Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.
Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: PESTA !
Empat hari yang penuh ketegangan akhirnya berlalu juga. Sejak kekacauan proses rekrutmen anggota baru, serangan teror dari hacker anonim yang sempat melumpuhkan sistem, hingga aksi live stream dadakan yang berhasil menyelamatkan reputasi karya mereka, hari yang paling ditunggu-tunggu oleh mereka berempat akhirnya tiba. Hari ini, suasana hati mereka benar-benar jauh lebih ringan. Raka, Dimas, dan Aira menyepakati satu janji untuk berkumpul dan bersiap-siap menuju rumah Alya. Mereka berencana mengadakan sebuah pesta kecil-kecilan—sebuah pesta perayaan sederhana namun sangat berarti untuk merayakan keberhasilan besar mereka menuntaskan dan meluncurkan proyek komik pertama.
Langkah kaki ketiganya terhenti persis di depan gerbang rumah Alya. Sesampainya di tujuan, mata Raka, Dimas, dan Aira langsung disambut oleh pemandangan luar biasa. Rumah Alya yang pada dasarnya sudah terkesan megah, kini telah didekorasi sedemikian rupa dengan berbagai hiasan pita, balon warna-warni, serta lampu-lampu gantung berukuran kecil yang memancarkan cahaya hangat. Tempat itu disulap begitu mewah dan menawan hanya untuk menyambut kedatangan mereka.
Dimas yang menyaksikan suasana megah nan fantastis itu seketika membusungkan dadanya tinggi-tinggi. Matanya berbinar-binar, dan tanpa aba-aba, ia mulai bertingkah seolah-olah dirinya adalah seorang bangsawan muda kaya raya yang baru saja kembali dari medan perang abad pertengahan.
"Wah... luar biasa! Gue merasa seperti seorang bangsawan muda yang sedang menginjakkan kaki di istana megah!" seru Dimas dengan nada suara dan gaya yang sok elegan. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke udara, mengabaikan tatapan heran dari beberapa orang yang lalu-lalang di sekitar kompleks. "Wahai Tuan-tuan dan Puan-puan sekalian! Mari kita bersulang dan bersorak gembira untuk memeriahkan keberhasilan karya agung yang telah kita ciptakan bersama!"
Raka yang berdiri di sebelah Dimas hanya bisa menghela napas panjang seraya menepuk jidatnya pelan. "Yaa... kumat lagi deh penyakit halunya."
"Hahaha! Aduh, Dimas emang gak pernah gagal bikin geleng-geleng kepala. Ada-ada aja konyolnya," kekeh Aira seraya menahan tawa agar tidak meledak di halaman rumah orang.
Pintu utama rumah terdorong pelan. Alya yang baru saja keluar dengan melangkah anggun mendadak mengerutkan dahi. Wajah cantiknya menunjukkan rasa terkejut sekaligus bingung saat mendapati tingkah aneh Dimas yang masih berpose seperti patung di halaman rumahnya.
"Kenapa dia?" tanya Alya polos sambil menunjuk Dimas dengan ujung jarinya.
"Udah, gak usah dihiraukan, Al. Dia emang begitu kalau kumat. Anggap aja hiburan gratis," jawab Aira dengan senyum terpaksa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah.
Raka bersedekap dada di tempatnya, menaikkan satu alisnya tinggi-tinggi sambil menatap Dimas dari atas ke bawah. "Halah, paling dia abis kecolongan make kecubung tadi pagi."
"Ngawur lu, Rak!" sahut Aira cepat seraya menepuk keras lengan atas Raka.
"Umm, maaf, maaf... cuma bercanda kok, Aira," kekeh Raka seraya menyengir polos tanpa rasa salah.
Melihat kehadiran sahabat-sahabatnya, rasa bingung Alya langsung menguap. Ia menyambut mereka bertiga dengan senyuman yang sangat hangat dan ramah. "Ya gak apa-apa kok, Rak. Sini, ayo ikutin aku masuk ke dalam. Kita ambil minuman dingin dulu di ruang tengah biar segara."
"Oke siap!"
