Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.
Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.
Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.
Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.
Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.
Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.
Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.
**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**
---
*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32: Hasil yang Tidak Boleh Ada
Selene tidak langsung memakai tisu bayi itu.
Ia menyimpannya di freezer kecil vila BSD, dibungkus plastik ganda, diberi label palsu `sample skincare`. Dua hari kemudian, ia mendapatkan sampel kedua.
Kevin datang ke kafe dekat kantor hukum dengan wajah kusut. Selene mengundangnya atas nama Sanya. Katanya Sanya ingin memastikan ia baik-baik saja. Kevin datang seperti orang yang sudah tahu dirinya bodoh tetapi tetap berharap ada yang memanggilnya penting.
"Sanya di mana?" tanyanya.
"Istirahat. Baru melahirkan, ingat?"
Kevin menunduk. "Anaknya..."
"Kecil. Hidup. Namanya Ethan Kie."
Wajah Kevin berubah saat mendengar nama itu. Bangga, sakit, takut, semua lewat dalam satu detik.
Selene mendorong gelas kopi ke arahnya. "Minum. Kamu terlihat seperti hantu."
Kevin meminumnya dengan tangan gemetar. Ia tidak sadar Selene sudah meminta barista memakai sedotan sekali pakai, dan setelah Kevin pergi, sedotan itu masuk ke plastik kecil lain.
Selene tidak percaya pada nasib. Ia percaya pada bukti.
Hasil tes keluar empat hari kemudian dari klinik swasta kecil yang biasa melayani pemeriksaan pribadi tanpa banyak tanya. Di kertas itu, angka probabilitas berdiri dingin.
Kevin Santoso tidak dapat dikecualikan sebagai ayah biologis.
Petugas klinik yang menyerahkan amplop itu tidak bertanya hubungan para sampel. Selene membayar tunai dan memakai nama palsu di formulir. Semua terlihat kotor, tetapi cukup rapi untuk tidak meninggalkan jejak langsung ke Kie. Ia bahkan meminta hasil digital dikirim ke email baru yang dibuat khusus malam sebelumnya.
Di parkiran klinik, Selene membuka amplop dengan tangan yang anehnya stabil. Dunia tidak berubah. Langit tetap panas, tukang parkir tetap meniup peluit, dan seorang ibu tetap menggandeng anaknya membeli roti di minimarket sebelah. Hanya hidup Sanya yang kini berada di antara dua lembar kertas.
Selene membaca kalimat itu tiga kali, lalu tertawa.
Tidak keras. Tidak gila. Hanya tawa pendek seseorang yang akhirnya menemukan kunci pintu besi.
Sanya masih dirawat saat Selene datang membawa buah. Ethan tidur di boks bayi, wajahnya merah kecil, napasnya halus. Sanya tampak lebih kurus setelah melahirkan. Matanya langsung waspada saat melihat Selene.
"Apa lagi?"
"Kasar sekali untuk ibu baru."
"Keluar."
Selene duduk di sofa tanpa izin, membuka tas, lalu meletakkan amplop putih di meja samping.
Sanya tidak menyentuhnya.
"Buka," kata Selene.
"Aku tidak mau."
"Kalau aku yang membukakan di depan Ko Rayhan nanti, lebih seru."
Tangan Sanya bergerak cepat. Ia mengambil amplop itu, membuka, membaca satu baris, lalu seluruh wajahnya kosong.
"Kamu..." Suaranya hilang.
"Aku apa? Jahat? Pintar? Praktis?"
Sanya meremas kertas. "Dia bayi."
"Justru karena dia bayi, dia berguna. Semua orang akan kasihan kalau tahu. Semua orang juga akan marah."
Sanya menatap Ethan. "Apa maumu?"
"Uang, tentu saja. Dan akses."
"Aku tidak punya uang sebesar itu."
"Kamu punya nama Yong, punya suami Kie, punya alasan minta biaya pemulihan, biaya bayi, biaya ini-itu. Jangan pura-pura miskin di depanku."
Sanya tertawa tanpa suara. "Kamu mau memeras ibu yang baru melahirkan."
"Aku mau mengambil bagianku dari keluarga yang membuangku."
"Ethan bukan keluarga yang membuangmu."
Untuk sesaat, wajah Selene berubah. Hanya sekejap. Lalu ia kembali tersenyum.
"Maka jaga agar dia tetap aman. Transfer pertama minggu ini."
Sanya menutup mata. Air mata turun pelan, tetapi ia tidak menangis keras. Di boks, Ethan bergerak kecil, mulutnya mencari sesuatu dalam tidur.
Keira datang membawa dokumen administrasi rumah sakit setengah jam setelah Selene pergi. Ia menemukan Sanya duduk kaku, amplop putih sudah tidak ada, tetapi ada bekas kuku di telapak tangannya.
"Sanya?"
"Aku lelah."
"Kamu perlu dokter?"
"Tidak."
Keira meletakkan map di meja. "Biaya rumah sakit sudah diproses kantor. Dokter anak minta kontrol ulang tiga hari lagi."
Sanya mengangguk.
Keira menatap boks bayi. Ethan membuka mata sebentar, gelap dan basah, lalu menguap kecil. Hati Keira melunak meski semua rahasia di sekitar bayi itu seperti duri.
"Dia kecil sekali," kata Keira.
"Tapi hidup," jawab Sanya.
Kalimat itu membuat Keira menoleh.
Sanya menatapnya dengan mata merah. "Kalau suatu hari semua orang membenci aku, tolong ingat dia tidak salah."
Dada Keira terasa sesak. "Kenapa kamu bicara begitu?"
Sanya hanya menggeleng.
Saat Keira keluar sebentar untuk mengambil air hangat, Ibu Meilan masuk. Ia tidak membawa banyak orang, hanya tas kecil dan wajah tenang. Ia berdiri di samping boks Ethan lebih lama dari pengunjung lain.
"Bayi cepat berubah," kata Ibu Meilan.
Sanya memaksa senyum. "Iya, Ma."
"Kadang saat baru lahir, wajahnya belum mengikuti siapa pun."
Kalimat itu lembut, tetapi membuat Sanya hampir menjatuhkan gelas. Ibu Meilan menatapnya, tidak menekan, tidak menuduh. Justru ketenangan itu lebih menakutkan.
"Istirahatlah," kata Ibu Meilan akhirnya. "Tubuh yang baru melahirkan tidak kuat menyimpan terlalu banyak takut."
Sanya menggigit bibir sampai sakit.
Di luar kamar, Rayhan baru datang dari kantor. Ia melihat Keira keluar dari kamar Sanya dengan wajah tegang.
"Ada apa?"
"Sanya sangat lelah."
"Itu normal setelah melahirkan."
"Mungkin."
Rayhan menatap pintu kamar, lalu Keira. "Kamu masih menyimpan sesuatu."
Keira tidak membantah. Ia hanya berkata, "Bapak juga."
Untuk pertama kalinya, Rayhan tidak langsung menjawab.
Malam itu, Sanya mentransfer sejumlah uang ke rekening yang dikirim Selene. Keterangan transfernya `biaya perawatan`.
Selene menerima notifikasi di vila BSD, tersenyum, lalu memasukkan hasil tes DNA ke map hitam bersama foto Kevin dan Sanya di warung mie ayam.
Di bagian depan map, ia menulis satu kata dengan spidol perak.
Ethan.