NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#34

Aroma antiseptik yang khas berpadu dengan wewangian aromaterapi lavender premium di dalam ruang rawat VVIP Intensive Care Unit Rumah Sakit Saint Jude, Los Angeles.

Kamar bernomor eksklusif di lantai teratas gedung medis ini lebih menyerupai sebuah suite room hotel bintang lima daripada bangsal perawatan orang sakit.

Dinding-dindingnya dilapisi panel kayu ek sewarna madu, jendela kaca besar yang menyuguhkan pemandangan langsung ke arah perbukitan hijau Beverly Hills, serta jajaran sofa kulit mewah yang kini ditempati oleh orang-orang terdekat.

Namun, semua kemewahan arsitektur itu tidak mampu meredam kepedihan yang pekat yang menyelimuti seluruh ruangan.

Di tengah kamar, di atas ranjang medis elektronik, terbujur lemah tubuh Sloane Wade'.

Wanita paruh baya yang merupakan ibu kandung dari Issabelle itu tampak begitu kurus dan rapuh.

Wajahnya yang dulu cantik kini pucat pasi bagai porselen tua, tertutup sebagian oleh masker oksigen bertekanan tinggi yang terhubung dengan mesin ventilator di samping tempat tidur.

Monitor taktis jantung di sudut ruangan terus mengeluarkan bunyi bip pendek yang tidak teratur, menandakan bahwa fungsi organ vitalnya sedang berada di ambang batas akhir pertahanan.

Harrison Wade'—sang suami duduk di sisi kanan ranjang.

Rambutnya telah memutih di beberapa bagian, dan garis-garis kecemasan terukir dalam di dahinya.

Harrison menggenggam erat telapak tangan istrinya yang sedingin es, mendekatkannya ke pipinya sendiri dengan air mata yang mulai membasahi kulit tangannya.

"Issa... Issa... Anakku... di mana Issa..."

Suara Sloane terdengar sangat lirih, parau, dan bergetar di balik masker oksigennya.

Kata-kata itu tidak lebih dari sekadar bisikan hambar yang menguap di udara, namun wanita itu terus mengucapkannya berulang-ulang tanpa jeda dalam kondisi setengah sadar akibat pengaruh obat penenang dosis tinggi.

Jiwanya yang sekarat tampaknya menolak untuk pergi sebelum ia bisa melihat wajah putrinya sekali lagi.

Claire yang berdiri di ujung ranjang bersama Skylar, tidak mampu lagi membendung air matanya.

Sebagai saudara tiri yang pernah ikut hancur dan ikut merasakan Kehilangan, Claire tahu betapa dalamnya luka yang ditinggalkan oleh tragedi Frankfurt sepuluh tahun lalu.

Ia merapat ke tubuh tegap Skylar, membiarkan suaminya itu merangkul bahunya yang gemetar hebat oleh tangisan yang tertahan.

"Putri Ibu sudah tenang di sana..." bisik Claire dengan suara yang patah-patah, mencoba menenangkan sang ibu yang terus meracau dalam deliriumnya.

"Issabelle sudah tenang di rumah barunya... Dia sudah tidak merasakan sakit lagi, Mom. Kumohon, lepaskan ingatan itu..."

Skylar mengusap lengan istrinya dengan lembut, sepasang mata pirangnya menatap sayu ke arah monitor jantung Sloane yang kian melemah.

"Claire benar, Ibu. Issabelle sudah berada di tempat yang jauh lebih damai. Jangan membebani pikiran Anda lagi dengan masa lalu yang telah menjadi abu," sambung Skylar, suaranya yang biasa tegas kini melunak dalam nada penuh rasa hormat seorang menantu.

Di sudut kiri ranjang, duduk seorang pria muda bertubuh tegap dengan rahang kokoh dan garis wajah yang sarat akan ketangguhan. Toby Wade'.

Bocah kecil yang dulunya baru berusia dua belas tahun saat kakaknya pergi meninggalkannya bersama belati kesayangan, kini telah bermutasi menjadi seorang pria dewasa berusia dua puluh dua tahun yang berwajah tampan namun berkarakter keras.

Toby mengenakan kemeja taktis hitam yang lengannya digulung, memperlihatkan otot-otot lengannya yang terlatih.

Namun, di balik fisiknya yang tangguh, Toby malam ini hanyalah seorang anak laki-laki yang sedang ketakutan setengah mati.

Toby hanya bisa menangis dalam diam, air matanya mengalir lambat membasahi pipinya.

Ia menggenggam erat ujung selimut ibunya, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena ia sama sekali tidak siap untuk menghadapi kenyataan kehilangan sosok seorang ibu.

Dan tepat di samping Toby, duduk bersandar pada kursi kayu mewah dengan melipat satu kakinya, adalah Navarro Von-riccardo.

Sang penguasa itu hadir di ruangan tersebut bagaikan sesosok bayangan maut yang tenang namun mematikan.

Setelan jas abu-abu gelapnya tampak sempurna tanpa cela, kontras dengan ekspresi wajahnya yang membatu tanpa emosi.

