Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.
Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.
Awalnya hanya kontrak.
Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran kecil
Selamat malam. Kalau kalian baca sampai bab ini artinya kalian suka❤️
Selamat membaca!!
.........
"Bagus."
Semua kepala spontan menoleh.
"Perselingkuhan macam apa ini?"
Suara itu seketika membuat seluruh isi restaurant membeku. Aurelia menoleh pada Adriant yang berada disana entah sejak kapan. Rautnya terkejut, tangannya meremas rok dengan spontan. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan kekasihnya disana. Adriant lebih mudah menghakimi dari pada meminta penjelasan. Dada Aurelia terasa sesak.
Tatapan pria itu jatuh pada tangan Aurelia dan Nathaniel yang baru saja terlepas. Tanpa aba-aba Adriant melangkah cepat dan menarik pergelangan tangan Aurelia secara paksa, hingga tubuhnya bergeser kearahnya.
"Saling berjabat tangan.... apa kalian sudah melakukan kesepakatan untuk saling bersama?"
Pupil Aurelia membesar setelah mendengar ucapan Adriant yang tidak sesuai kenyataan. Ia berusaha melepaskan pergelangan tangannya dengan sekali hentakan kasar, matanya menatap Adriant dengan hati yang memohon agar Adriant tidak melakukan hal diluar kendali.
"Aku dan tuan Nataniel akan melakukan kerja sama. Jangan berpikiran buruk terlebih dulu, Adriant." Aurelia berusaha menggapainya tangan Adriant, namun Pria itu lebih dulu menghindar. Disisi lain, Nathaniel melihat interaksi mereka, tubuhnya berdiri, rahangnya mengeras entah sejak kapan... dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
Adriant menatap Nathaniel, ia tersenyum remeh. Lalu maju satu langkah. "Nathaniel Alister, bukan?" ia kemudian beralih menatap Aurelia.
"Kamu semalam tidak bisa dihubungi, lalu siang ini berkencan dengan dia?" jari telunjuknya tertuju kearah Nathaniel. Tyana sedari tadi ingin melakukan sesuatu, tapi ia sadar, dirinya tidak pantas ikut campur masalah atasannya, kecuali Adriant terlihat melewati batas.
"Kamu salah paham." Aurelia akan berusaha menjelaskan sebisanya.
Adriant tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.
"Aku salah paham?"
Aurelia mengangguk pelan, ia melirik sekilas kearah Attar dan Nathaniel yang masih berdiri menyaksikan perdebatan mereka. Nathaniel tidak memotong pembicaraan mereka. Namun sejak Adriant menarik paksa pergelangan tangan Aurelia, rahangnya mengeras nyaris tak terlihat.
"Kerja sama apa?"
"Kamu akan bilang ini adalah rapat?" lagi-lagi ia tertawa hambar. Ia seakan-akan merasa tersakiti disini.
Aurelia menghembuskan napas kasar. Ia semakin mendekat ke arah Adriant. Tangannya menggapai pipi Adriant hingga mata mereka bertemu.
"Memang itu kenyataannya, lihat...." Aurelia menunjuk asistennya, "disana ada Tyana..." tangannya juga berpindah kearah Attar "ada Attar juga selaku asisten klien aku." suaranya tenang dan begitu lembut.
Namun Adriant tetaplah dia. Pria itu menghempas telapak tangan Aurelia di pipinya. "Itu hanya akal-akalan kalian agar tidak ada orang yang curiga." Ia berkata dengan telapak tangan yang terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Suasana berubah hening. Attar melirik sekilas ke arah Nathaniel. Pria itu memilih tetap diam. Dan tanpa disadari... Tidak ada pengunjung restaurant selain mereka.
Aurelia meremas rambutnya kasar, ia memijat pelipisnya pelan. Lalu melirik pada Nathaniel yang sudah mendudukkan dirinya. Ia ingin sekali mengucapkan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi. Tapi ini bukan waktu yang tepat.
"Kenapa anda hanya diam?" Kali ini Adriant bertanya pada Nathaniel. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi. Lalu beralih menatap Adriant.
"Saya hanya sedang mendengarkan penjelasan dari nona Aurelia." Ia melirik Aurelia sekilas.
"Bagus. Karena anda tidak perlu membela diri. Biarkan ini jadi urusan saya bersama kekasih saya." Adriant kembali menatap Aurelia.
"Sejak kapan hubungan ini berlangsung?"
Aurelia ingin membuka suara. Tapi Tyana mencekal pergelangan tangannya.
"Maaf, tuan Adriant yang terhormat." Tyana maju, ia membenarkan letak kacamatanya.
"Untuk kali ini, apakah anda bisa memahami apa yang terjadi tanpa menghakimi terlebih dahulu?" bibirnya tersenyum. Tapi setiap kata yang keluar darinya penuh penekanan.
"Tidak usah ikut campur. Pembantu sepertimu tidak berhak mengeluarkan suara."
Tyana menepuk pelan pundak Aurelia yang akan membelanya.
Attar melirik Nathaniel. Ia tahu. Kalimat itu bukan hanya menghina Tyana. Tetapi juga mempermalukan rekan bisnis Alister Property Group di hadapan umum.
Disana, Attar juga maju dan bersiap untuk mengeluarkan kalimat pembelaan. Tapi, Nathaniel mencegahnya lebih dulu.
