NovelToon NovelToon
Benang Merah Arka

Benang Merah Arka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Xora'

Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Persiapan

...----------------...

Waktu terus bergulir tanpa peduli pada ketakutan manusia, merayap pasti bagai bayangan hitam yang siap menelan apa saja di hadapannya. Hari ini tepat tanggal 16 Juni 2017, dua hari sebelum ulang tahun Arka Albian. Namun, di sudut lain kota Jakarta yang berdebu dan bising, pikiran Astrid sama sekali tidak tertuju pada perayaan atau pesta mewah apa pun. dunia seolah sedang berputar dalam poros yang salah. Kata kata Seira di coffee shop tempo hari tidak pernah sedetik pun menghilang di kepala Astrid, kalimat itu terus berdenging, bergaung di dinding dinding kamar Astrid, menjelma menjadi teror gaib yang perlahan mengikis ketenangan.

Rasa mual yang menyiksa perut Astrid sejak seminggu lalu memang sedikit berkurang siang ini, berganti dengan rasa begah yang aneh di ulu hati. Namun, berkurangnya rasa mual itu tidak lantas membuat dada Astrid plong. Sebaliknya, sebuah firasat buruk yang teramat sangat justru makin menguat, mencengkeram jantung Astrid hingga Astrid sering kali merasa kesulitan untuk sekadar menarik napas dalam dalam.

Dalam perjalanan pulang bekerja sore itu, langit Jakarta tampak mendung, sewarna dengan hati Astrid yang kelabu. Astrid mengendarai motor dengan pandangan kosong menatap jalanan. Pikiran Astrid berkecamuk hebat. Akhirnya, sebelum sampai di rumah, Astrid sengaja pergi ke sebuah kawasan yang cukup jauh dari lingkungan tempat tinggal Astrid sebuah daerah asing di mana tidak ada satu pun orang yang mengenali wajah Astrid sebagai anak Raisya Ningsih.

Astrid turun dengan kaki yang terasa lemas, seolah bertumpu pada jeli. Astrid berjalan dengan kepala tertunduk dalam dalam, merapatkan jaket rajut untuk menghalau angin sore sekaligus menyembunyikan wajah dari tatapan orang orang. Langkah kaki membawa Astrid berhenti di depan sebuah apotek kecil yang tampak sepi di sudut jalan sekunder. Lampu neonnya yang berkedip kedip redup seolah mengejek keraguan Astrid.

Astrid menelan ludah yang terasa sekering pasir, mendorong pintu kaca itu hingga memicu denting bel yang membuat Astrid tersentak kecil. Di dalam apotek, bau obat obatan yang khas langsung menusuk hidung Astrid, memicu kembali rasa mual di perut bawah Astrid. Astrid melangkah mendekati etalase kaca dengan gerakan kaku. Di balik meja, seorang petugas apotek wanita paruh baya menatap Astrid dengan pandangan bertanya.

Dengan suara yang hampir berbisik, bahkan nyaris tenggelam oleh suara bising kendaraan di luar, astrid memberanikan diri membuka suara.

 "Mbak... beli testpack. Tiga." ucap Astrid dengan ragu.

Petugas itu tidak berkomentar apa-apa, sebuah respons yang sangat Astrid syukuri. Dia hanya berbalik, mengambil sebuah kotak kecil pipih dari laci di belakangnya, lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam kecil setelah Astrid menyerahkan selembar uang lima puluh ribu rupiah. Tangan Astrid gemetar hebat saat menerima kantong plastik itu. Rasanya benda di dalam plastik hitam itu memiliki berat berton-ton yang siap meruntuhkan pundak Astrid. Astrid segera berbalik dan keluar dari sana secepat yang Astrid bisa, seolah olah Astrid baru saja melakukan kejahatan besar.

...****************...

Sesampainya di rumah, atmosfer sepi kembali menyambut. Ibu belum pulang. Astrid bergegas masuk ke dalam kamar, memutar grendel pintu, dan menguncinya rapat rapat dari dalam. Astrid terduduk di tepi kasur yang sepreinya sudah mulai pudar. Dengan tangan yang masih dingin oleh keringat, Astrid mengeluarkan kotak kecil itu dari plastik hitam. Astrid menatap benda pipih panjang bernama testpack itu dengan perasaan yang campur aduk takut, bingung, marah, dan putus asa bergolak menjadi satu di dada.

