Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
“Kamu sekarang enggak tinggal di asrama?” kata Lisa. “Kamu mau pulang ke mana, Kay?”
“Aku mau pulang ke rumah sua....” Kayla hampir saja mengatakan akan kembali ke rumah suami. “Aku pulang ke kosan.”
“Kosannya di mana?” tanya Lisa.
“Nanti saja aku kasih tahu. Sekarang aku hanya ingin sendiri dulu.”
“Hmmm... baiklah kalau begitu.” Lisa memegang tangan Kayla. “Jangan sedih ya.”
“Sebenarnya aku lega ternyata aku bukan keluarga kandung mereka. Hanya saja aku heran kenapa aku dibuang orang tua kandungku di tempat sampah.”
“Emang kamu enggak ingat sama sekali, Kay?”
Kayla mengernyitkan dahi, mencoba mengingat kejadian masa kecil. Dari tadi yang terbayang hanya sosok anak lelaki umur 10 tahun berbaring di rumah sakit bersamanya. Setelah itu Kayla benar-benar tidak mengingat apa pun.
“Aku benar-benar enggak tahu. Yang jelas, sejak aku bisa mengingat, yang aku ingat hanyalah bentakan, makian, dan kekerasan fisik keluarga pengasuhku,” ucap Kayla.
Lisa meremas tangan Kayla pelan dan menepuk-nepuknya. “Yang sabar ya, Kay. Mungkin orang tua kamu juga sedang mencari kamu. Saat itu mungkin kamu akan dipeluk oleh ibu kandung kamu.”
Kayla menghela napas pelan. “Aku juga berharap seperti itu.”
“Ngomong-ngomong, kamu sebenarnya ada hubungan apa sama Pak Adrian?” tanya Lisa mengalihkan pembicaraan.
“Ya antara atasan dan bawahan.”
“Atasan dan bawahan,” gumam Lisa. “Aku juga sama-sama bawahan Pak Adrian. Kenapa aku enggak dikasih pinjam mobil, sedangkan kamu dikasih pinjam?”
“Ya kamu coba saja pinjam sama Pak Adrian. Nanti dikasih kok.”
“Enggak, enggak berani aku. Dia kan galak. Kalau dekat dengan Pak Adrian aku selalu takut kayak di kuburan.”
“Apakah aku ini menakutkan seperti hantu?”
Lisa menoleh ke arah belakang, dan matanya membelalak. Adrian sudah ada di belakangnya dan juga mungkin sudah mendengar percakapan dia dengan Kayla.
“Maaf, Pak. Kami sedang cerita film horor,” Kayla menjawab.
“Oh, seperti itu,” kata Adrian dengan nada datar. “Aku ada perlu dulu dengan Kayla. Bisakah kamu pergi?”
Lisa segera berdiri. “Saya pergi, Pak. Saya pergi.” Lisa menundukkan kepala beberapa kali lalu segera pergi.
“Kamu membuat takut Lisa,” kata Kayla setelah Lisa pergi.
“Apakah aku menakutkan?”
“Sedikit,” jawab Kayla pelan.
“Apakah kamu takut padaku?”
“Ya,” jawab Kayla.
“Takut kenapa? Apakah aku seram? Dulu kamu bilang aku tampan, tapi kurang mahir dalam bermain.”
“Jangan bahas itu lagi.” Kayla tersipu malu.
“Terus kamu kenapa takut padaku?”
Kayla terdiam sebentar. “Aku takut kamu pergi sekarang, karena sekarang aku hanya seorang diri.”
Adrian menghampiri, akan memeluk Kayla.
“Jangan di sini, malu,” bisik Kayla.
“Oh ya sudah, aku jadi ingin cepat pulang,” kata Adrian menggenggam tangan Kayla.
Adrian dan Kayla pun pulang bersama, dan tanpa mereka sadari beberapa orang mengambil foto kedekatan mereka.
Di dalam mobil, Aldo menjadi sopir, sedangkan Kayla dan Adrian duduk di kursi belakang.
“Bagaimana? Apakah sudah ada kabar mengenai orang tua kandungku?” tanya Kayla.
“Seharian ini belum, Kay. Mungkin seminggu lagi ada kabar.”
Kayla mengepalkan tangannya. “Terima kasih sudah membantu.”
“Saraswati hanya punya dua anak, Niko dan Arif. Setelah melahirkan Arif, dia tidak bisa lagi hamil. Kamu masuk ke kartu keluarga mereka kira-kira 20 tahun lalu. Jadi kemungkinan kamu ditemukan saat kamu umur 4 tahun,” jelas Adrian.