Sejak awal masuk ke dalam ruang perawatan, Navarro tidak mengucapkan satu patah kata pun. Ia hanya duduk membisu, sepasang manik mata gelapnya menatap lekat-lekat pada bibir Sloane yang terus-menerus meracaukan nama yang paling sakral di dalam hidupnya: Issa.

Ruangan medis mewah itu benar-benar dipenuhi oleh atmosfer haru yang mencekik dada siapapun yang berada di sana.

Suara tangisan Claire yang bersandar pada dada Skylar, isakan tertahan dari Toby yang bahunya terguncang hebat, serta bunyi bip dari mesin ventilator menciptakan harmoni kedukaan yang luar biasa pekat.

Navarro mengalihkan pandangannya dari monitor jantung, beralih menatap lurus ke arah langit-langit ruangan yang putih bersih.

Di dalam keheningan jiwanya yang telah hancur dan membatu akibat pengaruh alkohol dan trauma satu dekade, Navarro berbisik di dalam batinnya sendiri, sebuah monolog spiritual yang ditujukan langsung kepada bayangan mawar esnya yang ia yakini sedang mengintip dari dimensi lain.

 "Lihatlah ke ruangan ini, Mine... Ibumu selalu saja menanyakan dirimu tanpa henti di sisa embusan napas terakhirnya. Sepuluh tahun telah berlalu, tetapi seolah waktu menolak bergerak maju bagi wanita tua ini; jiwanya tetap terperangkap di malam di mana kau pergi dan tak pernah kembali. Dia terus memanggil namamu seolah-olah jika dia meneriakinya cukup keras, Anak kecilnya akan melangkah menerobos pintu rumah sakit ini. Jika kau benar-benar telah tenang di rumah barumu, kumohon turunlah sejenak ke dalam mimpi ibumu, katakan padanya bahwa kau telah memaafkannya, sebelum mesin di samping ranjang ini berhenti berbunyi dan membawa jiwanya menyusulmu ke dalam keabadian yang hampa."

Tepat saat Navarro menyelesaikan jeritan batinnya yang sarat akan kepedihan paling nyesek, garis hijau di layar monitor jantung Sloane mendadak berfluktuasi dengan sangat tajam, disusul oleh alarm peringatan mesin yang berbunyi nyaring, menandakan bahwa sang ibu telah memasuki fase kritis terjauh yang akan mengubah seluruh pelarian Issabelle di luar sana.

Di tengah suara alarm ventilator yang memekakkan telinga dan kepanikan yang mulai merayap di wajah Claire serta Skylar, atmosfer di dalam kamar VVIP itu mendadak bergeser dengan cara yang teramat mistis.

Deg.

Jantung Navarro Von-riccardo berdenyut dengan hantaman yang begitu masif, hingga ia refleks mencengkeram tepi kursi kayunya.

Indra penciumannya yang selama ini memang mati rasa—tiba-tiba menangkap sekelebat desau angin dingin yang membawa sebuah aroma yang sangat ia hafal di luar kepala.

Aroma mawar es yang murni. Aroma yang hanya ia rasakan, dan hanya dimiliki oleh satu orang di atas bumi ini. Aroma yang terkubur di bawah abu Frankfurt sepuluh tahun lalu.

Seketika itu juga, air mata murni luruh dari sepasang mata gelap Navarro, membasahi wajahnya yang pucat. Tubuhnya gemetar hebat seolah tersengat aliran listrik ribuan volt.

Kau ada di sini, Sayang? Kau datang untuk melihat ibumu? Kau mendengarkan jeritan batinku tadi, sehingga kau turun dari langit untuk menjemput jiwanya? batin Navarro, merintih penuh keputusasaan yang teramat dalam.

Ia masih menatap lantai marmer dengan tatapan kosong, benar-benar meyakini bahwa wewangian ini adalah manifestasi dari hantu Issabelle yang datang sebagai malaikat maut pelipur lara di detik-detik terakhir hidup Sloane.

Navarro yang sedang tenggelam dalam halusinasinya tidak pernah tahu, bahwa wewangian itu bukanlah ilusi penciuman dari seorang pria yang gila karena patah hati.

Itu adalah wewangian nyata.

Issabelle von Reichenbach benar-benar telah melangkah masuk menerobos pintu kamar VVIP sejak beberapa detik lalu.

Gerakan langkahnya begitu taktis, senyap, dan tak tersentuh layaknya hantu sejati, hingga tidak ada satu pun orang di dalam ruangan penuh duka itu yang menyadari kehadirannya. Ia berdiri tegak di dekat area transisi koridor kamar, menatap lurus ke arah ranjang ibunya dengan tatapan abu-abu yang sedalam palung laut.

Hingga akhirnya, sebuah suara kecil yang cempreng memecah keheningan di samping kaki Issabelle.

"Apakah Nenek sudah tiada, Mommy?"

Pertanyaan polos dari mulut Cassandra kecil itu menggema dengan jelas di tengah kepungan suara mesin medis.