Astrid benar benar awam. Sepanjang hidup yang baru menginjak usia belasan tahun ini, Astrid tidak pernah menyangka harus berurusan dengan benda seperti ini. Astrid tidak tahu bagaimana cara menggunakannya dengan benar, berapa lama harus menunggu, atau apa arti dari simbol yang akan muncul nanti. Akhirnya, dengan sisa sisa tenaga yang ada, Astrid meraih ponsel. Astrid membuka peramban internet, mengetikkan kata kunci dengan jari jari yang gemetar, dan mulai membaca setiap artikel tentang cara pemakaian alat uji kehamilan tersebut.

Setiap untaian kalimat instruksi yang kubaca mulai dari urin pertama di pagi hari, cara mencelupkan alat, hingga waktu tunggu lima menit terasa seperti vonis mati yang sedang dipersiapkan untuk Astrid. Astrid membaca skenario terburuknya jika muncul dua garis merah, artinya hidup Astrid selesai. Astrid meletakkan benda itu di atas meja belajar kayu, tepat di sebelah tumpukan buku pelajaran SMA yang baru saja usai. Astrid memeluk lutut di atas kasur, mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang tersisa di dalam jiwa hanya untuk menghadapi kenyataan yang akan tersaji esok pagi di balik bilik kamar mandi.

...****************...

Keesokan harinya, tepat satu hari sebelum perayaan ulang tahun Arka Zayn Albian, atmosfer di pusat kota Jakarta terasa jauh lebih glamor dan berkilauan, kontras bagai bumi dan langit dengan mendungnya kamar Astrid. Di dalam salah satu mall paling mewah di kawasan Jakarta Selatan, langkah kaki jenjang seorang gadis menarik perhatian beberapa pasang mata pengunjung. Sosok itu adalah Sania. Dengan balutan gaun kasual bermerek dan kacamata hitam yang bertengger di atas kepalanya, dia melangkah anggun dari satu butik barang desainer ternama ke butik lainnya.

Tujuan awalnya melangkahkan kaki ke tempat serba mewah ini sejak pukul sepuluh pagi tadi sebenarnya adalah tugas penting memilih dan membeli hadiah ulang tahun yang mewah, berkelas, dan mampu memukau Arka besok. Sebagai kekasih Sania tahu betul bahwa standar hadiah untuk Arka tidak boleh sembarangan. Minimal, harus ada logo brand internasional yang melekat di kotaknya.

Namun, dasar sifat Sania yang impulsif dan gila belanja tidak bisa ditahan begitu saja ketika melihat papan diskon dan koleksi terbaru musim panas terpajang di manekin. Setiap kali dia masuk ke butik pria untuk mencari dompet atau jam tangan untuk Arka, matanya selalu melirik ke deretan tas, sepatu, dan perhiasan wanita di sisi lain ruangan. Alhasil, niat mulia itu melenceng jauh. Hingga jarum jam dinding mall menunjukkan pukul empat sore, lima kantong belanjaan besar yang kini bertumpuk di tangan kanan dan kirinya justru sama sekali tidak berisi barang untuk Arka. Semuanya adalah barang barang mewah terbaru untuk dirinya sendiri, mulai dari sepatu hak tinggi hingga gaun malam baru.

Sania menghentikan langkahnya di tengah koridor lantai tiga yang agak lengang, tepat di depan sebuah etalase kaca yang memajang jam tangan mewah. Dia mendesah pelan, mengerucutkan bibirnya karena mulai merasa lelah sekaligus bingung setengah mati. Waktu makin mepet, dan dia belum memegang satu pun barang yang pas untuk anak dari keluarga Albian. Jika dia memberi hadiah yang biasa biasa saja, dia takut harga dirinya di depan teman teman geng Arka akan jatuh besok malam.

Setelah menimbang nimbang dengan gusar, Sania berjalan mundur, mencari sudut koridor yang agak sepi di dekat lift eksekutif. Dia meletakkan kantong kantong belanjaannya di lantai, merogoh tas tangan kecilnya, lalu mengeluarkan ponselnya. Jari jarinya yang lentik dengan kuku ber manicure rapi dengan cepat mencari sebuah kontak khusus, lalu menekan tombol panggil.

Panggilan itu hanya tersambung dalam dua kali nada dering sebelum akhirnya diangkat dari seberang sana.

"Sayang... bantu aku cari hadiah dong, please, Aku butuh banget nih sekarang, pusing banget dari pagi muter muter mall gak ketemu yang cocok," ucap Sania seketika, mengubah nada suaranya menjadi teramat manja, lengkap dengan rajukan kecil yang sengaja dibuat buat gaya bicara yang sangat tabu dan tidak pernah dia tunjukkan sedikit pun jika sedang berada di dekat Arka.

