NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32 - Pelan-pelan Menjadi Dekat

Raka bangun sebelum subuh dan menemukan Nadia tidur di kursi.

Lampu ruang tengah masih menyala redup. Di meja, buku catatan terbuka. Kuitansi obat Bu Lilis tersusun rapi menurut tanggal. Di sampingnya ada sketsa baju, potongan kain, dan cangkir kopi yang sudah dingin.

Nadia tidur dengan kepala miring. Satu tangannya masih memegang pensil.

Raka berdiri lama di ambang kamar.

Ia terbiasa melihat orang mengurus sakitnya dengan wajah berat. Bu Lilis menghela napas. Pak Hendra menepuk bahunya. Saudara lain berkata kasihan. Semua itu membuatnya merasa tubuhnya seperti utang keluarga yang tidak pernah lunas.

Nadia berbeda.

Perempuan itu mengomel saat ia lupa minum air hangat. Menyembunyikan sambal. Menulis biaya obat seperti mencatat harga kain. Tidak ada belas kasihan yang basah. Hanya kerja.

Raka mengambil selimut dari kamar, lalu menyampirkannya ke bahu Nadia.

Nadia langsung membuka mata.

"Jangan ambil gunting."

Raka berhenti.

"Aku bukan maling kain."

Nadia mengerjap. Kesadarannya kembali pelan. Ia melihat selimut di bahunya, lalu melihat Raka.

"Kamu kenapa bangun?"

"Mau salat. Kamu tidur di sini?"

"Niatnya cuma sebentar."

"Sebentar sampai subuh?"

Nadia mengusap wajah. "Catatan obatmu berantakan."

"Itu bukan tugasmu."

"Kalimat itu sudah sering kamu pakai. Cari yang baru."

Raka tersenyum kecil. "Baik. Terima kasih."

Nadia mengangguk, lalu berdiri terlalu cepat. Kursi berderit. Ia hampir kehilangan seimbang.

Raka menangkap lengannya.

Pegangannya tidak kuat, tapi hangat.

Mereka sama-sama diam.

Di luar, suara azan pertama mulai terdengar dari musala dekat gang. Rumah kecil itu mendadak terasa terlalu sunyi untuk dua orang yang masih belajar menyebut diri sebagai suami istri.

Nadia menarik tangannya pelan.

"Aku ambil wudu dulu."

"Nadia."

Ia berhenti.

"Malam ini tidur di kamar."

Nadia menoleh.

Raka cepat menambahkan, "Aku bisa tidur di tikar kalau kamu belum nyaman."

"Kamu ini sakit, bukan tamu."

"Aku hanya tidak mau membuatmu merasa terpaksa."

Nadia menatapnya lama. Raka selalu begitu. Ia memberi ruang sampai kadang seperti berdiri di luar pintu rumahnya sendiri.

"Aku tidak suka dipaksa," kata Nadia. "Tapi aku juga tidak suka diperlakukan seperti orang yang akan pecah kalau disentuh."

Raka tidak menjawab.

"Kita sudah akad. Kita tinggal serumah. Orang luar boleh sibuk memikirkan apa pun. Di dalam rumah ini, jangan kita ikut membuat jarak yang tidak perlu."

Raka menunduk sebentar.

"Aku takut."

Nadia mendekat setengah langkah. "Takut apa?"

"Takut kamu bangun suatu hari dan sadar kamu hanya memilihku karena malam itu kamu marah."

Nadia tertawa pelan, bukan mengejek.

"Kalau begitu, kamu juga bisa bangun suatu hari dan sadar kamu memilihku karena kasihan."

"Aku tidak kasihan padamu."

"Aku juga tidak hanya marah padamu."

Kalimat itu selesai sebelum azan kedua terdengar.

Setelah salat subuh, mereka duduk di dapur. Nadia membuat bubur encer untuk Raka. Raka memotong daun bawang terlalu besar. Nadia mengambil pisau dari tangannya dan mengiris ulang.

"Potonganmu seperti untuk kambing."

"Aku jarang dipercaya memegang pisau."

"Mulai sekarang belajar. Suami tidak boleh hanya bisa batuk."

Raka tersedak tawa sampai batuk sungguhan.

Nadia buru-buru menyodorkan air.

"Nah, benar kan."

Raka minum sambil masih tersenyum. "Istriku galak."

"Suamiku lemah."

"Kamu tidak malu bilang begitu?"

"Kenapa malu? Itu fakta sementara."

"Sementara?"

Nadia meniup bubur. "Iya. Aku tidak suka menganggap sakit sebagai nama seseorang."

Raka menatapnya.

Di rumah Pak Hendra, semua orang menyebutnya Raka yang sakit. Di acara keluarga, kursinya selalu disiapkan dekat pintu supaya mudah keluar kalau kambuh. Piringnya dipisah. Obrolan tentang masa depannya selalu berhenti di kata "semoga kuat".

Nadia menyebutnya suami.

Lalu menyuruhnya mengiris daun bawang.

Entah mengapa, itu lebih membuat dada Raka sesak daripada obat paling pahit.

Siang harinya, Nadia membawa Raka ke puskesmas untuk kontrol. Raka memakai kemeja lengan panjang, Nadia membawa map berisi kuitansi. Beberapa ibu di ruang tunggu mengenali mereka.

"Itu yang tukar calon pengantin itu, kan?"

"Yang nikah sama omnya Arman?"

"Cantik, tapi berani sekali."

Raka menegang.

Nadia duduk santai.

Seorang ibu sengaja bertanya, "Mbak Nadia, sudah cocok jadi istri orang sakit?"

