Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjemput Impian Di Lereng Singgalang
Seusai melaksanakan salat Ashar berjamaah di surau kecil dekat pemukiman, suasana di halaman belakang rumah Arlan Rasyad Sikumbang terasa sejuk dan tenang. Sinar matahari mulai meredup, menyisakan cahaya keemasan yang membelah celah-celah dedaunan pohon kelapa dan cengkeh yang tumbuh rindang di sekitar halaman. Di tempat yang telah diratakan tanahnya itu, Bhumi, Bayu, serta Erwin Rasyad Chaniago — putra sulung Arlan yang baru menginjak usia tiga belas tahun — sedang sibuk melatih gerakan-gerakan dasar Silek Harimau.
Mereka melangkah menyamping, menekuk lutut rendah, mengayunkan tangan dengan irama yang teratur, dan mengatur napas sedemikian rupa agar tidak terbuang sia-sia. Keringat membasahi dahi, leher, dan punggung mereka, membasahi kain baju tipis yang mereka kenakan. Meskipun terasa berat, semangat mereka tak pernah surut; mereka tahu bahwa setiap gerakan yang diulang-ulang itu adalah fondasi bagi kekuatan yang kelak akan mereka miliki.
Saat mereka baru saja menyelesaikan satu rangkaian gerakan dan hendak beristirahat sejenak, sebuah suara yang tegas namun tidak keras memanggil dari arah beranda rumah.
“Kamarilah Kalian Batigo,Mandeka Ka Siko(Kemarilah kalian bertiga! Mendekatlah ke sin)i,” panggil Arlan Rasyad Sikumbang sambil melambaikan tangan. Wajahnya tampak tenang, namun matanya menyiratkan sesuatu yang penting akan disampaikannya.
Segera saja Bhumi, Bayu, dan Erwin membersihkan debu di pakaian mereka dan berjalan mendekat dengan langkah hormat. Mereka berdiri tegak di hadapan Arlan, napas mereka masih terengah-engah karena lelah berlatih.
Arlan menatap satu per satu wajah ketiga pemuda itu dengan pandangan yang dalam, seolah sedang membaca tekad yang tersembunyi di dalam hati mereka. Setelah terdiam sejenak, ia mulai berbicara dengan suara yang lambat namun jelas, sehingga setiap kata yang diucapkannya melekat di telinga pendengarnya.
“Danga elok-elok apo yang ka ambo sampaikan ko. Mulai esok jo sataruihnyo, satiok sudah pulang sakolah, ang batigo langsuang pulang ka rumah. Ganti baju macam ko, ndak pulo langsuang ka surau untuak balaia mangaji. Ambo ka mambao ang batigo ka suatu tampek yang jarang dikunjungi urang biaso, tapi sangaik babaliak untuak kaluargo gadang kito.(Dengarkan baik-baik apa yang akan aku sampaikan ini,” ucapnya perlahan.Mulai besok, dan seterusnya setiap hari sepulang sekolah, kalian langsung pulang ke rumah, Ganti pakaian seperti ini tidak pula langsung menuju surau untuk belajar mengaji. Aku akan mengajak kalian ke suatu tempat yang jarang dikunjungi orang biasa, namun sangat berharga bagi keluarga besar kita.)”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih bersemangat. “Versi Bahasa Minangkabau Pande Sikek:
“Di sanolah dahulunyo Kakek kito nan tacinto, Datuk Rajo Alam Nan Cadiak Sikumbang, manompah Abang ambo Andi Rajo Alam Sikumbang, manompah diri ambo surang, jo pulo manompah ayah ang, Arya Arsyad Sikumbang. Tampek itu lah manjadi saksi bisu, bak cando badan nan lomeh ditempo jadi kokoh, hati nan takuik diuba jadi babarani, jo ilmu Silek Harimau nan kito banggokan ko diturunkan turun-tamurun dari generasi ka generasi. Di sanolah awa mulonyo sagalo katangguhan nan ang caliak pado kito kini(Di sanalah dahulu Kakek kita tercinta, Datuk Rajo Alam Nan Cadiak Sikumbang, melatih kakakku Andi Rajo Alam Sikumbang, melatih diriku sendiri, dan juga melatih ayah kalian, Arya Arsyad Sikumbang. Tempat itu telah menjadi saksi bisu bagaimana tubuh yang lemah ditempa menjadi kokoh, bagaimana hati yang penakut diubah menjadi pemberani, dan bagaimana ilmu Silek Harimau yang kita banggakan ini diturunkan dari generasi ke generasi. Di sanalah awal mula segala ketangguhan yang kalian lihat pada kami sekarang.)”