Di seberang telepon, suara bising khas knalpot mobil sport yang menderu pelan terdengar lamat lamat, disusul oleh suara seorang pria yang terkekeh renyah. Suara itu terdengar sangat familier dengan lingkaran pertemanan elite Jakarta, penuh dengan nada percaya diri yang tinggi sekaligus keintiman yang terlarang.

"Utututy, cayank aku... kamu lagi di mall mana sih sekarang? Aku juga lagi kebingungan nih nyari waktu buat keluar sore ini, yaa. Yaudah, kamu tunggu aku di sana ya, ayank. Jangan muter-muter lagi nanti kamu capek. Aku otw ke posisi kamu sekarang. Love you too," balas pria misterius itu dengan nada penuh perhatian, memanjakan Sania seolah gadis itu adalah satu-satunya prioritas di hidupnya.

Sania tersenyum manis, matanya berbinar puas mendengar jawaban itu. "Oke sayang, aku tunggu di kafe biasa ya. Jangan lama-lama."

Sania memutuskan sambungan telepon dengan perasaan lega yang membuncah. Dia merapikan kembali letak kacamata hitamnya, memungut kantong-kantong belanjaannya, lalu melangkah menuju kafe dengan senyuman kemenangan terukir di wajah cantiknya. Dia sama sekali tidak menyadari, atau mungkin tidak peduli, bahwa benih pengkhianatan dan rahasia busuk yang sedang dia pupuk ini lambat laun akan segera pecah

...****************...

kesibukan luar biasa justru sedang melanda kediamanku. Aku sedang sibuk setengah mati mengatur, mengawasi, dan memastikan segala persiapan untuk acara besar ulang tahunku besok berjalan tanpa cacat sedikit pun. Sejak beberapa hari lalu, aku sudah menyewa sebuah lahan terbuka yang sangat luas di kawasan perumahan elite Jakarta, sebuah tempat yang biasanya digunakan untuk pesta kebun para ekspatriat. Aku menyuruh vendor dekorator terbaik untuk menghias tempat itu seindah, semegah, dan se estetik mungkin. Mulai dari instalasi lampu-lampu gantung kristal, panggung musik mini, hingga bar minuman khusus sudah mulai didirikan. Aku ingin memastikan pesta umur 18 tahunku ini menjadi pesta paling meriah, dan mewah yang akan dibicarakan oleh seluruh sirkel anak muda Jakarta selama berbulan bulan ke depan.

Setelah menghabiskan waktu berjam-jam berkoordinasi lewat telepon dengan event organizer, aku memutuskan untuk pulang sebentar ke rumah untuk membersihkan diri. Mobil sport-ku membelah jalanan sore dengan mulus hingga akhirnya berhenti di depan lobi mansion megah tempat aku dan saudara saudaraku bernaung.

Aku melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah besar, bersiap untuk langsung naik ke lantai atas. Namun, saat aku baru saja menapakkan kaki di anak tangga pertama, langkahku mendadak terhenti karena mendengar suara derit roda koper yang bergesekan dengan lantai marmer ruang utama. Aku menoleh ke arah sumber suara. Di dekat pintu masuk, aku melihat sosok cowok bertubuh tegap dengan setelan jaket denim kasual baru saja melangkah masuk. Di tangan kanannya, dia menyeret sebuah koper besar bermerek.

Aku terbelalak senang sekaligus terkejut melihat siapa yang datang. Dia adalah Kak Hendra, anak ketiga dari keluarga Albian. Selama beberapa bulan terakhir, Kak Hendra hampir tidak pernah menginjakkan kaki di Jakarta karena dia harus menetap di Bandung untuk menyelesaikan tugas dan persiapan ujian kuliahnya di salah satu universitas top di sana.

"Lho, Kak Hendra?! Lu kok gak bilang-bilang mau pulang hari ini?" ucapku setengah berteriak karena terkejut, bergegas memutar arah dan menuruni kembali sisa anak tangga untuk menyambutnya. "Katanya kemarin lu lagi sibuk banget persiapan ujian susulan, gak bisa diganggu sama sekali?"

Kak Hendra menghentikan tarikan kopernya tepat di tengah ruangan. Dia melepaskan topi yang dipakainya, menatapku dengan raut wajah yang tampak sangat lelah kantung mata hitam yang samar menyiratkan bahwa dia kurang tidur selama berhari-hari demi urusan akademisnya di Bandung. Bukannya membalas sambutan hangatku dengan senyuman, dia justru mendengus pelan dan memasang wajah kaku khas pria Albian.

