Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Balik Tirai Dedalu
Suasana di sekitar kolam pualam itu mendadak menjadi begitu sunyi, hingga suara kepakan sayap Angel yang memecah air terdengar seperti dentang lonceng peringatan bagi Naomi. Empat pelayan berbaju biru muda yang berjaga di dekat gazebo segera menegakkan tubuh mereka, menyadari perubahan sikap sang permaisuri yang mendadak menegang sembari menatap ke arah rimbunnya pohon dedalu di seberang kolam.
"Putri Naonna?" salah seorang pelayan paling senior melangkah mendekat dengan kepala tertunduk hormat. "Apakah ada sesuatu yang mengganggu pandangan Anda? Perlukah hamba memanggil pengawal zirah hitam untuk memeriksa area taman?"
Naomi menahan napasnya sejenak. Jantungnya bergemuruh liar di balik dada gaun hijau lumutnya, namun ia tahu satu gerakan panik saja akan membuat kepala Ares dan Ayah Ingdrit terpenggal di tanah Selatan ini. Ia perlahan meletakkan kitab kunonya di atas meja batu, lalu menatap pelayannya dengan ketenangan yang luar biasa, sebuah ketenangan yang baru ia pelajari dari Ratu Micky dalam beberapa hari terakhir.
"Tidak perlu," suara Naomi keluar dengan begitu jernih dan berwibawa. "Itu hanya Angel yang terkejut melihat ikan air tawar melompat. Kalian semua, tinggalkan aku sendiri di sini. Bawa kitab-kitab ini kembali ke perpustakaan dalam. Aku ingin menikmati angin sore tanpa ada yang mengawal."
Keempat pelayan itu sempat ragu, namun kepatuhan mereka terhadap menantu Ratu Micky jauh lebih besar daripada rasa penasaran mereka. Dengan membungkuk dalam, mereka mengumpulkan perkamen dan kitab di atas meja, lalu melangkah mundur dengan teratur meninggalkan area kolam, menyisakan Naomi, Angel, dan keheningan yang mencekam.
Begitu derap langkah kaki para pelayan benar-benar menghilang di balik gerbang lengkung pualam, Naomi bangkit berdiri. Gaun sutra tipisnya melambai lembut disapu angin Selatan yang hangat. Ia melangkah ke tepi kolam, matanya menatap lurus ke arah semak-semak dedalu di mana siluet tudung kain kusam itu masih bergeming.
"Keluarlah," bisik Naomi, suaranya pelan namun getarannya membawa ketegasan yang tak bisa dibantah. "Sebelum aroma besi dan zirah Sanjaya yang kalian bawa memancing penciuman para serigala Selatan."
Rimbunnya daun dedalu bergeser. Ares melangkah keluar terlebih dahulu, menurunkan tudung kainnya hingga memperlihatkan sepasang mata perak dan rambut sewarna salju yang berantakan akibat perjalanan jauh. Di belakangnya, Ingdrit melangkah dengan tertatih-tatih, air mata sudah membasahi pipinya yang keriput sebelum ia sempat menapakkan kaki di atas lantai pualam gazebo.
"Naomi..." Suara Ingdrit pecah. Pria tua itu langsung jatuh berlutut di tepi kolam, tangannya yang gemetar terulur ke arah permukaan air, seolah ingin meraih bayangan putrinya yang terpantul di sana. "Ini benar-benar kau, Nak... Leluhur mengabulkan doa kami."
Naomi tidak bisa lagi menahan topeng Putri Naonna-nya. Air mata menetes melewati pipinya yang halus, jatuh membasahi kerah gaun mahalnya. Tanpa memedulikan aturan istana bahwa seorang permaisuri tidak boleh mengotori pakaiannya, Naomi berlari mengitari tepian kolam, menerjang maju dan langsung menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk lutut ayah angkatnya.
"Ayah... Maafkan aku," isak Naomi, menyembunyikan wajahnya di dada kusam Ingdrit. "Maafkan aku karena membuat Ayah dan Ibu harus menderita di bawah tanah Warden. Aku terpaksa... aku harus mengenakan topeng ini agar kita semua bisa selamat."
Ingdrit memeluk kepala Naomi dengan tangan tuanya yang kasar, mencium puncak kepala anaknya berulang kali. "Tidak, Nak. Kau tidak salah. Kami bangga... melihatmu berdiri begitu tinggi di atas mereka yang dulu menginjak-injakmu."
Ares berdiri beberapa langkah di belakang mereka, menjaga pandangannya tetap mengarah ke luar paviliun untuk memastikan tidak ada patroli zirah hitam yang mendekat. Namun, matanya sesekali melirik ke arah Naomi dengan kehangatan yang rumit.
"Kau melakukan kegilaan besar, Ares," ucap Naomi perlahan setelah meredakan tangisnya, ia bangkit berdiri namun tetap menggandeng tangan Ingdrit erat-erat. Mata cokelatnya menatap tajam ke arah sang Pangeran Sanjaya. "Membawa Ayah Ingdrit melintasi perbatasan Selatan tanpa izin... Ratu Micky bisa menganggap ini sebagai penyusupan militer."
Ares tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang sarat akan rasa lega. "Aku bersedia menukar mahkota Sanjaya-ku demi memastikan kau masih mengenali kami, Naomi. Ratu Ara dan Warden hampir membuatku gila dengan cerita tentang silsilah Dewanti Yang-mu."
Ares melangkah mendekat, menatap gaun megah dan aura wibawa yang kini melingkupi adiknya. "Tapi melihatmu di sini, dirawat dengan kehormatan tertinggi... aku tahu bahwa kau berada di tempat yang tepat. Sanjaya tidak lagi pantas menjadi rumahmu."
"Rumahku adalah tempat di mana Ayah, Ibu, dan kau berada, Ares," sahut Naomi, matanya berkilat penuh tekad. "Tetapi untuk sekarang, kembalilah ke Sanjaya bersama Ayah Ingdrit. Jaga Ibu Martha. Katakan padanya aku hidup dengan sangat baik di sini."
Naomi mendekati Ares, meletakkan tangan kirinya yang dihiasi rajah rune hitam di atas dada zirah kulit Ares. "Biarkan aku menyelesaikan rajutan siasat bersama Ratu Micky di sini. Dan saat aku kembali ke utara nanti, aku pastikan aliansi busuk antara Sanjaya dan Warden akan hancur hingga ke akarnya, tanpa ada satu pun dari kalian yang menjadi korbannya."
Ares menatap tangan Naomi, merasakan kehangatan batin yang kembali mengalir di antara mereka. Pertemuan singkat di tepi kolam kaca itu tidak hanya mengobati kerinduan, melainkan juga mengunci sebuah sumpah baru di antara sepasang saudara terbuang itu untuk membalikkan takdir benua.