NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:483
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Selamat Tinggal, Anjani

Anjani menarik napas pelan, tapi tidak benar-benar mereda.

"Kalau kamu bilang kamu cuma mau benerin yang dulu rusak..."

Suaranya terdengar lebih rendah.

"Terus kenapa kamu datang sekarang?"

Anjani menatap Alden lebih lama dari sebelumnya.

Tatapan itu tidak lagi setajam saat pertama kali membuka pintu tadi. Kemarahan yang sempat muncul perlahan bergeser menjadi sesuatu yang lebih rumit, sesuatu yang bahkan sulit ia pahami sendiri.

Selama bertahun-tahun ia meyakinkan dirinya bahwa semua itu sudah selesai.

Bahwa apa pun yang pernah ia rasakan untuk Alden telah terkubur bersama luka yang ditinggalkannya.

Namun malam ini, ketika pria itu benar-benar duduk didekatnya dan berbicara dengan suara yang jauh lebih tenang dibandingkan yang ia ingat, keyakinan itu mulai terasa goyah.

Bukan karena ia ingin mempercayainya lagi.

Bukan pula karena rasa sakit itu hilang.

Justru karena sebagian dari dirinya masih mengingat dengan sangat jelas bagaimana semuanya berakhir.

Dan itulah yang membuat pertanyaan itu terasa penting.

Jika semua ini hanya soal penyesalan, kenapa baru sekarang?

Kenapa setelah begitu lama membiarkannya hidup dengan jawaban yang salah?

"Kamu pikir aku nggak punya hidup selama sembilan tahun ini? Tiba-tiba kamu muncul, ngomong seolah-olah semuanya bisa kamu buka lagi..."

Ada jeda kecil. Suaranya sedikit bergetar, tapi ia menahannya.

"Aku bukan orang yang sama kayak dulu, Al."

Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatapnya.

"Dan aku juga nggak yakin kamu masih ngerti aku yang sekarang."

Alden terdiam cukup lama.

Tangan yang tadi sempat bertumpu di atas meja perlahan ditarik kembali ke pangkuannya.

Ia mengalihkan pandangan ke samping, ke arah jendela, seolah mencari sesuatu yang lebih mudah ditatap daripada wajah Anjani.

Beberapa detik berlalu sebelum ia berbicara.

"Iya... aku ngerti."

Alden mengangguk kecil sekali, pandangannya tetap menghindar.

"Dan aku nggak datang buat maksa apa-apa."

Ia menarik napas pelan, lalu bersandar sedikit ke kursi, menjaga jarak tanpa benar-benar mundur.

"Aku cuma mau ngomong itu aja."

Matanya tetap tidak kembali ke Anjani.

Seolah dengan begitu, ia bisa tetap terlihat tenang... meski di dalam dirinya ada banyak hal yang tidak benar-benar selesai.

"Aku nggak datang untuk mengubah apa pun, Jani," lanjutnya pelan. "Aku cuma ingin kamu tahu yang sebenarnya... dan setelah itu, aku akan pergi."

Ia menghela napas panjang, tanpa menatap Anjani sama sekali lagi.

"Maaf... kalau semuanya datang terlambat."

Alden menarik napas panjang, kali ini lebih dalam dari sebelumnya. Seolah ia sedang menutup satu bagian besar dari dirinya yang selama ini tidak pernah benar-benar selesai.

"Aku juga nggak mau bikin kamu merasa terganggu," ucapnya pelan.

Ia berhenti sejenak, matanya masih menatap lurus ke depan ke arah halaman.

Keheningan jatuh lagi, lebih lama dari sebelumnya.

Alden kemudian mengangguk kecil, seperti menandai akhir dari sesuatu yang sudah lama tertunda.

"Setelah ini, aku nggak akan datang lagi," lanjutnya dengan suara yang stabil.

"Aku juga nggak akan mencari kamu lagi."

Ia menarik napas pelan, tapi tidak benar-benar terasa ringan di dadanya. Seperti ada yang masih tertinggal meski ia sudah mencoba melepaskannya.

Untuk sesaat, Anjani mengira ia akan merasa lega mendengar kalimat itu.