"Ujian ya ujian, keluarga ya keluarga. Nggak usah banyak nanya deh lo, Arka," sahut Kak Hendra dengan nada suara yang ketus dan datar, sangat mirip dengan gaya bicara Kak Andra jika sedang tidak ingin diganggu. "Gue capek banget habis nyetir dari Bandung langsung ke sini. Gue mau langsung ke kamar buat tidur. Tadi di depan gue udah ketemu sama Kak Zalya sekilas," lanjutnya sambil kembali menarik gagang kopirnya menuju lorong kamarnya sendiri yang terletak di sayap kanan lantai satu rumah ini.

"Eh, tunggu dulu Kak!" seruku, mencoba menahan langkahnya karena masih penasaran dengan situasi rumah. "Lu udah ketemu sama Kak Andra atau Ellisya belum, Kak? Mereka di mana sekarang?"

Kak Hendra menghentikan langkahnya sejenak tanpa repot-repot berbalik untuk menatap wajahku. Dia hanya melirik lewat sudut matanya dengan sisa tenaga yang ada. "Kalau Ellisya, gue belum ketemu langsung di dalam. Cuma tadi pas gue masuk melewati paviliun belakang, gue dikasih tahu sama Pak Cipto (ketua pelayan di rumah ini) katanya itu anak kecil lagi sibuk di kamarnya, lagi pilih-pilih dan siapin baju terbaik buat dipakai ke pesta lo besok. Kalau Kak Andra... ya udah pasti dia di kantor sekarang" ucap Kak Hendra panjang lebar sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya dan menghilang di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat.

Aku hanya bisa berdiri mematung di tengah ruangan sambil mengedik kan bahu pelan. Ya, begitulah kakak kakakku. Walaupun aku harus mengakui dalam hati kalau sikap Kak Hendra itu sebenarnya sebelas dua belas kaku, dingin, dan ketusnya sama persis seperti Kak Andra, setidaknya Kak Hendra masih memiliki sisi kemanusiaan yang lebih tinggi; dia masih bisa diajak berinteraksi, merespons pertanyaan, dan mengobrol jauh lebih baik daripada si sulung Andra yang menyeramkan itu, yang jika diajak bicara mungkin hanya akan membalas dengan tatapan mengintimidasi atau bahkan di cuekin kali dia lagi sibuk.

...****************...

Waktu bergerak cepat menuju malam. Tepat pukul tujuh malam, setelah mandi dan berganti pakaian yang lebih segar, aku kembali memacu mobilku menuju lokasi tempat acaraku akan berlangsung besok. Suasana malam membuat tempat terbuka itu terlihat makin dramatis dengan lampu-lampu sorot yang mulai diuji coba.

Aku berjalan lambat mengelilingi area, turun langsung untuk mengecek sendiri setiap detail kesiapan panggung, susunan meja VIP, hingga tata letak sound system. Berdiri di tengah kemegahan lampu dan dekorasi yang hampir rampung seratus persen itu, aku merasakan secercah rasa bangga di dadaku. Hasil kerja para vendor benar-benar luar biasa bagus, mewah, dan sangat merepresentasikan kelas sosial keluarga Albian. Pesta ini akan menjadi pembuktian eksistensiku.

Namun, di tengah kepuasan dan keangkuhan yang mulai membubung tinggi itu, entah mengapa memori di kepalaku mendadak berputar balik secara acak. Bayangan wajah tenang Rafqi dan Revan saat berada di coffee shop waktu itu kembali melintas dengan sangat jelas di benakku. Kata-kata mereka tentang kesederhanaan, tentang beasiswa, dan tentang arti hidup yang sesungguhnya kembali berdenging di telingaku, meredam dentum musik uji coba yang sedang diputar oleh teknisi audio di panggung.

Awalnya, ego kelasku dan gengsi sebagai seorang Albian kembali berbisik di telinga kanan ku. "Jangan ajak mereka, Arka. Ini pesta kalangan atas, isinya anak-anak konglomerat, model, dan artis mikro. Orang-orang sederhana kayak Rafqi dan Revan gak akan cocok berada di sini, mereka cuma bakal bikin meja lo kelihatan aneh", bisik sisi sombongku.

Tapi, di sisi lain, hati kecilku yang paling dalam memberontak. Aku mengingat bagaimana rasanya lima jam mengobrol dengan mereka tanpa ada kepalsuan, tanpa ada motif pamer harta, dan bagaimana tulusnya mereka memperlakukanku sebagai teman, bukan sebagai dompet berjalan. Aku merasa berutang budi pada rasa nyaman yang mereka berikan di tengah kehampaan hidupku. After a long internal debate, aku memantapkan hatiku. Aku merogoh ponsel dari saku celana jinsku, membuka aplikasi WhatsApp, mencari kontak mereka berdua, lalu mengetikkan sebuah pesan undangan resmi yang hangat beserta detail lokasi pesta besok malam. Aku menekan tombol kirim, berharap dalam hati mereka berdua sudi datang ke duniaku yang penuh kepalsuan ini.