Mendengar penjelasan yang begitu penting itu, mata ketiga pemuda itu seketika berbinar. Rasa penasaran dan antusiasme meluap-luap di dalam dada mereka. Tanpa ragu sedikit pun, tanpa memikirkan betapa berat tantangan yang mungkin menanti, mereka mengangguk setuju serentak dengan penuh keyakinan.
“Elok, Ayah! Kami sado lah siap mangikuti apo sajo nan manjadi kahandak Ayah.(Baik, Ayah! Kami siap mengikuti apa pun yang menjadi kehendak Ayah,)” jawab Erwin mewakili dirinya sendiri dan kedua sepupunya.
“Kami sado lah siap, Mamak.(Kami siap, Paman)!” seru Bhumi dan Bayu hampir bersamaan.
Namun mereka belum menyadari apa yang sebenarnya akan mereka hadapi. Di dalam hati mereka hanya membayangkan tempat latihan yang luas dan nyaman, sama seperti halaman tempat mereka berlatih saat ini. Mereka belum tahu bahwa Arlan telah merencanakan ujian pertama yang paling berat untuk menguji ketahanan fisik dan mental mereka.
Keesokan harinya, tepat saat lonceng sekolah berdentang menandakan waktu pulang dan matahari mulai condong ke arah barat, Arlan sudah menunggu di depan halaman rumah dengan pakaian latihan yang sederhana namun kuat. Tanpa banyak bicara dan tanpa memberi peringatan terlebih dahulu, ia memberi isyarat agar mereka segera mengikuti langkahnya.
“Mari kito barangkek. Ikui langkah ambo, jago jarak, jo atuo napas elok-elok.(Mari kita berangkat. Ikuti langkahku, jaga jarak, dan atur napas dengan baik)." perintahnya singkat.
Perjalanan pun dimulai. Awalnya mereka hanya berjalan santai sambil mengobrol ringan, namun tak lama kemudian Arlan mempercepat langkahnya menjadi lari pelan. Semakin jauh melangkah, jalanan mulai meninggi, berkelok, dan tanahnya mulai terasa menanjak. Jalan setapak yang mereka lalui dikelilingi oleh semak belukar, pohon pinus, dan pepohonan hutan yang rindang, membuat udara terasa semakin sejuk namun juga semakin tipis.
Mereka berlari terus menanjak selama hampir satu jam penuh. Keringat membasahi seluruh tubuh, napas mereka mulai terengah-engah seperti embusan angin yang kencang, dan kaki mereka terasa semakin berat seolah ada beban batu yang diikatkan pada pergelangan kaki. Namun Arlan tetap berlari di depan dengan langkah yang tetap ringan dan tenang, seolah tidak merasakan kelelahan sedikit pun.
Akhirnya, mereka tiba di pos pendakian awal di kaki dan puncak bukit Gunung Singgalang. Dari tempat itu, pemandangan terbentang sangat luas; seluruh Nagari Pandai Sikek, sawah berundak-undak, dan lembah yang hijau tampak jelas terlihat di bawah sana. Udara di tempat ini terasa lebih dingin, menyentuh kulit hingga terasa sedikit menggigil, namun keindahan alamnya sungguh memukau.
Namun keindahan itu tak sempat dinikmati oleh ketiga pemuda itu, karena tubuh mereka sudah mencapai batas kemampuannya.