Namun anehnya, ketika kalimat itu benar-benar diucapkan, yang muncul justru bukan kelegaan.

Dadanya terasa kosong

Kecil.

Tipis.

Tetapi cukup nyata untuk membuatnya tidak nyaman.

Seolah sesuatu yang baru saja kembali ke hidupnya setelah sekian lama, tiba-tiba memutuskan pergi lagi sebelum ia sempat memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Anjani tidak menyukai perasaan itu.

Karena ia tidak tahu harus menempatkannya sebagai apa.

Ada sesuatu yang terasa hilang bahkan sebelum benar-benar sempat ia miliki kembali.

Dan perasaan itulah yang membuatnya semakin sulit memahami dirinya sendiri malam ini.

"Kamu bisa lanjut hidup kamu seperti dulu..." ucapnya pelan, berhenti sejenak di tengah kalimat.

"Sebelum aku datang."

Alden menunduk sesaat, lalu kembali mengangkat wajahnya, tapi tidak sepenuhnya stabil.

Senyum tipis itu muncul. Tidak hangat, hanya cukup untuk menutupi sesuatu yang mulai retak di dalam dirinya.

"Terima kasih..." suaranya lebih rendah dari sebelumnya, "Karena tadi sudah mau dengar aku."

Di akhir kalimat, ia tidak langsung bergerak. Seolah tubuhnya butuh sedikit waktu lebih lama untuk menerima bahwa itu benar-benar selesai.

Lalu ia bangkit perlahan dari kursinya.

Gerakannya tampak tenang di awal, tidak terburu-buru. Namun di tengah berdiri itu, tubuhnya sempat goyah sesaat. Tidak sampai jatuh, hanya cukup untuk terlihat bahwa beban di dalam dirinya tidak benar-benar ikut bangkit bersamanya.

Alden diam sejenak, menstabilkan diri sebelum benar-benar berdiri tegak.

Namun justru di momen itu, Anjani mengerutkan kening.

Ada yang terasa janggal.

Terlalu rapi. Terlalu selesai.

Seolah percakapan yang baru saja terjadi, bukan sekadar permintaan maaf, tapi seperti penutupan sesuatu yang jauh lebih besar yang tidak ia pahami sepenuhnya.

Anjani masih duduk di kursinya.

Matanya mengikuti gerakan Alden yang berdiri perlahan, merapikan posisi seolah benar-benar bersiap pergi begitu saja.

Tapi justru itu yang membuat dadanya terasa aneh. Bukan lega, bukan marah, tapi semacam kebingungan yang tidak punya tempat untuk ditaruh.

Angin malam bergerak pelan di antara mereka, membawa suara daun yang bergesekan, seperti satu-satunya saksi dari percakapan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Ini perpisahan.

Untuk terakhir Alden menatap Anjani sekali lagi. Lebih lama dari sebelumnya.

Seolah ada ribuan kata yang tidak jadi diucapkan, tapi tetap tertinggal di matanya.

Lalu ia mengalihkan pandangan.

"Jaga diri kamu baik-baik."

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.

Alden hanya berdiri di tempatnya, sementara Anjani masih duduk mematung di kursi teras.

Jarak beberapa langkah di antara mereka terasa jauh lebih besar dibandingkan yang terlihat.

Lalu perlahan Alden berbalik.

Dari tempat duduknya, Anjani memperhatikan punggung pria itu yang mulai menjauh.

Ada sesuatu yang terasa berbeda.

Cara Alden berjalan tidak seperti yang ia ingat dulu.

Langkahnya juga tidak sepenuhnya mantap.

Namun pikiran Anjani masih terlalu penuh oleh percakapan barusan untuk benar-benar memikirkan hal itu lebih jauh.

Mungkin hanya perasaannya saja.

Ia tidak tahu.

Dan sebelum sempat memikirkannya lebih dalam, pria itu sudah semakin menjauh dari teras rumahnya.

Hingga akhirnya sosok itu masuk kembali ke mobil yang menunggu tak jauh dari sana, lalu menghilang dari pandangan di tikungan jalan perumahan.

Dan keheningan kembali jatuh. Namun kali ini, tidak terasa sama.

Anjani masih duduk di kursinya.