...****************...

Saat aku baru saja menyimpan kembali ponselku ke dalam saku dan bersiap untuk masuk ke dalam mobil untuk pulang ke rumah, benda persegi di sakuku itu mendadak bergetar hebat diiringi nada dering khusus yang nyaring. Aku mengernyitkan alis, mengambilnya kembali, dan seketika itu juga kurasakan debaran jantungku berpacu lebih cepat saat melihat nama 'Ibu' tertera di layar sentuhnya.

Aku segera menggeser tombol hijau ke atas, menempelkan ponsel ke telinga dengan perasaan yang mendadak tidak tenang. "Halo, Bu? Iya, Arka di sini."

Di seberang telepon, suara Ibu tidak terdengar periang seperti biasanya. Nada suaranya terdengar sedikit lebih formal dan terstruktur, meskipun tetap berusaha terdengar tenang. "Arka, kamu lagi di mana sekarang? Kalau urusan di luar sudah selesai, Ibu minta kamu sekarang juga bergegas menuju kediaman utama keluarga Albian. Langsung ke sini, jangan pulang ke rumah kamu dulu ya. Ayah dan Ibu ingin berbicara dengan kamu malam ini juga, ada perihal yang sangat penting yang harus dibahas sebelum acara besok."

Mendengar kalimat 'Ayah dan Ibu ingin berbicara' ditambah penekanan 'perihal sangat penting', rasanya seperti ada sebongkah es batu yang dijatuhkan tepat ke dalam perutku. Dingin dan membekukan seluruh sarafku. "Penting... soal apa ya, Bu?" tanyaku mencoba memancing informasi.

"Sudah, kamu ke sini saja dulu secepatnya. Ibu tunggu" ucap Ibu memotong pertanyaanku dengan halus namun mutlak, sebelum akhirnya memutus sambungan telepon secara sepihak.

......................

Untuk dipahami sebagai latar belakang, mansion besar berlantai tiga yang selama ini aku tempati bersama kakak-kakakku dan Ellisya sebenarnya hanyalah salah satu dari sekian banyak properti dan rumah mewah milik gurita bisnis keluarga besar Albian. Kompleks rumah yang kami huni itu sengaja dikhususkan dan dibangun oleh Ayah hanya untuk anak-anaknya saja, dengan tujuan agar kami bisa belajar hidup mandiri bersama saudara kandung tanpa pengawasan melekat orang tua, meskipun tetap difasilitasi pelayan dan pengawal nomor satu. Sementara itu, Ayah, Ibu, serta beberapa tetua dari lini utama keluarga besar Albian tinggal di kediaman utama keluarga Albian sebuah istana megah yang berdiri di atas lahan seluas beberapa hektar di kawasan terdalam yang jauh lebih privat, ketat, dan dijaga oleh barisan sekuriti berlapis.

......................

Begitu panggilan dari Ibu terputus, rasa panik dan cemas langsung menyerang dadaku tanpa ampun. Pikiranku mendadak kosong. Sambil memacu mobil sport ku keluar dari area lokasi pesta menuju kompleks kediaman utama, aku buru buru menelfon Kak Zalya, berharap kakak perempuanku yang cerewet itu tahu sesuatu tentang agenda dadakan ini.

Panggilan tersambung. Suara bising khas musik latar butik pakaian wanita langsung terdengar memenuhi speaker mobilku begitu Kak Zalya mengangkatnya.

"Kak! Kak Zalya, tolongin gue dong!" seruku langsung dengan nada suara yang panik, mencengkeram lingkar setir mobil dengan tangan yang mulai basah oleh keringat dingin. "Ibu baru aja nelpon gue tadi, Kak. Suaranya serius banget dan gue disuruh langsung meluncur ke kediaman utama sekarang juga coba. Kira-kira... gue ada bikin salah apa ya, Kak? Perasaan akhir-akhir ini gue gak ada bikin masalah berat deh. Balapan liar juga terakhir pas gue masih SMA"

Di seberang sana, terdengar suara helaan napas malas dari Kak Zalya, disusul suara gemerisik gantungan baju yang digeser. "Yaa mana gue tahu, Arka! Lagian lo hobi banget panik begitu. Udah deh, sana lu berangkat aja, hadepin aja sendiri apa pun yang mau diomongin orang tua. Gue sama Ellisya lagi ribet banget nih di butik, lagi pusing nyari dan nyobain baju yang pas buat tema pesta lo besok. Udah ya, gak usah ganggu dulu, dadaah... bye!" ucap Kak Zalya cepat tanpa memberikan solusi sedikit pun, langsung mematikan telepon secara sepihak.