Begitu menginjak tanah yang agak datar, Erwin Rasyad langsung ambruk tergolek di atas rumput yang masih lembap. Ia tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Napasnya terengah-engah tak beraturan, dadanya naik turun dengan cepat, wajahnya terlihat pucat, dan keringat bercucuran deras dari dahi hingga membasahi leher dan punggungnya.
“Ya Allah… raso jantung ambo ka lompek kalua dari dado ko(Ya Allah… rasanya jantungku mau melompat keluar dari dada ini)…” keluhnya dengan suara yang lemah dan terputus-putus sambil memegang dadanya erat-erat. “ Kayo-nyo nyawaku ampia talayang diambik angin pas Mandaki tadi mah ndeh(Sepertinya nyawaku hampir melayang terbawa angin mendaki tadi)”
Tidak jauh dari situ, Bhumi berhasil berdiri tegak sebentar, namun wajahnya seketika berubah menjadi sangat pucat. Perutnya terasa berputar hebat, kepalanya terasa pening, dan udara yang terasa tipis itu membuatnya mual. Sebelum sempat berbicara, ia segera menundukkan kepalanya dan muntah-muntah di sisi jalan. Ia mencoba menahan rasa mual itu, namun tubuhnya sudah tidak sanggup lagi menahan beban perjalanan yang berat itu. Setelah selesai, ia berdiri terhuyung-huyung sambil menyeka sudut mulutnya, napasnya terasa sangat sesak.
Yang paling mengundang senyum dan tawa justru Bayu. Ia sudah tidak sanggup lagi berdiri tegak sejak beberapa langkah terakhir. Kakinya terasa lemas sekali, gemetar hebat seolah tidak memiliki tulang penyangga. Akhirnya, ia menjatuhkan lututnya ke tanah dan merangkak pelan-pelan, menggunakan kedua tangan dan kedua kakinya untuk bergerak maju sedikit demi sedikit. Seluruh tubuhnya terguncang hebat, kakinya gemetar tak terkendali, dan wajahnya pucat pasi seolah melihat hantu. Matanya terpejam setengah, mulutnya terbuka lebar, dan ia mengerang pelan dengan suara yang terputus-putus.
“Kaki… kakiku… rasanya sudah bukan milikku lagi…” rintihnya dengan nada yang lucu namun menyedihkan.
“Kalau begini terus, lebih baik aku merangkak saja selamanya daripada harus melangkah lagi…”gumamnya.
Melihat pemandangan yang kacau namun menggelikan itu, Arlan Rasyad yang sedari tadi mengawasi dengan tatapan serius akhirnya tidak mampu lagi menahan tawanya. Ia tertawa lepas, suara tawanya bergema di antara pepohonan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali. Ia berjalan mendekati mereka satu per satu dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya.
“Ha ha! Caliaklah keadaan ang kini! Inilah raso manjadi pamulo nan baru mulai manampuah jalan ilmu nan sabana! Ang kiro punyo badan nan kuek cukuik jo balatih gerakan di laman rumah sajo? Caliaklah: ado nan langsuang ambruk indak badayo, ado nan muntah-muntah dek paruik tabaliak, jo ado pulo nan marangkak gamatak cando anak kucing nan kalangsuangan mandeh, takuik jo kagalapan!(Ha ha ha! Lihatlah keadaan kalian sekarang!” serunya sambil masih tergelak. “Inilah rasanya menjadi pemula yang baru mulai menempuh jalan ilmu yang sesungguhnya! Kalian kira memiliki tubuh yang kuat hanya dengan berlatih gerakan di halaman rumah saja? Lihatlah: ada yang langsung ambruk tak berdaya, ada yang muntah-muntah karena perut terbalik, dan ada pula yang merangkak gemetar seperti anak kucing yang kehilangan induknya dan takut pada kegelapan)!”
