NovelToon NovelToon
Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

​Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
​Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amukan Rian yang Kehilangan Sapi Perahnya

Badai yang mengamuk di luar Terminal Pasar Turi semalam telah berlalu, meninggalkan sisa-sisa genangan air berlumpur yang memantulkan cahaya matahari pagi yang terik dan gerah. Namun, di dalam sebuah warung kopi remang-remang yang terletak di kawasan kumuh pinggiran pelabuhan tua Surabaya, atmosfernya seribu kali lebih panas dan mencekam daripada sengatan matahari di luar.

​Brakkk!!!

​Suara hantaman keras memecah keheningan warung yang sepi. Sebuah meja kayu tripleks yang dipenuhi cangkir kopi hitam dan puntung rokok murahan ditendang hingga jungkir balik oleh Rian. Struktur meja yang lapuk itu langsung patah menjadi dua, menumpahkan cairan hitam pekat ke atas lantai tanah yang becek.

​"Bangsat!!! Anak haram sialan!!! Bisa-bisanya dia lolos dari tangan gue!!!" Raungan murka Rian menggelegar laksana singa kelaparan, urat-urat di leher dan pelipisnya menonjol tegang laksana tali tambang kapal yang siap putus.

​Wajah Rian tampak luar biasa berantakan dan mengerikan pagi ini. Efek sisa alkohol murahan semalam berpadu dengan kepanikan masif yang kini mencengkeram otaknya hingga ke titik gila. Sepasang matanya merah menyala, dikelilingi kantung mata hitam yang tebal karena dia tidak tidur semenit pun sejak pelarian adiknya. Yang paling membuat penampilannya terlihat menyedihkan sekaligus menggelikan adalah posisi berdirinya yang agak membungkuk kaku; tangan kirinya secara refleks masih sering memegangi area selangkangannya—efek dari Bonus Spesial Menu Sarapan Pagi berupa tendangan telak tanpa alas kaki Alessa semalam yang tampaknya sukses merusak sistem saraf utamanya selama berjam-jam.

​Rian mondar-mandir di dalam warung dengan langkah pincang, napasnya memburu kasar laksana lokomotif karatan. Kehilangan Alessa bukan sekadar kehilangan seorang adik perempuan yang biasa dia jadikan samsak pelampiasan amarah domestik. Bagi Rian, Alessa adalah komoditas finansial paling berharga yang dia miliki saat ini. Alessa adalah sapi perah utama. Alessa adalah selembar cek tunai berjalan yang seharusnya malam ini resmi diserahkan ke pelabuhan sebagai jaminan pelunasan utang judinya yang menumpuk sebesar dua ratus juta rupiah.

​Sekarang, sapi perah itu telah melompat ke dalam bus malam tujuan Jakarta, melesat pergi meninggalkan Rian sendirian untuk menghadapi moncong senapan dan rantai besi para penagih utang pelabuhan yang tidak kenal ampun.

​"Rian, tenang dulu, Lu kalau ngamuk kayak monyet sirkus lepas begini gak bakal bikin adek lu balik dari Jakarta," celetuk salah satu preman lokal berkaos buntung hitam bernama gembul, yang sedang duduk santai sambil mengikir kuku menggunakan pisau lipat di sudut warung.

​"Tenang lu bilang?!" Rian berbalik dengan beringas, menunjuk wajah Gembul dengan sisa balok kayu kasau karatan yang dia bawa sejak semalam. "Jam delapan malam ini adalah batas waktu terakhir dari bos pelabuhan! Kalau Alessa gak ada di dermaga malam ini, kepala gue yang bakal digunting dan dijadikan umpan hiu, Mbul! Anak sialan itu... dia sengaja! Dia tahu cara menghancurkan hidup gue!"

​Rian mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi yang luar biasa pekat. Rasa cemas yang mencekik batin bercampur dengan amarah yang mendidih membuat akal sehatnya benar-benar lumpuh. Dia merasa tidak berdaya, terpojok oleh takdir yang dia ciptakan sendiri lewat dadu judi. Mengapa Alessa harus melawan? Mengapa gadis yang biasanya hanya bisa menangis meringkuk di sudut dapur itu mendadak punya keberanian untuk menendang selangkangannya dan melompat ke atas bus malam?

​Keberatan emosional yang hebat merayapi jiwa Rian. Dia menolak disalahkan atas situasi ini. Di dalam logikanya yang sudah terdistorsi oleh kecanduan, Alessa-lah yang egois karena menolak berkorban demi keselamatan kakak kandungnya sendiri.

​Namun, di tengah-tengah puncak kegilaan psikologis Rian yang berada di ambang histeria tersebut, ironi takdir justru memperlihatkan sebuah komedi gelap yang absolut. Rian, yang biasanya bertindak laksana monster penguasa tunggal di rumah petaknya, kini tampak begitu kerdil dan konyol saat harus meratapi kepergian adiknya di depan para preman pelabuhan.

​Rian menjatuhkan pantatnya ke atas sebuah kursi plastik yang tersisa, meringis kesakitan saat area selangkangannya kembali berdenyut linu akibat gerakan yang terlalu mendadak. Dia mendengus parau, menatap balok kayunya dengan tatapan kosong.