Aku mengumpat pelan, mendengus jengkel setengah mati dengan sikap abai dan egois Kak Zalya jika sudah berurusan dengan belanja pakaian. Di dalam kabin mobil yang melaju membelah jalanan malam kota Jakarta, aku mulai tenggelam dalam pusaran pikiran buruk atau overthinking. Pikiranku kacau balau, melompat dari satu skenario buruk ke skenario buruk lainnya. Aku tahu betul bagaimana watak keluargaku; jika Ayah sudah sampai turun tangan secara langsung dan memanggilku ke ruang pribadinya di kediaman utama pada malam hari seperti ini, dampaknya tidak akan pernah main-main. Hukumannya bisa sangat mengerikan buat ukuran anak muda sepertiku mulai dari larangan keluar rumah selama berbulan bulan, penyitaan kunci mobil, hingga yang paling kutakuti: seluruh akses saldo jajan di kartu debit ku akan dikunci seketika oleh pihak bank atas perintah Ayah. Jika itu terjadi, tamatlah riwayatku di depan sirkel pergaulanku.

Seketika itu juga, di tengah kepanikan yang memuncak, pikiran burukku langsung mencari kambing hitam. Dan satu nama langsung muncul di otakku: Kak Andra. Pasti Kak Andra! Pasti si kaku itu yang diam-diam mengadu ke Ayah soal keburukanku, soal aku yang mabuk-mabukan semalam suntuk sampai rahangku dipukul olehnya! pikirku dengan rasa kesal yang membakar dada.

Namun, belum sempat rasa benci itu membesar, aku langsung menggelengkan kepalaku kuat-kuat di dalam mobil, menghalau tuduhan itu sejauh mungkin dan membantah isi pikiranku sendiri. Biar bagaimanapun tegas, dingin, kaku, dan ringannya tangan Kak Andra dalam memukulku jika aku berbuat salah, aku tahu persis satu hal tentangnya: dia bukanlah tipe orang rendahan yang bermulut ember atau suka melaporkan keburukan adik-adiknya kepada Ayah hanya untuk mencari muka. Kak Andra adalah tipe eksekutor murni; dia selalu menyelesaikan setiap masalah internal adik-adiknya di jalurnya sendiri dengan tangannya sendiri, tanpa pernah mau mengotori telinga Ayah dengan drama drama remaja. Mengingat hal itu, rasa takutku makin membumbung tinggi, karena jika bukan karena aduan Kak Andra, artinya Ayah mengetahui sesuatu yang jauh lebih besar dari agen intelijen pribadinya sendiri.

...****************...

Akhirnya, dengan sisa-sisa keberanian dan mental yang dipaksakan untuk kuat, aku membelokkan mobilku memasuki gerbang besi hitam raksasa setinggi empat meter yang menjadi gerbang pembuka kompleks kediaman utama keluarga Albian. Setelah melewati tiga orang penjaga berseragam yang mengenali plat nomor mobilku, aku memarkirkan kendaraanku di pelataran luas berlantai batu alam yang dikelilingi oleh pilar pilar beton kokoh bak istana bergaya Eropa klasik.

Begitu aku melangkah turun menaiki tangga teras depan, aku langsung disambut oleh bungkukan hormat dari kepala pelayan senior keluarga kami. Tanpa banyak bicara, dia langsung memandu langkahku melewati koridor koridor panjang yang dindingnya dihiasi lukisan mahal dan guci antik, menuntun langkahku menuju ruang keluarga pribadi yang terletak di bagian terdalam bangunan utama.

Begitu pintu ganda berbahan kayu jati solid itu didorong terbuka oleh pelayan, aku melangkah masuk dan seketika itu juga kurasakan atmosfer di sekitarku mendadak berubah menjadi begitu mencekam, berat, dan dipenuhi oleh aura otoritas yang menekan. Ruangan luas berlantai marmer Italia itu tampak sangat sunyi, hanya menyisakan suara detik jam dinding antik yang terbuat dari emas.

Di atas sofa kulit premium berwarna hitam yang diletakkan di tengah ruangan, telah duduk dua sosok yang memegang otoritas tertinggi di dalam hidupku. Di sisi kiri, seorang pria paruh baya dengan postur tubuh yang masih tegap, rambut klimis yang mulai dihiasi sedikit uban di pelipis, serta tatapan mata setajam elang yang mampu mengintimidasi siapa saja yang menatapnya. Dia adalah Ayahku, Herman Albian, penguasa tunggal dan orang nomor satu di gurita bisnis Dinasti Albian. Pria yang kata katanya adalah hukum mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Dan di sebelah kanannya, duduk dengan anggun Ibuku, Sartika Dewi Albian.

