Warning
Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.
Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.
Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.
Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Bersyukur
Mendengar percakapan itu, Rindu segera berlari pergi. Rayen pun ikut berlari mengikuti sekretarisnya. Sementara, salah satu teman Elang menoleh ke arah dua orang berlawanan jenis itu seperti saling mengejar dan seolah pasangan yang sedang bertengkar.
“Mereka yang tadi ciuman di depan toilet kan?” ujar Gery ketika Rindu dan Rayen sudah berlalu pergi.
Aris, Johan, dan Elang mengikuti arah mata Gery. Mereka mengangguk, kecuali Elang, karena mata Elang memandang sejoli itu bagai elang.
“Abis ciuman hot gitu, masa berantem sih.”
Gery meledek Rayen yang mengejar Rindu, padahal sebelumnya postur tubuh yang terlihat dari belakang itu baru saja berciuman panas di depan toilet, demi menghindari Elang.
Elang terus menatap kepergian Rindu yang berpenampilan tidak seperti Rindu istrinya, sedangkan Rayen pun tak terlihat seperti seorang Bos dengan jas, kemeja panjang, dan celana bahan seperti biasanya, tapi Rayen datang ke tempat ini dengan menggunakan celana jeans dan kaos hoodie. Rayen juga menutup kepalanya dengan hoodie itu saat melintas tadi.
“Adegan tadi mirip Elang sama Rindu ya. kalau Rindu tahu bagaimana kelakuan suami tercintanya, pasti dia bakal lari kaya gitu,” celetuk Aris yang memang ternyata adalah sebuah kenyataan.
Tanpa Elang tahu, yang berlari dan menangis itu memang istrinya. Rindu kaget dan syok mengetahui sisi buruk suaminya yang tak pernah terendus olehnya sama sekali.
Rindu merutuki kebodohan itu. Entah karena ia yang terlalu mencintai Elang, atau karena terlalu percaya pada pria itu, atau memang
Elang adalah pria yang pandai bersilat lidah, pandai memainkan peran hingga aksinya tidak disadari Rindu sama sekali, hingga terbukalah malam ini.
“Rin, tunggu!”
Rayen mengejar Rindu hingga mereka sudah berada di luar gedung laknat itu. Rindu yang terus berlari dan tak mau berhenti, meski ia sudah memanggilnya berkali-kali, terpaksa Rayen menghadang jalan itu.
“Rindu, berhenti!”
Seketika, kaki Rindu berhenti. Kepalanya yang sedari tadi menunduk, lalu mendongak. Ia mendapati Rayen yang sudah berdiri di depannya tanpa jarak.
“Maaf, Pak. saya mau pulang!”
“Dengan keadaan seperti ini?” tanya Rayen khawatir. “Dan, kamu menyetir sendiri?”
Rindu tak menjawab pertanyaan itu. Ia justru kembali melangkah meninggalkan Rayen ketika pria itu lengah dan tidak terlalu menghalangi.
Rindu mendekati mobil milik Elang dan membuka pintu.
Bruk
Rayen menutup pintu itu lagi.
“Pulang sama saya. Kalau kamu pulang dalam keadaan seperti ini dan menyetir sendiri, saya khawatir kejadian kemarin akan terulang. Bagaimana kalau yang menabrakmu orang yang tidak bertanggung jawab seperti aku? Bagaimana?”
Mata Rindu menatap kedua mata Rayen yang terlihat sangat khawatir. Bagaimana tidak khawatir? Sepanjang berjalan tadi, Rindu terus menangis.
“Tidak apa‑apa, Pak. Saya bisa pulang sendiri, saya Grep
Tiba‑tiba, Rayen menarik lengan Rindu dan mengajak wanita itu bersembunyi di balik kendaraan lain yang sedang terparkir.
“Ada ap …” baru saja Rindu ingin berkata, tiba‑tiba mulutnya ditutup dan Rayen menunjuk ke arah seorang pria yang tak lain adalah Aris.
Rindu pun melihat ke arah itu. Benar saja, pria itu adalah salah satu teman Elang yang tadi berkumpul berempat di sana.
Rindu melihat Aris menghampiri mobilnya dan membuka pintu mobil itu. Ternyata mobil yang terparkir persis di samping mobilnya adalah mobil milik Aris.
Usai mengambil sesuatu di mobilnya, Aris pun menutup kembali pintu itu dan hendak kembali memasuki klub. Namun, langkah kaki Aris terhenti, ia menyadari sesuatu.
Rindu menggeleng. Ia takut, Aris menyadari keberadaan mereka.
bahwa mobil yang ada di samping mobilnya adalah mobil milik temannya, padahal Aris tahu betul bahwa Elang datang dengan menggunakan mobil Rindu, karena mereka memang sedang bertukar kendaraan sejak siang tadi.
Jantung Rindu berdebar kencang. Ditambah Aris yang sedang menengok pelat mobil itu. Rindu melihat ke arah Rayen yang sedang menelepon seseorang.