"Saya sadar akan posisi saya. Anda juga seharus sadar akan posisi anda." Tyana berbicara dengan santai. Tapi justru mengundang amarah Adriant yang lebih besar.
"Saya asisten pribadi nona Aurelia. Jadi..." tangannya bergerak mengambil proposal. Ia membuka lembaran yang berisikan perjanjian kontrak. Ia meletakkan didepan dada dan menunjukkannya pada Adriant.
"Saya akan berbicara sesuai fakta. Ini adalah surat perjanjian kontrak antara perusahaan Evandra Capital dan Alister Property Group. Jika kurang jelas, saya akan membacanya untuk anda dengan suara lantang." Mata Tyana menangkap amarah pada diri Adriant. Tapi ia semakin senang, memberikan pelajaran pada pria ini adalah keinginan Tyana sejak dulu.
"SURAT ..."
Brak!
Adriant mengebrak meja hingga isi air dalam gelas sedikit tumpah. Ia menatap tajam pada Tyana. Rahangnya mengeras seketika.
"Jangan merasa paling pintar." jari telunjuknya melayang di depan wajah Tyana.
"Aku pergi."
"Tapi bukan berarti karena aku salah. Kita akan membahas ini nanti malam." Tatapan Adriant jatuh pada Aurelia yang menatapnya.
Aurelia menelan salivanya. Ia menatap tubuh Adriant yang meninggalkan restaurant dengan kesalahan pahaman. Dadanya tiba-tiba saja terasa sesak, ia mendudukkan dirinya dengan lutut yang lemas. Tyana ikut duduk, ia menyodorkan minuman pada Aurelia.
Wanita itu meminum teh pelan. Rautnya datar tapi terlihat memikirkan banyak hal.
"Anda tidak usah memikirkan hal itu." Tyana menepuk pelan pundak Aurelia. Lalu ia beralih menatap Nathaniel.
"Tuan Nataniel dan tuan Attar. Maaf atas kegaduhan yang terjadi. Ini diluar kendali kami." Tyana sedikit membungkukkan tubuhnya. Ia melihat Nathaniel dan Attar yang mengangguk.
"Tidak masalah. Hanya saja..." Nathaniel mengetuk-ngetukan jarinya ke meja dengan irama pelan. Matanya berpindah menatap Aurelia.
"Jika saya boleh berpendapat," Nathaniel berhenti sejenak.
"Pria tadi tidak mencerminkan seorang kekasih dari anda, nona Aurelia ."
Aurelia menatap Nathaniel. Ia meletakkan cangkir teh dengan perlahan. Rasanya... Ini adalah hal paling memalukan untuknya, ia membangun sebuah branding anggun dan penuh wibawa. Ia juga membawa namanya dengan hati-hati. Tapi hari ini, semuanya runtuh begitu saja. Ia menurunkan harga dirinya, memberikan penjelasan yang sudah jelas bukan salahnya. Merayu kekasih dihadapan rekan bisnisnya.
"Bagaimanapun juga, dia adalah pria yang saya cintai."
Entah kenapa, kalimat yang Nathaniel dengar baru saja membuat tangannya terkepal. Rahangnya mengeras nyaris tak terlihat. Bola matanya bergerak menatap tangan Aurelia yang terlihat gemetar. Nathaniel langsung memalingkan pandangan ke luar jendela.
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai, ia kehilangan minat melanjutkan percakapan.
Suasana mendadak hening. Attar berdehem kecil. Lalu menutup laptop dan mulai membereskan proposal di atas meja. Lalu Tyana juga melakukan hal yang sama. Setelah itu, ia menatap Aurelia.
Aurelia mengangguk kecil. Tyana memeluk laptop dan proposal lalu beranjak berdiri.
"Mungkin rapat hari ini kita tutup sampai disini. Mohon maaf atas segala kekurangan yang terjadi. Kerjasama dua perusahaan sudah terjalin. Setelah ini, Divisi keuangan dari pihak tuan Nathaniel bisa langsung menghubungi saya." Tyana menundukkan kepala.
Lalu Aurelia ikut berdiri.
"Terimakasih atas waktunya tuan Nathaniel." Aurelia menatap sopan kearahnya.
Nathaniel hanya mengangguk kecil.
"Hati-hati dijalan, nona Aurelia dan nona Tyana." Attar tersenyum, pria itu kemudian berdiri.
Nathaniel menatap Aurelia dan Tyana yang mulai berjalan meninggalkan restaurant. Wanita itu sesekali merapihkan rambutnya, langkahnya kecil namun terkesan anggun dengan suara ketukan heels yang terdengar.
"Apa pria tadi benar-benar kekasih nona Aurelia?" Attar melirik kearah Nathaniel yang masih terdiam.
Nathaniel beranjak berdiri, ia membenarkan letak jasnya. "Mungkin." tangannya bergerak mengambil ponsel dan memasukkannya kedalam saku jas.
"Saya baru pertama kali melihat nona Aurelia merendahkan dirinya demi seorang pria. Kesan pertama bertemu dengannya. Saya kira, dia adalah wanita yang lebih memilih harga diri daripada pria yang seperti dia."
"Berhenti bicara, Attar."
Nada suaranya terdengar tidak suka. Nathaniel melangkahkan kakinya diikuti Attar. Ia kemudian menghampiri para penjaga keamanan.
"Hapus rekaman cctv hari ini."
"jangan sampai rumor apapun tersebar tentang kejadian di restauran ini baru saja."