“Ah, seperti itu ya. Kirain aku diadopsi sejak bayi. Rupanya umur 4 tahun. Setahuku sejak umur 5 tahun aku sudah bekerja untuk mereka. Rasanya sayang sekali kamu memberikan mereka uang segitu banyaknya.” Keluh kayla
“Menurut kamu, apakah orang tua kandungku itu baik atau tidak?” tanya Kayla
“Sepertinya baik, Kayla. Mereka juga pasti merindukan kamu,” Adrian menenangkan Kayla.
“Mudah-mudahan seperti itu.”
Tak terasa mobil sudah sampai di rumah Adrian yang besar.
“Kayla, kamu yang sabar, Nak. Baguslah kalau mereka bukan keluarga kandung kamu,” ucap Maharani setelah Kayla masuk rumah dan langsung disambut raut khawatir oleh Maharani.
“Iya, Nek. Makasih ya.”
“Kamu cucuku, tidak usah sungkan. Aku ini nenek kamu sekarang. Kalau ditemukan orang tua kandung kamu syukur, tidak juga masih ada nenek yang akan jadi keluarga kamu,” ucap Maharani.
“Makasih, Nek,” jawab Kayla.
Setelah makan malam bersama, Adrian dan Kayla masuk ke dalam kamar.
Kayla menarik napas, mengingat beberapa kali Adrian membelanya, membuat Kayla menguatkan tekad. “Aku akan jadi istri kamu yang baik, Mas.”
Kayla memakai baju piyama yang tipis berwarna putih. Adrian memakai baju tidur warna hitam. Adrian bersiap tidur di sofa.
“Malam ini tidur di sini saja,” kata Kayla menepuk-nepuk kasur di sampingnya.
Adrian menatap Kayla. Alisnya bertaut. “Apa kamu sudah siap, Kay?”
“Aku ini istri kamu. Mana boleh aku bilang siap atau tidak.”
Adrian melonjak puas. “Yes,” katanya.
Kayla hanya tersenyum heran. Hanya karena mengizinkan tidur satu kasur bersama, Adrian sudah sebahagia itu.
Adrian duduk di samping Kayla, merapatkan badannya.
“Kayla, kamu cantik sekali malam ini?” tanya Adrian.
“Masa sih?” Kayla memegang pipinya.
“Iya. Makanya aku suka sekali sama kamu.”
“Kalau aku jelek kamu enggak mau dong. Terus kalau nanti aku jelek kamu akan selingkuh kan?”
“Kayla cantik, maksudku itu bukan cantik wajah, karena banyak juga selebritis cantik mendekati aku, tapi cantik yang ada dalam hati kamu. Kamu suka menolong teman, dan yang terpenting kamu mau mempertahankan anak kita.” Adrian memegang tangan Kayla erat.
“Cantik mana aku sama seleb?”
“Pokoknya kamu lah....”
“Bohong.”
“Benaran.”
“Bohong.”
Kepala mereka kian lama kian dekat.
“Bohong.”
“Jujur.”
“Bohong.”
Napas mereka beradu. Tangan Adrian meremas tangan Kayla. Bibir mereka menyatu, saling bertemu. Terasa manis awalnya, namun kian panas selanjutnya.
“Apakah malam ini bisa?” bisik Adrian.
“Terserah kamu.... Aku milik kamu,” suara Kayla serak.
Adrian bersiap melakukan memberi nafkah batin pada istrinya.
“Tapi kata Nenek, sebelum usia kehamilan 3 bulanan itu katanya masih rawan.”
“Astaga, kenapa aku bisa lupa?” kata Adrian menghela napas sedikit kecewa.
“Kamu marah ya?”
“Enggak marah. Aku hanya lupa kalau kamu sedang hamil.”
“Kepala kamu pasti pusing ya?”
“Enggak juga.” Adrian tersenyum.
“Ih, tadi aku baca di artikel katanya kalau lelaki enggak jadi hubungan badan katanya bikin migrain.”
“Itu artikel salah,” ucap Adrian, padahal dia memang merasa pusing.
“Ya udah, sabar ya demi anak kita.” Kayla memegang tangan Adrian. “Malam ini aku mau dipeluk kamu sampai pagi.”
“Oh, siap laksanakan, Tuan Putri.”
Seminggu berlalu. Adrian masih mencari jati diri Kayla yang sebenarnya. Beberapa petunjuk sudah ada dan mengarah pada satu nama, namun Adrian harus memastikannya terlebih dahulu. Dan Kayla merasakan kehidupan di hotel jadi tenang karena Rina mengambil cuti selama dua minggu.