Nadia menoleh.

"Cocok. Lebih ringan daripada jadi istri laki-laki yang sehat tapi suka berkhianat."

Ruang tunggu langsung diam.

Raka menutup mulutnya dengan map.

Ibu itu pura-pura melihat nomor antrean.

Dokter puskesmas memeriksa tekanan darah Raka, mendengar napasnya, lalu memuji catatan minum obat Nadia yang rapi.

"Kalau begini terus, batuknya bisa jauh berkurang," kata dokter. "Tapi jangan terlalu banyak pikiran."

"Itu bagian paling susah, Dok," jawab Raka.

Nadia menyahut, "Saya akan kurangi orang yang membuat dia berpikir terlalu banyak."

Dokter tertawa. Raka tidak.

Di jalan pulang, hujan turun tiba-tiba. Mereka berteduh di depan toko fotokopi. Sepeda motor lewat, memercikkan air ke kaki Nadia.

Raka menggeser tubuhnya sedikit, menahan cipratan berikutnya.

"Kamu nanti basah," kata Nadia.

"Kamu juga."

"Aku tidak gampang sakit."

"Aku tidak gampang diam."

Nadia menatapnya. Ada sesuatu yang berubah sejak subuh. Bukan besar. Bukan seperti adegan di sinetron ketika orang berlari di bawah hujan. Hanya Raka yang berdiri setengah langkah di depannya, dan Nadia yang tidak merasa perlu menariknya mundur.

Hujan membuat toko-toko menurunkan tirai. Mereka berdiri dekat sekali. Bahu Raka menyentuh lengan Nadia.

"Kalau kamu lelah," kata Nadia, "bilang."

"Aku lelah."

"Kalau begitu duduk."

"Bukan lelah itu."

Nadia menoleh.

Raka menatap jalan basah. "Aku lelah selalu meminta izin untuk hidup."

Nadia tidak langsung menjawab. Ia mengambil map dari tangan Raka, memeluknya di dada agar tidak terkena air.

"Kalau begitu mulai sekarang minta izin padaku saja."

Raka menatapnya kaget.

Nadia mengangkat bahu.

"Aku lebih mudah disuap. Cukup minum obat tepat waktu."

Raka tertawa. Kali ini tidak disusul batuk.

Sore itu mereka pulang basah sedikit. Nadia menjemur kerudungnya di kursi. Raka mengganti baju di kamar, lalu keluar membawa dua buku nikah yang dibungkus plastik.

"Aku belum sempat menaruh ini."

Nadia menerima satu buku. Namanya tertulis jelas di sana, berdampingan dengan nama Raka.

Untuk beberapa detik, masa lalu seperti berdiri di belakangnya. Buku nikah dengan Arman. Rumah kontrakan yang berbau rokok. Tangan yang menampar. Klinik yang memalsukan hasil pemeriksaan.

Lalu suara Raka menariknya kembali.

"Nadia?"

Nadia menutup buku itu.

"Simpan di lemari. Jangan di tempat yang mudah diambil orang."

"Siapa yang mau mengambil?"

"Orang yang tidak suka bukti."

Raka memahami maksudnya.

Malamnya, untuk pertama kali, Nadia masuk kamar lebih dulu. Ia menaruh bantal di sisi kanan, lalu menatap Raka yang masih berdiri di pintu.

"Kamu mau tidur di sana sampai pagi?"

Raka memegang kusen.

"Boleh aku masuk?"

Nadia hampir memutar mata, tapi suaranya melembut.

"Ini kamarmu juga."

Raka masuk perlahan. Mereka berbaring dengan jarak satu lengan. Lampu dimatikan. Gelap membuat napas terdengar lebih jelas.

Lama sekali tidak ada yang bicara.

Raka batuk sekali, kecil saja. Biasanya ia akan langsung meminta maaf. Malam itu ia menahan kata maaf di bibir.

Nadia mendengarnya.

"Jangan minta maaf karena batuk."

"Aku belum bicara."

"Wajahmu sudah."

Di gelap, Raka tersenyum. "Kamu bisa melihat wajah orang dalam gelap?"

"Kalau orangnya terlalu sering merasa bersalah, bisa."

Raka terdiam lagi, tapi kali ini diamnya tidak sejauh tadi.

Lalu Raka berkata, "Nadia."

"Hm?"

"Terima kasih sudah tidak takut pada sakitku."

Nadia menatap langit-langit.

"Aku takut."

Raka diam.

"Tapi bukan takut padamu. Aku takut terlambat menyelamatkan orang yang seharusnya bisa hidup lebih lama."

Raka tidak bertanya orang itu siapa. Mungkin ia tahu. Mungkin tidak.

Tangannya bergerak pelan di atas kasur, berhenti di antara mereka.

Nadia melihat tangan itu.

Setelah beberapa detik, ia meletakkan tangannya di atas tangan Raka.

Tidak ada pelukan. Tidak ada janji besar.

Hanya telapak tangan yang saling menahan dingin.

Di luar kamar, telepon rumah berdering tiba-tiba.

Raka menarik napas.

Nadia duduk lebih dulu.

"Kalau ini dari keluarga Wiratmaja," katanya, "malam pertama kita benar-benar punya selera buruk."

Raka menyalakan lampu dengan wajah pasrah.

Dari ruang tengah, suara dering terus memaksa.

Dan ketika Nadia mengangkat gagang telepon, suara Pak Hendra terdengar berat.

"Nadia, Raka ada? Arman membuat masalah lagi."

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!