"Kenapa Ayah sama Ibu manggil Arka ke sini malam-malam?" ucapku dengan suara yang sengaja dibuat sesopan dan selembut mungkin, mengerahkan seluruh kemampuan aktingku untuk menyembunyikan getar gugup dan ketakutan yang hebat di dalam dadaku.

Mendengar suara langkah dan sapaanku, wajah Ibu yang tadinya tampak formal langsung berubah drastis. Gurat ketegangan di wajahnya sirna, digantikan oleh binar kebahagiaan yang sangat kentara. Beliau langsung bangkit berdiri dari sofa, melangkah cepat menghampiriku, lalu sedetik kemudian dia sudah merengkuh tubuhku ke dalam sebuah pelukan hangat yang erat. Ibu langsung membombardir pipiku dengan kecupan sayang, diiringi oleh ucapan selamat ulang tahun yang terdengar sangat tulus di telingaku.

"Ahhh... anak cowok Ibu yang paling bontot, sekarang udah mau umur 18 tahun aja besok. Kemarin perasaan Ibu masih gendong kamu yang masih bayi, yang suka nangis kalau malam-malam minta susu," ucap Ibu dengan nada suara yang teramat periang, penuh dengan riak kegembiraan yang mendominasi seluruh sudut ruangan.

Aku tersenyum kikuk, membalas pelukan hangatnya sembari melirik cemas ke arah Ayah yang masih duduk bergeming di sofanya. "Ah masa Ibu lebay banget sih, lagian masa Arka mau jadi bayi terus di mata Ibu."

Sifat Ibuku ini memang sejak dulu terkenal sangat periang, ekspresif, dan suka ceplas-ceplos jika sedang berkumpul, persis sekali dengan watak asli yang diturunkan kepada Kak Zalya. Bahkan, Ibu punya rekam jejak yang agak ajaib dan konyol di masa lalu; dia pernah dengan sengaja mencoba menjodohkan Kak Zalya dengan anak laki-laki dari salah satu teman sosialitanya dengan alasan mempererat hubungan kerja sama bisnis antar perusahaan. Padahal, motif asli tersembunyi Ibu melakukan itu sangatlah sepele: dia hanya ingin memiliki alasan resmi agar bisa terus menerus pergi bermain, belanja, dan bergosip bersama sahabat lamanya itu tanpa perlu dicurigai oleh Ayah. Kelakuan ajaib Ibu itulah yang selalu sukses membuat Kak Zalya jengkel setengah mati, mengamuk, dan langsung memasang wajah ketat jika topik pembicaraan di meja makan sudah mulai menyenggol nyenggol masalah perjodohan atau pernikahan.

Namun, sifat periang dan ramah milik Ibu ini sangatlah berbanding terbalik bagai bumi dan langit jika dibandingkan dengan watak Ayah. Ayah adalah sosok manusia yang dingin, ketus, irit bicara, dan hampir seluruh detik di dalam hidupnya seolah olah hanya dihabiskan untuk duduk di balik meja kerja, mengurus ekspansi bisnis, dan menghitung keuntungan dari ratusan anak perusahaan miliknya. Karakter dan aura kepemimpinan Ayah ini sebenarnya hampir mirip dengan apa yang dimiliki oleh Kak Andra saat ini kaku dan disiplin. Tetapi, tingkat keasaman, karisma, dan aura intimidasi yang terpancar dari tubuh Ayah jauh lebih menyeramkan dan berkali kali lipat lebih kuat, karena bagaimanapun juga, dialah sang penguasa nomor satu yang membangun fondasi kekayaan dan nama besar keluarga Albian.

Saat ini, Ibu sudah menginjak usia 49 tahun, sedangkan Ayah sendiri sudah berumur 52 tahun. Tetapi, jika ada orang asing yang melihat mereka berdua berjalan berdampingan di tempat umum, mereka pasti akan mengira usia kedua orang tuaku ini masih berada di awal kepala tiga. Penampilan fisik mereka masih terlihat begitu muda, kulit wajah yang kencang, bugar, dan tidak tampak kerutan yang berarti. Ya, mungkin di titik ekstrem ini, kekuatan uang, teknologi medis terbaik, dan perawatan kelas atas yang berbicara secara nyata, memanipulasi waktu penuaan biologis mereka.