Tubuhnya tidak bergerak.

Tangannya masih menggenggam ujung kain daster yang sejak tadi tak sadar ia remas.

Tapi matanya... tidak lagi fokus pada apa pun.

Aku nggak akan datang lagi

Kalimat itu berulang di kepalanya.

Seperti sesuatu yang sudah selesai bahkan sebelum ia sempat benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.

Anjani mengerjap pelan.

Sekali. Dua kali.

Seolah berharap itu hanya salah dengar.

Seolah berharap Alden akan kembali berdiri di sini lagi, melanjutkan kalimat yang terputus, atau setidaknya menjelaskan sesuatu yang terasa ganjil sejak awal.

Tapi tidak ada.

Hanya angin malam yang lewat pelan di teras itu.

Ia menoleh ke arah jalan.

Kosong dan sunyi.

---

Saat Alden masuk ke dalam mobil, ia menutup pintu perlahan. Bunyi kecil itu terasa begitu hening di antara suasana malam yang sunyi.

Ia bersandar lemas di kursi, lalu menutup mata rapat-rapat.

Bukan karena ingin tidur.

Tapi karena menahan semuanya sekaligus. Sesak di dada, gemetar di dalam diri, dan kelegaan yang datang bersamaan dengan rasa hancur yang tidak bisa dijelaskan.

Hatinya sakit.

Tapi di saat yang sama, ada sesuatu yang longgar di dalam dirinya, seperti beban panjang yang akhirnya dilepaskan di tempat yang seharusnya.

"Sudah selesai..." bisiknya pelan, nyaris tidak terdengar.

"Pa..."

Suaranya patah di tengah kalimat, tapi ia tidak melanjutkan.

Di kursi pengemudi, Pak Armanto menoleh sebentar ke belakang. Tatapannya penuh kekhawatiran yang ia tahan sekuat mungkin, bercampur dengan rasa bangga yang sulit ia ucapkan dengan kata-kata.

Di sampingnya, Ibu Ranti terdiam, kedua tangannya saling menggenggam erat. Matanya berkaca-kaca, tapi ia memilih tidak berkata apa pun.

Bu Susi yang duduk di sebelah Alden hanya menghela napas pelan. Ia paham betul, bukan hanya tubuh Alden yang sedang diuji malam itu.

Tapi juga seluruh keberaniannya untuk melepaskan sesuatu yang selama ini ia genggam dalam diam.

"Sudah selesai, Pa..." ulang Alden sekali lagi, lebih pelan, seperti benar-benar memastikan kalimat itu sampai.

Di dalam mobil itu, tidak ada yang langsung menjawab.

Mobil itu terus melaju menjauh, meninggalkan jalan perumahan yang semakin lama semakin kecil di kaca belakang.

Di kursi belakang, Alden bersandar lemas. Matanya terpejam rapat, tapi bukan untuk beristirahat.

Ia pikir setelah semua kata itu keluar, setelah semuanya selesai diucapkan, dadanya akan terasa lebih ringan.

Namun kenyataannya justru sebaliknya.

Kelegaan itu hanya singgah sebentar... lalu menghilang, digantikan sesuatu yang jauh lebih tajam dan lebih dalam.

Setiap meter jarak yang menjauh dari rumah Anjani terasa seperti sesuatu yang ditarik paksa dari dalam dirinya.

Pelan, pasti, dan menyakitkan.

Alden menggigit bibirnya, mencoba menahan napas yang mulai tidak stabil.

Di balik kelopak matanya yang tertutup, wajah Anjani kembali muncul. Bukan yang dingin, bukan yang marah, tapi yang tadi... yang diam, yang bingung, yang tidak benar-benar mengerti kenapa semuanya harus berakhir begitu cepat.

"Aku... bener nggak sih tadi?" batinnya bergetar.

Pertanyaan itu tidak butuh jawaban dari siapa pun. Karena justru dari dirinya sendiri, ia tidak menemukan kepastian.

Tangannya mulai gemetar, lalu perlahan bergerak ke dada, mencengkeram kemejanya di bagian tengah.

Sesak itu datang tiba-tiba. Lebih tajam dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.