Mendengar suara anak kecil asing yang menyebut kata 'Mommy', Navarro yang mengira dirinya sedang terjebak dalam halusinasi gila akibat alkohol, perlahan-lahan mengangkat kepalanya yang terasa seberat timah.

Ia ingin membuktikan apakah bayangan hantu di otaknya sudah berjalan terlalu jauh.

Dan... DUARR!

Dunia Navarro seakan diledakkan oleh bom taktis berkekuatan megaton tepat di depan wajahnya.

Seluruh pasokan oksigen di paru-parunya lenyap seketika.

Issabelle.

Wanita itu berdiri di sana. Bukan sebagai hantu, bukan sebagai bayangan transparan, melainkan sesosok wanita dewasa berusia dua puluh enam tahun yang nyata dengan kecantikan yang teramat asli.

Ia mengenakan pakaian formal berpotongan tegas sewarna arang, dengan riasan make-up tebal yang menggambarkan totalitas kedewasaan dan kematangan seorang wanita.

Garis wajahnya yang dulu ia tatap di foto 3 \times 4 kini tampak begitu tegas, dingin, dan berkuasa.

Dan yang paling membuat jantung Navarro seperti berhenti berdetak adalah pemandangan di bawah sana: tangan lentik Issabelle sedang menggenggam erat jemari seorang anak perempuan yang memiliki rambut hitam lebat dan sepasang mata gelap yang... teramat mirip dengan sepasang mata...yang entah sangat Familiar.

Deg.

Navarro baru tersadar seutuhnya. Otak jeniusnya yang membeku selama sepuluh tahun dipaksa untuk mencerna anomali ini dalam hitungan detik.

Dia masih hidup. Mawar esku tidak pernah menjadi abu. Dan anak itu...

Sebelum keheningan syok itu pecah dari sisi Navarro, sebuah pergerakan brutal mendadak terjadi dari arah samping ranjang.

PLAK!

Suara tamparan yang teramat keras dan nyaring menggema di dalam ruangan.

Tubuh Issabelle sedikit menoleh ke samping akibat hantaman tak terduga itu.

Chloe—kakak tiri Issabelle, kembaran Claire—berdiri di depan Issabelle dengan napas memburu dan wajah yang distorsi oleh kemarahan yang meluap-luap.

Chloe baru saja tiba dari lobi dan langsung meledak saat melihat kemunculan adik tirinya.

"Apa-apaan ini?! Kau bilang tadi di lobi rumah sakit kalau kau bukan Issabelle! Kau berpura-pura menjadi orang asing?!" teriak Chloe dengan suara melengking, jarinya menunjuk tepat ke depan wajah Issabelle dengan penuh penghinaan.

"Dan lihat! Anak durhaka ini akhirnya datang menjenguk ibunya setelah ibunya sendiri sekarat dan hampir mati?! Ke mana saja kau selama sepuluh tahun ini, hah?!"

Harrison Wade yang berada di sisi ranjang seketika menganga lebar, seluruh persendiannya lemas hingga ia harus bertumpu pada besi tempat tidur.

Di sudut lain, Skylar tak kalah terkejutnya. Sepasang mata pirang Skylar membelalak tak percaya, sebelum ia dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah sahabat dekatnya, Navarro.

Navarro masih duduk kaku di kursinya, menyerupai sesosok mayat hidup dengan wajah yang mendadak berubah menjadi sangat pucat pasi, tanpa darah yang mengalir.

Jiwanya yang mati selama satu dekade seolah dipaksa merangkak keluar dari liang kubur dengan rasa sakit yang luar biasa masif.

Kata-kata makian dari Chloe dan suara tamparan itu akhirnya menjadi palu godam yang menghancurkan seluruh dinding pembekuan taktis di otak Navarro.

Ini nyata.

Ini bukan mimpi.

Dan ia tidak sedang mabuk.

Wanita yang ia tangisi abunya setiap malam, wanita yang membuatnya mati rasa pada dunia, kini berdiri bernapas beberapa meter di depannya.

Tanpa memedulikan keberadaan Chloe, Harrison, Skylar, atau bahkan anak kecil di samping Issabelle, Navarro langsung menghamburkan dirinya bangkit dari kursi.

Langkah kakinya yang tadi sempoyongan kini bergerak dengan kecepatan predator yang menembus batas kewajaran.

"Mine... Sayang..."

Suara bariton Navarro pecah, terdengar sangat parau, hancur, dan dipenuhi oleh kerinduan gila yang telah membusuk selama sepuluh tahun saat ia melesat maju untuk merengkuh kembali hantu masa lalunya yang kini mewujud.

1
Game Semut
semoga happy ending issabele dan navvaro serta putri nya Cassandra
Ros 🌷🦋: author suka yang happy ending kak🤭😅
total 1 replies
Game Semut
ini cerita gmna ending nya nih thor kasian bngt kisah percintaan asmara antara issabele dan Navarro...semoga bs bersatu.
Ros 🌷🦋: author buat ending nya happy 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Ros 🌷🦋: masih lanjut ya kak reader🥰😅
total 3 replies
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!