"Ibu, sudahlah. Jangan terlalu memanjakan dia. Duduk kembali," potong Ayah tiba-tiba dengan suara yang berat, ketus, dan dingin. Kalimat singkat itu seketika memecah kehangatan pelukan Ibu dan membuat atmosfer di dalam ruangan kembali membeku ke titik nol. Pandangan mata Ayah yang setajam silet langsung mengunci pergerakanku, membuatku reflex menegakkan posisi berdiriku. Ibu hanya menghela napas pasrah, memberikan tepukan pelan di bahuku sebelum akhirnya berjalan kembali dan duduk di samping Ayah.

Ayah memperbaiki posisi duduknya, menumpukan satu kakinya di atas kaki yang lain, lalu menatapku dengan tatapan tanpa ekspresi. "Langsung saja ke poin utamanya, Arka. Ayah memanggil kamu ke sini bukan untuk merayakan ulang tahunmu malam ini. Perayaanmu itu besok."

Aku menelan ludah dengan susah payah, tetap mengunci mulutku untuk mendengarkan.

"Besok, selain pesta ulang tahunmu yang kamu buat dengan biaya besar itu, Ayah sengaja mengundang banyak kolega bisnis penting, investor asing, dan teman-teman pejabat tinggi Ayah untuk datang berkunjung ke area acara. Ayah ingin memanfaatkan momen itu untuk mengenalkan relasi bisnis kepada anak anak keluarga Albian. Jadi, perintah Ayah hanya satu kamu jangan sampai melakukan tindakan bodoh yang mampu merusak jalannya acara besok malam. Jaga kelakuanmu, jangan minum sampai hilang kesadaran di depan tamu-tamu penting Ayah," ucap Ayah dengan nada suara penuh penekanan yang mutlak, sarat akan ancaman terselubung yang tidak menerima bantahan dalam bentuk apa pun.

Ayah berhenti sejenak, tatapan matanya makin menyipit tajam menembus manik mataku. "Dan satu lagi yang paling penting. Jangan sampai... kamu mendatangkan teman-teman konyol yang tidak jelas latar belakang keluarganya, orang-orang miskin atau berandalan kampus ke dalam area pesta mewah itu. Tempat itu adalah cerminan dari nama besar Albian. Jangan biarkan orang-orang kelas bawah merusak citra eksklusif keluarga kita di depan kolega Ayah. Kamu mengerti, Arka?"

Mendengar kalimat terakhir Ayah yang begitu merendahkan orang-orang kelas bawah, dadaku mendadak berdenyut aneh. Wajah Rafqi dan Revan seketika terbayang di benakku, membuat pesan undangan yang baru saja kukirimkan lewat WhatsApp tadi terasa seperti sebuah kesalahan fatal yang siap memicu ledakan amarah Ayah besok. Namun, di hadapan Herman Albian, aku tidak memiliki secuil pun kekuatan untuk mendebat atau membela diri. Nyaliku menciut habis.

Aku hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam, menekan segala gejolak, pemberontakan di hatiku, lalu mengangguk patuh. "Iya, Ayah. Arka mengerti. Arka akan pastikan semuanya berjalan sesuai perintah Ayah besok."

Ayah hanya mendengus pelan, tampak puas dengan ketundukan ku ku. Setelah berbincang-bincang singkat mengenai detail susunan protokoler pengamanan besok dan menerima beberapa wejangan formal tambahan dari Ibu yang berusaha mencairkan suasana kaku, aku pun akhirnya diizinkan untuk berpamitan. Dengan langkah kaki yang terasa berat dan kepala yang dipenuhi oleh kabut dilema yang luar biasa besar, aku melangkah keluar dari kediaman utama, masuk ke dalam mobilku, dan berkendara membelah kesunyian malam menuju rumah anak-anak Albian untuk beristirahat. Aku memejamkan mata di sepanjang perjalanan, mencoba menenangkan jiwaku yang lelah demi menyambut hari esok sebuah hari perayaan yang entah mengapa terasa seperti awal dari sebuah badai besar yang siap menghancurkan segalanya.

1
Atishaa
iiiii gregetannn bangettttt nanggung bangett minn, cepet' update dehh penasaran soalnyaaaa
Atishaa
cara buat malunya bener' di buat sejatuh'nya keren sih langsung di kuras hartanya
Atishaa
keren sih si arka ga langsung marah' malah nyari bukti dulu trus juga percaya sama kakanya coba kalo ga percaya pasti kena marah ayahnya gra' si arka mudah di bodohin cewek
darrel fadilasyah
bagus ceritanya 🔥🔥
Xora'
di baca guysss
Atishaa
kerenn rasaa keselnya juga adaaa
Cliff
/CoolGuy/
darrel fadilasyah
keren banget novelnya bikin penasaran 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!