Aira dan Raka pun langsung mengekor melangkah di belakang Alya menuju area dalam rumah yang terasa sangat sejuk. Bedanya, langkah Raka terasa jauh lebih berat karena ia harus berjuang ekstra keras menarik dan menyeret kerah baju belakang Dimas. Pasalnya, Dimas masih saja sibuk bergaya konyol melambaikan tangan ke arah dinding, bertingkah layaknya seorang bangsawan kesepian yang menyapa para pengawalnya.
"Nah, ini dia. Teman-teman, silakan diambil minumannya ya," ucap Alya ramah seraya menyajikan sebuah nampan kayu berisi gelas-gelas kepingan kaca yang terisi jus buah dingin segar lengkap dengan es batu yang mengapung di atasnya.
"Makasih banyak ya, Al! Segar banget kelihatannya!" seru Aira gembira sambil memegang gelasnya.
"Sama-sama, Aira. Minum yang banyak ya."
Dimas yang baru saja berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Raka mendadak mencium aroma kesegaran buah. Seketika itu pula, ia tersadar penuh dari mode bangsawan halunya. Ia menengok ke arah nampan di atas meja dengan mata berbinar-binar penuh kelaparan.
"Loh? Punya gue mana nih? Kok gak dianterin ke tangan?" tanya Dimas dengan nada sok protes.
"Ambil sendiri napa, Mas! Hahaha!" gelak Raka puas tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Yaelah! Bukannya dilayanin dengan baginda, gue kan tamu kehormatan di sini! Hmph!" gerutu Dimas berpura-pura merajuk. Namun, membelakangi kata-katanya sendiri, jemari tangannya dengan sangat lihai dan cepat langsung menyambar satu gelas jus dingin paling besar di atas meja.
Aira menatap Dimas dengan pandangan tajam berkilat. "Jangan bikin ribut deh, Mas! Kita ini lagi bertamu di rumah orang. Nanti kalau pemilik rumahnya risih terus kita diusir, tahu rasa lu!"
"Yee... terserah gue lah! Lagian Alya juga santai aja kok, wleee!" balas Dimas tak mau kalah seraya menjulurkan lidahnya memprovokasi Aira.
Melihat adegan cekcokan gak penting antara Aira dan Dimas yang kembali pecah untuk kesekian kalinya hari ini, Raka hanya bisa memasang senyum terpaksa di wajahnya. Ia menggelengkan kepala pelan, merasa terbiasa dengan dinamika unik teman-temannya. Raka lalu memiringkan posisinya, menoleh ke arah Alya yang berdiri tak jauh darinya untuk membuka obrolan santai di tengah keramaian itu.
"Aduh... ada-ada aja mereka berdua, bertengkar terus gak ada habinya," gumam Raka pelan dengan kekehan kecil. Ia lalu mengalihkan pandangannya, menatap lekat mata Alya. "Alya, lu—eh, maksudku... kamu seneng gak sih ada orang-orang aneh kayak kita yang nemenin kamu di sini?"
Alya menatap balik ke arah Raka. Pandangan matanya melembut, lalu perlahan sebuah senyuman yang sangat manis terukir di bibirnya hingga kedua matanya menyipit indah.
"Ya! Aku senang banget, Rak! Rasanya rumah ini jadi ramai dan hidup. Apalagi yang nemenin aku di sini itu adalah orang-orang kesayanganku!"
Kata-kata sederhana dari Alya itu membuat dada Raka mendadak terasa hangat. Sebelum rasa canggung sempat merayap, tegukan demi tegukan jus dingin sukses meredakan dahaga dan ketegangan di antara mereka. Alya kemudian tersenyum misterius.
"Tunggu sebentar ya teman-teman, aku ada sesuatu yang sudah disiapkan di dapur."
Alya melangkah perlahan menuju dapur utama dan tak lama kemudian kembali dengan kedua tangannya menopang sebuah wadah. Ia membawa sebuah kue tart berukuran sedang yang dihiasi lilin berbentuk angka '1' yang menyala terang di bagian tengahnya. Di atas lapisan krim cokelat yang tebal itu, terdapat racikan krim putih yang membentuk huruf-huruf rapi—menuliskan judul komik pertama karya klub mereka.
"Tadaaa! Ini dia kejutan kue perayaan khusus buat kita berempat!" seru Alya dengan wajah berbinar penuh kebanggaan.
