Pernikahan Yang Rumit, Cinta yang Rumit dan Hati yang juga ikut Rumit!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Ketegangan yang terus merayap di antara dinding-dinding pasca-insiden ruang kerja dan kunjungan Xavier akhirnya mencapai titik jenuh. Baik Alvaro maupun Alyssa menyadari bahwa perang urat saraf yang melelahkan ini tidak bisa dibiarkan terus berlanjut tanpa aturan main yang lebih jelas. Sebagai dua orang yang berlatar belakang dunia bisnis, mereka tahu kapan sebuah konflik harus diredam dengan hitam di atas putih.
Sore itu, atas permintaan Alyssa, mereka bertemu di ruang duduk netral lantai dua yang memisahkan sayap kiri dan sayap kanan.
Alvaro duduk di sofa tunggal berbahan kulit premium, melonggarkan ikatan dasinya dengan gerakan gusar yang jarang ia tunjukkan. Sementara itu, Alyssa duduk tegak di seberangnya dengan sebuah map dokumen berlogo firma hukum di atas meja kaca di hadapan mereka. Sifat taktis Alyssa telah menyusun draf ini sejak malam sebelumnya.
"Kita tidak bisa terus seperti ini, Tuan Alvaro," Alyssa membuka percakapan, suaranya jernih dan sarat akan ketegasan mental bajanya. "Pernikahan ini baru berjalan beberapa hari, tapi kita sudah terlalu sering bertengkar karena hal-hal kecil yang melintasi batas privasi masing-masing."
Alvaro menatap Alyssa dengan sepasang mata elang yang menggelap. Sisa-sisa kelelahan dari beban masa lalu yang sempat disinggung Xavier masih samar terlihat di gurat wajahnya yang tegas. "Lalu, apa maumu, Alyssa? Bukankah sejak awal aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mengendus urusanku?"
"Dan saya sudah meminta maaf atas kesalahan tidak sengaja itu," balas Alyssa cepat, tidak membiarkan dirinya terintimidasi oleh nada dingin pria berumur 28 tahun itu. "Namun, bentakan dan sikap defensif Anda yang berlebihan juga tidak membantu situasi domestik kita. Kita berada di sini untuk sebuah aliansi strategis, bukan untuk saling menghancurkan kewarasan."
Alyssa menggeser map dokumen itu ke depan Alvaro.
"Ini adalah adendum, sebuah kesepakatan baru di luar kontrak utama pernikahan kita," jelas Alyssa tenang. "Poin utamanya sederhana: Mulai hari ini, kita akan saling menghormati selama pernikahan berlangsung. Tidak lebih. Tidak kurang."
Alvaro menarik dokumen tersebut, membacanya dengan kecepatan analisis korporasinya yang tajam. Matanya berhenti pada beberapa klausul penting yang tertera di sana:
1. Kedua belah pihak dilarang keras mencampuri urusan pribadi, masa lalu, maupun ruang privat masing-masing tanpa izin tertulis atau persetujuan verbal.
2. Kedua belah pihak wajib saling menghormati status sosial dan harga diri pasangan, baik di dalam rumah maupun di hadapan publik dan keluarga besar.
3. Hubungan ini murni profesional dan domestik tanpa ada tuntutan emosional maupun fisik yang melintasi batas kontrak.
"Saling menghormati. Tidak lebih, tidak kurang," Alvaro menggumamkan kata-kata itu dengan nada baritonnya yang datar, seolah sedang menimbang-nimbang bobot dari kesepakatan baru tersebut. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk segaris senyuman kaku yang kini terasa lebih lelah daripada sinis. "Kesepakatan yang sangat adil bagi dua orang asing yang terjebak di bawah satu atap."
"Saya rasa ini solusi terbaik agar kita bisa bekerja sama menghadapi Arsen maupun Mahendra tanpa perlu mengkhawatirkan tikaman dari dalam rumah sendiri," sahut Alyssa, matanya menatap lurus penuh keyakinan.
Alvaro meraih pena montblanc hitam dari saku kemejanya, lalu menorehkan tanda tangan yang mantap di atas kertas tersebut tanpa ragu. "Sepakat. Mulai detik ini, batasan kita adalah mutlak."
Mereka saling bertukar pandang setelah dokumen itu ditandatangani sebuah gencatan senjata resmi yang mengunci hubungan mereka dalam sekat-sekat profesionalisme yang dingin. Mereka merasa telah berhasil mengendalikan situasi dengan logika dan kertas perjanjian.
Namun, di dalam keheningan ruang duduk yang megah itu, baik Alvaro maupun Alyssa sama sekali tidak menyadari bahwa takdir selalu memiliki cara yang lebih cerdas untuk mengacaukan rencana manusia. Lembaran kertas kesepakatan baru yang mereka buat malam itu hanyalah dinding rapuh yang bersiap runtuh ketika badai emosi, rahasia masa lalu, dan rencana takdir yang berbeda mulai bergerak mendekat untuk menyatukan dua jiwa yang terluka ini.
...****************...
Alvaro menggeser kembali map dokumen yang telah ia tanda tangani ke arah Alyssa. Jari-jarinya sempat bersentuhan selama satu ketukan saat Alyssa menerima map tersebut, menciptakan sengatan tak kasat mata yang membuat keduanya refleks menarik tangan masing-masing dengan cermat.
"Dengan ini, semua aturan sudah jelas," ucap Alvaro, suaranya kembali datar dan terkendali, seolah-olah ia baru saja menutup rapat pemegang saham yang alot. Ia bangkit berdiri, mengancingkan kembali satu kancing jasnya yang sempat terbuka. "Aku akan meminta Bi Marta memastikan para pelayan mematuhi privasimu di sayap kanan tanpa pengecualian."
"Terima kasih. Saya menghargai itu, Tuan Alvaro," jawab Alyssa, ikut bangkit berdiri sembari mendekap map hukum itu di dadanya.
Ada kelegaan yang samar di dalam benak Alyssa. Sifat taktisnya merasa aman karena kini ia memiliki jaminan hukum domestik yang melindunginya dari amarah Alvaro yang tak terduga. Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, ada rasa hampa yang aneh ketika menyadari bahwa mereka baru saja mempertebal dinding pemisah di antara mereka menjadi setinggi langit.
Alvaro mengangguk kecil sebagai tanda pamit, lalu melangkah tegap meninggalkan ruang duduk menuju sayap kiri. Langkah kakinya yang konstan perlahan menghilang, digantikan oleh kesunyian sore yang kian pekat seiring dengan turunnya hujan gerimis di luar.
Alyssa berjalan menuju balkon ruang duduk, menatap rintik hujan yang membasahi tanaman anggrek di taman bawah. Perjanjian baru ini adalah perisai logis yang mereka butuhkan. Tidak ada emosi, tidak ada ekspektasi, hanya rasa hormat yang profesional.
Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah akhir dari segala drama domestik mereka. Namun, Alyssa tidak pernah tahu bahwa di dalam permainan hidup, hati manusia tidak pernah bisa tunduk pada klausul di atas kertas. Ketika misteri pengkhianatan masa lalu Alvaro mulai terkuak dan ancaman Arsen semakin nyata, takdir akan memaksa mereka merobek kertas perjanjian ini, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang melintasi batas tidak lebih dan tidak kurang yang baru saja mereka sepakati.