Arlan berjongkok di samping mereka, lalu nada bicaranya perlahan berubah menjadi lebih lembut namun tetap tegas dan penuh makna.
“Tapi ingek bana-bana apo nan ambo katan ko. Raso laleh nan lua biaso ko, sasek napas nan manyakik, paruik nan mual, jo kaki nan gamatak indak badayo — sadonyo adolah pintu gerbang ka kakuatan nan sabana. Dulu pulo Andi, ambo, jo ayah ang Arya juo maraso hal nan samo persis cando ko. Bahkan dulu kami mangaluh labiah kareh jo kaliatan labiah konyol dari ang kini.(Tapi ingatlah baik-baik apa yang aku katakan ini,” lanjutnya sambil menatap mata mereka satu per satu. “Rasa lelah yang luar biasa ini, sesak napas yang menyiksa, perut yang terasa mual, dan kaki yang gemetar tak berdaya — semuanya adalah pintu gerbang menuju kekuatan yang sesungguhnya. Dulu pun Andi, aku, dan ayah kalian Arya juga merasakan hal yang sama persis seperti ini. Bahkan dulu kami mengeluh lebih keras dan terlihat lebih konyol dari kalian sekarang).”
Bhumi mengangkat wajahnya, masih terlihat lemas namun berusaha mendengarkan.
“Ampunkan kami, Mamak… kami kiro jalang ko hanyo lari biaso sajo. Kami indak manyangko ka sabarok ko.(Maafkan kami, Paman… kami kira perjalanan ini hanya lari biasa saja. Kami tidak menyangka akan seberat ini.)”
Bayu yang masih tergolek di tanah mengangkat kepalanya sedikit, lalu berbicara dengan nada polos yang membuat Arlan tertawa lagi.
“Sungaik… kalau tau cando ko, tadi pagi ambo pasti makan nasi sabanyak tigo piriang tambah jo lauk nan banyak. Raso tanago ko habih tabuang sadonyo.(Sungguh… kalau tahu begini, tadi pagi aku pasti makan nasi sebanyak tiga piring tambah dengan lauk yang banyak. Rasanya tenaga ini habis terbuang semuanya)…”Gumam Bayu kelelahan dengan nafas Ngos-ngosan.
Arlan menepuk bahu mereka satu per satu dengan penuh keyakinan dan kasih sayang.
“Bagus bana sikap ang tu. Kini, istirahatlah salamo satangah jam ko. Atuo napas palahan, hirup udaro sagai sabanyaknyonyo, jo puliahkan tanago ang. Esok, lusa, jo ari-ari salanjuiknyo, kito ka maulang jalang ko lai jo lai. Sampai suatunyo nanti, balari mananjak ka tampek ko ka raso samudah bajalan santai di laman rumah ang surang. Itulah waktunyo kakuatan kaki jo katahanan badan ang mulai tabantuak, cando kaki harimau nan kuek jo indak pernah lalah malangkah di rimbo nan rimbo.(Bagus sekali sikap kalian itu. Sekarang, istirahatlah selama setengah jam ini. Atur napas perlahan, hirup udara segar sebanyak-banyaknya, dan pulihkan tenaga kalian. Besok, lusa, dan hari-hari berikutnya, kita akan mengulangi perjalanan ini lagi dan lagi. Sampai suatu saat nanti, berlari menanjak ke tempat ini akan terasa semudah berjalan santai di halaman rumah kalian sendiri. Itulah saatnya kekuatan kaki dan ketahanan tubuh kalian mulai terbentuk, layaknya kaki harimau yang kuat dan tak pernah lelah melangkah di hutan belantara).”
Di puncak bukit yang sejuk itu, di bawah langit yang mulai berwarna jingga keunguan, ketiga pemuda itu beristirahat sambil menyadari satu hal penting: perjalanan menuju puncak ilmu Silek Harimau tidak akan pernah mudah, namun setiap tetes keringat dan rasa lelah yang mereka alami hari ini adalah investasi bagi kekuatan yang akan mereka miliki di masa depan.