NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 – Raungan dari Jantung Hutan

Raungan itu kembali menggema begitu keras hingga dedaunan di seluruh Hutan Ilusi bergetar bersamaan. Burung-burung yang semula bertengger di pucuk pepohonan mulai beterbangan tanpa arah, sementara kawanan makhluk sihir kecil berlarian keluar dari semak-semak seolah sedang menghindari sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari pada para peserta seleksi.

Aurelia menahan napasnya, ia bisa merasakan gelombang sihir yang tengah memenuhi udara. Gelombang itu begitu asing, begitu tua, hingga setiap hela napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya.

Disampingnya, Lyra menggenggam tongkat sihirnya dengan kedua tangannya. Wajah gadis itu yang biasanya selalu ceria, kini berubah menjadi tegang.

“Relia…” suaranya terdengar begitu lirih. “… aku benar-benar tidak suka kondisi sekarang ini.” Sambungnya lagi dan membuat Aurelia mengangguk pelan.

“Aku juga merasakan hal yang sama.”

Kini getaran di bawah kaki mereka kembali terasa. Tanah berguncang pelan, lalu semakin kuat dari detik ke detik. Beberapa akar pohon mulai retak, sementara batu-batu kecil berguling menuruni lereng.

Salah satu murid tingkat tiga yang sejak tadi bersama mereka langsung mengangkat tongkat sihir miliknya. “Kita harus kembali ke pintu masuk. Aku yakin professor pasti akan menghentikan ujian.” Murid yang lain mengangguk setuju.

“Kalau ini memang bukan bagian ujian, kita tidak punya alasan untuk tetap disini.” Aurelia sebenarnya ingin menyetujui usulan itu. Namun tongkat Astralis ditangannya kembali berdenyut hangat.

Kristal berbentuk bintang itu memancarkan cahaya keemasan di setiap ujungnya, perlahan cahaya itu mengarah ke sisi lain hutan, bukan menuju jalan keluar, justru menuju pusat Hutan Ilusi seakan tongkatnya tengah berusaha untuk menunjukkan jalan.

“Kenapa?” Aurelia semakin mengeratkan genggamannya pada tongkat miliknya. “Apa yang ingin kau tunjukkan?” Tanya lagi seraya memandangi tongkatnya yang masih mengeluarkan cahaya.

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, mereka mendengar suara seseorang yang berasal dari balik pepohonan. “Kalau aku jadi kalian, aku tidak akan berdiri terlalu lama ditempat itu.” Semua orang disana spontan menoleh ke arah sumber suara.

Dari balik bayangan pepohonan Caelum muncul, langkahnya terlihat santai seakan tidak terganggu sedikit pun oleh getaran yang tengah mengguncang seluruh hutan. Rambut putihnya bergoyang pelan karena tertiup angin, sementara mata merahnya memantulkan cahaya yang sulit dijelaskan dan Lyra pun spontan langsung berdiri didepan Aurelia.

“Jangan mendekat.” Ucap Lyra yang membuat Caelum menghentikan langkah kakinya dan tersenyum tipis.

“Aku tidak berniat menyerang.”

“Kalau begitu kenapa kau mengikuti kamu?” Murid tingkat tiga yang tengah terluka itu bertanya dengan nada curiga dan hal itu membuat Caelum melirik sekilas ke arahnya.

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya, kenapa kalian masih belum pergi?” Pertanyaan Caelum tersebut kembali membuat suasana terasa sangat sunyi, karena tidak ada yang memahami maksud dari ucapannya itu.

“Pergi dari mana?” Tanya Lyra. Caelum langsung menghembuskan napasnya pelan, seolah kecewa karena mereka masih belum menyadarinya.

“Dari wilayahnya.” Sahut Caelum yang sedikit merasa gemas.

“Wilayah siapa?” Lyra kembali mengajukan pertanyaan, karena dia benar-benar tidak paham maksud dari ucapan Caelum.

Caelum tidak menjawab pertanyaan itu, karena tatapannya mulai teralihkan ke arah pepohonan yang menjulang tinggi. “Kalian terlambat.” Pungkas Caelum yang masih terus memandangi pohon tersebut.

“Apa maksudmu?” Tanya Aurelia. Pertanyaan Aurelia membuat Caelum pada akhirnya beralih ke arahnya, tatapan yang diberikan oleh Caelum tidak terasa dingin, justru tatapan itu sesuatu yang menyerupai kekhawatiran.

“Dia sudah bangun.” Pernyataan Caelum membuat jantung Aurelia kembali berdetak lebih cepat.

Aurelia tentu saja menanyakan siapa yang dimaksud oleh Caelum, namun belum sempat ia menjawab, ledakan dahsyat terdengar hingga mengguncang tanah. Pepohonan dibelakang mereka mulai tumbang satu per satu.

Kabut putih yang menyelimuti hutan mendadak berubah menjadi hitam pekat, berputar seperti pusaran yang hidup. Dari dalam kabut terdengar suara langkah, langkah itu terdengar berat dan juga lambat. Namun setiap langkahnya berhasil membuat tanah yang dipijaknya bergetar.

Tiga langkah terdengar dari dalam kabut hitam itu dan Aurelia refleks mengangkat tongkatnya.