Mata Dimas mendadak membelalak lebar seketika. Ia kembali menepuk dadanya secara dramatis, lagi-lagi menjiwai peran bangsawan halunya yang belum tuntas. "Astaga naga... kejutan agung apa yang ada di hadapanku ini?! Sungguh, Hamba yang hina ini sangat terharu sampai-sampai ingin meneteskan air mata bahagia di atas karpet mahal ini!"
"Dimas, sumpah ya... tolong jangan bikin malu di depan kue enak," potong Aira cepat sambil menahan tawa gigih, meski kedua matanya sendiri tak bisa menyembunyikan rasa kagum dan haru melihat kue cantik tersebut.
Raka tersenyum tipis. Ia menatap lilin yang bergoyang pelan di atas kue itu, lalu bergantian menatap satu per satu wajah ketiga temannya: Dimas yang konyol namun selalu bisa diandalkan, Aira yang tegas namun sangat peduli, dan Alya yang selalu menjadi tempat berteduh dan sumber semangat bagi mereka semua. Rasa lelah yang menumpuk akibat teror hack, tekanan mental dari serangan netizen, hingga kerja keras memeras otak demi keberhasilan live stream kemarin mendadak menguap tanpa sisa.
"Sebelum lilinnya ditiup dan kuenya dipotong," ucap Raka memecah keheningan, suaranya terdengar begitu tulus. "Gue cuma mau bilang... makasih banyak ya buat kalian semua. Tanpa kerja keras dan dukungan kalian bertiga, komik ini gak bakal pernah ada dan gak bakal bisa sampai di titik ini."
Aira mengangguk pelan, raut wajah galaknya melunak sepenuhnya. "Bener kata Raka. Kita semua berangkat benar-benar dari nol, sempat dihantam masalah berat bertubi-tubi sampai hampir menyerah, tapi beruntung kita masih berdiri kokoh di sini bareng-bareng."
"Demi kejayaan dan masa depan klub komik kita!" sahut Dimas tiba-tiba. Kali ini, tidak ada nada bercanda atau alay dalam intonasinya. Yang ada hanyalah sebuah senyuman tulus serta tatapan bangga yang jarang sekali ia perlihatkan di hadapan orang lain.
Alya menatap ketiga sahabatnya itu satu per satu dengan pandangan yang penuh kehangatan dan rasa syukur. "Yuk, kita tiup lilin perayaan ini bareng-bareng! Satu... dua... tiga..."
Fuuuuuuh!
Dua tiupan napas bersamaan itu berhasil memadamkan api lilin di atas kue. Sorak-sorai gembira dan tepuk tangan meriah seketika memenuhi ruang tamu rumah Alya. Suasana terasa begitu magis dan hangat. Alya dengan telaten memotong kue tart tersebut menjadi empat bagian yang sama besar, lalu membagikannya ke dalam piring-piring kecil untuk diserahkan kepada Raka, Dimas, dan Aira.
Pesta kecil itu pun berlanjut dengan penuh gelak tawa dan canda tawa yang tak ada habisnya. Dimas menjadi orang pertama yang sibuk melahap bagian kuenya paling cepat hingga krim cokelat belepotan di sekitar pipinya. Aira, seperti biasa, tak berhenti menceramahi cara makan Dimas yang berantakan bagaikan anak kecil. Sementara itu, Raka dan Alya duduk berdampingan di sofa, menikmati momen tenang dan damai di tengah riuhnya suara candaan sahabat-sahabat terbaik mereka.
Saat matahari di luar mulai terbenam perlahan, memancarkan semburat warna jingga keemasan yang menembus masuk melewati celah jendela kaca rumah Alya, Raka menatap piring kuenya yang kini sudah kosong bersih. Hatinya merasa sangat hangat, utuh, dan penuh akan rasa syukur. Perjuangan panjang mereka di dunia komik ini memang baru saja dimulai dan jalan di depan pasti akan jauh lebih terjal. Namun, selama ia berdiri di antara orang-orang luar biasa ini, Raka merasa sangat yakin—badai hebat apa pun yang akan menerjang mereka di masa depan pasti akan bisa mereka lewati bersama-sama.