspresi wajahnya berubah drastis.

Senyum ramah merekah di bibirnya. Matanya yang tadi membara kini tampak tenang dan bersahabat. Ia berjalan dengan anggun, menyapa setiap anggota keluarga Sienta yang ia temui dengan sopan.

"Halo, Tuan Bartholomew! Apa kabar?"

"Selamat pagi, Nyonya Clarissa. Semoga hari Anda menyenangkan."

"Ah, Tuan Muda Reinold! Senang bertemu Anda lagi."

Grey berbasa-basi dengan ramah, meskipun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menanggapinya dengan hangat. Beberapa hanya mengangguk dingin, yang lain bahkan tidak menatap matanya.

Namun Grey tidak peduli. Senyumnya tetap merekah.

Vega yang berjalan di belakangnya merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia meneguk ludah susah payah.

"Ini gila..." pikirnya. "Dulu dia orang kepala batu, mudah terbaca emosinya. Tapi sekarang... Grey seperti seseorang yang menggunakan topeng palsu. Dia menyembunyikan amarahnya dengan sempurna."

Vega mengamati sahabatnya dengan saksama. Ada sesuatu yang berbeda di mata Grey—bukan lagi cahaya cinta yang naif, melainkan kilatan gelap yang tidak bisa diartikan.

"Dia punya rencana," sadar Vega. "Grey tidak akan diam begitu saja. Dia akan membuat keluarga Sienta membayar semuanya."

"Keilla..." bisiknya dalam hati. "Kau akan menyesali semua ini. Aku bersumpah."

Ia berbalik dan melangkah menuju pintu utama kediaman Sienta, diiringi oleh Vega yang diam-diam menggenggam gagang pedangnya lebih erat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!