“Semua mundur.” Ucap Aurelia spontan.

Ucapan Aurelia itu lekas membuat Lyra menciptakan beberapa lapisan ilusi didepan mereka. Cahaya-cahaya tipis membentuk bayangan pepohonan palsu, berharap dapat mengaburkan posisi mereka. Namun, begitu langkah keempat terdengar, seluruh ilusi Lyra hancur dalam sekejap.

Ilusi yang diciptakan Lyra hancur bukan karena sebuah serangan, dan kehancurannya juga tidak menimbulkan suara ledakan sama sekali, tetapi ilusi ciptaannya lenyap begitu saja dan tentu saja hal itu membuat dirinya membelalak.

“Tidak mungkin..” sejauh ini, ilusi tingkat tinggi miliknya belum pernah berhasil dipatahkan semudah itu. “… sebenarnya makhluk apa yang ada didepan sana?” Tanyanya dengan nada khawatir.

Kabut disana perlahan terbelah, sesosok tubuh raksasa mulai terlihat, tingginya hampir menyamai pepohonan di sekitar mereka. Tubuh sosok itu di penuhi oleh bulu berwarna hitam legam yang tampak menyerap cahaya.

Terdapat dua tanduk melengkung di kepalanya, sementara sepasang mata merah menyala menatap lurus ke arah mereka. Tatapan itu tidak terlihat adanya kemarahan, namun tatapannya terlihat penuh dengan kehampaan.

Makhluk itu kemudian menghembuskan napas panjangnya hingga membuat udara dingin menyapu seluruh hutan sekaligus membuat salah satu murid tingkat tiga gemetar hebat saat merasakan serta melihat sosok dihadapannya saat ini.

“Itu… tidak pernah ada dalam buku pelajaran.” Ucapnya dengan nada yang gelisah. Sedangkan Caelum menatap makhluk itu tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya.

“Aku sudah menduganya.” Gumamnya yang membuat Aurelia menoleh ke arahnya.

“Kau mengenal makhluk itu?” Tanya Aurelia penasaran, terlebih ketika melihat ekspresi Caelum yang tak gentar sedikit pun melihat sosok tersebut.

“Tidak.” Jawab Caelum pelan yang masih tidak mengalihkan pandangannya. “Tapi aku mengenali auranya.” Belum sempat Aurelia bertanya lebih jauh, makhluk itu mengangkat salah satu tangannya dan dalam sekejap, puluhan akar hitam keluar dari dalam tanah hingga melesat ke segala arah.

“AWAS.” Caelum kembali berteriak memperingatinya. Aurelia segera menarik Lyra menjauh, sementara kedua murid tingkat tiga melompat ke sisi lain.

Braaaakkk~

Akar-akar itu menghantam pohon hingga patah berkeping-keping, tanah disekitar mereka juga retak dan asap hitam memenuhi udara.

“Relia.” Lyra berteriak memanggil sahabatnya seraya terbatuk akibat asap yang terhirup olehnya.

“Aku disini.” Aurelia berusaha mencari sahabatnya di balik debu yang berterbangan. Namun pandangannya mendadak terhenti, makhluk itu kini tengah menatapnya.

Tongkat Astralis di tangan Aurelia tiba-tiba kembali bersinar sangat terang, begitu terang hingga seluruh hutan dipenuhi oleh cahaya keemasan. Makhluk itu mengerang pelan, lalu untuk pertama kalinya ia berbicara.

“.. Astralis..” Suara beratnya menggema dari segala arah, seolah seluruh hutan ikut mengucapkan kalimat yang sama. Napas Aurelia tercekat, karena makhluk itu mengenal Astralis. Belum sempat siapa pun beraksi, sebuah kilatan cahaya biru turun dari langit.

CRAAAKK~

Sosok berjubah gelap mendarat tepat di antara Aurelia dan makhluk rakasasa itu. Debu berhambur ke segala arah, jubah panjangnya berkibar tertiup angin dan rambut hitamnya bergerak pelan.

Di tangan kanannya telah tergenggam pedang yang seluruh bilahnya dipenuhi oleh ukiran rasi bintang—Orion. Tatapan abu-abunya tajam menatap makhluk di hadapannya dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Aurelia melihat ekspresi Orion dipenuhi dengan kewaspadaan.

“Bawa mereka pergi.” Ucap Orion tanpa menoleh dan Caelum justru tersenyum tipis mendengar pernyataan Orion.

“Kurasa kali ini kau tidak bisa menghadapinya sendirian.” Orion tidak menjawabnya, dan tatapannya masih tetap tertuju pada makhluk dihadapannya.

“Kalau begitu…” gumam Orion pelan. “… jangan sampai mereka mati.” Lanjutnya lagi yang tidak mengalihkan sedikit pun pandangannya.

Dibelakangnya, Aurelia hanya berdiri membeku, ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini, namun satu hal menjadi semakin jelas bawah makhluk yang berdiri dihadapan mereka bukanlah monster biasa, karena makhluk itu mengenal Astralis dan kemungkinan besar, ia juga mengetahui masa lalu yang selama ini berusaha dicari olehnya.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!