Napasnya tertahan, terputus-putus, sementara keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. Tubuhnya menegang, seolah semua yang ia tahan selama ini baru saja pecah bersamaan.

"Pa..." suara itu keluar patah, lemah, hampir tidak berbentuk.

Di depan, suasana langsung berubah tegang.

"Pak, berhenti dulu!" suara Bu Susi terdengar cepat, tegas namun terkendali.

Mobil segera menepi di sisi jalan yang lebih sepi. Lampu hazard menyala, memantulkan cahaya kuning redup di kaca-kaca mobil.

Bu Susi langsung segera bergerak sigap. Tangannya sudah menyiapkan tindakan tanpa panik berlebihan, hanya fokus pada satu hal, menstabilkan Alden.

Sementara itu, Pak Armanto hanya bisa menatap dari kaca spion, wajahnya menegang, tangannya mencengkeram setir lebih kuat dari biasanya.

Di kursi belakang, Alden masih berusaha bernapas, namun tubuhnya jelas mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Dan di antara kepanikan itu, satu hal tetap terasa jelas di dalam pikirannya yang mulai kabur...

Bahwa pertemuan yang tadi ia tutup dengan kata "selesai"... ternyata tidak benar-benar selesai di dalam dirinya.

Tak lama setelah suntikan diberikan, kondisi Alden perlahan mulai stabil. Napasnya yang tadi tersengal mulai kembali teratur, meski tubuhnya masih terasa lemah dan kehilangan tenaga.

Ia bersandar di kursi, matanya tetap terpejam, seolah sedang menata ulang dirinya dari dalam.

Energinya terasa habis.

Bukan karena perjalanan.

Bukan karena penyakit yang selama ini terus menggerogoti tubuhnya secara perlahan.

Melainkan karena malam ini ia baru saja melakukan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah mampu ia lakukan.

Ia telah menyerahkan bagian paling rapuh dari dirinya kepada orang yang berhak mendengarnya.

Tanpa perlindungan.

Tanpa alasan.

Tanpa kebohongan yang biasa ia gunakan untuk bersembunyi.

Semua yang selama ini ia simpan akhirnya keluar.

Dan setelah itu terjadi, ia baru menyadari betapa berat beban yang sebenarnya ia bawa selama ini.

Kini tidak ada lagi yang tersisa untuk disembunyikan.

Tidak ada lagi kata-kata yang harus ia tahan.

Tidak ada lagi pengakuan yang menunggu untuk disampaikan.

Anehnya, justru karena itulah ia merasa begitu kosong.

Seolah seluruh tenaga yang selama ini membuatnya terus bertahan ikut terlepas bersama kejujuran yang akhirnya ia ucapkan malam ini.

Tidak ada satu pun kata yang ia keluarkan tentang apa yang sebenarnya terjadi di depan rumah itu.

Tentang tatapan Anjani.

Tentang kebingungan yang tertinggal.

Tentang cara perpisahan itu terasa jauh lebih berat dari yang ia bayangkan.

Dan mungkin memang tidak perlu.

Karena tubuhnya sudah lebih dulu berbicara.

Di luar jendela mobil, lampu-lampu jalan melintas satu per satu.

Berbaris panjang di sepanjang perjalanan malam, lalu menghilang di belakang mereka.

Di kursi depan, Pak Armanto akhirnya membuka suara pelan, sangat hati-hati, seolah takut menyentuh luka yang baru saja terbuka lagi.

"Apa kamu sudah mengatakan semuanya, Al?"

Alden terdiam sejenak.

Dada itu masih terasa berat, tapi tidak lagi sesak seperti beberapa menit sebelumnya. Ia menelan napas perlahan, lalu menjawab lirih tanpa membuka mata.

"Sudah..."

Hening kembali jatuh di dalam mobil.

Jawaban itu terdengar sederhana.

Tapi di balik satu kata itu, ada sesuatu yang jauh lebih rumit yang tidak ia lanjutkan. Dan tidak ada seorang pun di dalam mobil itu yang memaksa untuk mendengarnya.

Karena mereka semua tahu, ada hal-hal yang selesai di ucapan...

Namun belum tentu selesai di dalam hati.

Bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!