GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Gugurnya Sang Mahapatih Pertama
Malam itu, kabut di Hutan Tarik turun lebih pekat dari biasanya, membawa aroma amis yang samar bercampur wewangian kemenyan pembakar sukma. Gajah Mada, yang malam itu tepat menginjak usia lima belas tahun, sedang bersila di dalam gubuk. Menggunakan kemampuan mata sakralnya (Niti Sastra Level 2), ia mendadak melihat petir-petir ghaib kecil berwarna hitam merayap di antara pepohonan jati, memutus aliran energi alami hutan.
(Mada, mereka telah sampai,) ucap Rama Sidacerma, perlahan berdiri dari ranjang bambunya.
Wajah tua sang mantan Mahapatih tidak menunjukkan ketakutan, melainkan seulas senyum lega. Seolah-olah malam yang ia tunggu selama belasan tahun dalam persembunyian akhirnya tiba.
Dari kegelapan pepohonan, muncul belasan bayangan pria bertopeng hitam dengan rajah ular naga di leher mereka. Mereka adalah Singo Barong, milisi pembunuh elit rahasia milik faksi hitam Mahapati yang dikirim khusus untuk menuntaskan dendam masa lalu. Di barisan paling depan, berdiri tiga orang tetua berpakaian serba hitam yang memancarkan aura (Jagat Ageng) berwarna biru pekat yang sangat menekan udara malam.
(Patih Nambi... buronan tua yang merepotkan. Malam ini, kepalamu akan menjadi hadiah terindah bagi Gusti Mahapati,) desis salah satu tetua faksi hitam.
Rama Sidacerma melangkah keluar gubuk dengan parang besarnya. (Mahapati mengirim tiga tetua elit sekaligus hanya untuk menjemput nyawa seorang tua bangkai? Dia benar-benar masih seorang penakut yang gemetar di balik selimut istana!)
Pertempuran pecah dalam sekejap mata. Rama Sidacerma mendongakkan kepalanya, memanggil seluruh sisa kejayaan masa lalunya. Pendaran energi (Surya Mandala) berwarna ungu pekat meledak dari tubuh tuanya, menerangi kegelapan hutan. Meskipun raganya sudah digerogoti usia, teknik bertarung sang mantan panglima tertinggi masih terlalu perkasa.
Dengan kecepatan yang mengerikan, Rama menerjang barisan pembunuh elit tersebut. Parang besarnya menebas udara, menciptakan gelombang tekanan angin ungu yang langsung memotong pohon-pohon jati di sekitarnya. Dua orang pembunuh bertopeng hancur lehernya dalam sekali tebas. Rama melompat, berputar di udara, dan menghantamkan telapak tangannya yang dialiri Surya Mandala ke dada salah satu tetua elit hingga meledak memuntahkan darah.
Mada hendak melangkah maju untuk membantu, namun Rama berteriak lantang di tengah riuh pertempuran.
(Jangan campuri pertempuranku, Mada! Kunci lubang spiritualmu! Jangan biarkan mereka melihat satu jengkal pun kekuatanmu! Biarkan mereka mengira aku hidup sendirian di hutan ini!)
Mada tertegun. Ia mengepalkan tangannya begitu keras hingga berdarah, memaksa batinnya untuk tetap dingin dan mematuhi perintah terakhir gurunya. Dengan mata sakralnya, Mada terpaksa menonton bagaimana Rama Sidacerma bertarung dengan sangat agung, membantai belasan pembunuh elit Singo Barong sendirian seperti seekor singa tua yang mengamuk di tengah kepungan serigala.
Satu per satu pembunuh bertopeng bertumbangan, hingga akhirnya hanya tersisa dua tetua elit yang tubuhnya sudah dipenuhi luka tebasan. Rama berdiri tegak di atas tumpukan mayat, napasnya naik turun dengan sangat berat, dan energi ungu Surya Mandala di tubuhnya mulai meredup drastis akibat kehabisan pasokan hawa murni.
Di saat kritis itulah, kedua tetua elit yang tersisa saling melirik. Mereka mengeluarkan dua buah tengkorak kecil berwarna hitam dari balik jubah mereka. Ini adalah pilar keempat, sebuah jampi kutukan tingkat tinggi yang dirancang khusus oleh Mahapati untuk menghabisi para kesatria tingkat tinggi.
(Aji Kala Sukma!) teriak kedua tetua itu bersamaan.
Kedua tengkorak itu pecah, melepaskan gelombang kabut hitam pekat berbentuk wajah raksasa yang melesat secepat kilat, mengunci pergerakan raga Rama. Kutukan itu tidak menyerang fisik, melainkan langsung membakar jalur spiritual dan memakan sisa sukma di dalam tubuh Rama Sidacerma.
Rama memuntahkan darah hitam yang kental. Kekuatan Surya Mandala miliknya padam sepenuhnya. Meskipun begitu, dengan sisa tenaga terakhirnya, Rama menghentakkan kakinya ke depan, menghujamkan parang besarnya tepat ke jantung kedua tetua elit tersebut hingga mereka berdua tewas seketika dengan mata melotot.
Pertempuran usai. Seluruh barisan elit faksi hitam tewas tanpa sisa di tangan sang mahapatih pertama.
Begitu musuh terakhir tumbang, tubuh ringkih Rama terhuyung mundur dan ambruk ke atas tanah basah. Mada langsung melesat maju tanpa suara, mendekap tubuh gurunya yang kini terasa sangat dingin. Air mata pemuda lima belas tahun itu mengalir tanpa bisa dibendung, membasahi wajah tua yang penuh parut luka perang tersebut.
(Jangan... jangan menangis, Gajah Mada...) bisik Rama, suaranya terputus-putus, nyaris hilang ditelan angin malam. Tangannya yang gemetar menyentuh pipi kokoh anak angkatnya. (Aku menang... aku mati sebagai ksatria... bukan sebagai buronan...)
Rama terbatuk, darah hitam kembali keluar dari sudut bibirnya. (Waktuku sudah habis... raga ini sudah selesai menempamu. Pergilah esok fajar... mulailah dari bawah, jadilah prajurit Tamtama di Trowulan... hancurkan kelicikan mereka...)
Napas Rama Sidacerma kian pendek, namun sepasang mata tuanya memancarkan binar ghaib yang sangat sakral untuk terakhir kalinya. (Genggam sumpahmu... jagalah bumi Majapahit...)
Tangan tua itu perlahan terlepas dari pipi Mada, jatuh ke atas tanah. Panglima tertinggi pertama Majapahit itu telah gugur, menyelesaikan tugas terakhirnya dengan terhormat di dalam keheningan Hutan Tarik.
Malam itu, di bawah kesunyian belantara, Gajah Mada berdiri tegak di samping makam gurunya. Ia tidak lagi menangis. Sepasang mata hitamnya kini sedalam sumur purba, memancarkan ketenangan dingin yang menakutkan. Sumpah tak kasat mata telah terkunci sepenuhnya di dalam dadanya. Langkah kakinya kini siap bergerak keluar dari hutan, menuju gerbang kota raja Trowulan.