Usai Rayen menelepon, Aris pun kembali masuk ke dalam klub.
“Pak, saya harus segera pulang. Sebelum Elang menyadari bahwa mobilnya terparkir di sini,” ujar Rindu panik.
“Kenapa kamu panik. Bukan kah lebih baik dia tahu bahwa kamu sudah mengetahui kelakuan buruknya?”
Rindu menggelengkan kepala. “Tidak sekarang, Pak. Bukti yang saya punya belum banyak. Lagi pula, saya ingin memberitahu Mama pelan‑pelan. Mama memiliki penyakit jantung, saya tidak ingin dia jatuh sakit mendengar ini.”
Rayen menatap Rindu dengan tatapan yang sulit diartikan. Wanita itu rela bersakit‑sakit, demi seorang Bella. Demi ibu mertuanya, Rindu mampu menahan kesakitan yang dilakukan oleh Elang.
“Kamu hebat, Rin.” Rayen memuji wanita itu dalam hati.
“Kunci mobil kamu mana?” tanya Rayen sambil mengulurkan tangan.
“Untuk apa?”
“Mobil Elang, biar dibawa oleh orangku. Sebentar lagi dia datang. Dan kamu, biar aku yang antar.”
Rindu mendengar Rayen tak lagi menggunakan kata saya, melainkan aku.
“Ayo, mana kuncinya? Waktu kita tidak banyak.
banyak. Sebentar lagi, Elang pasti akan keluar dan memastikan apakah mobilnya ada di samping mobil temannya itu?”
Rindu segera menurut. Ia menyerahkan kunci mobil itu kepada Rayen, dan seketika itu juga Rayen menyerahkannya kepada pria yang baru saja tiba.
“Ayo, biarkan aku mengantarmu,” ucap Rayen yang kembali menghampiri Rindu.
Rindu tidak menolak. Ia mengikuti atasannya dan masuk ke dalam mobil milik Rayen. Setelah duduk di kursi penumpang depan, Rindu pun berkata, “Saya tidak pulang ke rumah.”
Dahi Rayen mengernyit.
“Untuk sampai di tempat ini, saya minta izin kepada Mama seolah‑olah di kantor ada laporan mendadak yang harus diselesaikan malam ini.”
Mendengar penjelasan itu, Rayen segera menyalakan kendaraannya dan melaju menuju kantor.
Sedangkan, di dalam klub Menzone, Aris mencari keberadaan Elang. Akhirnya, ia menemukan temannya sedang asyik berciuman dengan wanita yang memakai pakaian sangat terbuka. Wanita itu seolah mengenakan pakaian dalam saja, padahal ini di tempat umum.
“Ah,” wanita itu mengerang, ketika tangan Elang meremas salah satu dadanya.
“Woi! Ditinggal sebentar sudah dapat pasangan baru saja.”
Sontak, Elang melepaskan ciuman itu dan wanita yang dipangkunya pun segera bangkit. Wanita itu langsung pergi sambil meninggalkan selembar kertas bertuliskan nomor teleponnya.
Elang tersenyum menerima kertas itu lalu menepuk pantat wanita itu.
“Ck. Mengganggu orang yang sedang asyik saja,” jawab Elang dengan kesal.
“Apakah belum puas dengan Miskha? Kamu gila, baru saja selesai bersetubuh kan?”
Keempat pria itu memang selalu berbicara dengan bahasa kasar dan tidak pantas.
Elang tertawa. “Kamu tahu aku memang sangat bernafsu.”
“Pulanglah, kasihan Rindu. Lebih baik kamu gunakan istrimu sendiri daripada wanita tadi. Terlihat sudah sangat berpengalaman dan sering berpindah‑pindah.”
Meskipun Aris juga termasuk teman yang suka bermain‑main, ia tetap memilih‑milih. Aris tidak mau berhubungan sembarangan dengan siapa saja.
Aris sebenarnya ingin berubah menjadi lebih baik, namun belum menemukan wanita yang mampu mengubahnya. Di dalam hatinya, ia merasa iri kepada Elang yang memiliki istri secantik dan sebaik Rindu. Namun sayang, Elang tidak pernah bersyukur atas anugerah itu.
“Gue selalu pakai pengaman. Aman. Cuma sama Rindu, gue ga pake pengaman,” kilah Elang.
Elang dan ketiga temannya memang tak lupa memakai pengaman setiap kali bercinta dengan lawannya. Tapi tetap saja, hidup mereka tidak tenteram. Mereka hanya dibayangi oleh nafsu yang ternyata semu. Mereka menikmati kesenangan sesaat yang sejatinya membawa sesat.
“Yang lain mana?” Aris mempertanyakan keberadaan Gery dan Johan.
“Ngga tahu.” Elang mengerdikkan bahunya. “Udah pada dapet cewek, langsung ngilang.”
Aris tertawa, mengikuti tawa tipis Elang.
Kemudian, Elang mengambil lagi gelasnya dan meminum minuman yang masih ada di dalam gelas itu.
