NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Makam Renaldi

Jam 6.45 pagi. Langit Karang Teduh masih mendung. Habis hujan semalaman. Tanah di pemakaman becek.

Andira datang lebih dulu. Pakai gamis hitam polos sama jilbab abu-abu. Di tangan ada bunga mawar putih dan air mineral.

Dia duduk di depan nisan Renaldi. Bersih. Udah dia sapu tiap minggu.

"Mas... pagi," bisiknya pelan.

Tangannya ngusap nisan itu. "Aku bingung, Mas. Bener-bener bingung."

Angin lewat. Daun pisang di belakang berisik. Andira narik napas.

Jam 7 pas. Suara motor berhenti agak jauh. Jalan pelan. Nggak mau berisik.

Aditia.

Dia pakai kemeja putih lengan panjang. Celana hitam. Rambut masih basah karena kehujanan. Di tangan bawa plastik isinya sajadah kecil sama bunga juga.

"Assalamualaikum, Mas," sapa Aditia ke arah nisan. Suaranya serak.

Andira noleh. Matanya udah merah. "Waalaikumsalam, Dit."

Mereka diem beberapa detik. Canggung. Udah 30 hari nggak ketemu sedeket ini.

Aditia duduk agak jauh. Sekitar satu meter. Jaga adab. "Gimana kabar kamu, Ndir?"

"Gitu-gitu aja," jawab Andira. Senyumnya tipis. "Kamu?"

"Nggak enak badan. Tapi nggak apa-apa," bohong Aditia. Matanya sembab. Jelas kurang tidur sebulan ini.

Hening lagi. Cuma suara jangkrik sama burung.

Akhirnya Andira yang buka suara. "Dit... makasih ya. Udah nungguin aku sebulan. Nggak maksa. Nggak ngilang juga."

Aditia geleng. "Aku nggak nungguin kamu, Ndir. Aku nungguin waktu yang tepat."

Andira ketawa kecil. Perih. "Waktu yang tepat itu kapan?"

Aditia noleh ke nisan Renaldi. "Aku nggak tau. Tapi aku tau aku nggak mau buru-buru. Aku nggak mau kamu nanti nyesel. Dan aku nggak mau Mas Renaldi... kecewa dari sana."

Andira langsung nangis. Pelan. "Aku masih kangen Mas Renaldi, Dit. Tiap malem masih mimpi. Masih berasa ada dia di sebelah."

Aditia manggut. "Aku tau. Dan aku nggak pernah minta kamu lupain Mas. Aku cuma... mau nemenin kamu jalan ke depan. Kalau kamu izinin."

Andira usap air matanya pakai punggung tangan. "Tapi orang-orang, Dit. Imel. Tetangga. Mereka pasti ngomong lagi. 'Janda baru setahun udah deket sama laki-laki'."

"Terus kita mau diem terus karena takut omongan orang?" tanya Aditia balik. Kalem. "Ndir, 30 hari ini aku diem. Aku jagain dari jauh. Tapi rasanya makin sakit. Bukan karena aku nggak bisa deket kamu. Tapi karena aku liat kamu nahan sakit sendirian."

Andira nunduk. "Aku takut, Dit. Takut salah. Takut nyakitin kamu. Takut nyakitin Mas juga."

Aditia maju sedikit. Tapi tetap jaga jarak. "Ndir, dengerin aku ya. Aku nggak mau jadi pengganti Mas Renaldi. Posisi dia nggak ada yang bisa ganti. Aku tau diri. Aku cuma mau jadi... temen kamu. Yang nemenin ke pasar. Yang nganterin kalau hujan. Yang nemenin ziarah kayak gini. Kalau suatu hari kamu udah siap... baru kita omongin yang lain. Kalau nggak siap juga nggak apa-apa. Aku tetap di sini."

Kalimat itu nusuk banget.

Andira nangis lagi. Tapi kali ini beda. Nggak sesek. Lega.

"Dit..."

"Hmm?"

"Aku capek pura-pura kuat terus," ucap Andira jujur. "Aku capek makan sendirian. Capek pulang rumah sepi. Capek jawab pertanyaan 'kapan nikah lagi' dari orang."

Aditia diem. Terus dia ngeluarin tisu dari saku. Didorong pelan ke arah Andira. Nggak langsung nyodorin ke tangan. Ditaruh di tanah, digeser.

Andira ambil. "Makasih."

Mereka diem lama. Aditia baca Fatihah dulu buat Renaldi. Andira ikut.

Selesai doa, Aditia ngomong pelan. "Ndir, aku nggak janji bisa bikin kamu bahagia kayak Mas. Aku cuma janji bakal usaha. Dan aku janji nggak akan nyakitin kamu."

Andira ngangguk. "Aku juga nggak janji bisa langsung nerima kamu, Dit. Aku masih proses. Luka aku masih ada."

"Nggak apa-apa. Aku punya waktu," kata Aditia sambil senyum. Senyum capek tapi tulus.

Andira ngelap mukanya. Terus dia berdiri. "Udah, Dit. Kita pulang yuk. Aku masuk jam 8."

Aditia ikut berdiri. "Aku anterin ya?"

Andira mikir bentar. Terus ngangguk pelan. "Iya. Tapi dari jauh aja. Biar nggak digosipin."

Mereka jalan keluar bareng. Nggak sejajar. Ada jarak satu langkah.

Di motor, Aditia pelan banget. Takut Andira jatuh. Di lampu merah, dia nengok. "Ndir, laper nggak? Mau mampir beli sarapan?"

Andira geleng dari belakang. "Nggak usah, Dit. Nanti aja di sekolah."

"Yakin?"

"Iya. Makasih ya."

Sampe di depan sekolah, Aditia berhenti agak jauh. "Udah, Ndir. Hati-hati ya ngajarnya."

Andira turun. Noleh. "Dit..."

"Ya?"

"Makasih udah dateng pagi-pagi. Makasih udah sabar."

Aditia senyum. "Aku yang makasih. Udah dikasih kesempatan buat nunggu."

Andira masuk. Langkahnya agak ringan.

_Siangnya_

HP Andira bunyi. Chat dari Aditia.

_Aditia:_ _"Udah makan belum?"_

_Andira:_ _"Udah. Kamu?"_

_Aditia:_ _"Udah. Tidur yang cukup ya malem ini."_

_Andira:_ _"Iya. Kamu juga."_

Cuma gitu. Singkat. Tapi anget.

_Malamnya_

Andira duduk di teras. Buka diary lagi. Dia nulis:

_"Hari ini aku ketemu Dit di makam Mas. Aku nangis. Dia diem. Tapi anehnya, aku ngerasa nggak sendirian lagi. Aku belum siap buka hati. Tapi aku siap buat nggak nutup pintu rapat-rapat lagi."_

Jam 11. Ada suara motor di ujung gang. Berhenti sebentar. Terus pergi.

Andira buka gorden dikit. Aditia udah nggak ada.

Dia senyum sendiri. Terus sujud.

"Ya Allah... kalau dia orang baik, jaga dia. Kalau aku boleh bahagia lagi... tunjukin jalannya. Pelan-pelan aja, Ya Allah. Aku takut jatuh."

Di luar, langit udah cerah. Mendungnya udah pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!