​"Bener-bener gak sopan itu anak," rutuk Rian dengan suara yang dipaksakan terdengar garang namun bergetar panik. "Dia kabur gak bawa sandal, gak bawa baju ganti, cuma bawa kemeja biru pudar peninggalan bokap yang sudah robek-robek. Mau jadi apa dia di Jakarta? Jadi model gelandangan fasyun fisioner? Kurang ajar banget. Seharusnya dia bangga bisa gue jual ke pelabuhan, setidaknya di sana dia dapet makan gratis dari bos, daripada luntang-lantung di ibu kota tanpa alas kaki kayak hantu kelaparan."

​Gembul tertawa terbahak-bahak hingga perut buncitnya bergoyang, suara tawanya terdengar sangat sarkas di telinga Rian. "Lu lagian tolol, Rian. Nyiksa adek sampai punggungnya robek-robek begitu, ya jelas dia milih lari bertaruh nyawa. Itu namanya manajemen aset yang gagal, Bro. Sekarang sapi perah lu sudah naik kelas jadi penumpang bus eksekutif, sedangkan lu di sini masih mencium bau sisa tanah becek terminal."

​"Diem lu, Mbul!" bentak Rian, wajahnya memerah menahan malu karena dijadikan bahan lelucon. "Gue punya informan di terminal! Kernet bus malam semalam bilang, adek gue turun di terminal bayangan daerah Jakarta Pusat! Dia gak punya uang banyak, kondisinya babak belur, dia pasti gak bakal bisa lari jauh dari area terminal kedatangan!"

​Rian bangkit berdiri kembali, memaksakan kakinya yang pincang untuk tegak. Amarahnya kini mengkristal menjadi sebuah obsesi gila untuk melakukan perburuan besar-besaran ke ibu kota. Sapi perahnya harus dibawa pulang, dalam keadaan hidup atau cacat sekalipun, demi menyelamatkan kepalanya dari eksekusi mati orang-orang pelabuhan.

​"Gue bakal kumpulkan sisa anak-anak sektor utara," kata Rian, matanya melotot memancarkan aura beringas yang putus asa. "Kita berangkat ke Jakarta siang ini pakai mobil bak terbuka milik sirkuit judi bawah tanah. Kita sisir setiap sudut terminal kedatangan di Jakarta Pusat! Gak mungkin seorang gadis bertelanjang kaki dan berdarah-darah bisa menghilang begitu saja di tengah kota kalau gak ada yang menampung!"

​Rian menghantamkan ujung balok kayunya ke lantai tanah dengan keras. "Gue bakal seret dia balik ke Surabaya! Gue bakal pastikan kedua kakinya patah beneran biar dia gak bisa mikir buat lari lagi dari gue!"

​Namun, yang tidak diketahui oleh Rian di dalam pusaran amukan dan rencana gila perburuannya siang itu adalah sebuah kebenaran fatal: Alessa tidak sedang luntang-lantung di trotoar jalanan Jakarta laksana hantu kelaparan. Sapi perah yang dia cari saat ini telah bertransformasi menjadi komoditas teka-teki paling berharga yang berada di dalam sangkar emas terlindung milik Giovanni Alberto.

​Tepat pada saat Rian sedang meneriakkan sumpah serapahnya di warung kopi kumuh itu, dua buah mobil SUV hitam pekat dengan kaca antipeluru dan sirine tersembunyi baru saja berhenti di ujung gang masuk pelabuhan tua. Di dalam mobil-mobil tersebut, duduk delapan orang pria berbadan tegap dengan pakaian taktis hitam tanpa atribut—unit taktis eksekutor sektor utara milik aliansi Alberto yang dikirim langsung berdasarkan perintah dingin sang penguasa dunia malam tadi siang.

​Perintah Giovanni sangat sederhana namun absolut: Potong kedua kaki mereka. Berikan mereka pijat refleksi aspal yang sesungguhnya.

​Aroma parfum mahal bercampur darah yang ditinggalkan Alessa di atas kap mesin kereta kencana modern kini telah resmi mengaktifkan roda-roda mesin pembersihan massal di kota Surabaya. Amukan Rian siang itu bukanlah awal dari sebuah perburuan kemenangan, melainkan babak penutup dari silsilah kekejaman domestik yang dia lakukan selama berbulan-bulan, karena di bawah hukum internasional yang dikendalikan oleh Il Miliardario, setiap tetes darah Alessa yang tumpah di aspal terminal kini menuntut bayaran berupa runtuhnya seluruh eksistensi dunia kecil milik Rian dalam hitungan jam ke depan.

​Rian melangkah keluar dari warung kopi dengan balok kayu di tangannya, meludahi genangan air lumpur di depannya tanpa menyadari bahwa bayangan kematian berjas hitam telah berdiri menantinya di balik tikungan gang. Sapi perahnya telah resmi lepas, dan kini sang pemilik baru dari sapi perah tersebut datang untuk menagih utang darah dengan perhitungan finansial yang jauh lebih kejam daripada dadu judi mana pun di dunia.

1
falea sezi
lanjut donk q ksih hadiah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!