“Oh iya, Lang. Gue sampe lupa. Gue dari tadi nyari lu karena pengen nanya sesuatu Elang langsung menatap temannya.
“Tadi di tempat parkir. Aku melihat mobilmu. Katanya kamu pakai mobil Rindu, tapi kok mobilmu ada di sebelah mobilku,” ujar Aris membuat Elang terkejut.
“Apa? Benarkah?”
“Benar.” Aris mengangguk.
“Mungkin kamu salah lihat,” jawab Elang sambil tertawa. “Jangan‑jangan kamu sudah mabuk. Lemah sekali, baru dua gelas sudah mabuk.”
“Aku belum mabuk. Aku sadar sepenuhnya, Elang. Kalau tidak percaya, ayo buktikan sendiri!”
Elang bangkit setelah Aris berdiri dari tempat duduknya. Ia pun penasaran dengan apa yang dikatakan temannya. Jika benar mobil yang ada di sebelah mobil Aris adalah miliknya, berarti nasibnya sudah berakhir. Selama ini ia berusaha tampil sebagai anak dan suami yang baik di hadapan ibunya. Ia tidak ingin nama baiknya rusak hanya karena laporan dari sang istri mengenai ini.
“Mana?”
“Tadi di sini, Lang. Mobilmu ada di sebelah mobilku persis. Sumpah!” Aris mengangkat dua jarinya ke atas.
Nyatanya, mobil yang ada di sebelah mobil Aris sekarang adalah mobil milik orang suruhan Rayen.
“Kalau kau tak percaya, cek CCTV saja.”
“Oke. Kita cek.”
Elang langsung menemui petugas. Kedua pria itu naik ke lantai dua dan bertemu manajemen klub. Sayangnya, CCTV tidak mengarah ke mobil yang terparkir di tempat mobil Aris berada.
“Sepertinya kau mabuk, Ris.” Elang menatap temannya.
“Tidak, Lang. Tapi aku juga agak ragu sih…”
“Ck. Cuma membuang waktuku saja,” jawab Elang kesal. Waktu bersenang‑senangnya terbuang karena harus naik ke lantai manajemen hanya untuk membuktikan ucapan Aris.
“Apakah benar aku sudah mabuk?” Aris menepuk pipinya sendiri. “Rasanya belum, sih.”
Elang menggelengkan kepala. “Sudahlah. Lebih baik aku pulang. Benar kata kamu, lebih baik aku melampiaskan keinginan pada Rindu. Lagian aku sudah rindu kelembutan tubuhnya.”
“Dasar orang tak tahu terima kasih!” umpat Aris kepada temannya yang seolah memiliki kehidupan sempurna.
Memang benar, Elang memiliki kehidupan yang terlihat sempurna: ibu yang baik dan penuh perhatian, kekayaan yang melimpah, serta istri yang cantik dan penyayang. Namun sayang, Elang tidak pernah bersyukur atas semua nikmat yang diberikan Tuhan. Ia tetap saja memilih mengejar kesenangan sesaat menurut keinginannya sendiri.
“Ma, Rindu mana?” tanya Elang yang tiba‑tiba pulang dan tak menemukan sang istri di mana‑mana.
“Eh, kamu sudah pulang? Dari mana kamu? Mama kira kamu lagi kerja di ruanganmu, ternyata menghilang. Bertemu teman‑temanmu ya?” tanya Bella.
“Iya, tapi sebentar. Elang baru berangkat sebelum Mama dan Rindu pulang.”
Bibir Bella cemberut. Wanita paruh baya itu selalu tidak suka jika sang putra bertemu dengan teman‑teman SMA‑nya. Bella memang tidak pernah suka dengan Aris, Gery, dan Johan, terutama dengan Gery, karena baginya anak‑anak itu membawa pengaruh buruk pada putranya. Dan, firasat seorang ibu itu tidak pernah meleset.
“Rindu mana, Ma?” tanya Elang lagi.
“Ke kantor.”
Dahi Elang langsung mengernyit. “Ke kantor? Malam‑malam begini?”
“Iya, katanya ada laporan mendadak yang harus diselesaikan.”
Tanpa bertanya lagi, Elang langsung menyambar kunci mobil menuju kantor sang istri yang jarang sekali ia datangi. Selama dua tahun Rindu bekerja di perusahaan itu, mungkin hanya beberapa kali Elang mengantar dan menjemputnya. Sekalipun melakukannya, Elang tak pernah mau masuk ke dalam gedung. Ia hanya mengantar sampai lobi dan menunggu di tempat parkir saat menjemput.
Di gedung itu, Rayen sedang menenangkan Rindu. Tanpa disadarinya, Rindu sudah bersandar di dada bidang pria itu.
“Aku tidak menyangka Elang seperti itu, Om.”
Kini cara bicara Rindu tidak lagi kaku seperti hubungan atasan dan bawahan, sesuai permintaan Rayen.